
“Cambuk tua! sudahkah kau siapkan dirimu untuk menghadapi jurus-jurus ilmu pukulanku?” suara si Musang Betina Mata Empat menggema di udara. Laki-laki tua dihadapannya tersenyum menjawab.
“Aku sudah siap sejak tadi, Dongming...!”
“Heh, ku harap kau tak menyebutku dengan nama itu lagi, Cambuk tua.. seperti juga aku takkan menyebut namamu sebenarnya!”
“Kau masih seperti dulu... aneh, lucu, tegas dan masih bisa ku katakan cantik!” berkata si kakek dengan menggeleng-gelengkan kepala. Matanya memandang perempuan tua itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Gila, tolol! Kambingpun akan tertawa mendengar pujianmu terhadap seorang nenek peot macam aku! Sudahlah, Cambuk tua! Bersiaplah untuk menghadapi seranganku!” kata-kata si nenek diakhiri dengan bentakan keras. Sejak tadi dia telah menyiapkan kekuatannya untuk menggempur laki-laki tua tersebut. Kinilah saatnya. Ternyata si nenek yang mengawali serangan.
Mendadak tubuhnya melesat. Sepasang lengannya terkembang.
Inilah jurus Menangkap Matahari Menggilas Badai. Melihat sambaran sepasang lengan yang membaurkan hawa panas dan dingin itu, tahulah si Cambuk Sakti kalau si nenek menggunakan jurus tersebut.
“Serangan yang hebat!” puji si kakek. Mulutnya memuji, tapi lengannya bergerak menangkis serangan itu.
PLAKK!
Akibat benturan kedua pasangan lengan itu, si Cambuk Sakti terhuyung lima langkah dan si nenek hanya tiga langkah. Jelaslah dalam bentrokan energi barusan, kalau energi yang dimiliki si Musang Betina lebih tinggi setingkat dari si Cambuk Sakti.
Akan tetapi hal itu tak membuat si nenek berpuas diri, kini justru dia merasa laki-laki tua itu sengaja mengalah. Hal ini menimbulkan kegusaran hatinya, “Cambuk tua, dulu kau telah mengecewakan aku... apakah kini kau mau membuat aku kecewa untuk kedua kalinya? Jangan sungkan-sungkan! Aku tak ingin ada belas kasihan dalam pertarungan ini!” bentak si nenek.
“Baik, kau bersiaplah!” teriak si Cambuk Sakti. Mendadak dia gerakkan kedua lengannya memutar membuat lingkaran besar di depan tubuhnya.
Terdengar suara tulang-tulangnya yang berkriutan. Inilah pertanda dia tengah menghimpun energi Qi dalam jumlah besar.
Melihat demikian, si nenek pun segera mempersiapkan diri mengaliri kedua lengan dan sepasang kakinya dengan energi Qi.
Hawa panas dan dingin segera membaur disekitar tempat itu. “Hadapilah jurus Sepasang Cambuk Menyerbu Langit!” seru si kakek. Suaranya itu dibarengi dengan berkelebatnya tubuh si kakek ke udara setinggi enam tombak diatas kepala wanita tua tersebut.
Mendadak tubuh laki-laki tokoh tua itu lenyap terbungkus jubahnya yang berputar-putar di udara. Dan tiba-tiba menyambar ke arah si nenek yang agak tertegun melihat jurus yang aneh itu.
Nenek ini cukup terkejut. Akan tetapi dia telah siap untuk mempergunakan tangan dan kakinya, menghantam ke arah si Cambuk Sakti.
Wuuukk! Whuuk! Whuuk!
Tiga serangan beruntun menyambar deras bagaikan curahan hujan. Dan tak dapat dihindari lagi oleh lawannya.
Si Cambuk Sakti terlempar belasan tombak bergulingan. Tubuhnya baru berhenti berguling ketika tercebur ke dalam laut.
Sesaat si Musang Betina ini terperangah. Tak menyangka kalau serangannya akan menemui sasaran. Jurus terakhir yang dipergunakan adalah jurus Menendang Iblis. Sedangkan kedua pukulan lengannya adalah salah satu dari jurus Tanpa Nama.
“Yan Mulao...! Oh...” desisnya lirih secara tak sadar. Setitik air bening menyembul disudut matanya. Dan detik itu juga dia telah melompat untuk memburu ke arah sang korban.
Jubah si Cambuk Sakti tampak terapung-apung dipermukaan laut timbul tenggelam. Hampir separuh jubahnya tampak terkoyak-koyak hangus.
Sepasang mata wanita tua ini memandang tak berkedip. Tiba-tiba wajahnya berubah. Dan detik itu juga tubuhnya melenting ke udara. Terdengar suara bentakan si nenek membelah udara. Dan ketika sepasang lengannya mengibas. Menyambarlah dua gelombang angin dahsyat ke arah batu karang.
Batu karang itupun hancur menjadi serpihan kecil-kecil yang menebar di udara. Tapi sebuah bayangan sosok tubuh telah melesat terlebih dulu sebelum serangan menyambar batu karang tersebut.
Ternyata itulah sosok tubuh si Cambuk Sakti. Barulah si nenek sadar akan kehebatan ilmu Sepasang Cambuk Menyerbu langit yang dipergunakan laki-laki tua itu. Ternyata yang diserang si nenek adalah jubah yang terbuat dari kulit-kulit binatang pemakan ikan itu. Sedangkan tubuhnya sendiri telah meloloskan diri, seolah seperti seekor kelomang yang meninggalkan rumah siputnya.
