
“Ahhhh… anak Mama cantik gini” Mama menangkupkan tangannya dimuka. Bulan menyanggul rambutnya sederhana dengan cepolan kecil di belakang. Mama membelikan hiasan rambut karena tidak ada hiasan bunga yang bisa disematkan seperti pengantin lainnya.
“Itu efek dari makeup-nya aja mahal Ma.. jadi glowing muka dianya” Afi meledek sambil tersenyum sinis.
“Hehehe… makasih ya Afi yang cantik walaupun gak pake makeup… apa jadinya aku tanpamu” Bulan memeluk Afi erat, ia paling hafal kalau Afi paling tidak suka disaingi.
“Anak Mama yang paling cantik masih Afi… gak ada yang ngalahin” Mama Nisa menambahkan sambil tersenyum menggoda.
“Halaaah Mama basa-basi, emang aku gak punya mata… aku juga tau kalau Bulan cantik” ia membiarkan Bulan memeluknya, walaupun bicaranya sering ketus pada Bulan, semua orang tahu kalau Afi adalah sahabat garis keras Bulan.
“Baju kebayanya aku pakai di RS aja Ma, kalau dipakai dari sekarang malu nanti pas masuk ke RS”
“Bakalan disangka salah kostum, masuk RS tapi kaya mau wisudaan” ucapnya sambil tertawa, Bulan kembali memasukan kain dan kebaya ke dalam wadah pelindung pakaian yang tadi dibawanya.
“Iya gak apa-apa nanti ganti bajunya di kama Rumah Sakit saja, ayo sekarang sudah mau jam sembilan”
“Mama tadi sudah pesan makanan kecil untuk yang hadir akad tinggal dibawa di satpam sama Nico” Bulan menunduk malu, untung saja ada Mama Nisa yang memikirkan semua hal, karena ia sama sekali tidak terpikir sampai kesana.
Sesampainya di RS, tampak beberapa suster di depan kamar Bapak, firasat Bulan langsung merasa tidak enak.
“Suster ada apa? Apakah kondisi Bapak drop?” mukanya langsung cemas.
“Ow… tidak barusan Direktur Rumah Sakit telepon mau ke datang kesini, katanya mau nikah yah?” Bulan hanya mengangguk pelan, sebetulnya ia tidak enak pada suster dan pasien yang ada di rumah sakit, ia khawatir mengganggu ketenangan pasien lain. Suster Kepala yang badannya besar itu tersenyum, mukanya memang sudah bawaan terlihat galak jadi kalau senyum juga seperti menyeringai. Ia menepuk pundak Bulan dengan perlahan.
“Tidak apa-apa jangan sedih seperti itu. Selamat yaa, semoga menjadi keluarga yang berbahagia” ucapnya pendek sambil tersenyum lembut. Bulan sampai bengong ternyata suster kepala orangnya sangat baik, kemudian ia menyusul Mama masuk ke kamar. Ia langsung kaget penataan kamar sudah berubah.
Tempat tidur untuk pasien yang lain, sudah di geser ke pinggir dinding sehingga di samping tempat tidur Bapak ada ruang untuk menyimpan meja dan enam kursi yang melingkari meja, kemudian ada beberapa kursi yang ditata rapi sehingga tidak terkesan berhimpitan.
“Ahh Bulannya sudah datang, wah sudah cantik tapi apa mau pakai baju itu nikahnya?” dahi dokter Samuel langsung berkerut saat melihat pakaian Bulan sedangkan Juno sudah rapi memakai jas lengkap.. Di dalam ternyata ada banyak orang, keluarga Mama Nisa, Ema, Nico dan Juno yang menatapnya lekat, Bulan langsung gugup dan menunduk.
“Ehh ini belum ganti bajunya dok.. Sebentar mau lihat Bapak dulu” ia menghampiri Bapak, tapi ternyata sedang tidur padahal suasana di kamar tidak sepi. Bulan termenung, Bapak memakai jas di bagian luar baju pasiennya, siapa yang membawakan Bapak jas, sedangkan ia kemarin tidak membawanya karena berpikir Bapak akan kerepotan memakainya.
“Saya yang memakaikan baju jas buat Bapakmu, supaya terlihat ganteng walaupun sedang sakit.”
