Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Potongan Tangan


Seharian mereka merambah rimba hutan belantara yang luas. Di sebuah daerah perbukitan yang bentuknya aneh melingkar seperti cincin dan dikenal dengan nama bukit Cincin Setan, Arya tiba-tiba berhenti.


Kakek Lengan Api dan Nie Zha yang berada dibelakang juga sontak menghentikan lari, mereka memandangi Arya, dan dahi mereka jadi berkerut heran ketika dilihatnya pemuda itu melompat ke arah segerumbulan semak-semak, di dekat sebuah pohon besar disebelah kiri. Setelahnya, si pemuda terlihat berjongkok seperti sedang mengamati sesuatu dibalik semak-semak tersebut.


“Ada apa...?!” Tanya si Lengan Api sambil berjalan mendekat. Nie Zha yang juga penasaran juga segera melangkah mengikuti sang kakek.


“Ada potongan tangan manusia!” sahut Arya sambil menoleh dan kemudian bangkit berdiri.


Si kakek Lengan Api dan Nie Zha tersentak kaget manakala melihat sepotong tangan tergeletak di tanah yang terhalang oleh semak-semak tinggi dan lebat.


Putungan tangan itu terpotong pada bagian siku, tapi tampaknya bukan dengan senjata tajam yang memotongnya. Keadaan tangan itu sudah pucat, pada bagian potongannya tidak rata. Mengerikan jika dipandangi terlalu lama.


Arya segera lemparkan pandangan ke arah lain, ke sekeliling tempat itu sambil berkata, “Aku yakin tangan ini adalah tangan seorang perempuan muda!”


Si Lengan Api lantas berjongkok memperhatikan potongan tangan itu. “Menurut dugaanku memang begitu.. Jari tangannya lentik dan kulitnya masih halus, belum berkeriput! Tapi sepertinya tangan ini terputus dari bagiannya oleh sebab gigitan hewan buas. Terlihat bekas cakaran kuku di beberapa tempat dan bekas gigitan di samping bagian yang terpotong ini!”


“Melihat cincin merah di jari manisnya yang adalah cincin ruang, rasa-rasanya ini tangan seorang gadis yang cukup terhormat! Setidaknya bukan tangan gadis desa biasa!” Ucap Arya setelah kembali memandangi tangan itu sekilas.


Tiba-tiba Arya berkelebat. Si kakek Lengan Api yang masih mengamati potongan tangan tersebut segera melepaskan cincin merah dijari manis potongan tangan tersebut lalu bangkit berdiri, ia memandangi ke arah mana pemuda itu menuju. Sedang Nie Zha tak menunggu lama segera bergegas menyusul mengikuti Arya.


Gadis ini terkesiap dengan melebarkan matanya. Disana, di bawah pohon ia melihat potongan telinga yang mengerikan.


Beberapa saat Arya menatap dan memeriksa potongan daun telinga yang kelihatannya bukan putus karena senjata tajam, melainkan karena gigitan dari sebaris gigi yang tak tahu siapa pemiliknya. Ada anting-anting kecil warna merah delima di telinga tersebut.


“Pasti ada binatang buas atau siluman di sekitar sini.. Gadis ini pastilah korban dimakan binatang buas atau siluman itu! Tapi tak kulihat ada bekas jejak telapak kaki binatang! Suaranya pun tak ku dengar sejak tadi..” Ujar si kakek Lengan Api setelah tiba ditempat itu, tangan kanannya membawa potongan tangan yang diketemukannya tadi.


“Kek, kalau begitu apakah setan siang bolong yang menyantap rakus tubuh gadis ini!” tanya Nie Zha dengan raut wajah memancarkan kengerian. Ia ngeri kalau membayangkan bahwa dirinya lah yang menjadi korban tersebut.


Tak ada yang menanggapi ucapan si gadis. Arya tampak memandang sekeliling dengan penuh selidik, demikian pula yang dilakukan si kakek Lengan Api.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara derap hentakkan kaki yang berlari cepat datang dari arah selatan. Semakin lama semakin jelas, semakin nyata-lah bahwa arahnya menuju ke tempat Arya, si Kakek Lengan Api dan Nie Zha berada. Dari arah tikungan lereng, tampak lima orang yang berwajah beringas.


“Siapa mereka?” tanya Nie Zha.


“Mana aku tahu...” jawab Arya.


