
Dalam pertukaran jurus yang sangat singkat, ruangan bawah tanah yang menjadi tempat pertarungan hancur luruh tertimbun longsor. Memaksa pertarungan di lanjutkan ke permukaan.
Tak sulit bagi Hulao dan Honglong serta para hewan iblis untuk menembus padatnya lapisan tanah, menuju ke permukaan. Namun berbeda halnya dengan Yihong Duan, dia harus bersusah payah untuk mencapai permukaan, berkali-kali dia mengerahkan pukulan demi pukulan guna menghancurkan lapisan tanah yang menghalangi laju pergerakannya.
Sesampainya di permukaan, Hulao dan Honglong langsung menjaga jarak aman dari ketiga hewan iblis lawannya tersebut. Untuk beberapa saat mereka saling pandang, mengukur kemampuan masing-masing lawan.
"Harimau tua, bagaimana ini? Kultivasi mereka berada setingkat bahkan lebih tinggi dariku, kalau kita melakukan pertarungan disini, bisa-bisa kerajaan ini akan hancur." Berkata Honglong dengan ekspresi kecut.
Memang benar, hewan iblis yang bernama Chai Yan memiliki kultivasi di tahap Pendekar Fana tingkat 6 sama seperti kultivasi yang dimiliki Honglong, sementara yang bernama Huang Kun sedikit lebih tinggi beberapa tingkat, dan satunya lagi bernama Cao Song berada di tahap Pendekar Alam, 2 tingkat lebih rendah dari Hulao.
"Apa boleh buat, tapi usahakanlah agar mereka menjauh dari istana." Desis Hulao masih dengan tatapan siaga ke arah lawan. "Kau hadapilah yang itu, biar sisanya aku yang urus."
"Huh, berlagak sok kuat.." Gerutu Honglong dengan muka jengah.
"Baiklah, kalau begitu kita bertukar posisi, aku melawan yang satu itu, dan kau urus yang dua itu." Selesai berkata demikian, Hulao langsung melesat ke arah Chai Yan.
Honglong mengumpat panjang pendek sebelum akhirnya melompat ke dalam pertarungan.
Hulao yang di kepung tiga lawannya nampak begitu kewalahan, untung saat ini dia menggunakan tubuh manusia, hal itu sedikit menguntungkan dirinya sehingga membuatnya bisa bergerak lebih leluasa.
Berada dalam posisi sulit yang mengharuskannya untuk bertahan, Hulao masih sempat melayangkan tendangan tertuju ke dada Chai Yan. Meskipun tendangan itu masih sempat di tangkis, namun kuatnya tendangan itu membuat Chai Yan terjajar beberapa tombak.
Belum sempat Chai Yan menguasai diri, dari arah lain energi berbentuk pipih menderu dalam gelapnya malam hampir tak terlihat, suaranya menderu seperti angin punting beliung dan mengarah ke leher Chai Yan.
Hewan iblis yang menyamar menjadi Chai Yan itupun jatuhkan diri, karena dia berada di tepi sungai yang dangkal, yang berada di dekat taman bunga, maka sewaktu jatuh sekaligus dia memukulkan telapak tangan kanannya ke atas air. Air sungai muncrat melesat ke arah deruan energi yang masih memburunya. Rupanya dia adalah pengendali elemen air.
Dengan gerakan tangannya, Chai Yan mengendalikan air sungai mengikuti keinginannya. Lesatan demi lesatan energi yang menyerangnya dihantam berbelok arah tersapu oleh air yang dikendalikannya.
Masih dalam usahanya menangkis setiap lesatan energi, dari samping berkelebat sesosok tubuh kecil yang samar-samar terlihat dalam kegelapan.
Chai Yan yang sudah tahu bahwa siluman tupai itulah yang telah menyerangnya, lekas-lekas mengayunkan tangannya ke arah tupai tersebut.
Segulung ombak air sungai menyapu siluman tupai tersebut, namun dari balik gulungan ombak itu, Honglong ternyata masih melesat lurus menerjang ke arahnya.
Selagi berkelebat, Honglong menghentakkan kedua tangannya berulang kali ke depan, belasan larik energi biru berbentuk gelang berkilat cepat ke arah lawan.