“Jangan khawatir bahannya nyaman kok tidak bikin Bapakmu gerah” ucap dokter Samuel datar, ia mengerti kekhawatiran Bulan yang mengangguk tanda setuju. Bapak memang jadi terlihat lebih terlihat normal dengan memakai jas. Matanya kembali bertatapan dengan Juno yang ternyata masih melihatnya dengan lekat, kali ini Juno tampak tersenyum tipis saat menatapnya dan itu malah membuat Bulan menjadi gugup.
“Saya mau ganti pakaian dulu dok” ia bergegas membawa baju kebaya dan kain ke toilet yang ada di kamar, tapi kemudian matanya melihat Benny yang berdiri menatap dinding sambil sibuk bicara sendiri.
“Bismillahirahmanirahim, Bhranta Juno Aditya bin Bhanu Senggala saya nikahkan engkau… eh kok kawin kannya jadi malah lupa…” Benny tampak mengerutkan dahi sambil melihat kertas.
“De kamu lagi apa?” dilihatnya kertas yang dipegang Benny yang tampak pucat.
“Teh… aku gak hapal terus.. Dari tadi salah ngomong yang buat ijab kabulnya” muka Benny terlihat pucat. Bulan tersenyum melihat adiknya, antara ingin tertawa dan sedih melihat adik kesayangannya yang ia rawat sejak bayi jadi gugup karena harus menjadi wali nikah kakaknya..
“Gak usah dihafalin de… kamu kan cukup baca aja” Bulan sebetulnya ingin tertawa tapi melihat muka Benny yang panik jadi kasihan;
“Ade itu jago dalam hafalan teh, ini cuma dua kalimat tapi kok gak hafal terus” Benny mengusap tengkuknya dengan kasar.
“Terus ade coba baca juga, malah keblibet gitu bacanya” ia benar-benar terlihat panik.
“Udah tenang aja jangan panik, semakin panik semakin kita gak bisa berpikir” Bulan memeluk Benny.
“Makasih ya De… kamu ada bersama Teteh sekarang, gak sia-sia teteh dulu ngerawat kamu lagi bayi.”
“Eh sekarang kamu yang ngewaliin Teteh pas nikah” diusap-usap punggung Benny perlahan, berusaha untuk menenangkan.
“Kalau nanti Ade salah, Ade takut Bapak marah terus sakitnya nambah parah” ucapnya perlahan.
“Ahahahah gak akan sayang, Bapak pasti bangga kamu udah bisa jadi wali nikah. Udah bisa ngegantiin Bapak buat ngejagain Teteh” air mata menitik di sudut matanya.
“Udah.. jangan ngapalin terus, nanti juga kamu lancar”
“Sudah sana makan kue, Mama Nisa beliin kue banyak. Bantuin Ema buat ngebagiin kue” kalau stress memang harus dialihkan perhatian. Benny bergegas mendekati Ema yang mulai mengeluarkan kotak kue membantu Mama Nisa.
Untung saja tadi Bulan memakai kemeja, sehingga proses berganti pakaian berlangsung cepat dan ringkas. Ia merasa beruntung memiliki kain yang sudah dimodifikasi menjadi rok, sayang tidak ada cermin besar sehingga tidak bisa mengecek tampilannya di kaca.
“Bulan… penghulunya sudah datang” terdengar ketukan dan suara Mama Nisa di luar, Bulan terhenyak menarik nafas panjang. Dari tadi perasaannya sudah merasa tidak tenang, ingin buang kecil atau buang air besar tapi bukan sama sekali. Tadi pagi saat sarapan ia memasukan makanan terasa mual. Rasanya tidak ada makanan yang bisa masuk ke mulutnya, akhirnya hanya minum teh manis panas.
Saat ia keluar sudah banyak orang yang duduk di ruangan, rupanya Kepala KUA Pak Sugandi datang bersama istrinya yang menjadi pasien dr. Samuel, kemudian ada penghulu yang sudah duduk di meja bersama dengan para saksi. Bulan melihat Juno dan Benny sudah duduk juga di kursi pada posisinya masing-masing.
“Ayo Teh sebentar lagi acaranya dimulai, Teh Bulan duduk dulu disini sama Mama, nanti kalau dikasih aba-aba sama Penghulu baru nanti duduk disana” Mama mendudukan Bulan di kursi dimana Afi, Nico dan Ema telah duduk dengan tertib.
