
Bulan PoV
Sudah dua hari A Juno tidak pulang, dan ia masih belum menjawab semua pesan-pesan yang aku kirimkan. Apa maunya laki-laki ini?
Tadi sepulang kantor Mbak Sarah terus bertanya macam-macam, dia bilang kalau saat pagi-pagi ia ke kantor ruangan Juno menyala hanya pintunya ditutup dan dipasang tanda tidak mau diganggu. Ada kode etik di kantor itu kalau ruangan dipasang tanda itu artinya sang pemilik ruangan tidak mau diganggu.
Aku lega paling tidak aku tahu posisinya ada dimana, khawatir kalau dia jadi salah mengambil jalan seperti Anjar, tapi aku tahu kalau A Juno orangnya akan berpikir logis dan dewasa dibandingkan Anjar hanya saja ternyata laki-laki kalau sudah berurusan dengan cemburu tidak pandang umur.
Cemburu… apakah benar A Juno cemburu padaku?, kalau ia cemburu artinya dia benar-benar sudah mencintaiku… Cinta… kata yang terasa mewah untuk disematkan bagi pasangan yang menikah karena keterpaksaan.
Walaupun ia berulang kali mengatakan Muuney I love you…Muneey I need you... itu lebih banyak ia ucapkan saat pergulatan panas dan diakhir nafas panjang setelahnya. Penuh rasa puas dan tatapan yang mendamba yang hanya aku dapatkan saat ia menggauliku. Sisanya hanya muka dingin dan lurus. Terkadang dia senang menggoda mentertawakanku tapi hanya saat dia merasa ingin menunjukkan kepemilikan di depan Bang Doni atau Mbak Sarah.
Aku tidak terlalu memikirkan soal perasaan, hanya saja terkadang merasa ingin tahu kalau kita menikah dengan laki-laki yang memiliki keseimbangan perasaan dengan kita apakah sikap mereka akan seperti A Juno sekarang?. Terkadang hangat, sering juga bersikap tidak peduli, dalam pikirannya hanya pekerjaan saja. Tapi kalau sudah ada maunya beuuuh manis… penuh dengan puja puji.
Mendengar apa yang dikatakan Mbak Icha kalau dia di telepon Juno yang mencariku untuk mengetahui lokasi restoran tempat meeting membuatku merasa senang, dia benar-benar memperhatikan dan peduli. Yang tidak aku mengerti sekarang adalah sikap Pak Kevin kenapa tidak memberitahu kalau A Juno sedang mencari dan akan menjemput.
Dia memang menawarkan untuk menelepon langsung tapi aku kan tidak hafal nomornya, kebodohan yang aku sesali sampai sekarang. Tidak hafal nomor hape suami sendiri, akibatnya tadi malam aku menghafalkan nomor-nomor penting jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Membeli powerbank supaya tidak akan kehabisan baterai, membeli charger produk KW sampai tiga buah, satu disimpan di kantor, satu disimpan dirumah, satu di simpan di tempat kabel laptop untuk jaga-jaga kalau sekiranya terjadi kejadian seperti ini lagi.
“Bang Doni masih di workshop?” akhirnya aku tidak bisa bertahan untuk tidak telepon, peduli apa ditanya macam-macam juga.
“Iya, baru besok aku ke kantor, ada apa Bul?” hufft ternyata masih di Tangerang. Masa aku harus bilang kalau A Juno gak pulang lagi semalam, terlalu memalukan.
“Gak apa-apa, pengen tanya aja soal A Juno lagi dimana hp nya gak bisa dihubungi terus”
“Halaaah baru saja tadi ketemu pagi-pagi sekarang siang mesti ngasih kabar”
“Si Dul kalau lagi gak mau diganggu hp nya suka di silent atau dimatikan… sabar aja Neng.. nanti Abang bilangin kalau udah nyampe kantor”.
“Gak apa-apa Bang kalau lagi sibuk mah, aku gak mau ganggu”
“Makasih yah Bang semangat kerjanya”.
Berbicara dengan Bang Doni selalu membuatku tersenyum, ditengah kegalauan dan rasa risau yang tidak kunjung reda. Sudah ratusan istigfar aku ucapkan tapi masih saja kerisauan itu tidak hilang.
