Rembulan

Rembulan
Mendadak Sekali


"Ah sial" Athar meletakkan gagang telefon ke tempat semua.


Dirinya melonggarkan dasi yang melingkar di kerah baju miliknya. Sungguh menyebalkan klien dari Singapura tiba-tiba saja merubah pertemuan mereka menjadi di Jakarta. Mau tak mau Athar pun harus ke Jakarta hari ini juga. Enggan sekali Athar pergi ke Jakarta, selain jalanan yang padat, suasana di sana cukup panas. Meski sedikit memliki kesamaan dengan Jakarta, kota tempat tinggal Athar saat ini setidaknya memiliki hawa sejuk. Meski begitu, Athar tetap saja harus ke Jakarta untuk membahas proyek pembangunan Stadion olahraga.


^


Athar baru saja turun dari mobilnya, mengenakan kemeja maroon di padukan dengan celana hitam dan jas senada dan terlihat tangannya membawa sebuah bouquet, kali ini bukan bouquet bunga melainkan bouqeut uang, ratusan ribu. Athar berjalan masuk ke dalam sebuah Kantor yang tidak terlalu besar. Kacamata hitam yang menutupi kedua bola matanya semakin membuat aura maskulinnya mampu menarik banyak pasang wanita kaum hawa di dalam gedung tersebut. Tak sedikit dari mereka yang melemparkan senyuman genit ke arahnya. Tak memperdulikan semua orang, Athar melangkahkan kakinya dengan begitu tenang, di ikuti oleh Ilea dan dua orang bertubuh kekar berseragam hitam. Meski Athar sebenarnya tidak nyaman dengan kehadiran dua bodyguard kiriman Kakaknya. Menurut Athar terlalu berlebihan bila dirinya di kawal oleh dua bodyguard sekaligus di tambah dengan llea yang kemana saja pasti ikut dengannya, bahkan Athar berpikir dirinya kini sudah seperti CEO pada serial drama korea di tv yang sering Kakaknya lihat.


Athar melangkahkan kakinya menuju salah satu meja, sementara Ilea langsung menuju ruang pimpinan perusahaan ini, keduanya berpisah di ujung lorong gedung lantai tiga.


Athar mengamati sekeliling ruangan yang berjajar banyak sekali kursi karyawan dan di beri sekat sebagai pembatas. Kacamata hitamnya di buka sedikit untuk memperjelas pandangan matanya. Dan saat menemukan yang dirinya cari, senyum Athar merekah. Dengan langkah kaki yang cepat Athar pun langsung menghampiri meja Kenanga. Suasana lantai tiga yang awalnya sepi menjadi riuh. Bahkan karyawan wanita heboh dan histeris saat melihat Athar yang berjalan dengan membawa bouquet uang berukuran tidaklah kecil.


"Berisik sekali" Kenanga menggosok daun telinganya, entah siapa lagi hari ini yang sudah membuat gaduh para staf wanita di kantor ini.


Beberapa jam lalu para staf wanita di buat gaduh saat ada investor asing berwajah bule yang mendatangi kantor, dan saat ini, menjelang makan siang suasana kantor kembali riuh, membuat Kenanga harus mendengus dengan kesal akan sikap para staf kantor ini yang di rasa berlebihan. Pria tampan tidak selalu membahagiakan.


"Hai sayang" Athar meletakkan bouquet bunga uang tepat di hadapan Kenanga. Membuat Kenanga seketika langsung mendongakkan wajahnya


"Astaga.." Kenanga terkejut dan reflek memundurkan kursi kerjanya.


"Ada apa??" Tanya Athar seraya melepaskan kacamata hitamnya dan menyimpannya di saku bagian dalam jasnya


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu" sembur Kenanga kesal


Athar terkekeh "Kau sibuk?" imbuhnya


"Sibuk, sibuk sekali. Memangnya kau tidak ada kesibukan lain selain membuat para staf wanita di kantor ini menjadi riuh?" Kenanga mengerutkan alisnya dengan kesal


"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin menemui dirimu. Memangnya salah?"


