Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Surat Cinta


Rembulan bersinar terang ditemani kerlipan jutaan bintang yang bertaburan indah di angkasa raya. Tak berselang lama, beberapa bintang diatas sana tampak jatuh melintang membuat kilasan cahaya memanjang menggores langit malam. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dan membuat hati siapa saja serasa tentram. Di sebuah bangunan megah, tepatnya di balkon lantai dua, terlihat sesosok tubuh tegak berdiri memandangi angkasa.


Dia adalah seorang laki-laki muda belia. Rambutnya yang panjang dan sebagian berwarna kuning dibiarkan jatuh bergerai menutupi sebagian bahu dan wajahnya yang tampan serta berkulit putih bersih. Sepasang matanya yang berwarna kuning tampak menyorot memandangi rembulan. Namun sedari tadi sorot matanya nampak kosong, mungkin ia sedang melamunkan sesuatu.


Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba si pemuda menggerakkan tangannya. Seperti sulap saja, tahu-tahu ditangan pemuda itu telah tergenggam secarik kertas. Itu adalah surat yang diterimanya dari seorang gadis bernama Huang She. Ia membukanya, didalam hati ia membaca rangkaian kata yang tertulis di kertas tersebut.


“Teruntuk pemuda bernama Arya,


Parasmu indah rupawan penuh pesona,


Seperti halnya budi pekertimu yang mulia,


Terimakasih untuk semuanya,


Bahagia ku rasa, saat melihat dirimu tersenyum ceria,


Walau kita tak bisa bersama selamanya,


Tetapi bagiku waktu yang telah kita jalani bersama sangatlah berharga,


Tetaplah menjadi purnama,


Yang selalu menyinari indahnya malam yang ku punya,


Bila kehadiran embun menyejukkan suasana pagi,


Tentu hadirmu menyejukkan suasana hati,


Bila sang mentari hadir menyinari dunia ini,


Tentu kaulah yang selalu hadir menyinari hati ini,


Kau bagaikan udara,


Jika kau tiada mungkin semua rasa pun akan binasa,


Kebaikanmu bagaikan purnama, Yang menyinari malam diselimuti gelap gulita,


Dan aku akan terus mencintaimu sepanjang masa,


Mendoakan selalu semoga kita bisa hidup bersama.”


Pemuda itu kemudian melipat kembali secarik kertas tersebut. Bibirnya tak lepas dari senyuman. “Sejak kapan gadis itu pandai merangkai kata.” batinnya.


Kembali kepalanya menengadah menatap cahaya rembulan. Pikirannya kembali melayang. Bayangan seorang gadis muncul dalam pikirannya. Angin kencang berhembus membuat rambut si pemuda berkibar-kibar. Kertas ditangannya pun tak terasa terlepas, namun si pemuda masih hanyut dalam lamunannya.


Secarik kertas itu melayang terbawa hembusan angin namun tahu-tahu ada seseorang menyambarnya. Seorang gadis jelita, berambut kuning emas membuka isi kertas tersebut. Dadanya terasa berdesir, matanya menyorotkan kecemburuan ketika membacanya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, sontak si gadis itu mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pemuda berambut kuning sedang melangkah mendekatinya.


Pemuda itu mengulurkan tangannya, meminta surat tersebut. Namun yang didapatkannya bukanlah surat itu, melainkan tatapan bengis si gadis.


“Berikan surat itu...” berkata pemuda itu pada akhirnya. Ia bukan lain dari Arya adanya.


Si gadis yang tiada lain adalah Putri Zhou Jing Yi masih diam dengan mata tajam memandangi si pemuda.


“Ada apa denganmu? Setan apa yang telah merasukimu sampai menatapku seperti itu.” Kata Arya kembali.


Namun si gadis masih saja diam mematung, matanya yang menyorot tajam tiba-tiba berkaca-kaca. Pada saat itu, Arya telah menggerakkan tangannya untuk kemudian merampas kertas yang ada digenggaman tangan Putri Zhou Jing Yi.


“Kau sudah punya kekasih..?” Kata Putri Zhou Jing Yi dengan nada bergetar.


Arya hanya balas tersenyum, dan kemudian menggelengkan kepalanya. Ia tahu apa yang sedang bergejolak di hati sang putri.


“Jawablah, jangan menggeleng macam kerbau dungu!” desis Putri Zhou Jing Yi.


