Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Orang Terluka Di Tengah Hutan


Angin pegunungan bertiup kencang. Awan hitam bergulung-gulung menebarkan hawa dingin menusuk ke tulang. Kilat menyambar-nyambar membuat langit malam sekejapan terang. Gelagar Guntur saling bersahut-sahutan.


Tak jauh dari puncak gunung, terlihat kawanan burung tengah terbang ke arah barat laut.


“Sebaiknya kita berteduh dulu, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.” seru seorang pria berpakaian biru yang duduk diatas leher elang raksasa. Orang ini bukan lain adalah tetua Lin Hai.


“Baik tetua!” sahut beberapa orang yang masing-masing juga menunggangi elang raksasa.


Demikianlah, serombongan elang raksasa yang di tunggangi anggota Sekte Lembah Petir menukik turun ke kaki gunung, masuk ke dalam hutan.


Suasana di dalam hutan itu amatlah gelap, apalagi saat itu cahaya rembulan sedang tertutup awan mendung. Dalam gelap rombongan anggota Lembah Petir menciptakan petir di tangan masing-masing guna untuk penerangan. Setapak demi setapak mereka berjalan sambil edarkan pandangan berkeliling, mencari tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh.


Hujan mulai turun rintik-rintik saat rombongan itu telah berada di depan mulut goa.


“Periksa! Apakah di dalam ada penghuninya.” perintah tetua Lin Hai.


Tiga laki-laki segera berkelebat masuk ke dalam goa. Tak lama berselang dari dalam goa terdengar raungan harimau. Kilatan cahaya beberapa kali dapat terlihat dari luar. Terdengar pula dentuman keras dari dalam goa tersebut. Tampaknya sedang terjadi pertarungan di dalam sana.


Tetua Liao Fan yang khawatir akan keselamatan tiga orang anggotanya tadi segera berkelebat memasuki goa. Namun baru saja ia masuk, tiga orang laki-laki terlihat berjalan menuju mulut goa, dua diantaranya tampak sedang menyeret seekor harimau sebesar kerbau.


“Hmmm... Jadi siluman harimau ini yang tadi bertarung dengan kalian?” tanya tetua Liao Fan seraya mengamati kondisi harimau itu. Rupanya harimau itu tewas dengan kondisi tubuh hangus. Sang tetua dapat memastikan bahwa harimau itu dibuat gosong oleh serangan petir ketiga laki-laki tersebut.


“Iya tetua.. kami sudah memeriksa setiap sudut goa ini. Hanya siluman harimau ini yang kami temukan.” jawab seorang laki-laki tinggi besar yang bernama San Seng Zhu.


Tetua Liao Fan mengangguk lalu berkata, “Sekarang kalian olah lah daging harimau itu untuk makan malam kita.”


Laki-laki bertubuh tinggi besar, San Seng Zhu tersenyum lebar sambil usap-usap perutnya yang memang sudah sejak pagi meronta minta di isi.


Dengan sentakan kaki, tubuh tetua Liao Fan kemudian meluncur keluar dari mulut goa. Baru saja ia hinggap di tanah, terdengar pertanyaan dari tetua Lin Hai.


“Bagaimana keadaan di dalam?”


“Tidak ada masalah yang berarti.. justru kita mendapatkan sesuatu untuk mengganjal perut kita malam ini.” sahut tetua Liao Fan yang diakhiri senyuman.


Dahi tetua Lin Hai jadi mengerut, namun ia tak ambil perduli. Yang terpenting baginya keadaan di dalam sudah aman.


Kemudian tiba-tiba tetua Liao Fan berkata, “Kumpulkan ranting-ranting serta kayu-kayu kering disekitar untuk membuat api unggun! Sebagian dari kalian carilah binatang untuk makanan elang-elang kita!”


Tanpa membuang waktu, rombongan anggota Lembah Petir yang berjumlah tiga puluh orang itupun segera membawa siluman-siluman elang tunggangan mereka masuk ke dalam goa. Sesaat kemudian mereka keluar lagi dari mulut goa dan kemudian langsung berpencar mencari ranting-ranting ataupun binatang buruan.


“Semoga Xian'er tidak bertindak gegabah.” desis tetua Lin Hai lalu masuk ke dalam goa.