Hari ini Pak Kevin pun masih belum masuk, dan hari ini pula aku merasa kalau semua orang seakan menghindariku. Mba Icha beralasan kalau banyak agenda rapat di luar, sejak pagi hanya sesekali masuk ke ruangan dan kemudian kembali menghilang. Begitu juga dengan Anjar lebih banyak diam dan tidak melakukan interaksi sama sekali.
Aku jadi inget perkataan Mbak Icha kemarin semuanya jadi serba salah. Kupikir memang benar sekarang semuanya jadi serba salah. Ternyata tidak semua hal bisa diselesaikan dengan niat baik, tergantung kepada kondisi dan situasi dimana niat baik itu dilakukan.
Bekerja dengan lingkungan yang heterogen memang sulit membuat suatu pemisahan yang jelas antara hubungan laki-laki dan perempuan, akan selalu saja terjadi gesekan-gesekan yang terjadi walau tidak kita inginkan. Pak Kevin adalah atasan yang baik, sayangnya dia juga laki-laki yang menjadi suami mantan A Juno. Kalau putusnya baik-baik sih mungkin tidak menjadi masalah tapi putus karena ditikung itu yang jadi masalah. Jadi mungkin A Juno masih trauma khawatir ditikung lagi dengan orang yang sama.
Anjar, mungkin tidak masalah dengan A Juno karena merasa kalau dia kelasnya berada di bawah Aa, baik dari segi umur maupun ekonomi. Indikator yang menjadi kebanggaan seorang laki-laki adalah kepemilikan aset. Yang jadi permasalahan adalah antara aku dan Anjar, aku masih merasakan kesedihan yang ada dalam dirinya, merasa dipecundangi, ditikung di belokan kalau kata anak jaman now.
Bersikap baik dan ramah pada Anjar seperti buah simalaka, bersikap baik salah gak bersikap baik jadi seperti sombong mentang-mentang sudah menikah. Jadi pada akhirnya kita seperti dua orang yang saling menjaga jarak aman supaya tidak saling menyakiti.
Sekarang aku bisa mengerti ajaran agama yang mengatakan sebaik-baiknya perempuan adalah yang diam di rumah, ternyata kurasakan sendiri konsekuensinya sekarang. Walaupun aku merasa tidak melakukan bahkan tidak berniat menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan laki-laki manapun tapi tetap saja jadi muncul fitnah. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh A Juno kemarin lebih baik aku berhenti bekerja saja.
Konsekuensinya aku tidak akan memiliki penghasilan tetap untuk sementara waktu, yah memang kebutuhan harian aku bisa penuhi dari uang bulanan yang diberikan A Juno, menabung untuk sekolah Benny aku bisa kumpulkan dari proyek kecil-kecilan. Uang cadangan dari Bapak pun masih ada dengan tabungan berjangka dan reksadana. Nanti malam harus solat istikharah untuk lebih memantapkan hati dan perasaan.
“A.. gimana kondisi sudah baikan?”
“Kenapa sama sekali gak mau kasih kabar? Semarah itukah sama aku?”
“Aku minta maaf kalau Aa marah, kemarin aku betul gak bisa menghubungi Aa karena habis baterai dan lupa bawa charger”
“Aku khawatir kalau A Juno sakit, tolong kabari aku”.
Dan ternyata masih saja hp nya tidak aktif, aku mulai berpikir kalau sikapnya kekanak-kanakan. Kalau ia merasa khawatir aku tidak bisa dihubungi selama beberapa jam saja, kemudian bagaimana dengan sekarang, sudah dua hari ia tidak bisa dihubungi sama sekali. Apakah ia bermaksud untuk membalas perlakuanku kemarin?. Sama sekali tidak adil.
Malamnya terpaksa aku harus bertanya pada Mbak Sarah soal kondisi Juno di kantor.
“Mbak tadi ketemu A Juno gak?” tanyaku pelan, masih belum puas akan ceritanya tadi waktu pulang kantor. Berusaha bersikap normal sambil menghangatkan makan malam, hari ini membeli ayam sayur dari Rumah Makan Padang di depan Ruko, tidak ada keinginan untuk memasak, toh yang biasanya meminta makanan rumahan tidak ada.
