
Kevin menatap Bulan lekat, rasa penasaran semakin meningkat karena Bulan terlihat ragu-ragu.
“Euh… anu.... karena.. karena...“ mata Bulan membulat
“Karena memang sudah jodohnya sama A Juno Pak…” Bulan menjawab dengan diplomatis.
“Seperti halnya Bapak sama Kak Inneke… sudah diatur jodohnya sama Bapak bukan sama A Juno…”
“Padahal kan pacarannya sudah sejak lama mereka itu Pak… “
“Bapak sama Kak Inneke pacaranya bentar kan langsung jadi...hehehe” Kevin melirik Bulan tajam tapi tidak berkomentar apa-apa.
“A Juno kaya jagain jodoh orang jadinya hehehehe” Bulan mencoba tertawa walau terasa hambar.
“Kalau Bapak tanya alasan saya kenapa menikah dengan A Juno yah karena takdirnya sudah seperti itu".
"Saya meyakini jodoh, rezeki, umur itu Allah yang mengatur. Yang pasti karena saya perempuan yang baik maka akan mendapatkan laki-laki yang baik”. jawabnya dengan yakin.
“Memangnya kamu yakin kalau dia itu laki-laki yang baik?” Kevin tersenyum sinis mendengar jawaban Bulan, yang ditanya mendelik heran.
“Yah yakinlah Pak, masa gak yakin... ada dalam Al Quran itu Pak”.
“Makanya Pak kalau mengaji itu jangan hanya dibaca saja tapi juga baca artinya… atau mungkin karena Bapak jarang mengaji jadi gak tahu” Bulan mendelik kesal merasa disepelekan.
“Laki-laki keji untuk perempuan keji, perempuan keji untuk laki-laki keji, perempuan baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk perempuan baik”.
“Saya lupa ayatnya tapi saya ingat suratnya… Surat An Nur Pak… cahaya pak..” Bulan jadi melupakan kegalauan hatinya soal Anjar.
“Sekarang saya tanya sama kamu” Kevin tersenyum penuh rencana.
“Banyak kejadian kekerasan dalam rumah tangga. Laki-laki memukuli istrinya bahkan ada yang sedang hamil padahal istrinya sudah baik menjaga rumah dan mengurus anaknya”
“Mana buktinya kalau laki-laki keji untuk perempuan keji? Yang ada laki-laki keji malah mendapatkan perempuan baik” Kevin menertawakan pernyataan yang diberikan Bulan.
“Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga seperti itu malah sering menutupi kejahatan suaminya”.
“Itu berarti laki-laki itu bukan jodohnya”.
“Perempuan yang baik tapi mendapatkan laki-laki keji seperti itu harus melepaskan dirinya, dia harus yakin kalau dia merasa dirinya baik, dia berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik bukan laki-laki yang keji seperti suaminya, Allah tidak melarang perceraian, Allah hanya membenci perceraian”.
“Untuk itu semua perempuan kalau ingin mendapatkan laki-laki yang baik, dia harus memantaskan dirinya dulu. Semakin baik dirinya maka akan semakin hebat laki-laki yang didapatkannya” Bulan menjelaskan dengan berapi-api. Kevin duduk mendengarkan Bulan seperti juri yang sedang mendengarkan lomba orasi.
“Yah tapi sebaik-baiknya orang pasti ada kekurangannya musti diterima lah…. “ tiba-tiba ia teringat sikap Juno yang hobi marah dan membentak. Arus tegangan tinggi gampang kesetrum banyak kabel yang terkelupas kayanya pikir Bulan.
“Kita juga sebagai pasangan kan gak sempurna-sempurna banget” Bulan menunduk memikirkan kekurangannya, yang ia ingat memang ia orang yang keras kepala sulit menerima masukan dari orang lain.
“Pertanyaan saya adalah bisakah kita menetapkan batasan dari perempuan dan laki-laki keji yang kamu maksudkan tadi” sanggap Kevin.
“Karena batasan keji dari setiap orang kan beda-beda”.
“Keji menurut kamu belum tentu keji menurut saya” Bulan melongo, kenapa ini pembahasan menjadi serius, mesti buka tafsir Quran dong kalau mengkaji ayat. Akhirnya Bulan jadi duduk dengan tegak, airmata dan ingus sudah hilang berganti dengan semangat untuk berdakwah.