Sekilas Chai Yan terkesiap karena tupai itu ternyata dapat menembus gulungan ombaknya, namun ketika melihat tupai tersebut telah melancarkan serangan, diapun buru-buru mengatupkan kedua tangannya ke depan. Gulungan air seketika menutupi tubuhnya bagian depan, membentuk tembok air yang dalam sekejap menjadi dinding es padat.
Kini Chai Yan di serang dari arah kanan dan kiri. Lesatan energi masih berhasil di dihidarinya dengan membuang diri ke belakang. Akibatnya, tak ayal membuat tubuhnya tercebur masuk ke dalam sungai. Namun masih lebih baik basah kuyup daripada terkena serangan dari Honglong
Lingkaran energi biru berbentuk gelang itu berbalik dan untuk beberapa lamanya terlihat berputar-putar di atas permukaan air.
Hal ini membuat Chai Yan tidak bisa mengeluarkan dirinya dari permukaan air sungai, kecuali jika dirinya ingin di hantam energi lingkaran yang berkekuatan dahsyat itu.
"Sialan!" Maki Chai Yan.
Dia kerahkan Qi dalam jumlah besar ke kedua tangannya, lalu dalam keadaan terlentang di dalam air, dia hentakkan kedua tangannya ke atas. Bersamaan dengan itu air sungai membumbung tinggi. Belasan energi lingkaran gelang di atas permukaan air tampak bergetar keras lalu terpental.
Chai Yan cepat melompat keluar dari dalam air, masih dalam keadaan membungkuk, dia menghentakkan kembali tangannya. Kali ini dia menggunakan jurus pukulan kegelapan samudera.
Honglong sedikit terkejut ketika melihat teknik lingkaran mengincar kematian milikinya dibuat terpental. Namun dia tidak terlalu khawatir karena begitu mental, belasan energi lingkaran gelang itu masih berputar di udara lalu melesat ke arah Chai Yan kembali.
Namun kali ini dia benar-benar terkejut saat merasakan energi dasyat tengah melesat ke arah dirinya, maka Honglong lekas melompat terbang ke udara untuk selamatkan diri.
Jdduuummm..
Suara ledakan terdengar keras, tanah bergetar hebat. Tempat berdirinya Honglong tadi, kini telah menjadi kubangan kawah yang lebar dan dalam.
Chai Yan sendiri terkejut bukan main ketika mendapati belasan energi lingkaran gelang dengan ganas kembali menyerang ke arah dirinya. "Bangsat!" Makinya, terpaksa dia jatuhkan diri dan kembali tercebur ke dalam air.
Tidak menunggu lebih lama, hewan iblis jelmaan Chai Yan tersebut cepat keluar dari dalam air dan lalu melompat melesat terbang. Dia berfikir dengan berada di atas udara, dirinya bisa lebih leluasa bergerak.
Ledakan dan getaran dari pertarungan mereka ternyata terdengar dan terasa sampai ke seluruh kawasan kerajaan.
Ratusan prajurit segera berlarian menuju ke sumber ledakan, berfikir bahwa pelaku pembunuhan yang telah menggemparkan istana beberapa waktu lalu, telah tertangkap keberadaannya. Namun sesampainya di lokasi kejadian, mereka hanya mendapati kubangan tanah yang teramat besar dan gedung yang baru dalam tahap pembangunan telah hancur rata dengan tanah.
Sebagian prajurit segera di kerahkan untuk menyisir seluruh tempat kejadian. Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya kembali dengan membawa beberapa mayat prajurit. Mayat-mayat tersebut tidak lain adalah mayat prajurit yang berjaga di depan gedung. Seperti yang diketahui, mereka mati di tangan Hulao.
"Pasukan regu lima, kalian awasi tempat ini, mungkin pelakunya masih bersembunyi di tempat ini. Dan kalian semua kembalilah, terus lakukan pencarian di setiap sudut kawasan kerajaan." Perintah jenderal Sun Jian, lalu berjalan menuju istana.
Para pendekar aliran hitam yang menyamar sebagai prajurit dan pada saat itu berada di tempat kejadian, nampak memasang wajah buruk. Mereka tentu mengetahui, gedung yang hancur itu adalah tempat pertemuan para atasan mereka dan prajurit yang di temukan tewas itu tidak lain adalah anggota mereka sendiri.