“Ya Allah Eneng meni geulis kieu… Ema nepikeun ka pangling, padahal dangdos nyalira nya” (Ya Allah Eneng terlihat cantik, Ema sampai pangling, padahal dandan sendiri yah). Ema menyusut air mata dipipinya, Bulan tersenyum sendu, melihat Ema menangis hatinyanya menjadi semakin sedih. Dilihatnya Bapak sudah diposisikan duduk bersandar di tempat tidur dan menatap ke arah meja tempat akan dilangsungkannya akad.
Terdengar pintu terbuka dan dokter Samuel masuk bersama dengan seorang dokter lain yang terlihat lebih senior, mukanya terlihat bersih dan memakai kacamata kecil berwarna transparan. Mukanya terlihat bijak dan baik, karena semenjak masuk ke dalam ruangan senyumnya tidak lepas dari mukanya.
“Ahh ini saksi dari pihak perempuannya sudah hadir. Jadi kita bisa mulai yah” penghulu tampak berdiri menyambut Direktur Rumah Sakit.
“Selamat datang dok… terima kasih sudah hadir” mereka tampak bersalaman.
“Baik mari kita mulai” ucapnya Pak Penghulu, Bulan melihat muka Benny yang tampak semakin pucat.
“Sebentar-sebentar Pak… saya belum izin dulu ke Bapak mau jadi walinya teteh” ia berdiri dengan cepat dan menghampiri Bapak yang menatap nanar ke arah meja tempat ijab kabul.
“Bapak… Ade minta izin mau menikahkan Teteh” Benny meraup tangan Bapak meminta restu, Bapaknya hanya menatap sambil mengangguk-anggukan kepalanya, perlahan kemudian tiba-tiba Bapak menangis awalnya perlahan tapi kemudian keras sehingga tersedu-sedu.
Bulan langsung berdiri dan mendekat pada Bapak,
“Bapak jangan nangis nanti jadi sakit… “ ia menepuk pundak Benny rupanya adiknya malah jadi ikutan nangis sambil memegang tangan Bapak, hanya saja ia menyembunyikan mukanya seperti sedang salim.
“Kamu tuh malah jadi ikutan nangis, udah dong kasian Bapak jadi ikutan sedih” Bulan menarik nafas panjang kalau boleh ia menangis sebetulnya ia juga merasa sedih. Tapi dengan banyaknya tamu yang sudah datang, Kepala KUA, Penghulu, Direktur Rumah Sakit dan keluarga dari Mama Nisa sebagai saksi dari pihak laki-laki.
“Bapak… sudah jangan nangis, kasian tamu sudah hadir” Bulan menghapus air mata Bapak
“Minum Bapaknya yah” ia menyodorkan gelas dengan sedotan supaya Bapak bisa minum.
“Ade minum ayo jangan nangis, nanti gak bisa jadi wali nikah… soalnya masih kecil suka nangis” ucap Bulan tegas, Benny langsung duduk tegak dan menghapus air matanya, mengambil gelas minum dari tangan Bulan dan diteguk habis. Bulan jadi ingin tertawa melihatnya, tidak ingin disebut masih kecil langsung berusaha membuktikan dirinya sudah dewasa.
Bapak sudah berhenti menangis dan terlihat lebih tenang, rupanya dari tadi Bapak menyimpan kegalauan dan kesedihan tapi ditahan, begitu Benny meminta izin kepadanya, Bapak seperti mendapatkan kesempatan untuk meluapkan semua kesedihannya.
“Alhamdulillah, tidak apa-apa Pak… wajar kalau sedih. Kalau kondisi sehat pasti ingin menikahkan langsung yah” Pak Kepala KUA terdengar bijak menghibur Bapak.
“Nanti kalau sudah sehat punya kesempatan untuk momong cucu Pak jangan khawatir dan sedih” sambung Pak Penghulu, Bapak mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju. Benny mencium tangan Bapak dan memeluknya, tanpa disadari tangan Bapak terangkat dan menepuk tangan Benny.
“Ehh Bapak tangannya sudah kuat bisa mengangkat tangan… alhamdulillah” Bulan memeluk Bapak dan Benny bersamaan,
“Ayo Benny kembali lagi, kasian tamunya semua menunggu” Bulan menghapus air mata Benny dan mendorongnya kembali ke meja.
“Bapak… doakan teteh sama Benny” Bapak mengangguk mantap, Bulan merasa lega Bapak terlihat lebih tenang.
