Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Awal Manis Berujung Kecewa


Arya segera melepaskan totokan pada tubuh gadis yang terlentang di depan pintu kedai, gadis itu tidak lain adalah Diao Chan. Anak gadis dari pemilik kedai ini perlahan bangkit dan tiba-tiba memeluk Arya sambil menangis sesenggukan.


"Terimakasih." Gadis itu terus saja mengucapkan kalimat itu secara berulang-ulang dengan suaranya yang terisak parau.


Arya nampak salah tingkah, kehangatan yang dirasakannya di bagian dada akibat terhimpit dengan dada besar milik si gadis, membuat darahnya berdesir nikmat. Pemuda itu seketika teringat tubuh polos perempuan yang di lihatnya di dalam goa. Tak ayal, hal ini membuat pikiran Arya melayang kemana-mana.


Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, dan di susul sebuah tarikan kuat yang membuat Diao Chan terpaksa melepaskan pelukannya pada tubuh Arya.


"Berpelukan di tempat umum, apakah kalian sudah tidak punya malu di lihat orang-orang." Wajah Putri Zhou Jing Yi merengut kesal.


Memang sejak pertama kali bertemu dengan Arya, sang putri sudah menaruh hati terhadap pemuda itu. Maka tak heran, jika saat ini dia nampak geram karena di depan matanya sendiri dia melihat pemuda yang disukainya itu berpelukan dengan gadis lain. Meski tahu jika pelukan itu bukanlah pelukan dari seorang kekasih, akan tetapi tetap saja perasaan seorang gadis yang sedang terbakar cemburu tak bisa di persalahkan.


Arya memasang wajah masam, meski dirinya merasa lega karena telah dibantu terbebas dari pelukan gadis anak pemilik kedai, namun disisi lain dia juga tidak bisa menampik kehangatan dari pelukan gadis berdada besar itu.


"Kau terlalu membawa perasaan, jika kau cemburu melihatku berpelukan dengan gadis lain, mengapa kau tak berterus terang saja dan mengatakan bahwa kau juga sebenarnya ingin merasakan pelukanku." Arya mengedipkan sebelah matanya pada Putri Zhao Jing Yi.


Sontak saja sepasang mata sang putri terbelalak, pipinya memerah namun tangan kanannya bergerak cepat hendak menampar pemuda itu.


Arya dengan sigap menangkap pergelangan tangan Putri Zhou Jing Yi, lalu di elus-elusnya dengan lembut. "Sungguh teramat di sayangkan jika tangan semulus ini dipergunakan untuk memukul orang."


Bertambah merahlah sepasang pipi sang putri digoda sedemikian oleh pemuda yang disukainya. Buru-buru dia menariknya tangannya yang dipegang Arya, lalu berbalik badan dan bertolak pinggang. "Kau tahu apa hukumnya jika seseorang berani memegang tangan dan menggoda seorang putri?"


"Andaikan hukuman itu adalah disuruh bertanggung-jawab menikahi sang putri, maka aku akan dengan senang hati bersedia menyerahkan segenap jiwa ragaku untuk menjadi suami dan mencintai sang putri itu sepanjang hidupku." Arya tersenyum-senyum geli dengan perkataannya sendiri.


Mendengar demikian, Putri Zhou Jing Yi terlihat menyunggingkan senyuman lebar, jantungnya berdebar kencang. Kini di dalam hatinya seolah bermekaran bunga-bunga beraneka warna, begitu indah bak taman surgawi.


"Kau bagaikan melati.


Harummu semerbak mewangi.


Senyummu cantik ketika berseri.


Engkaulah bunga penyejuk hati.


Kan kusiram dan kujaga dengan sepenuh hati.


Agar kelak kau tetap ada, menemani hidupku hingga mati"


Arya bernyanyi sambil berjalan memasuki kedai.


Diao Chan terperangah sampai lupa menutup mulutnya. Sementara Putri Zhao Jing Yi langsung berbalik badan, tersirat keterkaguman dari sorot matanya yang tak lepas memandangi punggung Arya.