“Kalian kenapa sih ribut?”
“Dari kemarin kok dia gak balik sih?!”
Muka Mbak Sarah terlihat berkerut dan memandangku dengan penuh curiga. Sulit juga menutupi permasalahan ini dengan orang serumah, terutama karena Mbak Sarah satu kantor dan sekarang serumah dengan A Juno.
“Yah biasalah Mbak… berselisih paham” jawabku pendek, menuangkan ayam sayur dan sayur rebus ke meja makan, saat tadi datang dari kantor aku memasak nasi. Kalau dalam kondisi seperti ini butuh energi supaya imunitas gak turun.
“Makan yuk Mbak… aku tadi beli ayam sayur, dikasih lalapan rebus daun pepayanya banyak nih” hari ini aku makan banyak, nasi lengkap dengan lauk dan sayur setumpukan. Mbak Sarah malah tersenyum sinis melihatnya.
“Tumben lu makan kaya kuli bangunan, frustasi yah ditinggalin laki lu?” perempuan ini memang gak ada peka-pekanya, udah dikasih makan masih aja ngomong pedes.
“Hati yang luka itu butuh energi Mbak… ntar kalau gw lemes malah pingsyan” jawabku asal, malam ini benar-benar merasa lapar tadi siang tidak sempat makan karena menyelesaikan laporan dan analisa, hanya sempat diganjal biskuit.
“Lu suka banget yah sama laki lu?” kembali Mbak Sarah penasaran dengan jawabanku. Lama-lama aku merasa sikap Mbak Sarah sebetulnya biasa saja, dia hanya orang yang tidak biasa bergaul dengan sesamanya.
“Sama suami itu bukan soal suka gak suka Mbak… tapi nerima atau tidak nerima”
“Nerima sifat buruknya, nerima kelemahannya, nerima ketidaksempurnaannya” ucapku, nasi terasa keras dan susah masuk ke tenggorokan kalau ngomongin sikap buruk pasangan.
“Seperti kita nerima sifat buruk dari sodara laki-laki kita. Kita selalu memaklumi mereka kalau mereka nyebelin… paling mikirnya yah gimana lagi udah sifatnya dia kaya gitu” Bebey yang pemalasan, yang suka manja, hobinya minta tolong ini itu, gampang menyerah itu yang sering bikin aku kesal sebagai kakaknya tapi yah mau gimana lagi mungkin memang sudah bawaannya.
“Ini aku lagi proses belajar menerima dan berpikir seperti itu buat A Juno” jawabku sambil tercenung, manusia es yang jarang ngomong, gampang emosian, mau menang sendiri dan suka memendam semua pikirannya gak pernah mau dibagi dengan orang lain. Membuat aku sering harus menduga-duga apa maunya dia.
“Mbak makan atuh biar aku ada teman” ajakku lagi. Malas juga nanti mesti ngangetin lauk dan sayur. Aku perkirakan A Juno gak akan pulang lagi sekarang kalau tidak membalas pesan dan telepon, akhirnya Mbak Sarah mendekat sambil merengut.
“Gw tinggal sama elu jadi makan mulu” gerutunya sambil mengambil nasi dan lauk serta sayur.
“Hehehhehe gak apa-apa atuh biar Mbak Sarah sehat”
“Gimana tadi ketemuan sama A Juno gak di kantor?” tanyaku lagi. Kalau butuh informasi kita harus menyuap informan supaya bisa memberikan informasi dengan lengkap, dan ternyata sang informan makan dengan lahap. Herman...bagaimana mungkin dia selama ini menahan lapar kalau pada kenyataannya dia suka makan.
“Ruangannya ditutup, pake don't disturb…” jawab Mbak Sarah pendek.
“Haah… terus kalau makan gimana?” tanyaku bingung, khawatir juga dia malah sakit.
“Yah dibeliin sama OB gimana lagi… gw ketok-ketok juga gak jawab, dia suka pake headset kalau lagi gak mau diganggu” jelas Sarah, makannya sudah langsung habis padahal aku yang duluan makan masih nyisa banyak.