“Haha.. hehehehe... tak percuma kau dijuluki si Musang Betina Mata Empat, nenek keriput!” si Cambuk Sakti tertawa tergelak-gelak.
“Huh, kau kira aku seorang anak kecil yang bisa ditipu oleh permainanmu?” mulutnya berkata demikian, tetapi diam-diam hati si nenek terkejut. Nyaris saja dia terkecoh dan menyangka si Cambuk Sakti telah tewas terkena serangan mautnya.
Akan tetapi wanita tua ini tak tahu kalau semua gerak-gerik dirinya tak luput dari pandangan mata si Cambuk Sakti yang bersembunyi dibalik batu karang. Dia tahu kalau di relung hati perempuan itu masih bersemayam benih-benih cinta yang disembunyikan. Bahkan setitik air bening dari sepasang mata si nenek yang berkaca-kaca itu masih sempat terlihat. Walaupun dengan cepat wanita itu menyembunyikan dengan gumpalan rambut yang menutupi matanya.
Cambuk Sakti gunakan lompatan ringan untuk mendekat. Akan tetapi satu bentakan keras yang diiringi sambaran pukulan dahsyat telah memaksanya untuk kembali gunakan lompatan menghindar kalau tak mau tubuhnya remuk seperti batu karang tadi.
Kakek yang hanya memakai baju sutera tipis warna hitam ini berhasil menyelamatkan diri, dan hinggapkan kakinya diatas batang kelapa yang doyong ke arah laut.
Wajah si wanita tua kini berubah merah padam, karena serangannya tak mengenai sasaran. Kembali dia melompat maju. Tampak wajahnya semakin kelam. Hawa pembunuh semakin kuat terasa. Dengan mendengus seperti melepas kedongkolan hatinya, si nenek mulai menghimpun energi Qi nya kembali, pada sepasang lengan dan kaki.
“Hehe... hehe... jurus Menendang Iblis mu sangat luar biasa, Dongming...! Maafkan aku, karena aku menyebut nama itu. Apakah kau benar-benar mau membunuhku?” bertanya si Cambuk Sakti.
Suaranya begitu trenyuh kedengaran ditelinga si wanita tua ini.
Tiba-tiba hatinya tersentak ketika melihat jelas pada laki-laki tua itu, tampak darah mengalir dari sudut bibirnya.
Seketika sadarlah dia kalau si Cambuk tua telah terkena serangan ketika menangkis serangan jurus Menendang Iblis yang dilakukan beruntun dengan dua jurus pukulan maut. Saat kejadian itu si kakek telah menyerang terlebih dulu dengan menggunakan jurus Sepasang Cambuk Menyerbu Langit.
Pada pandangan mata, kelihatannya jurus si Cambuk Sakti lebih unggul. Tapi kenyataannya walaupun si nenek Musang Betina itu terkecoh, ternyata serangan ketiga dari rentetan serangan si nenek, yaitu jurus Menendang Iblis telah berhasil mengenai sasaran. Walaupun tidak terlalu telak. Kalau si Cambuk Sakti tak melindungi tubuhnya dengan energi pelindung, tentu jiwanya telah melayang.
“Aku memang mau...” membentak si nenek.
Keangkuhan hatinya mendadak muncul. Akan tetapi kata-katanya tertahan karena tiba-tiba terdengar suara tawa yang begitu memekakkan telinga dan bahkan membuat tanah bergetar hebat.
Kumandang tawa itu membuat si nenek Musang Betina agak terpaku. Dengan mata membelalak dia menatap berkeliling. Mencari-cari sumber suara tawa tersebut.
Sementara itu, Si Cambuk Sakti dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri serta pernapasannya yang agak sesak, ia menatap ke langit.
Tak lama kemudian tanah semakin berguncang hebat, dentuman dahsyat terdengar berulangkali. Bahkan ombak laut bergulung-gulung besar seperti tsunami.
Mereka dapat melihat, di atas langit nun jauh di sana. Tampak pusaran tornado yang amat besar.
“Kekuatan macam apa ini..” Desis si nenek Musang Betina dengan dahi mengerenyit. “Tidak mungkin di daratan ini ada seseorang yang mencapai tahapan Pendekar Langit.”
Tiba-tiba si nenek teringat akan muridnya yang baru saja dilepasnya pergi. Karenanya ia menjadi khawatir.
Sementara itu, Nie Zha terlihat pucat. Ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan perahunya agar tidak terbalik terkena sambaran ombak yang bergulung-gulung setinggi tiga tombak. Perahu kecil yang ditumpanginya itu tak kuasa melawan terjangan ombak-ombak yang besar dan ganas. Tak ayal perahu itupun terombang-ambing kian kemari hingga semakin menjauhi tempat tujuan.
Diseberang sana tampak ombak setinggi sepuluh tombak seolah seperti raksasa yang siap menelan perahu yang di tunggangi Nie Zha. Detik kemudian, perahu itupun lenyap diterjang ombak besar tersebut. Nie Zha tenggelam dibawa oleh ombak lautan, perahunya hancur berkeping-keping.