Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Keterkejutan Para Tetua


Di dalam ruangan penjara yang minim cahaya dan pengap, terdapat Hui Gan yang terkurung dengan kaki dan tangan terpasung oleh balok kayu yang terukir simbol-simbol segel. Kondisinya masih tidak sadarkan diri sebelum Arya melesatkan satu energi berupa jarum cahaya keemasan ke tubuh Hui Gan. Sontak saja tubuh Hui Gan kelojotan seperti kesakitan diiringi suara raungan keras.


Beberapa saat Hui Gan masih memekik dan sesekali meminta ampunan dengan mata terpejam. Baru setelah rasa sakit yang di deranya mereda, Hui Gan mulai memberanikan diri membuka mata. Sorot matanya nampak kosong, tergambar jelas dari ekspresinya jika dia sedang mengalami syok berat. Meski sudah terbebas dari teknik ilusi, tetapi trauma yang mendalam membuatnya seperti orang linglung.


Hui Gan beringsut mundur dengan tubuh terlentang, sebisa mungkin dia berusaha menjauh dari orang-orang yang ada di sana. Mulutnya tidak henti-hentinya berkata. "Bunuh aku, ampuni aku.."


Patriark Tao Lian, Tetua Din Thai Fung dan beberapa tetua yang melihat kejadian itu nampak keheranan, lalu memandangi Arya seolah ingin mendapatkan penjelasan.


Menjadi pusat perhatian, membuat Arya merasa canggung. Dia segera mengalihkan perhatian semua orang dengan melakukan gerakan totokan jarak jauh, setiap hentakan jarinya melesatkan cahaya tipis keunguan yang mengarah ke beberapa bagian tubuh Hui Gan. Seketika Hui Gan mematung dan berhenti berteriak.


Tidak berhenti disana, Arya lantas mengulurkan tangan kanannya, melakukan gerakan dari bawah ke atas. Ia menggunakan teknik telekinesis untuk mengangkat tubuh Hui Gan dan menempatkannya ke sudut tembok ruangan.


Tindakan tersebut malah semakin membuat Patriark Tao Lian dan yang lainnya penasaran sekaligus kagum dengan kemampuan pemuda itu. Mereka semua kembali menatap Arya namun kali ini dengan tatapan yang berbeda. Suasana sesaat menjadi canggung, Arya menggaruk tengkuknya sambil nyengir kuda.


Menggerakkan suatu objek ataupun benda tanpa menyentuh bukanlah hal yang aneh bagi Pendekar, namun yang di lakukan Arya sangat berbeda. Patriark Tao Lian dan semua tetua jelas melihat Arya melakukan semua itu tanpa menggunakan Qi, karena itulah mereka penasaran dengan teknik apa yang di gunakan pemuda itu.


"Tadi itu adalah teknik pengendali pikiran, Patriark. Aku menggunakan kekuatan pikiranku untuk mengatur tekanan udara dan menggerakkannya sesuai keinginanku." Arya membalas pertanyaan Patriark Tao Lian dengan sedikit salah tingkah.


"Aku masih tidak paham dengan teknik yang kau maksudkan itu, Xian'er. Tapi aku dapat menangkap jika teknik itu bukan berasal dari daratan ini.. Apakah kau memiliki guru dari daratan lain?"


Arya kebingungan untuk menjawab pertanyaan Patriark Tao Lian. Kini malah ditambah tetua Din Thai Fung yang memintanya menunjukkan praktik kultivasi aslinya.


Tetua Din Thai Fung jelas tidak percaya Arya berada di tahap Pendekar Kaisar, seperti yang ditunjukkannya di pertemuan Aliansi Pendekar Surgawi tempo hari lalu. Dia sudah pernah melihat sendiri Arya menunjukkan energi yang setara Pendekar Suci meskipun pada waktu itu Arya mengatakan bahwa dirinya berada di tahap Pendekar Kaisar, terlebih sekarang pemuda itu dapat meringkus tetua Sekte Iblis Berdarah yang berkemampuan Pendekar Suci tingkat 7. Sesuatu pencapaian yang dirinya sendiri tidak mungkin bisa melakukannya. Semua kejanggalan itulah yang membuat Tetua Din Thai Fung semakin penasaran dengan kemampuan Arya yang sesungguhnya.