“Ohhh… gitu aku baru tahu” ternyata banyak hal yang baru aku tahu tentang dia,
“Terus kebiasaan A Juno apalagi yang aneh?” tanyaku lagi, Mbak Sarah memandangku dengan sinis.
“Lu kan istrinya, mestinya lu yang tau dong jangan nanya sama gw”
“Lah aku kan baru barengan sama dia Mbak, kalau Mbak Sarah udah bertahun-tahun sama dia” jawabku kesal, rugi amat nih orang mentang-mentang nasi sudah habis.
“Iya lu baru kenal langsung kawin sama dia, gw udah bertahun-tahun sama dia tapi gak di kawin-kawin in” jawabnya kesal.
“Ya elaah si Mbak… itu mah jodoh Mbak udah digariskan sama yang di Atas, jangan tanya sama aku… aku juga heran tiba-tiba nikah sama A Juno. Gak ada rencana sebelumnya” jawabku kesal. Kalau bisa memilih pacaran normal dengan manusia normal yang bisa ngomong sih gak seperti sekarang ngilang kayak jin dalam botol.
“Mbak ngapain juga suka sama A Juno, dia orangnya sumbu pendek gampang marah, keras kepala juga… aku gak kebayang kalau Mbak Sarah sama A Juno.. beuh perang dunia terus kayaknya ” aku jadi pengen ketawa ngebayanginnya. Mbak Sarah melengos kesal.
“Belum dicoba aja, aku orangnya pengertian sama orang yang aku cinta” jawabnya cepat.
“Mbak cinta sama A Juno?” tanyaku, kapan lagi bisa sedekat ini dan mengorek keterangan.
“Aku udah cinta sama dia dari dulu, cuma kesempatannya aja yang belum datang” muka Mbak Sarah bercampur antara kesal dan sedih. Aneh juga dipikir-pikir ngomongin suami sama orang yang suka sama dia, tapi aku tidak merasa terancam dengan kehadiran Mbak Sarah mungkin karena secara fisik dia tidak terlalu menonjol. Kesan pertama kalau melihat Mbak Sarah adalah perempuan introvert yang kaku, dengan kacamata kotak dan rambutnya yang lurus diikat dan rahang yang tegas menjadikan garis feminimnya kurang terlihat.
“Aku dulu pernah cinta sama laki-laki yang gak akan mungkin bersama karena beda agama”
“Ternyata yang menyenangkan dari rasa mencintai itu adalah optimisme dan semangat yang kita rasakan saat bertemu dengan dia”
“Jadi aku menikmati itu dan mengingatnya… aku gak mengingat saat perasaan sedih tidak bersama dia, atau harus berpisah sama dia”
“Lupakan saja kalau sudah tidak bisa… laki-laki kan gak cuma dia… aku bisa mencari lagi yang lain atau kalau gak nemu yah bayangkan saja kita pacaran sama aktor ganteng… biar gak nanggung halusinasinya” aku jadi pengen ketawa sendiri dulu pernah membayangkan jadi pacarnya So Ji Sub… Oppa sarangheyo.
“Seenaknya saja perasaan itu gak bisa dengan semudah itu dialihkan apalagi kalau ketemu setiap hari” Mbak Sarah terlihat tua kalau sedih seperti itu, pantas saja A Juno gak suka sama dia hehehehhe.
“Yah trus mau bagaimana? Mbak Sarah tipe cewek yang suka menyiksa perasaan sendiri yah? Pantesan kurus”
“Hidup di dunia cuma sekali Mbak… jangan menyiksa diri sendiri” jelasku, lama-lama aku kasihan juga sama dia, kayanya gak punya teman bicara.
“Aku suka bayangin kalau laki-laki yang aku suka itu ternyata pergi sama perempuan yang seiman sama dia, aku kan gak mungkin pergi sama dia. Terus ngapain aku sedih mikirin dia, mendingan aku bayangin punya pasangan yang seiman terus sholat berjamaah bareng”
“Langsung deh aku move on” paling mudah untuk move on adalah membayangkan sang mantan bersama orang lain tertawa sedangkan kita menangis sedih …. Hoek cuuuuuh… sorry yaaah gak ada dalam kamus.
