
Malam itu bulan purnama tersenyum cerah di angkasa. Tiada awan yang nampak menghalangi sinar bulan yang lembut dan bulan yang bundar itu seperti sebuah bola emas tergantung di langit biru. Malam hening dan sejuk sungguh pun tiada angin menggerakkan daun-daun pohon yang berada diatas bukit itu.
Dari celah-celah daun, sinar bulan menerobos dan menerangi lorong hutan yang ditilami dedaunan kering yang lunak dan agak lembab. Disana, terlihat sesosok berbaju putih tengah berjalan menuju ke tepi tebing jurang yang curam.
Waktu itu sudah agak larut, sudah hampir tengah malam, bulan sudah berada di atas kepala dan tak lama kemudian sosok berbaju putih tersebut telah berada di pinggir jurang. Cuaca semakin terang benderang karena di tepi jurang itu tiada terhalangi rimbunnya pepohonan.
Rupanya sosok berbaju putih itu tiada lain ialah Arya adanya. Pemuda ini terpaksa menghentikan latihannya didalam alam jiwanya, karena pikirannya sama sekali tidak bisa fokus, petunjuk buruk yang didapatkannya dari meditasinya terus saja membayangi dan menggelisahkan hatinya. Meski Arya sudah menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Sang Maha Pencipta. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa petunjuk itu selalu saja membuatnya gelisah.
Pemuda ini kemudian duduk diatas lempengan batu besar, dipinggir jurang tersebut. Untuk beberapa lamanya ia termenung memandangi rembulan. Tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan pengemis tua yang buta, yang pernah ditemuinya dikota kerajaan Guangzhou dulu.
‘Ketetapan telah di tentukan, perjalanan masih terlalu panjang. Kejadian-kejadian besar menantimu.’
‘Kegelapan akan membuatmu terlempar jauh.’
‘Tak lama lagi gelap akan datang, ku harap sinar mentari secepatnya datang. Ah, tapi apa gunanya cahaya untuk mata yang buta.’
Arya mencoba menghubungkan perkataan pengemis buta itu dengan petunjuk yang beberapa kali hadir dalam meditasinya. Petunjuk tentang dirinya yang ditelan asap hitam. Beberapa lama berfikir, ia malah menjadi pening sendiri dan akhirnya dengan menghela nafas berat ia memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, karena bagaimanapun petunjuk yang didapatkannya itu adalah sesuatu yang buruk.
Arya membuang jauh-jauh kecemasannya sendiri. Kini hatinya perlahan-lahan jadi lebih tenang dan lega ketika memandangi hamparan hutan luas dihadapannya yang disirami sinar bulan purnama, sehingga hutan luas itu tampak indah seperti hamparan permadani emas.
Memang kalau pikiran sedang tenang, kekuasaan Tuhan yang menciptakan segala keindahan itu dapat terasa oleh panca indera, melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan.
Akan tetapi, segala keindahan tidak akan nampak, tidak akan terasa apabila pikiran mengguncang batin. Bagaikan bulan purnama akan nampak bayangannya dengan jelas di permukaan air yang diam dan jernih, akan tetapi bilamana air terguncang dan keruh, bayangan bulan purnama takkan nampak sama sekali, bahkan yang ada hanya kekacauan. Itulah yang dirasakan Arya saat ini.
Seakan hanyut dalam keindahan malam purnama ini, terbesit dalam hatinya untuk melengkapi keindahan itu dengan memainkan seruling. Maka Arya pun segera keluarkan ‘Seruling Cahaya Malam’, tak lama kemudian terdengarlah suara seruling mengalun memecah kesunyian. Suara seruling itu menggetar-getar halus, penuh perasaan.
Rupanya suara seruling tersebut sampai terdengar jauh. Hingga Nie Zha yang dalam keadaan meditasi dibuat terbangun oleh suara seruling tersebut. Gadis ini memandangi sekeliling, dan didapatinya kakeknya masih terlelap tidur di sampingnya namun pandangannya tak menemukan keberadaan Arya disana.
“Sepertinya dia sedang menyelidiki suara seruling itu..” berfikir demikian, Nie Zha segera bangkit berdiri.
Gadis ini berjalan perlahan mengikuti darimana asal suara seruling tersebut. Namun tiba-tiba ia menahan langkah kakinya. Tiupan seruling itu berhenti, namun tak lama berselang suara seruling itu kembali terdengar.
Nie Zha merasa kagum karena menurutnya suara seruling tersebut hanya dapat ditiup oleh peniup yang mencurahkan seluruh perasaan hatinya terhadap tiupannya. Hawa yang keluar dari seruling itu agaknya langsung keluar dari hati sang peniup, sehingga suara seruling itu menciptakan nuansa yang mengalun penuh perasaan, melagukan irama lagu sedih, lagu seorang yang patah hati, gagal dalam asmara, atau seorang yang merasa kerinduan hebat terhadap seorang kekasih yang pergi meninggalkannya.
Hati Nie Zha serta-merta menjadi trenyuh mendengar suara seruling yang meliuk-liuk itu. Maka ia pun mempercepat langkahnya menuju ke arah suara seruling yang datangnya dari bibir jurang.
Ketika dia sudah berada dibatas hutan di balik batu besar, tiba-tiba ia kembali menghentikan langkahnya dan kini bahkan ia menyelinap di balik sebatang pohon cemara. Ia mengintai dengan mata terbelalak heran.