Lima orang itu kemudian lewat tak jauh melintasi Arya dan yang lainnya. Tetapi beberapa jarak berlalu, tampak pimpinan rombongan tersebut mengangkat tangannya, memerintahkan anak buahnya untuk berhenti dan memandang ke arah Arya dan yang lainnya. Entah apa yang dibisikan oleh pimpinan orang tersebut, tiba-tiba kelima orang itupun bergerak membalik dan menuju ke tempat Arya dan yang lainnya berada. Kelima orang itu berhenti di depan mereka dengan masing-masing memperlihatkan wajah dan sorot pandangan mata yang tidak bersahabat.


Rombongan orang itu menampakkan kebengisannya yang dibalut kemarahan terpendam. Hanya satu orang yang berwajah tak terlalu bengis dan tak segarang yang lainnya. yaitu orang berpakaian coklat yang ada di bagian paling belakang. Orang berpakaian coklat itu bersenjatakan golok yang terbungkus sarung goloknya, dan goloknya itu terselip di pinggang kanannya. Tubuhnya kurus, rambutnya lurus sepundak, matanya bulat dan memiliki alis yang tipis.


Tetapi kelima orang tersebut sontak menjadi terkejut ketika memandang potongan tangan dan daun telinga yang beranting-anting merah. Kelima orang bengis itu menggeram penuh luapan amarah, tetapi orang berpakaian coklat tua itu terlihat bergidik merinding dan wajahnya yang bulat itu menjadi pucat.


“Tak salah lagi, itu anggota tubuh Putri Pauw-sie” seru pimpinan mereka yang berpakaian abu-abu dengan ikat kepala merah dan wajah bertonjolan tulang pipi dan rahangnya, tampak besar dan keras.


“Siapa Putri Pauw-sie itu?” tanya Nie Zha kepada Arya dengan pelan. Ia bertanya kepada Arya karena dia tahu pemuda itu adalah pengembara, ‘Kemungkinan pemuda itu mengenal putri yang disebut oleh orang orang tadi’ begitu pikirnya.


“Mana aku kenal, coba kau tanyakan saja pada orang itu.” balas Arya dengan datar.


Nie Zha nampak kesal dengan wajahnya yang memerah menahan kedongkolan hatinya. Ia kemudian kembali menatap ke arah rombongan lima orang di hadapannya.


Kakek Lengan Api maju satu tombak, tapi sebelum ia ajukan pertanyaan, tiba-tiba salah satu dari mereka melepaskan serangannya berupa pisau terbang yang dilemparkan ke arah kekek tua tersebut.


Wuuut...! Tabb...!


Pisau itu tertangkap oleh dua jari si kakek Lengan Api.


“Mengapa kau bunuh Putri Pauw-sie?”


“Maaf saudara-saudara, kami tidak mengenal siapa adanya Putri Pauw-sie yang sebutkan itu” kata kakek Lengan Api dengan tenang dan ramah, “Kami merasa tidak membunuh siapapun!”


“Jangan berpura-pura kau, tua bangka keparat! Kau pikir kami tidak bisa mengenali potongan tubuh yang ada di tanah itu!” tunjuk pria berpakaian abu-abu tersebut ke arah potongan tangan yang tergeletak ditanah, “Cincin yang kau pegang dan anting-anting merah yang ada pada potongan telinga itu adalah milik Putri Pauw-sie, anak dari bupati Pauw-an Kio, yang menjadi penguasa kota Hangciu.”


“Hmmm, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan!” sahut kakek Lengan Api. “Justru kami sedang menyelidiki siapa yang memiliki tangan dan daun telinga ini, berikut siapa yang menjadi pelakunya!”


Orang berpakaian hitam dengan celana hijau tiba-tiba berseru, “Diam kau, tua bangka Setan!”


Kemudian orang berpakaian biru pun berkata kepada lelaki yang memakai baju abu-abu, “Kurasa benar apa yang dilaporkan Siauw Thian, kakek itulah yang memakan Putri Pauw-sie! Tak perlu kita banyak bicara, Rahang Besi! Serang saja mereka sebelum mereka sempat melarikan diri!”


Orang berpakaian abu-abu yang dipanggil sebagai Rahang Besi itupun menggeram dan mempererat genggaman senjatanya yang berupa tombak berujung kapak lebar dua mata yang mengkilat tajam setiap sisinya. Rahang Besi lantas berseru lantang,


“Serang mereka!”


“Tunggu...!” seru Arya yang membuat gerakan mereka terhenti seketika. Kemudian, Pendekar Naga Emas inipun berkata, “Perkara serang-menyerang itu soal mudah! Tapi kalian salah sasaran!”