Sesampainya di dalam kedai, Arya kemudian menghampiri dan mengobati satu-persatu orang yang terluka. Tak lupa dia juga melepaskan teknik Junwe yang masih menjerat tubuh si pemilik kedai.


"Maafkan aku paman, karena perbuatanku kedai milikmu ini jadi hancur." Arya menyelipkan tangan kanannya ke balik bajunya.


"Ini bukan kesalahanmu tuan, justru harusnya akulah yang berterimakasih karena anda telah menyelamatkan putriku dari pemuda terkutuk itu." Xie Hu yang tidak lain nama dari si pemilik kedai, tersenyum sambil memegangi pundak kiri anak gadisnya, Diao Chan.


"Ada baiknya paman memperkerjakan seorang penjaga yang berkemampuan tinggi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Memang ini adalah kota kerajaan, tapi bukan berarti akan selalu aman, para prajurit kerajaan belum tentu bisa membantu tepat waktu." Arya mengulurkan sekantong kain berwarna hitam kepada Xie Hu. "Ku rasa koin-koin di dalam kantong itu cukup untuk memperbaiki kerusakan kedai ini."


Xie Hu mendorong uluran tangan Arya seraya menggeleng pelan, tampaknya dia merasa sungkan dan tak enak hati menerima kantong hitam itu. Baginya keselamatan anak gadisnya sudah lebih dari cukup, mengenai kerusakan kedai, dia masih memiliki simpanan uang untuk memperbaikinya kembali.


Arya tersenyum dan kembali menyodorkan kantong koin hitam di tangannya itu, "Paman, kau tahu bukan, tak baik jika menolak rejeki. Jika ada orang yang tulus benar-benar ingin membantu, penolakan adalah bentuk dari kesombongan dan penghinaan."


Raut wajah Xie Hu berubah kecut, maka dengan ragu-ragu akhirnya dia menerima kantong hitam tersebut. "Terimakasih, tuan. Kalau boleh tahu siapa nama tuan."


"Apalah arti sebuah nama paman." Arya hendak membalikkan badan.


"Setidaknya dengan nama itu, aku akan bisa mengingat semua kebaikan anda, tuan muda."


Arya tersenyum sebelum melenggang pergi, "Namaku Li Xian, sampai jumpa kembali paman." Ucap pemuda itu seraya melambaikan tangan ke atas, berjalan menuju pintu keluar.


Sesampainya di luar, kening Arya sontak mengerut ketika menyaksikan di halaman kedai sudah dipadati oleh para prajurit dan para penduduk. Putri Zhou Jing Yi masih berada di sana, namun wajah sang putri kini telah di tutupi selarik cadar hitam. Sepasang matanya yang indah tak lepas memandangi Arya.


"Hei, mau kemana kau?" Seru Putri Zhou Jing Yi ketika melihat Arya hendak pergi tanpa permisi.


Belum jauh pemuda itu melangkah, para prajurit tiba-tiba menghadangnya.


Arya kembali menoleh ke arah Putri Zhou Jing Yi, "Apa maksudnya ini, tuan putri?"


Putri Zhou Jing Yi dengan anggunnya berjalan mendekat, "Sekarang kau harus ikut denganku ke istana."


Mendengar demikian, Arya tersenyum kecut. "Aku memang akan pergi ke istana, tapi tidak untuk sekarang. Jadi sebaiknya harap tuan putri jangan memaksaku."


"Bukankah sebelumnya kau bilang akan mempertanggung-jawabkan sikapmu padaku?"


Arya mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat perkataannya terhadap Sang Putri. Sesudah ingat, pemuda itu menggaruk kepalanya dengan canggung. "Maaf tuan putri, mengenai perkataanku sebelumnya, harap jangan di ambil hati. Aku hanya bercanda." 


Raut wajah Putri Zhao Jing Yi seketika menjadi buruk, "Berani berbuat, harus berani bertanggung-jawab. Bukankah seperti itu, tuan pendekar?"