Arya memang berada di sana, di tepi jurang tersebut akan tetapi dialah orangnya yang meniupkan suara seruling tersebut.
Nie Zha merasa betapa jantungnya berdebar. Dadanya berdesir indah. Belum pernah selama hidupnya ia merasakan debar jantung seperti saat ini ia melihat pemuda itu tersenyum. Seperti ada tirai yang membuka hatinya. Kini dilihatnya wajah pemuda itu! Bentuk tubuh itu! Semuanya serba pas, serba cocok dan serba indah baginya.
Wajah itu tampan dan manis, terutama sekali mulut dan dagunya, dan senyumnya membuat rembulan nampak semakin, cerah. Dan sepasang matanya itu! Demikian lembut, demikian tenang, namun juga mengandung kekuatan aneh. Heran, bagaimana dia baru menyadari ketampanan pemuda itu setelah beberapa hari dekat dengannya.
“Apakah aku sedang terkena tekniknya, sehingga hatiku berdebar-debar seperti ini.” batin Nie Zha. Dia buru-buru bersembunyi ketika Arya bangkit dan berjalan ke arahnya.
Cinta asmara, memang sesuatu yang aneh, teramat indah teramat luas untuk dipelajari dan diselidiki. Kadang keindahan tubuh, kepandaian, kebaikan, pangkat dan harta memang menjadi peran utama dalam menumbuhkan perasaan cinta, tetapi terkadang pula cinta juga tumbuh dengan sendirinya tanpa disangka-sangka. Agaknya tak mungkin manusia hidup tanpa cinta.
Hidup tanpa cinta bagaikan pohon tanpa bunga. Cinta asmara merupakan suatu kewajaran alamiah. Sayang bahwa sebagian besar dari manusia menitik beratkan cinta kepada kesenangan dan kenikmatannya, sehingga menimbulkan keinginan untuk memiliki dan menguasai. Karenanya jika keinginan untuk memiliki yang dicintai tak bisa diwujudkan, maka akan menimbulkan kekecewaan, kecemburuan, bahkan tidak aneh lagi kalau cinta asmara berbalik menjadi kebencian.
Setiap orang manusia, tak peduli pangkatnya. Raja sampai kepada pengemis yang paling miskin, bertekuk lutut terhadap yang satu ini, ialah cinta kasih.
Kalau cinta asmara sudah menguasai batin, baik Raja maupun pengemis, akan bertekuk lutut menjadi boneka. Dipermainkan perasaan ini, dapat membuat seseorang menangis air mata darah, dapat pula membuatnya tertawa kegirangan sampai melampaui batas.
Cinta asmara dapat membuat seorang pria kasar menjadi lemah lembut seperti sutera, sebaliknya dapat membuat seorang pria yang sopan santun dan lembut berubah menjadi kasar dan keras seperti baja. Banyak pula terjadi betapa pria gagah perkasa yang takkan gentar menghadapi pengeroyokan puluhan orang musuh, akan gemetar bertekuk lutut di depan kaki wanita yang dicintainya, tak tahan menghadapi sorot matanya, atau senyumannya, atau bahkan tangisnya!
Demikianlah, Nie Zha mendekapkan kedua tangannya didada untuk meredakan gejolak perasaannya. Akan tetapi gadis ini menjadi terbelalak dan terlonjak kaget saat melihat wajah pemuda yang membuat hatinya itu berdebar-debar kini telah berada dihadapannya. Sontak keterkejutan itu membuat Nie Zha jadi salah tingkah dan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil memainkan kakinya bergerak-gerak menggurat tanah.
Arya tersenyum lembut menatap gadis itu. Untuk menyingkirkan kecanggungan, iapun lantas berkata, “Kebetulan kau ada disini.. kau masih ingat bukan, bahwa aku pernah mengatakan akan membantumu untuk bisa menyerap energi besar yang telah diberikan oleh kedua gurumu padamu.”
Masih dengan menundukkan kepalanya, Nie Zha mengangguk-angguk pelan.
“Bagus, sekarang aku akan mulai un...”
Ucapan Arya terpotong karena ia merasakan adanya energi negatif yang tiba-tiba muncul di sekitarnya.
Nie Zha yang heran mendengar ucapan Arya terputus segera mengangkat wajahnya.
Benar saja, tampak sesosok bayangan menyelinap di antara bayangan-bayangan pohon. Ketika bayangan ini hinggap di hadapan Arya. Maka terlihatlah bahwa bayangan ini ternyata adalah seorang gadis cantik jelita. Dia membawa payung hitam yang dikempit di bawah ketiak kirinya. Gerakan gadis itu begitu cepat, tanda bahwa gadis ini memiliki kepandaian tinggi.
Gadis ini tersenyum mesra, giginya yang putih seperti mutiara itu berkilat tertimpa cahaya rembulan. Matanya yang berkilauan dan wajahnya yang jelita berseri gembira memandangi Arya, seolah menemukan sesuatu yang menyenangkan.
“Dapat bertemu dengan dirimu, sungguh sangat beruntung bagiku.” kata gadis itu lembut.
Arya balas tersenyum, “Apakah benar, saat ini aku berhadapan dengan Jian Yie atau berjuluk Ratu Bunga Asmara?”
Meski terkejut, namun gadis itu mengangguk perlahan. Dia sadar bahwa pemuda dihadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Diam-diam dia mencoba membaca tingkat kultivasi pemuda dihadapannya itu.