"Paman, sejujurnya aku telah menembus tahap kultivasi yang lebih tinggi dari Pendekar Suci. Jikapun aku menunjukkannya, kalian pasti tidak akan bisa mengukur kemampuanku."


Perkataan Arya membuat tetua Din Thai Fung dan tetua lainnya mengerutkan dahi, mereka memang tidak pernah mengetahui jika ada tahapan yang lebih tinggi dari Pendekar Suci. Sementara Patriark Tao Lian nampak tersenyum tipis, sebagai seorang Patriark yang sektenya di amanahi menjaga Pusaka Legenda tentunya dia sudah tahu. Namun untuk lebih rincinya, Patriark Tao Lian tidak begitu mengerti sebab tahapan di atas Pendekar Suci sudah ribuan tahun menghilang dari daratan timur. Meskipun begitu Patriark Tao Lian percaya tahapan di atas Pendekar Suci masihlah ada, namun hanya segelintir orang yang dapat mencapainya.


"Tidak mungkin, melihatmu berada di tahapan Pendekar Kaisar saja sudah membuatku terkesan. Apalagi sekarang kau mengatakan sudah melampaui Pendekar Suci." Salah seorang tetua terlihat skeptis.


"Aku percaya padamu, Xian'er.. Sejak awal aku sudah tahu kau memiliki takdir yang luar biasa. Tapi untuk mengobati rasa penasaran kami, tunjukkanlah kultivasimu." Patriark Tao Lian menepuk pundak Arya seraya tersenyum.


Tiba-tiba suasana menjadi mencekam, udara di ruangan itu seolah memadat, membuat semua orang disana kesulitan bernafas sebelum akhirnya jatuh berlutut. Suara retakan lantai dan dinding beton memenuhi ruangan.


"Sialan, pantas saja dia dapat mengalahkan kami dengan mudah. Ternyata kemampuannya setara dengan Patriark." Kepala Hui Gan menunduk dalam seolah ada beban berat yang menindihnya, dengan sisa-sisa tenaga Hui Gan berusaha menstabilkan tubuhnya dari tekanan energi yang di keluarkan Arya.


Semua orang segera mengalirkan energi ke tubuh masing-masing untuk mengurangi tekanan energi yang menimpa mereka. Walaupun masih tidak dapat membaca tingkat kultivasi Arya, namun dari kuatnya tekanan energi tersebut merekapun sadar jika energi Arya memang lebih kuat dari Pendekar Suci terkuat yang pernah mereka temui.


Arya menarik kembali energinya. "Maaf jika aku menyakiti kalian."


"Hahaha... Xian'er kau memang bocah yang di takdirkan itu. Keputusanmu untuk menyembunyikan kemampuanmu ini sudah tepat." Patriark Tao Lian menepuk pundak Arya. "Dengan kemampuanmu sekarang, seharusnya kaulah yang pantas menjadi Patriark. Bagaimana apa kau mau menjadi Patriark dan melindungi Sekte Lembah Petir?"


Arya terbatuk-batuk, tersendat nafasnya sendiri. Patriark Tao Lian malah menertawakannya. Sementara para tetua mengangkat alisnya keheranan sekaligus terkejut dengan perkataan yang Patriark Tao Lian lontarkan.


"Paman, aku masih terlalu muda dan masih memiliki banyak tugas yang harus aku selesaikan. Jadi maaf..."


"Baik-baik, tidak perlu menjelaskan, aku mengerti.." Patriark Tao Lian tersenyum. "Tapi jika tugasmu sudah selesai, kau harus mau mengantikan posisiku untuk memimpin sekte ini."


Arya mengerutkan dahi, "Paman, aku tidak bisa berjanji. Lagipula paman sudah tahu siapa aku sebenarnya, mungkin tidak lama lagi aku akan pergi dan aku sendiri juga tidak tahu bisa kembali kesini atau tidak."


Patriark Tao Lian melotot. "Kau akan pergi kemana, Xian'er? Disinilah tempat tinggalmu..."


