
Di kuasai amarah melihat rekannya tewas, dengan mata memerah dan tangan bergetar mengandung seluruh energi yang dimilikinya. Sosok setengah buaya tersebut mengamuk sejadi-jadinya. Di awali auman membahana, tubuhnya melesat seolah berpindah tempat dan tahu-tahu telah membabatkan cakaran ke sosok bercadar yang ditemuinya.
Sosok bercadar yang tidak siap mendapatkan serangan mengejutkan seperti itu seketika memekik keras sebelum lenyap musnah menjadi butiran-butiran cahaya ke-emasan.
Sosok bercadar lainnya tidak tinggal diam, mereka serentak menerjang dan sekejapan saja telah menggempur habis-habisan sosok setengah buaya tersebut.
Meskipun telah kerahkan seluruh energi dan kecepatan, namun di keroyok demikian rupa tak urung membuat sosok setengah buaya itu terpontang-panting tak karuan. Menghindar kian kemari elakkan terjangan lawan.
Tangan dengan kaki yang mengandung energi dahsyat, terdengar saling hantam berulang kali. Dalam beberapa tarikan nafas saja, mereka telah bertukar ratusan jurus. Pergerakan mereka yang luar biasa cepatnya hanya kelihatan seperti kilasan sinar dan deruan angin yang saling beradu di langit.
Serangan sosok setengah buaya berhasil dipatahkan berulangkali, kian lama gerakannya mulai melambat. Sosok setengah buaya yang semula mengamuk ganas seperti singa terluka, kini mulai nampak terdesak.
Hujanan serangan tak pelak membuat sosok setengah buaya itu terlempar dan akhirnya perlawanannya kandas. Tubuhnya roboh meluncur ke tanah. Nyawanya lepas sebelum tubuhnya hancur menghantam daratan.
Tak ingin membuang waktu, segerombolan sosok bercadar yang berhasil menewaskan lawannya segera menuju ke kalangan pertarungan yang tersisa.
Di bawah sana, sosok pria brewok telah merubah diri menjelma menjadi seekor kera raksasa bersayap elang. Dia tampak begitu kepayahan dalam menghadapi gempuran setiap serangan kelima lawannya, terlebih kini dia hanya memiliki satu tangan karena sebelumnya tangan kanannya telah terbabat buntung.
Daya dorong energi yang lepaskan kelima sosok bercadar membuatnya terhuyung habis-habisan. Tidak selesai sampai di sana, di atas batok kepala kera raksasa tersebut tiba-tiba muncul seorang bercadar siap pukulkan tongkat bercahaya kuning.
Sadar akan ancaman maut, kera raksasa tersebut pukulkan tangan kirinya ke dada. Terdengar suara ‘bak buk bak buk’ seiring dengan pukulan ke dada tersebut.
Tindakan itu nyatanya membuat tubuhnya mendadak menjadi asap hitam. Pukulan tongkat cahaya kuning sosok bercadar hanya membelah asap.
Anehnya, asap itu meliak-liuk menyambar-nyambar ke berbagai bagian tubuh sosok bercadar. Serangan asap itu jelas membahayakan karena selalu mengincar bagian vital. Tapi, bayangan Arya bukanlah berkempuan rendah. Kultivasinya menyamai Arya yang asli.
Itulah sebabnya, walaupun serangan asap itu datang bertubi-tubi bagaikan hujan, bayangan Arya yang bersenjatakan tongkat cahaya tidak mengalami kesulitan dalam menanggulanginya. Apalagi ketika dia mengeluarkan jurus pedang bayangan ‘Seribu Tebasan Pedang’ yang menjadi andalannya. Asap yang menyambar-nyambar itu di buat lenyap dan akhirnya kembali ke wujud semula yakni kera raksasa.
“Uhukk!” Kera raksasa itu memuntahkan banyak darah hitam, wajahnya mengerenyit kesakitan. Namun sesaat kemudian dia keluarkan teriakan keras luar biasa, tanah bergetar hebat bahkan bangunan dan pepohonan di sekitar dibuat hancur menjadi puing-puing.
Dalam kejapan mata, sosok kera raksasa lenyap dari padangan dan tahu-tahu telah lancarkan serangan ke arah bayangan Arya yang memegang tongkat cahaya. Pertarungan antara keduanya berlangsung luar biasa cepat. Dalam waktu sebentar saja, belasan jurus telah berlalu. Meskipun demikian, belum nampak tanda-tanda yang akan terdesak. Kelihatannya pertarungan masih berlangsung seimbang.
Memang dalam hal kultivasi, kera raksasa lebih unggul daripada bayangan Arya. Tapi keunggulan tersebut bisa diredam oleh tingginya ilmu meringankan tubuh milik bayangan Arya. Itulah sebabnya, selama belasan jurus pertarungan masih berjalan seimbang.
Tapi pertarungan itu segera menyulitkan kera raksasa manakala belasan sosok bercadar dengan serentak bergerak menyerbu. Tak pelak hal itu membuat kera raksasa terdesak hebat, bahkan beberapa serangan berhasil bersarang di tubuhnya.
Dalam hati sosok kera raksasa telah pasrah, dia sadar tidak akan mungkin dapat mempertahankan nyawa lebih lama. Akan tetapi meskipun demikian, kera raksasa ini tetap bertahan sebisa mungkin dan sesekali lancarkan serangan balasan.
Sekejapan saja, tubuh kera raksasa ini telah bersimbah darah. Pukulan dan energi serangan lawan telah membuat tubuhnya terkoyak-koyak, bulu-bulu yang menutupi sekujur tubuhnya sebagian besar rontok hangus terkena sambaran serangan.