Sementara itu, seorang gadis berkelebat dalam gelapnya hutan. Gadis ini berlari cepat menuju kearah tebing-tebing curam yang membentang dihadapannya. Selagi berlarian dan berlompatan, ia terus saja mengamati sekeliling kalau-kalau ada binatang yang bisa dia tangkap.


Terhitung sudah tiga rusa yang berhasil dia tangkap dalam keadaan mati, lalu dimasukkannya ke dalam cincin ruang. Namun gadis ini terus saja melanjutkan pencarian. Setelah melewati sebuah bukit, si gadis menghentikan larinya. Dihadapannya kini membentang jalan-jalan licin dan terjal di tambah lagi kondisi yang gelap. Mau tak mau ia harus menghentikan pemburuan dan kembali ke goa tempat dimana anggota Sekte Lembah Petir berkumpul. Tiba-tiba suara petir menggelegar di udara didahului dengan kilatan-kilatan yang menyambar membuat gadis ini agak terkejut. Tetes air hujan mulai turun. Dan tak lama hujanpun turun dengan derasnya.


Akhirnya Liu Wei memutar tubuhnya untuk kembali. Kali ini dia harus lebih hati-hati dalam melangkah. Air hujan membuat permukaan tanah dan bebatuan menjadi licin.


Dia terus berlari di antara semak-semak yang tumbuh di bawah pepohonan yang besar. Liu Wei tidak saja harus hati-hati dalam melangkah diantara tanah yang gembur dan licin, tetapi ia juga harus hati-hati menghadapi segala macam binatang atau siluman. Lebih-lebih lagi ular. Binatang yang sangat berbahaya dan hampir-hampir tak dapat dilihatnya bagaimana binatang itu menyerang di kegelapan.


Tiba-tiba Liu Wei melihat sesuatu. Ia melihat semak-semak tumbuh tidak wajar. Namun kemudian ia mengambil kesimpulan, bahwa semak-semak itu baru saja diterobos oleh seseorang. Tidak hanya seseorang menilik dahan-dahan yang patah dan daun yang terinjak-injak.


Dengan saksama Liu Wei mencoba memperhatikan semak-semak itu. Agak lama dia memperhatikannya, sebab malam pun gelap sekali. Hampir ia mengamat-amati setiap daun dan ranting. Diraba-raba dengan tangannya. Akhirnya gadis ini berkesimpulan, bahwa bukan binatang yang ditemukan jejaknya, tetapi ada manusia yang melewati tempat ini.


“Apakah ini jejak kakiku?” desis Liu Wei dalam hati. Pandangannya diedarkan berkeliling, namun dia ingat sekali tak pernah melewati tempat ini.


“Jangan-jangan ada perampok ditempat ini.”


Berfikir begitu, maka gadis inipun kembali maju perlahan-lahan. Beberapa kali ia berhenti mengamat-amati setiap dahan-dahan perdu yang patah dan daun-daun yang tersibak. Ditelusurinya bekas-bekas itu selangkah demi selangkah.


“Mereka berjalan tergesa-gesa,” pikir Liu Wei, “Sehingga jejak mereka menjadi sangat jelas. Mudah-mudahan aku dapat menemukan sarang mereka.”


Semakin lama Liu Wei semakin dalam masuk ke hutan itu. Sedang malam pun semakin lama menjadi semakin dalam tenggelam ke pusatnya. Dalam pada itu gadis inipun menjadi semakin mengenal jejak-jejak yang harus diikutinya.


“Apakah sebaiknya aku kembali dan memberitahukan hal ini pada yang lainnya? Besok apabila hari menjadi terang, aku pasti akan dapat menemukan sarang mereka.” Liu Wei menjadi bimbang.


Memang sedari awal Liu Wei sudah menggenggam pedangnya. Selain untuk memburu binatang, pedang itu juga digunakan untuk membuat tanda-tanda goresan dipohon supaya ia tidak tersesat.


Tetapi Liu Wei tiba-tiba tertegun. la mendengar sebuah suara. Diperhatikannya suara itu dengan saksama. Suara itu bukan suara binatang. Tetapi suara itu adalah suara seseorang.