Kenanga semakin mengerutkan alisnya, pandangan matanya kini di alihkan ke arah belakang punggung Athar, terlihat dua orang bertubuh tegap berseragam hitam berdiri tidak jauh dari Athar. Ini untuk kali pertama Kenanga melihat kekasihnya di temani oleh dua bodyguard yang di rasa Kenanga wajahnya seram.


Dan Athar yang sadar akan arah pandangan mata Kenanga, kini hanya bisa menghela nafasnya berat. Sebenarnya dirinya juga risih di kawal seperti ini, jadi tidak memiliki privasi.


"Mereka bodyguard yang di kirim oleh Kak Athira, Kakak bilang aku harus di temani oleh dua bodyguard untuk keselamatanku. Bagaimanapun juga saat ini aku sedang menggantikan posisi kakak memimpin Zanaka group" jelas Athar, sementara Kenanga malah mengangkat kedua alisnya ke atas


"Ah sudahlah lupakan, kedatanganku ke sini sebenarnya untuk,...,"


Athar pun tersenyum, baru kemudian dirinya menjelaskan kalau Athar ada perjalanan ke jakarta sore ini bahkan dia bermaksud untuk mengajak Kenanga turut serta dalam perjalanan dinas kali ini, dan Kenanga juga di minta oleh Athar untuk menjadi sekretarisnya selama di jakarta.


"Mana bisa seperti itu. Aku juga memiliki tanggung jawab dengan pekerjaanku. Jadi lebih baik dokter pergi bersama Ilea saja" tegas Kenanga.


"Dan lagi aku tidak akan mendapatkan izin dengan mudah dari atasanku" imbuh Kenanga


"Ayolah sayang.. kau dan Ilea akan bertukar tempat. Dan Ilea sudah setuju akan hal itu"


"Ilea setuju, tapi tidak dengan bosku" sembur Kenanga kesal, entahlah sejak kapan Athar bersikap seperti anak kecil, merengek dan memaksa


"Aku mengijinkan" suara pria paruh baya terdengar tak asing di telinga Kenanga.


"Tapi pak.." Kenanga seketika berdiri dari kursi kerjanya.


"Kenanga tidak masalah, karena sementara waktu tugasmu akan di gantikan oleh sekretaris tuan Athar"


Kenanga memanyunkan bibirnya dengan Athar,bahkan kedua matanya melemparkan tatapan tajam ke arah Athar yang saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan.


Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya Kenanga berhasil Athar bawa turut serta dalam perjalanan dinasnya ke Jakarta. Bahkan kini keduanya sedang duduk di dalam satu mobil yang akan membawa keduanya menuju bandara.


"Ini hukuman untuk dokter menyebalkan" Kenanga menarik daun telinga Athar dengan kesal


"Ah.. sakit sayang" Athar meringis menahan rasa sakit di daun telinganya.


"Biarkan saja. Biar kau tidak seperti ini lagi" kesal Kenanga


"Sayang, maafkan aku.." Athar merengek meminta ampun kepada Kenanga.


Kedua bodyguard yang duduk di kursi depan, terlihat melirik ke arah spion mobil. Keduanya tampak saling melempar pandangan namun tidak berani berkomentar. Ternyata calon istri dari bosnya yang terlihat lemah lembut dan manis, bisa segarang singa yang sedang kelaparan. Bahkan bosnya saja tidak berani berkutik sama sekali.


Kenanga akhirnya melepaskan tarikan tangannya di daun telinga Athar karena pria itu terus saja mengaduh kesakitan. Sebenarnya, Kenanga tidak kesal karena pergi keluar kota bersama Athar, melainkan kesal dengan acara yang mendadak seperti ini. Jika Athar mengatakan beberapa hari lalu, tentu saja dirinya bisa mengajukan cuti dan tidak bertukar posisi dengan Ilea, walau bagaimanapun, Kenanga merasa tidak enak kepada Ilea yang kini malah harus turun jabatan untuk sementara waktu menjadi staf biasa menggantikan posisi dirinya. Kenanga juga menghawatirkan keadaan kedua orang tuanya, meski Athar bilang kalau kedua orang tuanya sudah memberikan ijin kepada Athar untuk membawa Kenanga turut serta dalam perjalanannya kali ini, tetap saja Kenanga merasa tidak tenang.