“Bukti sudah ada! Kalian tak bisa mengelak!” tukas Rahang Besi dengan tegas. “Kalau kalian ingin hidup agak lebih panjang, maka menyerahlah dengan suka rela! Dan kami akan hadapkan kalian kepada pengadilan Bupati Pauw-an Kio!”


Nie Zha berkata kepada Arya, "Biar aku yang tangani mereka. Jangan kau kembali ikut campur!” Gadis cantik itu maju mendekati kakeknya, kemudian kepada si kakek ia berkata, “Kakek mundurlah, biarkan orang-orang ini menjadi bahan latihanku.”


Kakek Lengan Api geleng-gelengkan kepalanya, namun mau tak mau dia mundur ke tempat Arya berdiri. Sedang Arya sendiri tampak tenang seperti biasanya, namun dalam hatinya dia mengerti bahwa si gadis mengambil keputusan untuk menghadapi orang-orang tersebut karena gadis itu tidak mau melihat lagi pembunuhan kejam yang ia lakukan seperti sebelumnya. Pada saat itu terdengar Nie Zha berkata,


“Sekali lagi ku ingatkan, kalian salah orang! Bukan kami yang membunuh Putri Pauw-sie! Tapi kalau kalian tidak percaya dan nekat menyerang kami, jangan salahkan kami apabila jiwa nyawa kalian pun akan terancam!" kata gadis itu dengan tenang.


Diam-diam kelima orang tersebut mengagumi kecantikan dan keberanian si gadis, namun tiba-tiba orang berpakaian biru membentak,


“Tak usah banyak mulut kau perempuan iblis... Hiaaat...!” orang berpakaian biru itupun segera menyerang Nie Zha dengan sabit kembarnya. Ia melompat menerjang dan langsung kibaskan dua sabit di tangan kanan-kirinya dengan gerakan cepat.


wuuukk... wuuukk...!


Tangan kiri pemegang sabit ditangkis oleh tangan kanan Nie Zha, sedangkan tangan kanan pemegang sabit ditangkis tertahan oleh tangan kanan gadis itu. Kemudian dengan cepat dan serentak kedua tangan Nie Zha menghentak maju, tepat mengenai dada lawannya. Orang itu terpelanting ke atas sedikit menyamping sebelah kiri!


Wuuttt...!


Pada waktu itu Rahang Besi melemparkan senjata rahasianya ke arah Nie Zha, bermaksud untuk mencegah gadis itu agar tidak jadi menghantam anak buahnya. Namun di luar dugaan, sang anak buah yang terpelanting justru menjadi target lemparan pisau tersebut. Senjata rahasia Rahang Besi itupun tepat menancap di punggung orang tersebut.


“Aahhg...!” orang itu pun mendelik sesaat, kemudian rubuh tak bernyawa lagi. Rupanya senjata rahasia itu mengandung racun mematikan.


Keempat orang utusan dari bupati kota Hangciu itupun sontak bergerak mundur beberapa langkah ketika melihat temannya mati karena senjata Rahang Besi yang salah sasaran.


Namun keterkejutan mereka tidak berlangsung lama, karena kejap kemudian orang berbaju hitam segera memisahkan diri dengan Rahang Besi. Ia ingin mencuri kesempatan untuk menyerang dengan parang tajamnya. Keberadaannya di sebelah kanan Nie Zha membuat mata gadis itu terpaksa melirik ke kanan dan ke depan, serta ke kiri, sebab di sebelah kiri ada si muka bulat berbaju coklat, di depannya ada Rahang Besi dan satu orang lainnya yang berkumis tebal.


Keempat orang tersebut sama-sama menunggu kesempatan menyerang, mencari kelengahan gerakan mata Nie Zha. Senjata mereka dimain-mainkan untuk mengacaukan perhatian gadis cantik bertubuh menggiurkan itu.


Wuuuuttt..


Rahang Besi menyodokkan tombak kapaknya yang pada bagian paling ujung mempunyai mata tombak yang runcing ke arah Nie Zha. Dari mata tombak itupun keluar tiga larik sinar merah mengandung hawa panas menggidikkan.


Pada saat yang sama, orang berpakaian hitam cepat berguling ke tanah dua kali, lalu bangkit dengan sangat cepat sambil tebaskan parangnya ke arah Nie Zha. Maka meluncurlah sinar hitam kebiruan berbentuk pipih melengkung dari tebasan tersebut menderu ganas menuju si gadis.