Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Memberikan Bukti


“Anak muda, sekarang jawablah pertanyaanku tadi!”


Terdengar suara Patriark Dai Wubai. Arya menoleh, didapatinya orang tua itu sedang memandanginya dengan penuh perhatian. Pemuda ini menarik nafas dalam-dalam. Dia sudah mengetahui siapa sebenarnya orang tua dihadapannya ini berikut mengenai hubungan orang tua ini dengan kakeknya Zhen Long.


Karena itu, maka timbullah niatnya untuk berkata langsung saja berterus terang. Tetapi meski begitu dia masih ragu-ragu. Haruskah ia mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan saja. Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat dari keterangannya nanti terhadap perjalanan hidupnya mendatang. Ia khawatir jika menjelaskan siapa dirinya sebenarnya maka kemungkinan terburuk ialah para kultivator akan memburunya. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang tua ini semakin besar. Mungkin pula ia akan dipaksa dengan menggunakan cara-cara kekerasan.


Akhirnya Arya mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya. Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Arya tidak segera menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah Zhiyuhan berbicara masih dengan posisi rebahan sambil memandangi angkasa, “Katakanlah saja tuan! Tidak perlu khawatir kami akan membocorkan rahasiamu.”


Arya mengangguk, kemudian menjawab lah ia, “Aku adalah cucu angkat sekaligus muridnya. Karena itulah aku sedikit menguasai ilmu-ilmu beliau.”


Patriark Dai Wubai nampak terkejut, selama ini dia tidak pernah mendengar bahwa Zhen Long memiliki seorang murid apalagi seorang cucu angkat. Tetapi ketika dia mengingat bahwa ia memang sudah lama tidak berjumpa dan mendengar kabar mengenai Zhen Long, maka mengangguklah ia. Kemudian tiba-tiba dahi orang tua ini menjadi mengerut, dia tidak boleh begitu saja mempercayai perkataan pemuda itu. Bisa saja pemuda dihadapannya itu hanya mengaku-ngaku. Karenanya Patriark Dai Wubai pun berniat menguji kebenaran dari kata-kata pemuda itu.


Arya dapat merasakan pengaruh dari kata-katanya tadi atas perubahan air muka Patriark Dai Wubai. Pemuda ini juga bisa meraba apa yang akan dilakukan orang tua itu terhadapnya.


Patriark Dai Wubai sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang terkesan dingin. “Melihat jurus-jurus yang kau gunakan, memang tepatlah kalau kau telah menerima jurus-jurus itu dari Zhen Long. Aku tak bisa membantah hal itu. Tetapi mengenai pengakuanmu sebagai murid orang tua itu masihlah perlu untuk dibuktikan. Bisa saja kau hanya mengaku-ngaku, bahkan mungkin juga kau menguasai jurus-jurus itu dari hasil mencuri kitab milik orang tua itu.”


Kecurigaan Patriark Dai Wubai memang beralasan. Dia sudah mengenal baik siapa itu Zhen Long. Bahkan Zhen Long pernah mengatakan kepadanya jika ia tidak akan mengangkat seorang murid sebelum dirinya bisa hidup tenang, lepas dari pengejaran para kultivator yang berniat merampas pusaka dan kitab-kitab yang dimilikinya. Tetapi Patriark Dai Wubai juga tidak bisa serta-merta menuduh pemuda dihadapannya itu sebagai pencuri ilmu. Kesan baik yang ditangkapnya saat pertama kali melihat pemuda itu membuatnya sedikit mempercayai ucapan si pemuda.


Arya menjadi tidak senang mendengar kata-kata Patriark Dai Wubai. Tuduhan itu jelas saja tidak menyenangkan hatinya, tetapi ia masih bisa menahan diri dan menjawab dengan ramah pula. “Menurut anda, apa mungkin seorang anak muda sepertiku bisa mengambil sesuatu milik orang yang perkasa dan sesakti kakek Zhen Long?” pemuda ini menggeleng pelan. “Lagipula hubungan antara guru dan murid ini hanya di ketahui olehku dan juga kakek Zhen Long. Karena itulah aku tidak bisa membuktikan kebenaran dari pengakuanku.”


Arya sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Dilihatnya Patriark Dai Wubai itu tersenyum sinis, kemudian orang tua ini berkata, “Sebagai seorang murid satu-satunya, tentunya gurumu itu mewarisi setidak-tidaknya kitab atau senjata pusaka miliknya kepadamu. Tapi dalam pertarunganmu, aku sama sekali tidak melihatmu menggunakan senjata pusaka miliknya.”


“Kek, maafkan aku. Apa yang perlu anda ketahui telah aku katakan. Untuk selebihnya, terserah anda mau percaya atau tidak.”


“Belum cukup,” sahut Patriark Dai Wubai dengan muka menegang. “Aku harus dapat memastikannya! Jika kau memang adalah murid Zhen Long, itu adalah kabar baik bagiku. Tapi jika kau adalah pencuri ilmunya, maka aku sebagai sahabatnya berkewajiban untuk menghukummu.”


