Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Panglima Kegelapan


“Baiklah! Jangan kira aku takut dengan racunmu ini, iblis sialan!”


Selesai berkata demikian, salah satu sosok bercadar melesat masuk ke dalam asap kabut. Tindakannya itu bukan tanpa perhitungan, karena dia memang memiliki keistimewaan dalam segi elemen racun. Sehingga dia merasa asap racun itu tidak akan berpengaruh terhadapnya.


Ternyata bayangan Arya yang memiliki elemen racun tidak hanya seorang saja melainkan ada lebih dari sebelas orang. Mereka bekerja-sama memaksa lawan supaya keluar dari kepulan asap. Dengan demikian menghabisinya akan lebih mudah.


Namun kenyataannya di luar dugaan, para bayangan Arya mendadak kebingungan setelah memasuki kabut asap racun. Di dalam sana, mereka bukan hanya melihat pria botak saja melainkan ada belasan sosok yang menyerupai pria botak.


“Tubuh bayangan?” Desis salah satu sosok bercadar dengan pandangan yang menunjukkan keheranan.


“Bukan! Ini bukan tubuh tiruan tapi ilusi!” Sahut yang lainnya.


“Kalau begitu, cari yang asli.”


Belasan bayangan Arya segera menyerang sosok pria botak yang menghadang. Entah mereka asli atau bukan, para bayangan Arya tidak lagi perduli! Mereka berencana menggunakan energi pria botak yang mereka serang untuk mengetahui keberadaan pria botak yang asli.


Dari pengalaman bertarung melawan Huashan salah satu tetua Iblis Berdarah, mereka mencoba cara yang sama untuk mencari tubuh asli dari pemilik teknik ilusi semacam ini. (Untuk lebih lengkapnya silahkan baca episode Arya vs Huashan)


Benar saja teknik ilusi ini ternyata tidak jauh beda dengan yang dimiliki Huashan, sehingga dalam waktu singkat pria botak yang asli dapat di temukan. Para bayangan Arya tidak segan-segan lagi langsung menggempur pria botak yang asli dengan ganas dan keroyokan. Hal ini membuyarkan teknik ilusi tersebut dan akhirnya lenyap dengan sendirinya, karena si pemiliknya sendiri dalam keadaan terdesak tidak sanggup lagi membagi perhatian dan energi dalam mempertahankan teknik ilusi tersebut bersamaan dengan mempertahankan diri dari gempuran.


Pria botak yang terus terdesak sedikit demi sedikit berhasil di keluarkan dari kepulan asap racun. Tentu saja hal ini di sambut baik oleh belasan sosok bercadar yang menunggu di luar. Mereka langsung menerjang seolah saling berebut mangsa.


Wuuuuttt..!


Wuuuuttt..!


Wuuuuttt..!


Tiga sinar merah melesat beruntun di lepaskan pria botak untuk meloloskan diri dari terjangan lawan.


Satu sinar merah berhasil mengenai seorang bercadar, sementara dua lainnya dapat di hindari.


Selagi pria botak ini meluncur mundur tiba-tiba muncul sosok bercadar yang telah mengayunkan golok api biru, membabat ke arah perutnya. Dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang pria botak berusaha menghindari tebasan tersebut. Akan tetapi tiba-tiba golok api di tangan lawan melesat ke atas, membabat ke arah tenggorokannya. Pria botak tertipu! Untungnya dia masih mampu berfikir bagaimana menanggulangi serangan itu. Maka pria botak segera melompat sambil dorongkan kakinya ke paha lawan.


Dari ketinggian dua tombak pria botak ini kemudian hantamkan tangan kirinya ke bawah sambil mulutnya merapal sesuatu. Dari tangan kirinya tiba-tiba melesat keluar satu bayangan besar hitam, membentuk makhluk bermuka raksasa.


Kejut para bayangan Arya bukan alang kepalang. Mereka memukul ke atas. Puluhan larik sinar dari beragam elemen mengandung energi dahsyat jelas-jelas mengenai makhluk besar hitam itu. Tapi seperti membal, pukulan mereka berbalik kembali, malah menghantam ke arah beberapa bayangan Arya.


