
Selama tiga hari belakang, Bulan fokus untuk mengejar surat rekomendasi dari semua klien yang proyeknya pernah dikerjakan oleh Juno. Apakah mudah? … Tentu saja tidak.
Bukan Juno namanya kalau segalanya mudah, kalau bisa dibikin sulit kenapa harus dipermudah. Mungkin itu yang ada dalam pikiran laki-laki itu, saat Bulan memintanya untuk membuat daftar prioritas proyek yang pernah ia kerjakan dulu yang membuat klien merasa puas atau hasil kerjanya fenomenal.
“Aku sibuk!” hanya itu jawabannya, sambil mengerutkan dahi.
“Hanya sebentar saja… please ini juga kan buat perusahaan kita” bujuk Bulan
“Aku sebutkan nama proyeknya... nanti A Juno tinggal sebutkan perusahaan mana” tapi tetap saja laki-laki itu menggelengkan kepala.
“Kenapaaa gak mau… aku kan cuma minta waktu sebentar aja!” Bulan menunduk kesal, akhir-akhir ini ia merasa dirinya gampang sedih, air matanya sudah menggenang karena Juno tidak menyambut idenya yang dipikir cemerlang.
“Arvian ngasih warning sama aku waktu dulu keluar” akhirnya Juno bersuara setelah lama terdiam. Melihat Bulan yang diam menunduk sambil mengaduk-aduk bubur yang ada dihadapannya membuat Juno merasa bersalah.
“Dia bilang, kalau aku gak bisa melakukan klaim atas pekerjaan yang dibuat saat aku kerja sama dia”
“Dan itu ternyata ada di surat kontrak”
“Aku dulu gak terlalu ambil peduli, tapi kalau dipikir sekarang, aku ngerasa bodoh banget!” muka Juno terlihat kesal.
“Bertahun-tahun aku kerja disana dan semua hasil kerjaku jadi hak milik dia!”
“Shiiiiit!” umpat Juno kesal. Bulan menatapnya kaget, jarang-jarang ia mendengar suaminya mengumpat.
“Protes atuh… enaknya aja mengklaim hasil pekerjaan orang!” ucap Bulan sambil melotot kesal.
“Sudahlah gak usah diomongin lagi… salah aku, dulu gak baca kontrak dengan benar” jawab Juno.
“Makannya habiskan jangan diaduk-aduk gitu…” ucap Juno sebelum beranjak dari meja makan.
“Gak mau ah eneg… aku gak suka bubur yang diaduk… A Juno aja habiskan aku mau tiduran di kamar aja!” ucap Bulan sambil mendahului suaminya ke kamar. Juno hanya bisa melongo heran, jarang-jarang Bulan tidak menghabiskan makannya, biasanya dia paling sering mengomel soal makanan sisa. Dilihatnya bubur yang sudah teraduk dan mulai encer berair. Sambil bergidik ia membawa mangkuk bekas sarapan ke tempat cuci, dibuangnya bubur bekas makan Bulan dan segera ia cuci bersama bekas makannya. Daripada nanti urusan jadi panjang lebar karena melihat makanan sisa di tempat cucian lebih baik ia bersihkan langsung TKP hingga tidak ada ada barang bukti.
Juno kembali melanjutkan mendesain gambar untuk proyek rumah Bintaro, permintaannya agar uang muka proyek bisa dibayarkan setengahnya telah dipenuhi oleh Reza sehingga ia harus segera menyelesaikan rancangan yang kemarin telah disetujui.
Namun baru tiga puluh menit ia bekerja, tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh Bulan yang turun dari lantai dua dengan pakaian lengkap dan rapi seperti hendak pergi keluar.
“Mau kemana?” tanya Juno heran.
“Biasa... Cari investor!” jawab Bulan pendek sambil mengulurkan tangan untuk salim.
“Siapa investornya? Jawab yang benar!” ucapnya kesal.
“Yah investor… orang yang mau mempercayakan uangnya sama kita” jawab Bulan santai sambil mengambil tangan suaminya dan mengecupnya beberapa kali.
“Aku pergi dulu yah… pusing kepala barbie kalau di rumah terus”
“Jangan khawatir aku gak akan keluar kalau gak perlu”
“Jangan memaksakan mencari uang untuk proyek, kemarin Angga bilang kalau minggu ini akan turun dana untuk rumah Bintaro”
“Alhamdulillah… jangan khawatir Adek gak akan ngelayap yang gak jelas… “ ucapnya sambil mengecup pipi Juno yang hanya bisa meliriknya, tapi saat Bulan akan beranjak menjauh tiba-tiba tangannya ditarik oleh suaminya.
“Eeeeehhh” teriak Bulan kaget dan jatuh terduduk di pangkuan Juno.
“Mau kemana kamu ngaku?” Juno mendekap erat tubuhnya.
“ Pakai parfum segala tumben”
“Biasanya juga pakai parfum kok kalau keluar!” gerutu Bulan sambil menghindari muka Juno yang mengendus-endus di lehernya.