Arya memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia bisa saja menunjukkan beberapa pusaka milik kakeknya Zhen Long, tetapi pusaka-pusaka itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan dicari-cari oleh para kultivator. Jadi dia tidak mau ada satupun kultivator yang mengenali pusaka-pusaka tersebut ada ditangannya. Kalau berita itu sampai menyebar, maka keselamatannya akan terancam, bahkan situasi di daratan ini juga bisa dalam bahaya bilamana para kultivator tersebut berdatangan untuk mencarinya.


Kedua pemuda dan orang tua itu sama-sama terdiam, saling pandang. Suasana menjadi mencekam ketika suatu energi kuat mengeruak keluar dari tubuh kedua orang tersebut. Energi mereka saling menekan bahkan membuat tubuh keduanya terseret kebelakang beberapa tombak. Bukit cinta yang diinjak merekapun menjadi bergetar hebat akibat dahsyatnya kekuatan keduanya.


Zhiyuhan terkejut, segera saja ia bangkit dari posisinya rebahan, dia khawatir jika kedua orang itu tidak dapat menahan diri sehingga berujung pada perkelahian. Namun ketika Zhiyuhan mulai berjalan mendekat untuk melerai, pemuda ini mendadak terpental oleh sapuan tangan Patriark Dai Wubai.


Betapa dahsyatnya pergolakan yang terjadi di dada Arya dan Patriark Dai Wubai. Masing-masing dari mereka merasa harus mempertahankan sikap. Arya harus merahasiakan pusakanya, ia tidak mau jika pusaka yang diincar banyak kultivator diketahui oleh orang lain kalau ada ditangannya. Sementara Patriark Dai Wubai merasa harus memastikan kebenaran dari pengakuan si pemuda.


Patriark Dai Wubai berpikir jika seandainya pemuda dihadapannya itu memang adalah pencuri, maka ada kemungkinan bahwa sahabatnya Zhen Long saat ini telah tewas. Sehingga kitab-kitab serta pusaka-pusaka yang dimiliki Zhen Long bisa jatuh ke tangan orang lain. Berfikir demikian, maka terdoronglah ia pada keadaan yang membuatnya marah.


Sementara itu, hujan mulai mereda dan sesaat kemudian benar-benar berhenti. Awan hitam yang menutupi keindahan langit malam, sedikit demi sedikit tersapu terbawa angin. Tebaran bintang-bintang dan rembulan kembali terlihat menghiasi angkasa.


Arya mengerutkan dahi, ia dapat melihat orang tua dihadapannya itu nampak bersungguh-sungguh ingin memaksanya. Pemuda ini tak yakin bisa menang melawan Patriark Dai Wubai yang dirasakannya memiliki kultivasi lebih tinggi dari panglima kegelapan Yeva. Namun meski demikian, Arya tak mau mengalah untuk sesuatu yang dianggapnya benar.


Keadaan yang mendadak berubah menjadi tegang membuat Zhiyuhan menjadi tak habis pikir. Ia garuk-garuk rambutnya dengan kasar, pemuda ini sama sekali tak mengerti kenapa Patriark Dai Wubai yang datang bersamanya itu tiba-tiba menjadi kalap, tak bisa berfikir dengan kepala dingin.


“Jika kau memang murid Zhen Long, cepat keluarkanlah pusaka miliknya. Dengan begitu aku tak akan menjatuhkan tangan kasar terhadapmu.” Kata Patriark Dai Wubai dengan penuh tekanan.


Meski mendapatkan tekanan demikian hebatnya, Arya masih bisa bersikap tenang. “Maaf, aku tak bisa mengabulkannya. Kakek hanya menurunkan ilmunya kepadaku tapi tidak dengan pusaka-pusaka miliknya. Ia khawatir jika aku membawa pusaka-pusaka itu, aku akan dikejar-kejar para kultivator yang berniat menginginkan pusaka-pusaka itu.”


“Kalau begitu kau harus ikut bersamaku untuk membuktikan ucapanmu.!” Ucap Patriark Dai Wubai sambil tersenyum aneh.


Perkataan itu membuat Arya bersikap lebih hati-hati. “Ikut kemana?”


“Pergi menemui Zhen Long.”


Arya tersenyum, kemudian menggeleng. “Tugasku di sini belum selesai. Kakek baru mengizinkan aku menemuinya jika aku sudah menyelesaikan tugasku disini.”


“Alasan yang bagus.” Patriark Dai Wubai mulai maju melangkah. “Kau ku minta untuk menunjukkan pusaka milik Zhen Long, kau tak mau. Ku ajak untuk menemui gurumu, kau beralasan. Jadi bagaimana?”


Zhiyuhan menjadi semakin tegang ketika dilihatnya Patriark Dai Wubai mulai maju mendekati Arya. Dia sudah dapat memastikan bahwa sesuatu yang buruk pasti akan segera terjadi. Maka diapun berkelebat cepat menengahi.


Patriark Dai Wubai mengehentikan langkahnya. Dipandanginya Zhiyuhan dengan tatapan tajam. Kemudian katanya. “Zhiyuhan, kenapa kau membelanya? Orang ini sudah ketahuan busuknya. Selain dia seorang penipu, dia juga seorang pencuri. Cobalah kau rasakan, di dalam tubuhnya terpancar energi pusaka legenda.”


