
“Abang berangkat yaaa”
“Doakan lancar selamat biar bisa beli perlengkapan bayi yang lengkap”
Saat Bulan membuka mata pesan dari Juno sudah nangkring di hpnya.
“Hmmm… pagi banget berangkatnya?” Bulan memijat-mijat mata supaya bisa melihat pesan dengan jelas. Dilihatnya jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. Pesan itu sampai di hpnya tiga puluh menit yang lalu.
“Abang… sejak kapan pengen dipanggil abang… biasana juga bilang aku” gerutu Bulan, selama ini Juno selalu menyebut dirinya aku saat berbicara dengan Bulan.
“Penerbangan jam berapa dia?” Bulan melihat lagi ke arah jam di dinding, kalau perjalanan ke Bandara satu jam artinya Juno akan sampai di Bandara jam lima tiga puluh, asumsi satu jam untuk check in dan boarding, paling cepat suaminya sudah akan terbang di jam enam tiga puluh.
“Sempat sarapan dulu gak yah dia” Bulan termenung sambil duduk disisi tempat tidur, tiba-tiba muncul perasaan bersalah pada dirinya. Seharusnya dia ada di rumah supaya bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Ahhh gak akan mati kalau gak sarapan sehari, palingan di pesawat dikasih sarapan roti dan minuman hangat” ucapnya menghibur diri.
“Mendingan kita doakan saja supaya lancar dan selamat di jalan” ucapnya sambil beranjak menuju kamar mandi. Pagi ini kondisinya terasa stabil tidak merasa pusing atau mual sama sekali.
Setelah menunaikan shalat subuh dan mengaji kembali Bulan melihat ke hp. Mendengar dentingan pesan masuk saat mengaji, membuatnya tidak sabar untuk segera melihat pesan.
“Sudah bangun?” rupanya Juno melihat kalau pesan yang ia kirimkan sebelumnya sudah dibaca.
“Sudah tadi jam lima” balas Bulan pendek, tanpa sadar bibirnya tersenyum sambil membalas pesan.
“Abang udah di ruang tunggu, nunggu boarding”
Kembali Bulan melirik ke jam dinding sudah jam enam kurang, perkiraannya benar kalau Juno akan naik pesawat jam enam lebih.
“Berangkat jam berapa memangnya?”
“Jam 6.30… meeting jam 10 mepet sih tapi kayanya terkejar”
“Mau Abang bawain apa dari Surabaya?”
Dahi Bulan berkerut, ternyata Juno benar-benar mengganti panggilan dirinya sekarang.
‘Kenapa tiba-tiba pengen dipanggil Abang?” sambil menyertakan emot berpikir dalam pesan.
Tiba-tiba saja Juno melakukan panggilan video, Bulan terhenyak kaget, sempat berpikir sebentar seperti bingung harus mengangkat panggilan video atau tidak. Sampai empat kali nada berdering akhirnya panggilan dia angkat.
“Assalamualaikum” jawabnya pelan. Tampak Juno tengah bersandar di sisi kaca ruang tunggu di Bandara. Memakai topi warna abu tua dan headset, tersenyum lebar menatap layar handphone.
“Lama banget diangkatnya” ucapnya dengan nada riang, Bulan hanya tersenyum kecut sambil menunduk melihat ke arah sajadah.
“Kok nunduk terus… lihat sini dong” ucap Juno dengan nada memohon, dengan muka cemberut sesekali Bulan menatap ke layar handphone.
“Nah gitu kan keliatan cantiknya” nadanya terdengar riang menggoda, Bulan melengos kesal.
“Masih marah yah?” tanyanya lembut, Bulan menggelengkan kepala lemah.
“Mau apa sih pakai video call segala… aku mau nyiapin sarapan” jawab Bulan.
“Gak usah nyiapin sarapan buat si Afi, ada Bibi sama Mama… Kamu istirahat aja” Juno menggelengkan kepala tegas.
“Udah sehat kok… gak pusing sama sekali” kali ini Bulan menatap layar dengan mata tajam, memperlihatkan keinginan teguhnya. Juno menarik napas sambil mengangguk.