“Bayangkan laki-laki lain yang Mbak suka… jangan mikirin A Juno terus”
“Sudah mah sekantor ehhh… malah ikutan pindah ke ruko barengan, pantesan susah move on” aku cuma bisa menggelengkan kepala membayangkan penderitaannya, mana A Juno kalau udah gesrek main pepet dimana aja lagi, pernah ketahuan lagi mepet di dapur gara-gara aku kelamaan mengambil minum. Kasian kalau dipikir-pikir.
“Hmmm gak tau rasanya gak ada yang semenarik Juno” jawabnya, aku langsung mendelik kesal.
“Coba ngomongnya di filter, aku istrinya jangan terlalu terus terang gitu muji laki orang!”
“Lah elu yang ngajak ngobrol gw, bukan salah gw kan?”
“Hehehe iya yah Mbak… ngapain juga coba aku ngajak ngobrol perempuan yang suka sama suami sendiri, aku tuh kurang kerjaan banget” keluhku sedih.
“Dia tuh gak punya perasaan orangnya, aku kan kemarin gak bisa ditelepon gegara hp ku habis baterai, terus dia marah karena aku barengan sama bos aku, padahal aku kan gak ngapa-ngapain sama dia” tiba-tiba saja jadi pengen cerita.
“Ehh dia main tonjok aja, gara-gara bos aku pegangan sama bahu aku, dia tuh sakit mbak hipoglikemia pas rapat kemarin kita skip makan malam soalnya udah telat” muka Mbak Sarah keliatan berkerut, kalau kaya gini aku kaya punya kakak perempuan yang galak dan sadis tapi suka ngasih uang.
“Si Juno ngeliat lu dipegang-pegang sama Bos lu?” mukanya menyelidik.
“Cuma pegang bahu doang Mbak kaya gini, dia kayak mau jatuh gitu...aku juga kaget” langsung aku peragakan saat Pak Kevin merangkul bahu.
“Gile… lu dikadalin sama tuh laki, masa iya pegangan kaya gini” Mbak Sarah langsung menatap aku kesal.
“Yah aku juga kaget, biasanya dia gak pernah touching-touching gitu… tapi dia mengeluh pusing sebelumnya”
“Ahhh dasar lu polos banget jadi orang, mana ada laki-laki pusing kaya cewek banget pake pengen bersandar segala”
“Modus sih gw bilang sih, pengen nyoba lu welcome gak dipegang-pegang!”
Mendengar penjelasan Mbak Sarah aku jadi bingung masa iya sih Pak Kevin modus, ngapain juga modus sama aku... toh istrinya cantik.
“Aku gak suka suudzon sama orang Mbak, pikir positif aja” aku masih merasa yakin kalau Pak Kevin tidak akan sejahat itu. Jauh sekali dari sikap Pak Kevin sehari-hari.
“Istrinya cantik Mbak… mantannya A Juno”ucapku pelan.
“WHAT!” Mbak Sarah melotot…. “Uhuuuk….uhuuuuk” tuh kan jadi batuk-batuk, dia kaget sampai segitunya.
“Lu sekantor sama lakinya mantan si Juno?” dia menatapku dengan lekat. Aku mengangguk malas, bilangin jangan yah kalau mereka hamidun nikahnya… jangan ah ngomongin aib orang, males banget dosanya Kak Inne pindah ke aku.
“Ditikung pas di belokan...hehehehhe” gak kuat juga ngegibah dikit ah, toh gak diomongin soal hamidunnya.
“What…. Seriusan… si Juno ditingalin terus kawin sama bos lu?” Mbak Sarah langsung minum ber glek-glek saking semangatnya… beuh perempuan gak akan jauh kalau soal ghibah paling semangat.
“Gimana ceritanya?” dia ngedeketin… hahahah mukanya jadi gak jaim lagi, aseli seperti perempuan mode ghibah. Ternyata Mbak Sarah memang butuh teman bicara.
“Yah bos aku tuh temen kantornya dulu, jadi Kak Inne lulus duluan daripada Aa, jadi dia kerja duluan ke Jakarta, Aa masih di Bandung beresin kuliah”
“Karena LDR-an trus dia pindah deh ke lain hati… intinya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya” aku jadi tertawa sinis. Kasian juga kebayang hati sudah berbunga-bunga lulus ujian sarjana ehh.. Ditinggalin sama pacar… sakit tapi gak berdarah.