“Ehmmmmm…” Bulan melinting lengan bajunya seakan bersiap melakukan kegiatan fisik yang berat. Kevin melipat tangannya di dada, mulutnya berusaha menahan senyum melihat semangat Bulan.
“Hmmm... batasan keji itu tentu saja jelas adanya, perlakukan yang tidak menyenangkan baik secara fisik, seksual, mental, ujaran kebencian, pemaksaan dan penelantaran masuk pada kategori perlakukan yang keji”.
“Jadi apabila telah terjadi beberapa perlakuan seperti itu maka pasangan suami istri harus mewaspadainya jangan sampai mereka melakukan tindakan keji seperti itu”.
“Sekarang itu banyak terjadi kekerasan verbal juga, melecehkan kemampuan dan pencapaian istri untuk termasuk perlakukan keji”.
“Contohnya nih yaa Pak. Istri sudah masak mengharapkan masakannya dinikmati oleh suaminya dan dipuji oleh suami tentu saja. Ehh pas pulang suami malah bilang gini “saya udah makan di luar sama teman-teman” bayangin perasaan istri itu Pak”.
“Atau yang lebih parah, si suami makan terus suka mencela masakan istri “kamu masak asin banget sih, coba belajar masak sama ibu aku… duh gak kebayang kalau saya digituin”.
"Ngeliat kamu tuh aku bosen, pake daster melulu... gak menarik! kata suami... padahal istri pake daster kan baju yang nyaman untuk mengerjakan pekerjaan domestik supaya rumah bersih dan sehat untuk dihuni anak dan suaminya... kalau mau istri tampil seksi belikan dong lingeri... jangan cuma bisa protes aja." Bulan tersenyum sinis, Kevin menganggukan kepala sambil terus menahan senyum.
“Yah kalau masakannya gak enak masa mesti dibilang enak, trus kalau suami pulang ganti dong bajunya jangan pakai daster waktu pacaran kan gak pernah pakai daster” Kevin mendengus kesal.
“Yah bisa baik-baik bilangnya, bilang gini… "Yang garam yang kamu pakai kayanya kualitas nomor satu yah?" Terus istrinya pasti nanya… "Kenapa emang?"nah baru suami bilang… anu.. garamnya kerasa banget” Bulan dengan serius menceritakan skenario mencela masakan istri. Kevin yang duduk diseberangnya sambil melipat tangan terlihat berusaha menahan senyum.
“Tapi kan intinya sama gak enak keasinan” ucap Kevin, hidungnya sudah kembang kempis menahan senyum, tapi Bulan masih dengan ekspresi serius tidak menyadari sedang digoda Kevin.
“Beda atuh Pak!” saking semangatnya logat sunda Bulan keluar.
“Kalau yang pertama bilang langsung masakan istri gak enak… itu dengan sendirinya menyalahkan istri gak bisa masak”
“Tapi kalau Bapak menyebutkan pakai garam kualitas nomor satu secara gak langsung yang salah garam, kenapa kok asin banget jadi aja masakannya keasinan” Bulan terus berusaha meyakinkan dengan semangat. Ia pernah memiliki pengalaman membeli garam yang tingkat keasinannya di atas rata-rata.
“Ahahahahahahaha…. Pinter kamu nyari korban yang gak bisa jawab, garam kan gak akan protes yah…. Hahahahah” Kevin akhirnya tidak tahan untuk tidak tertawa. Marissa yang masuk tertegun melihat Kevin yang tertawa lepas, tidak biasanya ia melihat Kevin seperti itu.
“Ngomongin apa kalian kok sampai sebahagia itu?” dahinya berkerut melihat Bulan yang tampak bingung karena merasa tidak membuat cerita komedi tapi orang di depannya tertawa.
“Gak tau Mbak, mungkin Pak Kevin sering dikasih masakan keasinan” Bulan mengangkat kedua bahunya tanda bingung.
“Mbak kalau Anjar kemana?” Bulan menatap kearah pintu
“Katanya mau ngambil dokumen ke bagian pajak. Udah biarin aja dulu dia, jangan diambil hati!” Marissa menepuk pundak Bulan.