“Ya kalau kamu merasa sehat gak apa-apa bantuin Mama, tapi jangan memaksakan. Mama ngerti kok kalau kamu masih sakit” ucapnya sambil tersenyum, Bulan mengangguk dan kemudian kembali menunduk.
“Jangan nunduk terus dong kan jadi gak keliatan mukanya sama Abang” goda Juno
“Apaan sih abang abang terus… sejak kapan diganti panggilannya jadi Abang kaya Bang Doni aja” ucap Bulan kesal, matanya menatap tajam ke arah layar handphone.
“Heheheh sejak kamu hamil, aku jadi kepikiran kalau dipanggil Aa terlalu manis kurang strong”
“Kalau Abang kesannya melindungi dan gagah perkasa.. Kan mau jadi bapak, jadi mesti semakin kuat ”
“Huuuh gagak perkakas kali” jawab Bulan pendek. Terdengar panggilan boarding untuk penumpang pesawat tujuan Surabaya.
“Tuuuh udah dipanggil boarding” ucap Bulan. Juno hanya mengangkat alis sambil tersenyum dan terus memandang layar telepon.
“Biarin aja, pengen liat muka kamu dulu”
“Senyum dong biar semangat berangkatnya” pinta Juno, Bulan hanya melengos dan kemudian tersenyum malu.
“Jangan marah lagi yaah… aku jadi kepikiran terus” pintanya dengan muka sendu.
“Ya udah jangan diomongin terus atuh… aku kalau keingatan suka jadi kesel lagi” jawab Bulan kesal.
“Ohhh hehehe iya iya… bodoh banget yaa aku”
“Doain lancar yah dan sukses bisa dapetin proyeknya… aku boarding dulu”
“Eh A..” Bulan jadi ingat pesan dari Cedrik kalau mereka lolos seleksi proposal.
“Cium dulu… muach…nanti aku sambung lagi kalau udah landing… assalamualaikum” Juno tampak tergesa, mencium layar handphne dan menutup panggilan, tampaknya antrian boarding untuk nomor kursinya sudah dipanggil.
“Waalaikumsalam” jawab Bulan pelan, ia menarik napas panjang. Ternyata memulai pembicaraan lewat video lebih mudah dibandingkan berhadapan langsung. Kalau ia bertemu bertatapan muka dengan Juno, pembawaannya ingin marah dan merasa kesal saja. Tapi tadi ia merasakan kenyamanan untuk kembali berbicara dengan suaminya.
Namun, janji Juno untuk menelepon begitu sampai di Surabaya ternyata hanya janji belaka. Begitu landing dia hanya menyampaikan lewat pesan kalau ia sudah sampai dan sudah dijemput untuk langsung ke kantor. Bulan sudah terbiasa menghadapi sikap Juno seperti itu, ia memutuskan mengisi waktu dengan menyiapkan paparan presentasi besok. Nanti malam ia akan menceritakan soal rencana presentasi besok pada Juno.
Seharian itu Bulan sibuk di kamar menyiapkan bahan presentasi, Mama ada pertemuan dengan teman-teman Komunitas Berkebun yang melakukan kunjungan ke Taman Bunga. Disana mereka mengikuti pelatihan menata Taman bersama seorang Gardener dari Jepang. Ternyata program tumbuhnya Mama adalah mendesain taman, bakat menggambar dan desain Juno rupanya turun dari Mama. Sedangkan Afi sudah menemukan dunia baru perkantoran di Perusahaan Papa Bhanu. Posisi sebagai anak dari pemilik perusahaan, membuatnya menduduki posisi teratas pada bagian keuangan.
Tidak ada yang berani mempertanyakan posisi baru Afi sebagai Direktur Keuangan, selain anak pemilik perusahaan, ia juga memiliki background dalam bidang keuangan dan ditambah perusahaan yang tengah kolaps karena masalah korupsi internal menjadikan Afi datang disaat yang tepat. Direktur yang lama adalah pihak yang saat ini diseret ke pengadilan oleh Papa, dan hingga saat ini belum ada kesepakatan antara Papa Bhanu dan Janet terkait penggelapan uang perusahaan.