“Gileeee…. Kaya sinetron ini sih beneran”
“Trus lu sekarang sekantor sama lakinya yang ngerebut pacarnya si Juno dulu… yah wajar dia emosi... “
“Lu nya aja gak pake mikir…”
“Gw bilang juga otak lu kebanyakan turun ke bumper gak mengendap di kepala” perempuan ini emang nyebelin pengen nyembur sama air jadinya.
“Mendingan aku turun ke bumper jadi modal dasar pembangunan… daripada kaya Mbak Sarah ngendap di kepala jadinya besar kepala” orang kaya gini jangan dikasih kendor musti di kick balik.
“Lu mikir dong, laki lu pasti parno, dulu udah pernah ditikung sama orang yang sama, terus lu dipeluk-peluk juga”
“Masih mending gak ditembak juga” Mbak Sarah mendengus kesal, pastilah ngebela pujaan hatinya.
“Lu bayanginnya gini Oneng… lu mau kawin sama pacar lu terus dia ninggalin elu kawin sama cewek lain”
“Ehh pas elu udah kawin ternyata laki lu tuh sekantor sama perempuan yang nikung pacar elu dulu”
“Udah gitu itu cewek nyosor-nyosor mulu sama laki lu… lu bakalan emosi gak?” muka Mbak Sarah sinis banget sih.
Kalau dipikir benar juga apa yang dibilang sama Mbak Sarah, sama sekali tidak terpikir olehku. Gak kebayang kalau kejadiannya kaya gitu, bakalan nangis kejer kayaknya aku kalau liat A Juno disosor sama cewek yang pernah menikung aku. Tiba-tiba kok aku jadi sedih and ngerasa bersalah banget sama A Juno.
Aku bilang sama dia kalau A Juno gak percaya diri sama Pak Kevin, padahal bukan soal percaya diri ini mah, tapi soal trauma. Gak kebayang A Juno ngeliat aku dari belakang trus Pak Kevin lagi merangkul pundak aku… Ya Allah ampuni hambamu ini….
“Nyadar gak lu?” suara Mbak Sarah jadi terdengar samar-samar di telingaku.
“Heeeh Oneng… sadar gak lu udah bikin laki lu emosi?”
Aku mengangguk dan tersenyum malu, salah juga memang aku terlalu naif, terlalu berpikir soal profesionalisme kerja tanpa bisa memahami bagaimana perasaan orang yang terdekat. Mungkin kalau aku dari kemarin berpikir dari sisi A Juno gak akan seperti begini kejadiannya, mungkin aku bakalan menolak makan bareng dan pulang lebih dulu. Bakalan lebih berhati-hati dan tidak merasa paling benar.
“Makasih Mbak nasehatnya” ucapku pelan, tersenyum melihat perempuan berkacamata yang mukanya garang gak ada manis-manisnya.
“Aku senang punya teman di Ruko sama Mbak Sarah”
“Besok aku buatkan nasi goreng”.
“Huuuh… nyogok lu… gak mempan… tetep aja gw gak demen sama elu!” Mbak Sarah beranjak ke pergi.
“Siapa juga yang mau didemenin sama Mbak Sarah.. Gak ada bumper nya… Weeeek”
Wuuuuzzzz… bantal sofa melayang ke arahku… untung gak nyampe. Ternyata hikmah gak ada si Junaedi aku jadi bisa ngobrol hati ke hati sama Sarah 008… Mudah-mudahan hati Wonder Woman ku bisa bertahan hingga besok hari… kalau besok masih belum kasih kabar juga. Mesti dikasih pelajaran…
Pelajaran apa yah…
**Matematika **
4 x 4 enambelas…
Pesan itu Sempat tidak Sempat harus Dibalas
Biologi
Kalau alat reproduksi bisa mengalami malfunction disaat pikiran dan perasaan tidak sinkron, mengakibatkan otak mengeluarkan hormon yang disebut dengan ……. yang mengakibatkan ……….
Pusing… pusing deh...