Gadis ini menarik nafas. Pedangnya masih di dalam genggamannya, dan dengan ujung pedang mendatar setinggi perutnya, ia berjalan dengan sangat hati-hati.


Dengan penuh kewaspadaan ia mengamat-amati keadaan. Mencoba menangkap setiap suara dan melihat setiap gerak. Namun keadaan di hutan itu terlampau sepi. Dan suara itu masih saja, didengarnya.


Liu Wei kemudian berhenti. Semakin lama, suara itu semakin jelas, bahwa suara itu adalah suara rintihan seseorang.


“Siapa?” desis gadis ini di dalam hatinya.


Tetapi Liu Wei tidak segera mendekatinya. Ia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Apakah suara itu suara rintihan seseorang yang terluka dalam suatu perkelahian? Kalau demikian maka lawan orang itu pasti masih ada di sekitarnya dalam keadaan yang baik. Tetapi bagaimana kalau karena sebab lain?


Mendadak Liu Wei menyusup di belakang dedaunan. Rintihan itu masih saja didengarnya. Selain suara itu tidak ada suara lain alias sepi, sehingga gadis inipun menjadi tidak sabar. Meskipun ia tidak kehilangan kewaspadaan, namun ia berusaha mendekatinya. Perlahan-lahan, menyusuri semak-semak yang cukup pekat. Liu Wei masih cukup sadar, bahwa bahaya mungkin akan menerkamnya dengan tiba-tiba. Karena itu, maka setiap gerak selalu disertai dengan kesiagaan tertinggi.


Ketika Liu Wei telah berada beberapa tombak saja dari suara itu. Diapun berhenti. Gadis ini mencoba mengamati keadaan di sekelilingnya, maka tiba-tiba dilihatnya orang itu. Orang yang merintih-rintih dengan pedihnya.


Dalam keremangan malam, ia melihat tubuh orang itu tergolek di tanah, di antara pohon-pohon perdu.


Sesaat Liu Wei masih tegak di tempatnya. Ia masih ragu-ragu, apakah orang itu benar-benar merintih karena sesuatu penderitaan, atau karena sebab-sebab lain. Bahkan dalam keadaan demikian rupa, ia berprasangka bahwa orang itu sebenarnya sama sekali tidak menderita apapun, namun dengan sengaja telah memancingnya untuk mendekat. Adalah berbahaya sekali apabila tiba-tiba orang itu menyerangnya selagi ia kehilangan kewaspadaan.


Namun suara orang itu selalu menyentuh-nyentuh perasaannya. Rintihan itu terdengar sedemikian pedihnya. Bahkan beberapa kali ia mencoba untuk memanggil beberapa nama. Tetapi Liu Wei tidak begitu jelas mendengarnya.


Dia lantas mencoba mengerahkan tekniknya untuk mendeteksi keberadaan orang-orang di sekitarnya. Tekniknya itu mungkin akan di sadari lawannya, namun ia sudah tidak perduli. Kalau harus bertarung maka bertarung lah, tidak perlu mengulur-ulur waktu apalagi menyerang secara licik diam-diam.


Tetapi tubuh orang itu tetap terbaring diam. Hanya suara rintihannya sajalah yang terdengar menyayat hati.


Ketika jarak orang itu tinggal beberapa langkah lagi, Liu Wei berhenti. Ditatapnya tubuh yang tergeletak itu dengan saksama. Dalam keremangan malam, ia samar-samar melihat tubuh orang tersebut terluka pada bagian dada, tangan dan kepala. Luka tersebut seperti bekas sayatan benda tajam.


“Pendekar Suci!” desisnya dalam hati.


Dalam keadaan yang penuh dengan keragu-raguan dan ketegangan terdengar gadis ini berkata, “Siapa kau, dan kenapa kau terbaring di situ?”


Mendengar suara si gadis, Orang yang merintih itu dengan suara yang parau dan tertahan-tahan ia menyahut lirih, “Siapakah kau?”


“Aku bertanya siapa kau?!” tanya Liu Wei curiga.


Ketika dilihatnya orang itu bergerak. Maka sigap ia meloncat ke belakang, dengan pedangnya yang terjulur lurus ke depan. Namun orang itu tidak bangkit dan suara rintihannya kembali terdengar.