Suasana rumah yang sepi menjadikan semua persiapan presentasi bisa diselesaikan dengan cepat. Ternyata setelah dikontak, Doni pun mau menemani untuk hadir dalam presentasi besok, rupanya selama Bulan tinggal dengan Mama ia yang menemani Juno di Ruko.
“Hebat banget Bumil… lu emang pinter… sukses wkwkwk” itu adalah ucapan Doni saat Bulan memberitahunya soal keberhasilan mereka lolos administrasi proposal dan masuk pada tahap seleksi ke satu.
“Gw pasti bantu… asal jangan ngomong bahasa enggres… gw cuma bisa jawab yes no doang”
Seperti sudah diperkirakan Doni langsung alergi diminta untuk prestasi. Tapi tidak masalah, Bulan yakin bisa mengatasinya, hanya menjelaskan proposal yang ia buat dan menjawab pertanyaan, tidak akan terlalu berat pikirnya.
“Lu mesti kasih tau dulu laki lu… soalnya dia bakalan khawatir banget sama elu… ditinggalin sama elu aja sekarang dia kaya yang gak mau diem di Ruko, kaya anak ayam hilang induk… kecawar keciwir kesana kemari…pusing gw liatnya”
Bulan tersenyum mendengar pengaduan Doni, untung saja tadi pagi dia sudah mulai berkomunikasi lagi dengan suaminya, kalau tidak mungkin sekarang timbul perasaan bersalah pada Juno yang mendiamkannya selama berhari-hari.
“De… Bapak kamu memang suka ngeselin tapi ngangenin juga” ucap Bulan pelan sambil mengusap lembut perutnya.
Hingga malam tiba, yang Bulan tunggu hanya pesan dari suaminya, ia tidak berani mengirim pesan atau menelepon lebih dahulu, khawatir mengganggu. Ia sudah hafal dengan kebiasaan Juno yang kalau sudah fokus dan sibuk bekerja akan lupa waktu.
Jam sembilan lewat sepuluh menit Juno masih saja belum mengirimkan pesan. Mata Bulan sudah mulai lima watt, tadi siang ia sama sekali tidak tidur karena mengerjakan bahan presentasi. Kalau malam ini ia tidak bisa melakukan kontak dengan suaminya, ia khawatir besok tidak akan mendapatkan ijin keluar dari Mama Nisa.
Mama Nisa pulang ke rumah jam tujuh malam dengan kondisi lelah, seharian di luar melakukan aktivitas fisik membuatnya langsung pamit ke kamar untuk beristirahat. Bulan tidak berani menceritakan soal rencananya untuk ikut presentasi besok.
“Assalamualaikum A.. belum pulang ke hotel yah?”
“Aku mau cerita soal kerjaan sebetulnya tapi Aa nya masih sibuk”
“Sekarang aku udah ngantuk… kalau Aa udah sampai hotel tolong telepon”
Dengan mata setengah terpejam ia mengirimkan pesan, hingga akhirnya Bulan memejamkan matanya, semenjak hamil salah satu kenikmatan yang ia rasakan adalah tidur menjadi lebih nyenyak, apalagi ia diharuskan untuk bedrest sehingga seperti diberikan alasan yang tepat untuk menjadi kaum rebahan.
Bunyi dering telepon akhirnya menyadarkan Bulan dengan mata sepertiganya terbuka Bulan menerima panggilan.
“Hmmm… haloh” jawabnya sambil mata masih terpejam.
“Bulaan sayaaang ini panggilan video handphonenya jauhin dari telinga”
“Ohhh... video yah” Bulan memicingkan matanya mencoba melihat ke arah hp dan benar saja, tampak Juno sedang memandangnya dengan muka tersenyum.
“Jam berapa inih?” Bulan menutupi matanya yang silau oleh layar handphone, menggesek-gesek mata dengan tangan sambil mencoba melihat ke layar handphone.
“Jam sebelas” jawab Juno, tampak sedang berbaring di tempat tidur, posisinya miring menatap istrinya.
“Malam banget sih beres kerjanya, aku udah ngantuk… jadi bobo duluan” jawab Bulan matanya tidak bisa dibuka.