“Jawab!!” ulang Putri Zhou Jing Yi dengan lebih tegas.


“Apakah gelengan kepalaku belum cukup untuk menjawab pertanyaanmu itu?”


“Aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu!”


“Oh...” Arya angguk-anggukan kepalanya, “Belum, aku belum punya kekasih. Jadi biarpun tampan begini, aku tidaklah laku. Hahaha..” Arya tertawa tergelak-gelak.


Putri Zhou Jing Yi merengut, namun diam-diam senang dan lega juga hatinya mendengar pertanyaan Arya tersebut.


“Lalu itu surat dari siapa? Apa surat itu dari Ratu cantik yang hidup dibawah danau itu?” ucap Putri Zhou Jing Yi ketus.


Sekali lagi Arya menggeleng, “Bukan! Darimana surat berasal, itu tidaklah penting. Saat ini aku belum memikirkan hal-hal yang menyangkut perasaan. Kau tahu rimba persilatan itu keras jadi ancaman kematian selalu mengintaiku dimana-mana. Karena itulah, selagi masih muda aku akan fokus dulu pada kekuatan, agar nyawaku tidak tersingkirkan.”


“Memangnya kenapa kalau punya kekasih? Untuk apa hidup dalam kekerasan terus-menerus? Lebih baik nikmati saja kehidupan ini.. kasih sayang akan membuat hidup lebih indah dan berarti.” Kata Putri Zhou Jing Yi. Ia ingin mengenal lebih dalam tentang pemikiran pemuda dihadapannya itu. Memang kekuatan itu penting, iapun juga memiliki ambisi yang serupa. Tapi menurutnya kasih sayang adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap insan, tanpa itu hidup serasa hampa, tak memiliki makna.


Arya tersenyum, “Kasih sayang tak hanya ada dalam pasangan kekasih, bukan? Kasih sayang juga ada dalam pertemanan, kekeluargaan, bahkan membantu sesama juga wujud dari kasih sayang.”


Putri Zhou Jing Yi hendak berkata, namun Arya terlebih dulu meneruskan ucapannya.


“Kebetulan kau ada disini.. sebenarnya aku ingin melanjutkan perjalanan. Sebagai seorang tamu, tak sopan rasanya bila pergi tanpa berpamitan. Ku lihat sekarang kondisi Raja sudah jauh lebih baik. Jadi untuk itu, sekarang aku minta izinmu untuk minta diri. Maaf, kalau aku tidak bisa berpamitan kepada semua orang. Sampaikan permintaan maafku ini, dan sampaikan pula rasa terimakasihku kepada mereka karena sudah memperlakukanku dengan sangat baik di sini.”


Mendengar kata-kata pemuda itu membuat dada Putri Zhou Jing Yi serasa sesak. Ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan perasaan hatinya yang tidak rela melepas kepergian pemuda itu. Tanpa dapat ditahan lagi, kini matanya telah menjadi basah. Selama ini tidak ada laki-laki yang dekat dihatinya, dan kedatangan Arya telah mengisi kekosongan itu namun kini dia harus rela melepas kepergian pemuda itu.


Sosok Arya meskipun kadang menurutnya aneh dan kadang pula menyebalkan, namun banyak hal membuatnya kagum pada diri pemuda itu. Segala sesuatunya yang ada pada diri anak muda itu, benar-benar telah menambat hatinya. Kepergian Arya pasti akan membuatnya semakin sepi.


“Pasti dia akan kembali menemui Ratu itu.” desihnya dalam hati.


Kecemburuan merayapi hatinya. Ia ingin melarang pemuda itu setidaknya sampai izin dulu pada Sang Raja atau ayahnya, tetapi tenggorokannya serasa tersumbat. Itulah sebabnya ia hanya berdiri saja mematung. Dicobanya untuk menggerakkan tangannya, memegang tangan Arya untuk menahannya pergi. Tetapi tangan itu serasa menjadi begitu kaku.


Meskipun demikian, Putri Zhou Jing Yi berhasil menahan air matanya untuk tidak membanjir dari pelupuknya yang basah. Tiba-tiba timbul di dalam hatinya, bahwa sikap yang sebaik-baiknya adalah melepaskan pemuda itu dengan tabah, dengan dada tengadah. Ia tidak ingin menangis untuk seorang pemuda yang belum tentu juga menaruh perasaan yang sama terhadapnya. Untuk itu, dicobanya untuk tahu diri dan tahu posisi.