Liu Wei masih saja dicengkam kebimbangan, karena ia belum memliki pengalaman yang cukup untuk menghadapi berbagai keadaan yang belum dikenalnya. Yang terdengar kemudian adalah desis yang sayu, “Aku hampir mati karena lukaku. Apakah kau dapat memberi aku obat?”


Pada saat itu hujan mulai reda. Dan menjawab lah gadis ini, “Ya, aku memiliki bekal obat-obatan. Tapi jawab dulu pertanyaanku! Siapa kau Dan kenapa kau terluka?!”


“Aku adalah seorang pengelana, dan keadaanku ini dikarenakan bertarung dengan Pendekar dari Iblis Berdarah.”


Dada Liu Wei berdesir. Meski tidak dapat mempercayai penuh ucapan orang tersebut, ia segera mengeluarkan sebutir pil. Dan pil tersebut ia lemparkan jatuh di atas dada orang yang berbaring tersebut.


“Minumlah pil itu, lukamu akan cepat sembuh.” selesai berkata begitu, Liu Wei langsung putar tubuhnya berkelebat meninggalkan tempat tersebut.


Sebenarnya Liu Wei ingin mengorek lebih jauh keterangan dari orang yang terluka itu, namun karena merasa keterangan orang itu tidaklah terlalu berarti baginya maka diapun bergegas pergi. Ia juga sebenarnya khawatir kalau-kalau orang itu hanya berpura-pura terluka dan bersiasat menjebaknya.


“Aaahh..” orang yang terbaring itu mendesah, telinganya dapat mendengar kelebatan gadis yang barusan berbicara dengannya. Sebenarnya ia penasaran dengan wajah si gadis, namun karena keremangan malam serta tubuhnya yang lemah, pandangan menjadi buram.


Kemudian orang itu teringat bahwa sebelum si gadis pergi, ia telah melemparkan sesuatu di atas tubuhnya. Tangannya yang lemah dan sakit bukan main tampak terangkat, dengan bergetar tangan itupun akhirnya mendapatkan sebuah benda bulat yang lebih kecil dari ukuran kelereng di atas dadanya.


“Rupanya gadis itu memang memberikanku obat..” desisnya dalam hati.


Namun demikian, orang itu sempat ragu. Bahkan ia berprasangka bahwa yang diberikan oleh si gadis bukanlah obat tetapi justru racun. Sejenak kemudian dia menepis anggapan tersebut. ‘Jika gadis itu ingin membunuhku kenapa dia tidak melakukannya saat ini juga?’


Berfikir begitu, kebimbangannya pun jadi sirna. Maka iapun tanpa membuang waktu lagi, segera menelan pil ditangannya tersebut.


Tak berselang lama tiba-tiba orang itupun melonglong kesakitan. Luka-luka disekujur tubuhnya terasa seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum. Setelahnya luka itu terasa panas luar biasa seperti dipanggang api. Meski demikian orang itu tahu bahwa urat-uratnya yang terputus sedang tersambung kembali.


Untuk beberapa lamanya orang itu terus meraung-raung. Dan raungan itu semakin lama semakin pelan hingga berhenti sama sekali.


Sesaat kemudian orang itupun perlahan bangkit duduk. Dengan cekatan ia menotok beberapa bagian dari sisi lukanya, mengatur pernafasan dan mencoba mengalihkan energinya ke bagian tubuhnya yang terluka. Terdengar orang itu berdesis, kemudian melompat berdiri.


“Memang agak pedih,” berkata orang itu, tangan kanannya bergerak meraba bagian tubuhnya dimana ia terluka sebelumnya. Ia nampak terkejut ketika mendapati luka-lukanya telah sembuh bahkan bekasnya pun tidak ada sama sekali. “Luar biasa!... Apakah gadis itu seorang Alkemis. Tapi bagaimana mungkin di kekaisaran ini terdapat Alkemis sehebat itu.”


Karena penasaran, orang ini segera berkelebat mengikuti kemana jejak si gadis pergi. Namun belum lewat sepuluh tombak ia baru teringat akan kabar penting yang harus disampaikannya kepada atasannya. Ia pun segera berhenti, kemudian berputar berkelebat cepat menyusup ke dalam semak belukar dan menghilang di dalam kelamnya malam.