“Kamu ngangkat telepon gak dilihat siapa yang calling… gimana kalau orang lain kan keliatan mukanya”
“Ya suda, sambil tiduran aja… tapi hapenya jangan dimatiin… aku pengen ngeliatin kamu bobo” jawab Juno.
“Iya” jawab Bulan sambil menyandarkan handphone di bantal.
“Cape yah?” tanya Juno.
“Hmmm”
“Ngerjain apa tadi seharian?” tanya Juno sambil tersenyum memandang Bulan yang tengah terpejam.
“Bikin paparan buat besok” jawab Bulan dengan lemah.
“Paparan apa?” Juno mengerutkan dahi,
“Muneey paparan apa?” suaranya terdengar lebih keras.
“Paparan proposal…. Ehhh aku nungguin A Juno buat cerita!” seketika kesadaran Bulan langsung pulih. Ia langsung bangun kemudian duduk, sambil mengesek-gesek mata menatap layar hp.
“A… aku mau ngasih tau kalau perusahaan kita lolos seleksi administrasi buat investasi” ucap Bulan dengan penuh semangat, bibirnya tersenyum penuh tapi matanya masih tetap setengah terpejam. Juno masih diam melihat pada istrinya
“Trus” suaranya terdengar dingin.
“Iya terus besok musti presentasi sama calon investor”
“Gak usah” Juno menjawab pendek dan tegas. Bulan langsung membuka mata terbelalak.
“Gak usah gimana? Aku udah setengah mati bikinnya” teriaknya kaget, bibirnya langsung mengerut seperti mau menangis.
“Kamu masih sakit jangan memaksakan diri” jawab Juno lagi.
“Aku juga ini sedang mencari investor… kamu jangan capek-capek..nanti sakit lagi” dengan suara penuh kesabaran Juno berusaha membujuk Bulan.
“Tapi aku udah sehat, besok cuma presentasi aja gak ngapa-ngapain juga”
“Kalau A Juno ada di Jakarta, aku gak akan pergi, tapi masalahnya ini kan A Junonya di Surabaya”
“Bang Doni gak bisa ngomong bahasa Inggris”
“Mbak Sarah gak mau terlibat hal ginian”
“Aku kan udah sehaaat” ucap Bulan kesal, diletakkan handphone di bantal. Juno hanya diam mendengar suara Bulan yang terdengar emosional. Lama terdiam tidak ada satu orang pun yang bicara. Akhirnya Bulan mengambil handphone dan menatap ke layar dengan muka kesal.
“Ya udah gak apa-apa kalau memang gak boleh”
“Aku mau tidur aja ngantuk”
“Assalamualaikum” tanpa menunggu jawaban Juno, Bulan langsung mematikan handphone, hatinya kesal bukan main, merasa semua usaha yang ia lakukan sia-sia belaka.
Membaringkan tubuh kembali di tempat tidur sambil sesekali mengusap air matanya, merasa diperlakukan tidak adil. Perjuangan selama berbulan-bulan menjadi sia-sia karena besok ia tidak bisa mengikuti presentasi. Selang sepuluh menit, handphone Bulan kembali berdering, diliriknya sebentar ternyata Juno kembali membuat panggilan video. Bulan diam saja membiarkan telepon berdering tanpa ada niatan untuk membuka. Kemudian kembali berdering, lama-lama Bulan khawatir suaranya mengganggu Mama yang sedang beristirahat akhirnya Ia mengangkatnya.
“Apa lagi” tanyanya dengan suara yang sengau karena menahan tangisan, layar handphone tidak diarahkan ke wajahnya, dibiarkan tergeletak begitu saja di tempat tidur dengan menghadap ke langit-langit.
“Kenapa nangis, kan aku belum ngasih keputusan” ucap Juno tenang.
“Tadi bilangnya gak boleh… mau gimana lagi” jawab Bulan dengan suara seperti terjepit karena hidungnya seperti tersumbat gara-gara menangis tiba-tiba.
“Jangan nangis ah… kaya anak kecil gitu-gitu aja nangis”
“Gitu-gitu gimanaa…. Hwaaaa… aku kan udah nyiapin itu semua hampir dua bulan lebih… Terus sekarang sudah berhasil lolos masuk seleksi… malah dibatalin hwwaaaaa” tangis Bulan akhirnya pecah.