“Kamu harus bisa profesional aja. Jangan mencampur adukan masalah pribadi dan masalah kerjaan!” Bulan menunduk, ia tidak berniat melakukan itu tapi masalahnya apakah Anjar bisa.
“Bulan kamu ikut saya sekarang!, ada disposisi pekerjaan dengan bagian Pajak, kedepan kamu handle urusan sama mereka. Toh kamu dulu di sana jadi sudah pada kenal” Kevin berjalan keluar ruangan, rencana Bulan untuk melanjutkan mengunyah biskuit terpaksa kembali tertunda. Mudah-mudahan bisa bertemu dengan Mbak Ratna di ruangan Pajak pikirnya jadi bisa minta roti, biasanya dia selalu memiliki cemilan roti.
Apa daya ternyata rapat dilakukan di ruangan meeting bersama Pak David sebagai manager dan auditor pajak baru yang belum ia kenal. Terpaksa hanya minum air putih saja, karena tidak disiapkan makanan kecil, perutnya semakin terasa melilit, keringat dingin mulai terasa di punggungnya. Menjelang jam dua belas rapat bisa diselesaikan, mencoba memusatkan perhatian agar bisa melanjutkan pekerjaan yang ditugaskan oleh Kevin.
“Kenapa kamu kok pucat begitu?” Kevin melirik Bulan yang berjalan di sampingnya kembali ke ruangan setelah rapat.
“Hehehe gak apa-apa Pak, cuma laper aja gak sempat sarapan tadi” Bulan tersenyum samar, kepalanya mulai terasa pusing.
“Loh kenapa gak bilang, lain kali jangan dipaksakan” Kevin mengerutkan dahi melihat kondisi Bulan.
“Gembulll…” teriakan dari samping mengagetkan Bulan, suara Afi selalu cempreng kalau berteriak.
“Pak saya mau makan siang sama Afi. Mohon maaf saya Hp nya rusak jadi kalau ada apa-apa ke Mbak Marissa atau ke Anj… “ belum sempat menyelesaikan ucapan ia teringat kalau Anjar masih menjaga jarak.
“Ya.. nanti gampang.. Sana kamu makan dulu saja, saya juga mau ke kafetaria nanti” Kevin mendahului kembali ke ruangan.
“Lu kok gak bilang udah ngantor” Afi memegang Bulan erat.
“Lu kok jadi kurus gini, pipi ampe tirus gak gembil lagi, ilang berapa kg?” tangan Afi mencubit pipi Bulan keras.
“Awww sakit Afi…” dipukulnya tangan Afi kemudian mengusap-usap pipinya.
“Hape aku rusak Fi, merana banget gak punya hp tuh, gak bisa ngapa-ngapain… gabut tau gak loh”
“Kak Juno udah tau belum kamu pulang?” tanya Afi cepat, Bulan menggeleng sambil tersenyum lemah.
“Aku baru keingetan buat ngasih tau si Aa pas di travel”.
“Soalnya dapat travelnya malam-malam jam tujuh, ngedadak banget aku kira udah abis, langsung berangkat aja, pas Bapak udah keliatan bisa ditinggal dan sehat”
“Tolong kasih tau A Juno kalau aku udah di Jakarta fiiii” Bulan tampak memelas.
“Aa… widih geli dengernya gw…” Afi mendengus sambil melakukan panggilan kepada Juno.
“Dia juga udah dua hari gak pulang ke rumah, lagi ada proyek katanya di Tangerang” sambung Afi, Bulan mengangguk pantas saja beberapa hari belakangan Juno jarang telepon rupanya memang sibuk. Mereka terus berjalan menuju kafetaria, suasananya masih belum ramai karena masih jam 12 kurang.
“Kak… nih istrimu mau ngomong” Afi menyodorkan hpnya ke Bulan.
“Assalamualaikum A..” ucap Bulan pelan, mencoba menjauh dari keramaian supaya bisa mendengar lebih jelas.
“Aku udah di Jakarta” Afi mengikuti Bulan sambil malas-malas.
“Iya kemarin malam… maaf gak ngasih kabar, ternyata Hp aku nya gak bisa dibetulin” terdengar oleh Afi suara kakaknya yang panjang lebar, ia langsung tersenyum sendiri, bisa ia bayangkan kalau kakaknya akan ngomel panjang lebar mendengar alasan Bulan.