Bummm!


Bummm!


Langit kembali berdentum keras menciptakan kobaran api, kilatan petir dan kilasan cahaya. Gulungan awan tersapu bersih akibat daya kejutnya. Untungnya para bayangan Arya sempat selamatkan diri dengan menciptakan perisai energi. Mereka berdiri dengan muka agak pucat, tangannya yang terulur menahan bentrokan serangan yang berbalik arah tersebut terasa bergetar.


Tanpa dikomando, para bayangan Arya yang tidak mendapatkan serangan segera membagi kelompok. Sebagian menyerang pria botak, dan sisanya menghadapi makhluk hitam jejadian.


Para sosok bercadar menyerbu makhluk hitam raksasa dengan senjata elemen masing-masing. Salah seorang diantara mereka menciptakan cambuk dari petir. Senjata ini meliuk di udara dua kali berturut-turut, menyambar ke lambung makhluk hitam, lalu berkelebat menjirat ke arah leher!


Dalam pertarungannya, pria botak tersentak kaget ketika melihat satu kali bergerak saja lawan telah mampu menjirat leher makhluk hitam besar jejadian miliknya. Dia segera merapal habis-habisan. Tapi tak ada gunanya. Makhluk jejadian hitam besar keluarkan suara menggebor lalu sirna tak berbekas.


Malah kini tali sinar kuning yang menjulai panjang tiba-tiba menggelung ke arah lehernya!


Lidah panglima hewan iblis dari laut kuantan ini mulai terjulur keluar. Ludah membusah. Matanya mendelik merah. Jiratan tali sinar kuning pada lehernya tak mampu dilepaskan. Tak ada kemungkinan lagi baginya untuk selamatkan diri dari kematian.


Namun tiba-tiba dari arah timur melesat satu bayangan besar yang di susul deruan angin keras dan tajam. Hal ini membuat sosok bercadar yang memegang tali sinar kuning agak lengah karena harus menangkis serangan yang datang. Dan kelengahan ini di manfaatkan dengan baik oleh pria botak untuk loloskan diri dari jeratan tali yang mencekik lehernya.


“Kalian!” Ucap para bayangan Arya saling susul menyusul, tersirat nada kesal campur marah ketika mengetahui siapa yang datang ikut campur.


“Khaaarrggkk!” Burung elang raksasa mengoak keras sambil geleng-gelengkan kepala.


Dua gadis yang berdiri di atas punggung elang itu alihkan pandangan ke arah sang elang.


“Kau mengenali mereka?” Tanya gadis berambut hitam kepirangan yang di ikat pita biru. Bibirnya merah dengan bola mata berwarna coklat serta berhidung mancung. Gadis ini bukan lain adalah Liu Wei.


“Khaarghk!” Elang raksasa anggukkan kepala. Griffinhan jelas mengenali aura mereka sebab dirinya memiliki ikatan dengan Arya. Karena inilah Griffinhan meninggalkan anggota Sekte Lembah Petir dalam perjalanan dan berbelok arah menuju ke tempat ini sebab dari jauh dia merasakan aura Arya ada di sekitarnya.


Ketika mereka semakin dekat, mereka di kejutkan dengan adanya ledakan dan suara pertarungan. Manakala mereka sudah bisa melihat jalannya pertarungan dengan jelas, Liu Wei yang merasa perlu membantu pria botak karena di serangan secara pengecut keroyokan, maka tanpa berfikir lagi dia kirimkan serangan jarak jauh. Serangan inilah yang membuat perhatian para bayangan Arya menjadi lengah, sekaligus menyebabkan pria botak lolos dari kematian.


Wouven yang juga dapat mengenali aura majikannya langsung melompat dari tangan gadis yang satunya. Burung Phoenix ini merubah ukuran tubuhnya sebesar garuda dan lalu terbang membantu para bayangan Arya untuk menghabisi pria botak.