“Udah jangan nangis… kalau sekarang nangis besok jelek mukanya kalau presentasi” ucap Juno tenang.
“Hmm.. presentasi gimana? tadi katanya gak boleh” jawab Bulan sambil tersedu.
“Tadi aku udah telepon Doni, katanya besok dia yang mau nemenin kamu, kalau sekiranya Sarah bisa dia mau minta Sarah juga nemenin” ucap Juno tenang.
“Jam berapa besok presentasinya?”
Bulan langsung duduk dan mengambil handphone yang tergeletak di tempat tidur. Sambil mengusap airmata di mukanya kemudian mengusap ingus dengan lengan baju, dilihatnya muka Juno yang juga tengah berbaring di tempat tidur.
“Srooook… besok acaranya mulai jam delapan, perkenalan dan penjelasan teknis trus baru presentasi” ucap Bulan sambil kembali mengusap ingus dengan lengan baju.
“Heeei jorok gitu ihhh… nanti ingusnya nempel di lengan baju trus bajunya dipakai tidur nempel di kasur” ucap Juno kesal, Bulan langsung tertawa mendengarnya, ia lupa kalau suaminya sangat fanatik dengan kebersihan.
“Hehehe… bentar ambil tisu dulu” Bulan beranjak turun dan mengambil tisu untuk menyeka air mata dan ingus di hidungnya.
“Kenapa atuh tadi bilangnya aku gak usah lanjutin ikut seleksi proposal?” tanya Bulan sambil cemberut dan memandang layar handphone.
“Ya maaf… aku spontan aja khawatir kalau kalau kamu nanti sakit”
“Aku lupa kalau kamu mati-matian nyiapin bahan untuk seleksi ini”
“Tapi kamu mesti janji berhati-hati… jangan memaksakan diri”
“Kalau merasa tidak sehat dan gak kuat untuk melanjutkan kamu harus langsung pulang”
“Jangan pikirkan soal uang investasi aku akan berusaha nyari… jangan terbebani” ucap Juno tegas.
Bulan menganggukan kepala dengan senang, rasa kantuk yang tadi menghilang berganti dengan rasa senang.
“Iya atuh aku juga mikir, gak akan memaksakan diri” ucap Bulan penuh semangat.
“Hmmm kalau diikuti maunya langsung senyum ketawa senang” keluh Juno melihat muka Bulan yang penuh dengan senyuman, masih ada sisa air mata di pipinya.
“Ya udah aku marah-marah lagi aja kalau gitu” balas Bulan sambil cemberut.
“Hmmm… seneng banget marah sama aku sekarang yah” balas Juno sambil tersenyum, Bulan merubah bibir menjadi manyun kedepan.
“Kenapa yah… aku ada feeling anaknya perempuan” Juno menatap Bulan sambil tersenyum.
“Kok bisa… aku aja ibunya belum kepikir dan kerasa apa-apa” Bulan mengerutkan dahi sambil mengusap-usap perutnya.
“Iya soalnya kamu sejak hamil keliatan makin cantik” balas Juno, Bulan langsung melengos malu.
“Iddih sebel dengernya…gombal banget” melihat Bulan yang tersipu malu, Juno langsung tertawa senang.
“Mau dipanggil apa nanti kalau udah jadi orangtua?” tanya Juno. Bulan mengerutkan dahi bingung.
“Gak tau… belum kepikiran” jawabnya pendek
“Aa mau dipanggil apa?”
“Hmmm Papa?”
“Nanti sama dong dengan Papa Bhanu”
“Ayah?”
“Hmmm bagus sih tapi banyak yang bapaknya dipanggil Ayah agak umum” pikir Bulan.
“Hmmm Daddy?” tanya Juno lagi.
“Nanti sama dengan Pak Kevin dong”
“Gaak.. sorry aku gak mau samaan dengan dia” kali ini Juno yang menolak dengan kesal.
“Pakai nama panggilan yang beda dengan orang biar berkesan gitu” jelas Bulan
“Kaya artis Mimi Pipi… tapi aneh yaa” ucap Bulan sambil mengerutkan dahi.