“Gooarrrggh!”
Tiba-tiba kera raksasa itu keluarkan raungan nyaring. Kemudian tubuhnya melenting ke belakang sambil berputar beberapa kali di udara. Dan manakala kedua kakinya hinggap di tanah, tangan kirinya telah menggenggam sebatang gada besar.
Singgg ... ! Singgg...!
Baru saja kaki kera raksasa tersebut memapak di tanah, terdengar desingan nyaring disusul berkelebatnya dua larik sinar keperakan ke arah gerombolan sosok bercadar dihadapannya. Di belakang dua larik sinar keperakan tersebut, tubuh kera raksasa ini sendiri telah menerjang dengan kecepatan tinggi luar biasa.
Rupanya begitu melihat kera raksasa itu melentingkan tubuh ke belakang, kumpulan sosok bercadar telah siapkan serangan masing-masing. Maka, tanpa ragu-ragu mereka sama-sama lesatkan serangan jarak jauh dengan jurus masing-masing.
Dua larik sinar keperakan meledak di tengah jalan ketika menghantam serangan jarak jauh yang di keluarkan beberapa sosok bercadar. Udara sesaat menjadi panas luar biasa seperti berada di dalam kubangan kawah berapi.
Dari balik kepulan asap benturan energi tadi, tampak melesat sosok besar. Ya, itu bukan lain adalah kera raksasa yang masih menerjang, tangan kirinya telah terangkat ke atas siap ayunkan gada besarnya untuk menyapu segerombolan sosok bercadar.
Tubuh kera raksasa melintir. Dari arah samping mendadak muncul satu sosok bercadar yang dengan telak menghantam pergelangan tangannya. Untunglah di saat terakhir kera raksasa masih sempat menghindar dari bacokan tepi telapak tangan lawannya itu, sehingga tidak mengenai tangannya. Namun meski begitu pukulan dari belakang tahu-tahu telah mendarat di bahunya.
Putaran tubuh kera raksasa terhenti ketika menabrak tembok beton. Tanpa ampun lagi, tubuh yang sedang sempoyongan itu jatuh terguling di tanah. Sementara tembok beton itu sendiri jebol porak-poranda.
Belum lagi kera raksasa setinggi empat tombak tersebut menyadari apa yang terjadi, satu sosok bercadar tahu-tahu kembali menyerangnya. Dengan berbekal tongkat cahaya kuning, dada kera raksasa tersebut di tusuk hingga tembus bagian punggung.
Tongkat cahaya di cabut, menyemburlah darah hitam berbau busuk menyengat pernafasan. Sosok bercadar menyeringai kemudian meninggalkan jasad kera raksasa tersebut.
Yang disangka sudah tewas tiba-tiba bergerak. Tangannya yang menggenggam gada melayang menderu ke arah sosok bercadar.
Wut! Braaakk!
“Akh ... !”
Sosok bercadar mengeluh ketika gada besar itu menghantam bagian punggungnya. Kontan rasa panas menjalar ketika kobaran api dengan cepat melahap tubuhnya. Tubuh bayangan Arya ini mengeluh keras sebelum hancur menjadi serpihan cahaya keemasan.
“Ha ha ha...! Mampus!”
Disana, di reruntuhan tembok beton, kera raksasa terhuyung bangkit. Meski rasa sakit bukan kepalang mendera sekujur tubuhnya namun tampaknya rasa puas karena berhasil menamatkan seorang lawannya membuatnya melupakan rasa sakit tersebut.
“Sekarang siapa lagi yang mau menyusul, mampus!” Dengan suara congkak, kera raksasa ini melompat beberapa tombak ke depan.
Dengan bersamaan semua sosok bercadar yang sekitar 24 orang bergerak menerjang. Namun aneh, mereka tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
“Ambil batu mustika yang ada di bagian lambungnya. Dengan begitu, kera itu bisa dibinasakan!”
Terdengar suara mengiang di kepala seluruh sosok bercadar, suara itu bukan lain adalah suara Arya. Pemuda itu memang sejak awal telah mengawasi keadaan dan gerak-gerik lawan dengan penglihatan yang dimiliki semua bayangannya.
Maka serta merta tanpa pedulikan apa yang bakal di persiapkan lawan. Semua bayangan Arya bergerak serentak seperti sekelompok singa yang kelaparan menerkam mangsa.
Melihat hal itu, sambil meraung ganas kera raksasa jejadian hewan iblis tersebut ayunkan gada yang tergenggam di tangan kirinya kuat-kuat.
Ayunan gada tersebut serta merta menimbulkan deruan angin luar biasa deras lasakana prahara. Puing-puing tembok beton terangkat naik dan terbawa angin melesat ke arah segerombolan sosok bercadar.
“Matilah kalian semua!”
Hulao dan Honglong yang sadar bahwa bahaya besar akan menghancurkan seluruh kawasan istana segera keluarkan teknik segel pelindung masing-masing untuk membendung kuatnya energi yang di lancarkan kera raksasa tersebut.
Selubung energi berpijar biru dan putih cepat sekali meluas menutupi bangunan istana.
BOOOMMM....
Ledakan dahsyat membuat langit seakan-akan hendak rubuh, tanah bergoncang kuat layaknya terjadi gempa luar biasa hebatnya. Sebagian kawasan kerajaan dalam sekejapan saja telah tertutupi asap debu yang mengambang pekat membuat suasana menjadi gelap gulita.