Gadis yang bukan lain adalah Huang She kembali menatap ke salah satu sosok bercadar yang telah melesat menyerang pria botak.


Dari cara pandangnya terhadap sosok bercadar, sepertinya gadis ini mulai mengenali mereka. “Gerakan mereka, perawakan mereka, mata dan bentuk wajahnya sama seperti pemuda itu. Tapi kenapa mereka sama?!” Pikir Huang She sambil terus memperhatikan jalannya pertarungan.


Pada satu ketika, sosok bercadar yang memegang tombak terhempas, membuat penutup kain di wajahnya terlepas hingga memperlihatkan wajah orang itu.


Huang She yang terus memperhatikan dengan seksama melebarkan mata, keluarkan pekikan senang. “Arya!”


Mendengar itu, Liu Wei menoleh ke arah Huang She dan kemudian mengikuti ke arah mana gadis itu memandang. “Ya Gege..”


Belum lagi kejut gembira Liu Wei mengumandang, Huang She sudah melesat ke tempat bayangan Arya yang sedang memulihkan diri. Liu Wei juga tidak mau ketinggalan segera dia berkelebat menyusul.


Pertarungan tidak imbang terus berlangsung dan berpindah-pindah tempat. Pria botak yang kini sudah menjelma menjadi manusia berkaki cumi-cumi terus terdesak hebat, tidak sepenuhnya serangan lawan dapat dia hindari dan tangkis. Sebagian besar serangan bayangan Arya menghantam telak ditubuhnya, membuat tubuhnya kian remuk. Dia hanya bisa bertahan dan bertahan tanpa bisa balas menyerang. Hanya tinggal menghitung waktu saja baginya untuk mati!


Jdaaaarrr...


Tiba-tiba kilatan petir merah menyambar ganas menghantam tiga sosok bercadar tanpa dapat diduga dan dihindari. Akibatnya ketiga tubuh sosok bercadar tersebut hancur menjadi butiran-butiran cahaya keemasan. Lalu musnah!


Semua orang terperanjat kaget, mereka maklum bahwa petir merah tadi bukanlah berasal dari reaksi alam namun berasal dari serangan seseorang. Maka serentak mereka pun alihkan perhatian ke atas, ke arah mana serangan petir tadi berasal.


Di atas sana, terdapat sesosok makhluk hitam bermata merah menyala. Wajah makhluk itu mirip ular memiliki dua tanduk di kepala. Tubuhnya seperti manusia, memiliki sepasang tangan dan kaki. Dia juga memiliki ekor yang meliuk-liuk berkobaran api. Jika di lihat lebih teliti maka jelas lah makhluk itu berwujud asap. Inilah wujud salah satu panglima kegelapan yang bernama Yeva.


Para bayangan Arya diam penuh waspada, mencoba mengukur kultivasi makhluk tersebut. Berdasarkan dari aura kegelapan yang pekat terpancar dari makhluk itu, maka sudah dapat dipastikan jika makhluk itu adalah musuh yang berpihak pada pria botak alias hewan iblis.


Penasaran tidak dapat mengukur kultivasi makhluk tersebut, beberapa bayangan Arya melesat menerjang. Mereka hendak menjajal seberapa kuat makhluk itu dalam pertukaran serangan.


Dengan di iringi teriakan nyaring pertanda mengerahkan seluruh energi, para bayangan Arya menyerang panglima kegelapan. Tangan kanan mereka yang membekal senjata dari elemen masing-masing bergerak deras dipukulkan keras ke tubuh lawan. Angin berhembus keras dan tajam mengawali serangannya.


Tapi yang di serang adalah panglima kegelapan, serangan itu hanya di balas dengan desisan mengejek. Bagi panglima kegelapan, serangan keroyokan tersebut tak lebih dari sekelompok lalat yang nekad mati. Benar saja, hanya dengan ayunkan tangan kanannya para bayangan Arya dibuat terhempas. Sebagian terbakar lalu musnah dan sisanya terpelanting tak karuan seperti layang-layang yang putus.