“Eh A… kalau bahasa daerah Palembang panggilan orangtua apa?” tanya Bulan menatap layar handphone. Juno tengah menatapnya lekat dengan tatapan yang dalam.
“A..?” tanya Bulan lagi.
“Hmmm… apa?” tanya Juno sambil tersenyum.
“Panggilan orangtua bahasa Palembang apa?” tanya Bulan lagi
“Udah ngantuk yaa? Ditanya dari tadi tapi malah bengong”
“Kenapa yah kalau jauhan begini kamu tuh suka keliatan lebih cantik sama seksi?” tanya Juno sambil tersenyum. Bulan kembali melengos malu
“Sebel ngegombal melulu dari tadi… efek jetlag kali.. Matanya jadi kabur.. Perempuan gemuk disebut cantik seksi…”
“Gemuk darimana? kamu kan malah ngurusin badannya kemarin” protes Juno.
“Eh iya lupa… hamil malah turun beratnya… tapi aku makan banyak sekarang kayaknya udah sama seperti waktu sebelum hamil” kilah Bulan
“Iya makan yang bagus kalau pengen sesuatu minta sama Mama… jangan minta sama si Afi nanti malah dia ngasih yang aneh-aneh” ucap Juno sambil cemberut, Bulan tersenyum mendengarnya, kakak dan beradik ini memang selalu ribut saja berdua.
“Jadi apa panggilan orangtua bahasa Palembang?” tanya Bulan lagi.
“Gak tahu… gak pernah dengar” jawab Juno pendek, Bulan menggelengkan kepala heran, mungkin karena besar di Jakarta jadi bahasa daerah Palembang jarang didengarnya.
“Kalau dalam Bahasa Sunda apa?” Juno balik bertanya.
“Apa yaah… Bapak Emak? Ambu Abah… aneh juga tapinya kalau dipanggil Emak atau Ambu… jadul banget”
“Ehhh ada juga panggilan lain dalam bahasa sunda… Ama sama Apa kaya panggilan orang korea…hehehhe ini kan jadinya act locally think globally”
“Itu aja gimana?”
“Appa Juno…. Amma Bulan” ucap Bulan bersemangat, Juno tersenyum melihatnya.
“Yah boleh… gimana Amma Bulan saja”
“Selamat tidur sayangnya Appa Juno” ucap Juno sambil tersenyum lembut.
“Aku boleh minta ciumannya gak sekarang?” tanya Juno, Bulan cemberut sambil mengangguk pelan.
“Virtual dulu sekarang… besok yang benerannya yaaah?” ucap Juno sambil tersenyum menggoda. Bulan hanya melengos.
“Mana ciumannya?” tawar Juno, Bulan mendekatkan bibir ke layar hape dan menempelkan bibirnya.
“Kok gak bunyi?” goda Juno lagi.
“Apaan sih A… rehe banget” Bulan kembali cemberut malu.
“Lah kalau kita ciuman kan suka sampai bunyi” goda Juno.
“Yeey itu kan Aa yang napsu jadi sampai bunyi gitu” sanggah Bulan.
“Kamu kali yang napsu… bibir kamu kan lebih tebal dari aku” goda Juno lagi sambil tertawa senang
“Aa ihhhh… sebel.. Udah ah… assalamualaikum” Bulan langsung mengakhiri telepon di tengah derai tawa Juno.
Hadeuuuh kalau udah marahan suka gampang sayang-sayangannya jadi suka pengen ikutan marahan juga hihihi.
###########
Untuk Gembuler's yang selama ini menjadi pendukung Rembulan dan rajin memberikan dukungan koin yang bernama Siti dan Suhana... Mohon untuk mengontak dm via IG ke asha_shanti_ig. Ada sedikit kenangan-kenangan dari BulJun. Terima kasih yah atas dukungannya.
Yang lain nanti bisa mendapatkan kenang-kenangan BulJun dengan mengikuti quis. Tunggu yah pengumumannya.
Tetap berikan dukungan untuk Bulan dan Juno yahhh.... Keep Vote... Like dan Komen-komen hehehehe... Stay safe and healthy.... Love u All