“Baik kita mulai, saksi dari kedua belah pihak sudah datang, terima kasih Bapak Direktur Rumah Sakit yang sudah hadir ditengah-tengah kesibukannya. Mohon maaf saat Pak dokter Samuel menyebutkan Direktur Rumah Sakit sebagai saksi dari pihak perempuan. saya mengira Bapak non muslim sehingga tidak bisa menjadi saksi tapi kata pak dokter, direkturnya muslim alhamdulillah…”
“Mohon diperiksa namanya sudah betul kepada kedua saksi”
“Baik saya sampaikan bahwa urutan dalam akad nikah terdiri dari pembacaan ayat suci yang akan saya bacakan, kemudian khutbah nikah dari bapak Kepala KUA, ijab kabul, doa nikah dan kemudian pembacaan sidgat taklik.”
Kemudian Bapak Penghulu membacakan ayat suci Al Quran yang mengawali akad nikah, setelahnya Kepala KUA Bapak Sugandi memberikan khutbah nikah, salah satu tausyah yang menyejukan yang diberikan oleh Kepala KUA.
“Untuk kedua calon mempelai yang hari ini akan menikah, saya ingin menyampaikan bahwa pernikahan yang dilaksanakan dengan keadaaan terbatas seperti ini tidak menjadikan pernikahan ini tidak memiliki makna dan tidak akan membawa kebahagiaan.”
Tempat walimah yang indah, pakaian yang gemerlap, suasana pesta yang meriah tidak menjanjikan kalau pernikahan yang akan berlangsung langgeng hingga maut memisahkan mereka.”
“Seorang pria tampan dan seorang gadis cantik akan menciptakan pesta pernikahan yang indah, akan tetapi seorang pria beriman dan wanita solehah akan menciptakan pernikahan yang sakinah, mawadah dan warohmah. Kenapa? karena menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama yang akan menyempurnakan setengah perjalanan agama dan kehidupan kalian berdua.”
“Nak Juno Allah menciptakan untukmu Rembulan sebagai isteri dari banyak perempuan yang ada di bumi tapi hanya dengan dirinya kamu akan merasa tenteram, begitu juga untuk Rembulan, Allah menjadikan diantara kalian berdua rasa kasih dan sayang. Kalau kalian menyadari itu semua maka yang demikian itu benar-benar menjadi tanda sebagai kaum yang berpikir,"
“Saya ingin mengingatkan pada kalian berdua, bahwa pasanganmu itu menjadi pakaian bagi kalian. Suami menjadi pakaian untuk istrinya, ia harus mampu melindungi, menutupi ketidaksempurnaan istrinya. Begitu pula bagi seorang istri, ia menjadi pakaian bagi suaminya walau mungkin pakaian itu mungkin tidak pas atau tidak cantik tapi saya lihat disini Dek Bulan cantik yah, maka Ia akan memberikan perlindungan bagi suaminya, dikala sakit, mengalami musibah ataupun masalah selama hidup di dunia. Nak Bulan harus bisa menutupi ketidaksempurnaan suami sehingga Nak Juno tampak menjadi laki-laki yang sempurna di mata semua orang walaupun sebenernya sih mengesalkan. Itu yang biasanya istri saya bilang kalau dibelakang saya ...hehehe.” Bu Meri istri Pak Sugandi tampak cemberut sambil tersenyum.
“Nak Juno harus kamu ingat bahwa dunia ini sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang salihah, yang mampu mendampingi suami di sampingnya bukan di belakangnya. Untuk itu jadilah pemimpin rumah tangga yang baik, yang mampu membawa bertanggungjawab secara lahir dan batin atas yang dipimpin yaitu keluarganya.”
Semua orang mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan khutbah nikah dari Kepala KUA, sampai khutbah nikah itu berakhir semuanya tampak menyimak dengan baik.
“Baik terima kasih Bapak Sugandi, S.Ag atas khutbah nikahnya, selanjutnya kita melanjutkan pada acara inti yaitu ijab kabul yang mana wali nikahnya adalah adiknya. Mari kita bersiap, silahkan wali nikah dan mempelai pria tangannya saling bersalaman”
“Wali nikah membacakan ijab terlebih dahulu sebagai tanda penyerahan yang langsung dijawab tanpa adanya jeda oleh mempelai pria membacakan qabulnya sebagai tanda penerimaan dalam satu tarikan nafas.”