Setelah melewati beberapa bukit akhirnya orang ini menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. Beberapa tombak lagi ia menyibak semak belukar terakhir dan beberapa langkah lagi, ia telah sampai di halaman yang kotor dari perkemahan yang sangat sederhana.


Seorang penjaga dengan tangkasnya meloncat, dan pedangnya langsung diangkatnya setinggi dada sambil membentak, “Berhenti! Siapa kau?!”


Mendengar suara yang memecah kesunyian malam tersebut, beberapa orang-orang yang berjaga di beberapa titik segera berkelebat menuju sumber suara.


Dalam sekejapan di tempat itu telah berdiri belasan orang penjaga yang masing-masing mengangkat senjatanya.


Orang itu menjawab, “Aku Tie Mole, pasukan khusus pengintai.”


Suasana hening sejenak, para penjaga itu memandang ke semak belukar seolah sedang mencari-cari sesuatu. Mata mereka yang tajam seakan dapat menembus gelapnya malam itu, tidak melihat siapapun selain orang yang mengaku bernama Tie Mole itu.


Maka berkatalah salah seorang dari penjaga itu dengan curiga. “Dimana teman-temanmu?!”


Tiba-tiba saja dada orang bernama Tie Mole dirayapi oleh kekecewaan dan kemarahan yang sangat mendengar pertanyaan penjaga itu. “Ceritanya panjang.. dan aku hanya akan memberitahukannya pada Pangeran.”


Para penjaga itu dapat memaklumi perkataan Tie Mole, karena bagaimanapun sebagai mata-mata mereka memang diwajibkan membungkam mulut dari siapapun.


“Kalau begitu tunjukkan tanda pengenalmu!” Perintah salah satu penjaga.


Tanpa berbicara lagi, Tie Mole cepat keluarkan tanda pengenal yang berbentuk lempengan segitiga berukiran tanduk yang dilingkari garis kerucut. Tanda pengenal itupun kemudian di lemparkannya ke arah penjaga tadi.


Untuk beberapa saat prajurit tersebut mengamati tanda pengenal itu dengan seksama. Sesudah memastikan bahwa tanda pengenal itu asli, si penjaga kemudian menyerahkan tanda pengenal itu kembali dan mempersilahkan Tie Mole lewat.


Dengan langkah lebar-lebar Tie Mole berjalan menyusur sisi halaman perkemahan itu. Ia ingin segera sampai ke pusat perkemahan dan menyampaikan informasi penting yang dibawanya kepada pimpinannya. Sekali ia membelok dan menyusur jalan sempit menuju ke kemah Pangeran Tong Shun. la mengharap bahwa para pemimpin pasukan tengah berada di tempat itu.


Kini langkahnya menjadi semakin dekat dengan pintu perkemahan Pangeran Tong Shun. Sekali lagi ia bertemu dengan beberapa penjaga. Ketika penjaga-penjaga itu melihatnya segera salah satu diantaranya menyapanya, “Siapa?”


“Aku, Tie Mole.”


“O, kemana teman-temanmu?”


“Tak usah banyak tanya! Apakah pangeran ada di dalam?”


“Ya... Di dalam kemah itu. Pangeran dan para petinggi-petinggi Sekte Kelabang Racun sedang melakukan pertemuan penting.”


Tie Mole mengangguk. “Aku juga membawa sesuatu yang penting.”


Para penjaga itu tidak berkata apa-apa lagi. Mereka menggeser tubuh beberapa langkah ke samping untuk memberi jalan bagi Tie Mole masuk.


Sambil menundukkan kepalanya Tie Mole berjalan terus. Ketika ia sampai di muka pintu, ia tertegun sejenak. Dilihatnya cahaya obor memancar lewat pintu yang masih terbuka sedikit jatuh di atas tanah yang kotor lembab.


Dengan ragu-ragu iapun mendekat. Disentuhnya pintu itu dengan tangan kanannya. Dan tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki dari dalam pintu itu. Sesaat kemudian tampaklah seseorang menyibakkan pintu kemah tersebut.