Putri Zhou Jing Yi menggeretakkan giginya. Dan sesaat kemudian ia berhasil mengangkat tangannya untuk selanjutnya memegang tangan pemuda itu. Dipaksanya bibirnya untuk tersenyum.


“Selamat jalan Tabib Xian, aku tidak punya hak untuk melarangmu. Mudah-mudahan apapun yang akan kau hadapi kedepannya, bisa kau atasi. Ku harap pertemuan kita ini bukanlah pertemuan yang terakhir.” Kata sang putri dengan nada lirih sedikit serak.


Arya tersenyum, tetapi diam-diam didalam hati ia juga turut merasa sedih mengetahui isi hati gadis itu. Lalu iapun berkata, “Pasti! Jika ada umur, kita pasti akan bertemu kembali.”


Putri Zhou Jing Yi masih memaksakan untuk tersenyum. Namun hatinya menjadi semakin bergejolak saat Arya melepaskan pegangan tangannya. Kemudian si pemuda membalikkan badan, berjalan menuju gazebo. Di sana Arya berhenti dan menoleh sekali lagi melihat Putri Zhou Jing Yi, kemudian melompat terbang menembus gelapnya malam.


Betapa gelora di dada Putri Zhou Jing Yi serasa mengguncang-guncang jantungnya, namun ia bertahan untuk tidak menangis. Diangkatnya kepalanya dan ditengadahkannya wajahnya. Ia kemudian memutar tubuhnya, berjalan menyusuri lorong untuk selanjutnya menuju ke kamarnya.


Di dalam kamar, Putri Zhou Jing mencoba untuk tegar agar tidak terbenam ke dalam sikap seorang gadis yang ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya. Ia kemudian terpaksa menyibukkan dirinya dengan berkultivasi.


*****


Langit di sebelah timur dipenuhi oleh rantai-rantai cahaya merah yang berpijar, ketika sebuah perahu tengah menyusuri sungai dengan lajunya ke arah barat laut. Sebentar-sebentar dari permukaan air sungai muncullah beberapa ekor ikan terbang serta membuat loncatan-loncatan panjang di sekitar perahu itu, seperti ingin mengajak berlomba rupanya. Sungguh suatu pemandangan yang indah.


Di buritan perahu itu duduk seorang pemuda berambut dan bermata kuning yang diam membisu memandang ke depan sungai yang panjang tersebut. Dia sedang mengenang segala pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya.


“Sebentar lagi aku akan sampai di sarang mereka!” desis si pemuda dalam hati ketika pandangannya dapat melihat jajaran pegunungan yang menjulang tinggi menembus awan dihadapannya.


Pemuda ini bukan lain adalah Arya adanya. Dia memang bisa saja mencapai tempat yang dituju dalam waktu singkat. Tetapi dia perlu mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melancarkan aksinya.


Dua pekan belakangan ia terus berlatih demi untuk meningkatkan kemampuan dan kultivasinya. Menyerap inti energi ratu hewan iblis serta energi pusaka legenda telah ia lakukan, hingga membuat kultivasinya kini mencapai tahap Pendekar Bintang. Tidak hanya itu, pasukan siluman miliknya juga telah dipersiapkannya untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Karena itulah dalam perjalanannya kini, Hulao dan Honglong tidak tampak menemaninya, karena kedua siluman tersebut saat ini tengah meningkatkan kultivasi masing-masing.


Arya juga telah memenuhi syarat pertama Ratu Qian Yu. Meskipun yang menemuinya waktu itu hanyalah bayangannya saja, namun setidaknya syarat pertama dari sang ratu telah ditepatinya. Untuk syarat kedua dan ketiga, Arya sudah tidak memikirkannya lagi, sebab Sang Ratu sendiri telah membebaskannya dari syarat kedua dan ketiga tersebut asalkan Arya sering-sering berkunjung ke istananya.


Setelah semakin dekat dengan gunung Qiantang, Arya kemudian melompat dan menjejakkan kakinya di tepi sungai. Ia membiarkan perahunya terus melaju mengikuti arus sungai. Timbul rasa penasarannya pada kabar yang beredar mengenai gunung ini. Tentang adanya gerbang istana hantu.!