Benny tampak menarik nafas panjang menenangkan dirinya kemudian dengan suara bergetar ia membacakan ijab
"Bismillahirahmanirahim, Bhranta Juno Aditya, saya nikahkan engkau dengan kakak kandung saya Rembulan Danurdara Maheswari binti Harlan Suherlan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan seberat 105 gram, dibayar tunai,"
Juno menggengam erat tangan Benny dan menjawab dengan cepat.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Rembulan Danurdara Maheswari binti Harlan Suherlan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai”
“Bagaimana sah?” tanya Pak Penghulu sambil memandang ke arah saksi.
“Sah.. Sah…” beberapa orang menjawab bersamaan.
“Alhamdulillah… mari kita sekarang berdoa bersama-sama” kemudian Bapak Penghulu membacakan doa yang diaminkan oleh semua penghuni kamar.
“Silahkan mempelainya disandingkan” Pak Penghulu memberikan tanda kepada Mama Nisa untuk membawa Bulan duduk disebelah Juno.
“Selanjutnya adalah pembacaan sidqat talik yang akan dibacakan oleh Nak Juno kepada istrinya yaitu Rembulan”
“Sidqat Talik ini bukan merupakan rukun nikah, tapi menjadi bagian dari acara akad nikah sebagai upaya pengingat bagi suami yang akan menjadi pelindung bagi istrinya seperti tadi yang disampaikan oleh Bapak Kepala KUA”
“Silahkan dibawa Nak Bulan untuk duduk bersanding bersama suaminya sekarang, boleh dipegang tangan isterinya, sekarang sudah syah”
Bulan menunduk malu, dari tadi melihat proses ijab kabul dari tempat duduk belakang bersama Mama Nisa. Pikirannya seperti melayang-layang, dan semua tahapan dalam akad nikah membuatnya merasa berdebar tidak jelas. Dalam hitungan menit semuanya akan berubah, ia akan menjadi istri dari seorang laki-laki. Tangannya yang dingin digenggam erat oleh Juno sementara Juno membacakan siqat ta’lik.
“Bismillahirrohmanirrohim”
“Pada hari ini tanggal 4 Juni 2018 saya Bhranta Juno Adiyta Bin Bhanu Senggala berjanji dengan sesungguh hati akan menggauli istri saya bernama Rembulan Danurdara Maheswari binti Harlan Suherlan dengan baik menurut ajaran Islam”
“Kepada isteri saya tersebut saya menyatakan sigat taklik dengan sebagai berikut”
“Apabila saya, meninggalkan isteri saya selama dua tahun berturut-turut, tidak memberikan nafkah wajib kepadanya tiga bulan, menyakiti badan atau jasmani isteri saya atau, membiarkan atau tidak mempedulikan isteri saya selama enam bulan lebih”
“Oleh karena perbuatan saya tersebut istri saya tidak ridha dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama. Maka apabila gugatanya diterima oleh pengadilan tersebut, kemudian isteri saya membayar Rp. 10.000 sebagai iwad atau pengganti kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya”
“Kepada pengadilan agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang iwad tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional untuk keperluan ibadah sosial.
“Bandung, 4 Juni 2018. Tertanda Bhranta Juno Aditya.”
Juno menatap Bulan dengan lekat, tatapan yang tidak pernah Bulan dari seorang Bhranta Juno Aditya sebelumnya.
“Sudah berpandangannya nanti dilanjutkan lagi, sekarang Nak Rembulan boleh mencium tangan suaminya dan Nak Juno diperbolehkan untuk mencium kening Nak Bulan.”
“Sampai disitu dulu kalau disini, yang lainnya nanti saja kalau sudah berduaan” Pak Penghulu seperti tahu kalau Bulan sudah nervous, jadi terus saja menggoda.
Selesainya acara akad nikah, diakhiri dengan salam hangat yang diberikan oleh Direktur Rumah Sakit, kepada kedua mempelai, beliau memberikan hadiah khusus untuk Bulan dan Juno.
“Saya tidak mungkin memberikan voucher menginap di RS yah… hahahahah” semua orang ikut tertawa.
“Saya berikan hadiah untuk menginap di hotel di depan rumah sakit selama tiga hari kepada pengantin baru ini”
“Saya senang bisa hadir dalam acara akad ini. Saya doakan semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah” semua orang di dalam ruangan mengaminkan apa yang disampaikan oleh Direktur Rumah Sakit.