“Iya… iya… iya…” hanya itu saja ucapan Bulan, Afi hanya memandang prihatin, muka sahabatnya sudah terlihat pucat, dengan cepat ia merebut hpnya dari tangan Bulan.
“Kak… gak usah nyerocos marah-marah di Hp… si Bulan udah laper kasian… kalau mau nyerocos ntar aja kalau ketemu … Babay” Afi mematikan handphone dan tersenyum puas, terbayang kesalnya Juno saat masih nyerocos ia matikan. Senyuman diwajahnya belum terhapus saat seseorang dari belakang membenturnya sehingga handphone terlepas dari tangannya.
“Upss maaf gak sengaja, makanya jangan berdiri di tengah jalan jadi menghalangi” Anjar tersenyum sinis sambil meninggalkan mereka. Afi langsung menarik baju kemeja Anjar dari belakang.
“Breng sek lu… biarpun lu sobatnya si Nico gw gak peduli!, dari kemarin lu rese banget jadi orang!”
“Ambil hp gw yang tadi lu jatuhin” Afi menunjuk Hpnya yang terjatuh di lantai. Bulan memandang keributan di depannya dengan wajah pucat.
“Udah Fi… jangan bertengkar malu”. Bulan mengambil hp Afi yang jatuh di lantai, terlihat baik-baik saja karena memakai pelindung.
“Engga bisa! Nih orang gak tau diri banget!” Afi menunjuk-nunjuk Anjar yang tampak santai saja tidak peduli dengan ucapan Afi,
“Yang gak tau diri itu temen elu, ngajak kawin sama gw tapi malah akad sama orang lain” Bulan membelalakan mata mendengar ucapan Anjar. Ia tidak menyangka Anjar akan seberani itu bicara di depan orang banyak di ruangan umum.
“Ya Allah tolong… ini orang kagak ada malu-malunya… Hei move on dong!… gak kawin sama elu artinya gak jodoh” Afi mendorong bahu Anjar dengan tangannya. Anjar yang sudah duduk di meja tidak terima dengan perlakuan Afi, ia langsung berdiri dan menghadangkan badannya ke depan Afi. Orang-orang ribut berbisik-bisik melihat pertengkaran Afi dan Anjar.
“Biarpun Lu istrinya si Emil gw gak peduli Nenek Lampir, muka pas-pas-an kaya elu mesti bersyukur dapatin si Emil. Kacamata si Emil kudu diganti biar jelas liat cewek kaya gimana elu!” Anjar terus menghadangkan badannya ke Afi sehingga membuat mereka seperti sedang bertarung jarak dekat.
“Fi .. udah Fi… “ Bulan berusaha menarik Afi tapi temannya seperti sudah di puncak emosinya, ia tidak peduli malah mendorongkan bahunya mendorong dada Anjar, mereka berdua malah dorong-dorongan.
“Fi… udaaah” teriak Bulan, tapi Afi malah semakin kesal karena Anjar seperti tidak peduli dan mempermainkannya dengan menahan dan mendorongnya balik.
“Afiiii… udah” Bulan menahan Afi disaat merangsak mendorong Anjar dengan sekuat tenaga, tapi Anjar malah menghindar dan membuat Afi tersungkur kehilangan keseimbangan. Bulan yang mencoba menahan Afi akhirnya malah harus menerima beban badan Afi dan terjengkang ke belakang membentur meja. Orang-orang berteriak karena badan Bulan menghantam meja yang sedang diduduki orang lain. Untung saja pesanan makannya belum datang, Afi berdiri sambil memandang Anjar dengan kesal, untung saja kacamatanya tidak lepas sehingga ia bisa melihat dengan jelas.
“Breng sek lu gw bilangin sama laki gw!! ” ucapnya menyumpahi Anjar, perhatiannya terputus saat mendengar orang-orang berteriak.
“Mbak… heeeh.. Itu temannya gak bangun..” mereka menghampiri Bulan yang tergeletak di bawah meja, kepalanya terbentur kursi.
“Bul… Gembul….” Afi langsung panik, ia kembali melihat Bulan pingsan.
“Gembulll… lu kenapa…. Bulaaaaaan” teriakan Afi menarik perhatian semua orang di kafetaria.