Merahlah wajah Arya mendengarnya. Kedua telapak tangannya dikepalkannya erat-erat membentuk tinju. Dia tentu tidak terima dituduh pencuri dan penipu. Namun sejenak kemudian dia dapat mengendalikan diri. Kesalah-pahaman ini memang jika dipikir-pikir timbul akibat dirinya sendiri yang tak mau berterus-terang.


Zhiyuhan memutar kepalanya ke arah Arya. Butuh konsentrasi tinggi serta mengerahkan energi pusaka legenda yang ada di dalam tubuhnya untuk dapat melihat energi pusaka legenda yang ada didalam tubuh Arya. Sesudah dapat merasakannya, menjadi meneganglah paras Zhiyuhan. Kini dia mengerti kenapa Patriark Dai Wubai yang biasanya bersikap tenang sampai bertindak demikian.


Maka meluncurlah perkataan dari pemuda ini dengan nada bergetar, “Tuan, sebaiknya anda jelaskan semua ini dengan sebenar-benarnya. Aku percaya padamu. Tapi jika hal ini sampai di ketahui para penjaga pusaka legenda lainnya, persoalan ini pasti akan menjadi lebih rumit.”


Arya diam-diam baru menyadari alasan kenapa Patriark Dai Wubai bersikap demikian kepadanya. Ia harus menahan hati, untuk menemukan kesempatan yang baik. Ia percaya bahwa orang-orang dihadapannya itu adalah orang-orang yang memiliki harga diri yang tinggi, dan mereka bukan termasuk orang-orang yang menyukai kekerasan. Karena itu, Arya masih mempunyai harapan agar persoalan ini tidak semakin menjadi-jadi. Untuk itu dia mulai memikirkan cara agar dapat mengatasi persoalan yang di hadapinya kali ini.


“Hem...” Arya menarik nafas dalam-dalam, “Aku mempunyai sekedar bukti. Mudah-mudahan kalian dapat mempercayainya. Bukti yang akan aku berikan ini adalah sebagai jawaban atas pertanyaan anda yang pertama.”


Baik Patriark Dai Wubai dan Zhiyuhan sama-sama melihat Arya mengayunkan tangannya. Tiba-tiba saja dari tangan pemuda itu telah muncul selembar kertas putih yang tergulung dan di ikat dengan tali pita berwarna merah.


Lalu di dengarnya pemuda itu berkata. “Kertas ini adalah bukti bahwa antara aku dan kakek Zhen Long memang memiliki ikatan sebagai murid dan guru, juga sebagai kakek dan cucu.”


Kertas itupun dilemparkannya ke arah Patriark Dai Wubai. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Arya, seakan tidak ingin pemuda itu melarikan diri, Patriark Dai Wubai dengan santainya menangkap gulungan kertas tersebut dengan satu tangan.


Sebelum membuka gulungan kertas itu, Patriark Dai Wubai berkata kepada Zhiyuhan. “Kau awasi terus pemuda itu! Jangan biarkan dia kabur!”


Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Zhiyuhan terus saja memandangi wajah Arya, seakan ia ingin membaca apa yang ada di pikiran pemuda itu. Tetapi terdengar Arya menyahut.


“Kalau anda masih kurang puas dengan adanya bukti itu, anda bisa tanyakan sendiri kepada kakek Zhen Long tentang siapa aku.”


Patriark Dai Wubai mengerutkan keningnya, Dan Arya berbicara terus. “Kakek Zhen Long sudah beberapa tahun lalu telah kembali ke benua daratan tengah. Anda bisa mencarinya di Sekte Naga Api.”


Dada Patriark Dai Wubai berdesir. Sejenak ia terpengaruh oleh kata-kata pemuda itu. Perkataan Arya dan sikapnya yang terlalu tenang seolah-olah memaksanya untuk mempercayai saja ucapan pemuda tersebut. Terlebih ia juga melihat pemuda itu nampaknya memang telah mengenal dekat dengan Zhen Long. Maka pandangannya mulai dialihkannya kepada kertas yang digenggamnya. Dibukanya perlahan kertas itu. Menjadi terpukaulah wajah orang tua ini. Dilihatnya sebuah lukisan yang tergurat indah di selembar kertas tersebut, tergambar dua sosok manusia. Salah satu diantaranya sangat di kenalinya, sebuah lukisan orang tua yang tidak lain dan tidak bukan adalah Zhen Long. Sementara satu sosok lagi didalam lukisan itu tidak lain adalah pemuda dihadapannya yang dalam lukisan itu masih terlihat lebih muda dari yang sekarang dilihatnya.


Pandangan Patriark Dai Wubai kembali menatap Arya lalu dialihkannya ke lukisan ditangannya. Begitu berulang kali, seolah orang tua ini ingin memantapkan hatinya dari kebimbangan. Tetapi hati orang tua ini dapat membenarkan bukti yang diberikan pemuda itu, “Jika dia memang telah mencuri ilmu Zhen Long, lalu untuk apa dia menyimpan lukisan ini. Sepertinya dia memang tidak berbohong.” Pikir orang tua ini.