Suasana sendu kembali terasa saat Bulan meminta doa dan restu kepada Bapak, yang kembali menangis hingga tersedu. Lama Bapak memeluk Juno dengan erat, seakan ingin memindahkan semua rasa bahagia dan ketenangan yang dirasakannya karena kehadiran laki-laki yang diharapkan akan menjadi pelindung bagi anaknya.
Diantara semua penghuni kamar yang terus memberikan selamat, hanya Nico yang terlihat gelisah. Sebentar-sebentar ia melihat ke handphonenya dan kemudian menarik nafas panjang. Afi luput memperhatikan apa yang terjadi dengan suaminya, euforia pernikahan yang sangat diharapkan oleh dirinya dan Mama sehingga ia tidak memperhatikan kejanggalan seakan hanya Nico yang tidak berbahagia dengan pernikahan ini.
“Fi aku mau turun dulu sebentar ada perlu” ucapnya pada Afi, ia terlihat bergegas keluar. Kemudian orang-orang tampak asyik menikmati kudapan makan ringan yang sudah disiapkan. Saat tiba-tiba pintu kabar terbuka dengan tergesa.
“Bulan…. “ teriakan laki-laki yang dipintu mengalihkan perhatian Bulan dari Bapak yang tengah duduk ia suapi makanan ringan. Anjar….
“Jangan bilang kamu sudah menikah…. Kamu bilang kamu mau menikah sama aku” Anjar berjalan cepat ke arah Bulan yang tampak kaget dan terkesima.
“Kemarin kamu bilang aku harus ke Bandung dan bilang pada Bapak kalau aku mau menikah sama kamu. Sekarang aku sudah datang… aku sudah bawa uang untuk biaya operasi. Pak Kevin sudah menyiapkannya buat kamu” tangan Anjar mencengkram erat tangan Bulan.
“Aaan...Anjaaar… bukan begitu…. Jaaaa...jangan disini” Bulan terlihat panik, matanya melihat ke arah Bapak yang tampak seperti bingung.
“Kamu belum menikah kan?” tanya Anjar cepat sambil menarik tangan Bulan, semua orang yang didalam ruangan seperti terkesima.
“Anjaar jangan seperti ini tolong” Bulan berusaha melepaskan genggaman tangan Anjar yang mencengkram tangannya dengan erat.
“Anjar lepas… tolong … Bapak lagi sakit Njar” Bulan mencoba bersuara lirih, tapi Anjar seperti tidak memperdulikannya.
“Bapak saya yang akan menikahi Rembulan” ucap Anjar tegas sambil menatap Bapak.
“Anjar… diam kamu.. Lepasss ih” Bulan mencoba melepaskan genggaman tangan Anjar, hingga akhirnya hentakan dari belakang membuat Anjar terdorong ke samping tanpa melepaskan tangan Bulan.
“Arghhhhh…..” teriak Bulan yang hampir jatuh tersungkur, untungnya tangan Juno yang menahan dirinya hingga tidak terjatuh tapi tarikan tangan Anjar di yang mencengkram lengan bajunya mengakibatkan baju Bulan robek. Wrrrrkkkkkk…. Suara sobekan yang cukup keras terlihat separuh lengan baju kebaya tertarik oleh tangan Anjar.
“Arghhhh…..” Bulan menjerit, sebagian lengannya dari dekat pundak terekspos dengan jelas, putih mulus. Juno langsung mendekap erat istrinya, dengan cepat saat melihat sebagian tangan Bulan terbuka ia membuka jas dan menyampirkannya di tubuh Bulan.
“Bangsat kamu… “ tatapan marah Juno saat melihat Anjar yang seperti bingung memegang sobekan baju Bulan. Juno menarik Anjar berdiri dan menyeretnya pergi ke luar, tapi Anjar berusaha melepaskan diri dan kembali bergerak menuju Bulan.
“Bulan maaf… aku cum….. Uhuuuuk” pukulan tangan Juno ke perut Anjar menghentikan langkahnya, semua orang menjerit.
“Ahhhh….” saat Anjar kemudian melawan dan mendorong Juno.. Bulan tampak bingung matanya nanar menatap kepada dua laki-laki yang berkelahi di depan matanya. Kebingungannya terhenti saat ia mendengar bunyi keras… tit...tit….tit...tit… mesin monitor di samping tempat tidur Bapak berbunyi keras, dan ia melihat Bapak tampak seperti kejang.
“Bapaaaaaaaaaakkk…..” itu adalah bayangan terakhir yang dilihatnya… saat kemudian semua terlihat menjadi gelap.