"Aku juga tidak tahu, paman. Tapi kalau aku boleh mengusulkan, angkatlah Huang She dan Liu Wei sebagai tetua. Aku yakin tidak lama lagi kedua gadis itu akan menjadi Pendekar terkuat di seluruh Kekaisaran ini."


Patriark Tao Lian menepuk pundak Arya seraya mengangguk. Para tetua saling melirik, mereka yang tidak mengenal Liu Wei dan Huang She nampak bingung dan penasaran. Tetapi bagi tetua yang sudah pernah melihat dan mengukur kemampuan kedua gadis itu nampak tersenyum tipis, mereka baru menyadari bahwa pemuda inilah penyebab di balik pencapaian besar kedua gadis tersebut.


"Sifat Li Hongyi dan Nie Xun ternyata turun kepadamu. Ku yakin disana ayah dan ibumu pasti bangga terhadapmu, Xian'er. Lagipula sejak awal aku sudah yakin kau akan menolaknya." Patriark Tao Lian nampak sedih dan kecewa.


"Jadi dia anak Li Hongyi, si bocah sampah itu." Mata Liao Fan melebar memandangi Arya. Dia tidak menyangka bocah sampah yang dulu sering menjadi bahan pembullyan kini berubah menjadi pemuda hebat dan bahkan bisa dikatakan Pendekar terkuat di kekaisaran Ming.


Pandangan serupa juga di perlihatkan beberapa tetua setelah mengetahui jika Arya adalah anak Li Hongyi, bocah sampah yang dulu tidak memiliki Dantian. Para tetua pun menjadi salah tingkah dan malu sendiri sebab dulu mereka sering mengatai Arya sebagai sampah dan mengucilkannya. Merekapun secara bergantian segera meminta maaf kepada Arya atas sikap dan perlakuan mereka dulu.


Arya tersenyum kecut, dia seketika teringat bagaimana nasib Li Xian kecil yang selalu mendapatkan perlakukan tidak baik dan cemoohan dari orang-orang Sektenya sendiri. Sebab itulah Li Xian kecil menjadi penyendiri dan akhirnya di bawa orangtuanya hingga terjadilah tragedi pembunuhan kedua orangtuanya serta terjatuhnya dia ke jurang kematian.


"Waktu terus berlalu paman, seseorang yang hari ini terlihat biasa saja, bisa jadi di hari mendatang dia sukses dan bahkan bisa mengungguli kalian. Orang yang terlihat lemah bisa jadi seperti kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu. Aku sudah memaafkan kalian, tapi buanglah sifat sombong kalian itu, dan jangan lagi merendahkan orang lain, sebab manusia diciptakan tidak semuanya memiliki takdir menjadi pendekar seperti kalian. Setiap manusia memiliki peranan masing-masing, tidak perduli dia Pendekar ataupun manusia biasa, mereka semua patut untuk di hargai."


Semua tetua menunduk, mereka baru sadar bahwa selama ini sudut padang mereka telah salah. Berkecimpung dalam dunia persilatan membuat mereka terlalu mengutamakan kekuatan hingga melupakan aspek kemanusiaan. Mereka menganggap manusia biasa seolah seperti semut yang lemah dan membutuhkan mereka sebagai pelindung. Seolah mereka adalah pahlawan. Namun perkataan Arya menyadarkan mereka, bahwa manusia memiliki takdir berbeda-beda dan untuk itulah mereka tidak patut melihat seseorang hanya dari kemampuan beladirinya saja. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Keheningan tercipta, sebelum semua orang mengalihkan perhatian ketika terdengar suara derap langkah kaki beberapa orang. Tidak lama berselang, muncul beberapa penjaga 'Balai hukuman' yang datang untuk melapor.


"Lapor Patriark, para petinggi kerajaan dan para Patriark sedang menunggu anda di aula utama."


Patriark Tao Lian mengangguk, lalu perintahnya kepada para penjaga tersebut. "Kalian bawa orang itu."


Patriark Tao Lian membatalkan niatnya yang ingin mengintrogasi Hui Gan, dia kemudian melangkah keluar dari ruangan. Di susul para tetua, dan para penjaga yang berjalan sambil memanggul Hui Gan yang kondisinya masih terpasung. Sementara Arya berjalan paling belakang dan kemudian memisahkan diri menuju ke tempat Hulao yang berada di danau.