Arya angguk-anggukan kepalanya, tersenyum masam sebelum berkata. "Tapi itu semua juga karena anda telah merusak kesenanganku."


Muka putri Zhou Jing Yi semakin memerah. "Berpelukan di tempat umum, kau bilang kesenangan!" Ucap sang putri dengan nada tinggi, setengah membentak.


Tertawalah Arya, "Sudahlah, tidak perlu cemburu. Sekarang aku masih punya urusan lain yang lebih penting daripada membahas hal konyol seperti ini."


Ketika Arya mulai membalikkan badan dan berjalan beberapa langkah, terdengar suara keras membentak.


"Tabib Xian!"


Langkah Arya tertahan, pemuda itu berhenti tanpa membalikkan badan ataupun menoleh ke sumber suara yang tidak lain adalah suara Putri Zhou Jing Yi.


"Setelah melakukan hal itu padaku, jangan harap kau bisa seenaknya pergi."


Karena teramat kecewa dan sakit hati, putri Zhou Jing Yi tidak sadar bahwa ucapannya tersebut bisa saja menyebabkan kesalahpahaman orang-orang yang mendengarnya.


Dan benar saja, semua prajurit dan penduduk yang mendengar ucapan Putri Zhou Jing Yi, terlihat menatap curiga kepada Arya.


Sepasang mata Arya melebar, buru-buru dia berbalik badan. "Tuan putri, jaga ucapanmu! Kata-katamu itu bisa saja di salah artikan orang-orang. Mengenai masalah di antara kita sebaiknya tidak perlu di lebih-lebihkan. Maafkan aku, jika para prajuritmu ini masih menghalangiku, aku tidak akan segan-segan lagi untuk melukai mereka."


Meskipun marah, tapi Putri Zhou Jing Yi segera dapat mengendalikan diri. Mencari masalah dengan Arya bukanlah hal yang baik, apalagi saat ini dia memang sedang membutuhkan pemuda itu.


"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi aku harus ikut denganmu."


"Hahaha... Jangan bercanda tuan putri. Jika kau ikut denganku, nanti kita akan menjadi pusat perhatian orang-orang. Dan itu akan merepotkanku."


Selepas mengatakan demikian, Arya melangkah menembus kerumunan orang. Para prajurit melirik Putri Zhou Jing Yi untuk menunggu perintah.


Mendapatkan anggukan kepala dari sang putri, para prajurit yang menghadang segera menurunkan senjata dan menggeser badan untuk memberi jalan pada Arya.


"Bawa penjahat itu ke penjara! Aku akan pergi. Kalian tidak perlu mengikutiku." Ucap Putri Zhou Jing Yi lalu berkelebat menyusul Arya.


Semua prajurit bergerak meninggalkan Kedai Sindara. Junwe sendiri di ikat diatas punggung kuda yang ditarik oleh salah seorang prajurit.


Kepala prajurit yang khawatir dengan keselamatan sang putri, diam-diam mengikuti mereka.


"Kau benar-benar gadis yang keras kepala." Desis Arya tanpa menoleh ke arah Putri Zhou Jing Yi yang berjalan di sampingnya.


"Sebenarnya apa urusanmu yang kau bilang penting itu?” Tanya Putri Zhou Jing Yi.


Arya tak menjawab. Sepanjang perjalanan dia hanya diam, seolah tak pernah menganggap keberadaan sang putri.


Setelah berbelok, mereka lalu berhenti di depan sebuah bangunan yang ramai dikunjungi orang-orang. Gedung itu memiliki beberapa lantai yang membuatnya terlihat seperti menara.


Sepasang mata Putri Zhou Jing Yi melebar menatap bagunan itu, dia tidak pernah menyangka jika Arya akan mendatangi tempat ini.


Ketika Arya hendak memasuki bagunan itu, buru-buru Putri Zhou Jing Yi menarik kerah belakang baju pemuda itu. "Apa yang ingin kau lakukan di tempat menjijikkan seperti ini?"