“Udah atuh ahh geli!”
“Aku mau pergi dulu nanti keburu panas… suka pusing kalau kena panas matahari Jakarta”
“Bilang dulu mau kemana?” Juno keukeuh tidak mau melepaskan dekapannya pada tubuh istrinya. Bulan menarik napas panjang, kalau tidak dijawab bisa-bisa ia tidak diizinkan keluar rumah.
“Mau cari investor buat perusahaan” jawab Bulan keukeuh. Juno memandangnya dengan lekat, matanya terlihat sedih.
“Kenapa? Gak boleh?” tanya Bulan, Juno hanya tersenyum.
“Siapa investor-nya? Kevin? Cedrik?” tanyanya kesal.
“Bukanlah mereka mah makelar semua, gak punya duit!” ucap Bulan sambil menggerakkan jarinya melambangkan uang. Juno mengerutkan dahinya.
“Trus kamu mau kemana? Jangan bilang mau minta bantuan Papa… aku kan udah bilang kalau aset Papa dibekukan sampai kasus penipuan itu selesai”
“A Juno masih gak percaya sama aku yah, aku mau ngurusin surat rekomendasi dari perusahaan yang pernah jadi klien”
“Biar cepet aku ontrog aja”
“Ontrog?” tanya Juno bingung.
“Didatengin… supaya cepat” ucapnya sambil tersenyum. Cup… mencium bibir Juno dengan cepat sambil mengusap khawatir ada lipstik tertinggal.
“Udah yaaa… jangan kelamaan pangku-pangkuannya ntar ada yang bangun lagi, berabe!” ucapnya sambil mengerling nakal kemudian beranjak turun.
“Aku antar” jawab Juno cepat.
“Gak usah, aku pakai mobil online aja. Aa kerjakan desain rumah Bintaro jangan ditunda-tunda”
“Kita bagi-bagi tugas jangan ikuti emosi”
“Berikan kepercayaan sama istri, insya allah amanah!” ucap Bulan sambil merapikan baju dan kerudungnya.
“Aku berangkat dulu yaah”
“Assalamualaikuuum” ucapnya sambil melenggang pergi. Juno hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu pake liat-liat segala?!” ucap Juno kesal pada Samson yang memandangnya dengan muka yang seperti mengejek.
“Kamu juga susah ngelawan dia kan?”
“Siapa bilang perempuan itu lemah… bohong itu bohong… yang bilang mereka itu lemah bukan kita… tapi mereka sendiri yakan?”
“Mereka bilang gitu supaya kita ngerasa hebat kuat… padahal sebenarnya mereka diam-diam lagi menjajah kita”
“Coba kamu pernah sadar gak? Kamu dikasih makan setiap hari sama dia, sampai kamu gak bisa hidup tanpa dia!”
“Makanan kalau gak dibuatin sama dia kerasa gak enak kan?”
“Diam-diam mereka menyimpan jampi-jampi sama makanan kita… bikin kita ketagihan!” ucap Juno pada Samson yang hanya memandangnya dengan malas.
“Meoooong… “ ucap Samson sambil berdiri dan mendekati Juno.
“Hussssh… sana kamu tuh diajak ngobrol dikit aja udah modus minta makan… tadi kan sudah”
“Sana tidur lagi…” ucap Juno sambil mendorong Samson dengan kakinya agar menjauh.
“Perut sudah gendut seperti itu masih minta makan!”*ucapnya sambil bersungut-sungut, ia kembali menekuni gambar yang sedang dibuatnya tadi.
Namun keasyikannya menggambar kembali terganggu saat satu jam kemudian handphone-nya berdering.
“Doeel… lu buruan kesini!” tiba-tiba saja tanpa ba-bi-bu Doni langsung berteriak di seberang telepon.
“Apaan sih lu bikin kaget?!” Juno memandang teleponnya sesaat karena kaget.
“Serius buruan kesini!”
“Si Bulan ngelabrak Arvian… sekarang dia ada di ruangannya”
“Tadi kata sekretarisnya, si Bulan datang marahin Arvian”
“Dia tahu Bulan istri lu soalnya Bulan bilang kalau dia istrinya Juno”
“Gilak itu anak… nekad banget marahin si Arvian, dia kan orangnya bad tempered”
“Gw khawatir ntar malah ribut”
“Buruan lu kesini!”
Juno tercenung… ia tidak menyangka kalau istrinya akan berani datang ke kantornya yang dulu. Kenapa… jangan bilang kalau Bulan marah pada bosnya itu gara-gara ucapannya tadi pagi. Juno langsung berdiri kaget.
“Rembulaaaaaaan” teriaknya kesal. Terbayang dalam pikiran Juno kalau istrinya akan memarahi mantan bosnya yang dianggap telah mengambil semua hasil karya selama ia bekerja disana.
“Samsssooon…. Majikan kamu makan apa sampai nekad begitu??” hahahahahahha
Bulan...dilawan….