
Di depan mata terbentang lembah subur dengan pemandangan yang indah. Lembah itu bernama lembah merak hijau, terletak di dalam wilayah kekuasaan kerajaan Guangzhou.
Di sebelah timur lembah ini terdapat daerah persawahan yang luas, dan pada saat ini padi yang di tanam telah masak menguning hingga sejauh mata memandang, seolah-olah hamparan permadani emas lah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi yang masak menguning itu bergoyang melambai-lambai mengalun lemah gemulai.
Di pagi yang cerah ini di antara tiupan angin terdengarlah suara seruling yang merdu sekali. Siapapun yang mendengarnya pastilah akan tertegun dan memasang telinga baik-baik menikmati suara seruling tersebut.
"Siapakah yang meniup seruling itu?" Hulao mengedarkan pandangannya ke bawah, tatapannya seolah menyapu setiap jengkal persawahan yang terbentang luas di bawahnya.
Menurut Hulao dan Honglong keindahan alunan seruling tersebut, pastilah dimainkan oleh seniman hebat, karena alunan seruling itu dapat menggambarkan keindahan pemandangan alam sekitarnya lewat hembusan nafas yang di salurkannya melalui lobang seruling.
Namun setelah menemukan siapa peniup seruling tersebut, Hulao dan Honglong ternganga karena kenyataannya peniup seruling tersebut bukanlah seorang seniman bukan pula seorang dewasa, melainkan seorang anak gembala yang baru berusia tujuh tahun yang sedang duduk di atas kerbau besar berdiri tegap, berbulu bersih dan berkilap.
Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah menyusuri tepi sawah, memasuki lembah merak hijau, kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan. Di atas punggungnya, bocah berusia tujuh tahun itu demikian asyiknya meniup seruling, hingga dia tidak perduli lagi kemanapun kerbau tersebut membawanya.
Akan tetapi ketika kerbau itu tiba diatas lembah sebelah selatan, sontak saja bocah itu menghentikan permainan serulingnya, mulutnya ternganga dan sepasang matanya melotot begitu ia menyaksikan pemandangan di hadapannya.
Dua sosok tubuh yang terlihat hanya merupakan bayangan hitam dan putih, di lihatnya berkelebat hebat, terlibat dalam suatu perkelahian yang gencar dan sengit.
Anak itu memperhatikan dengan mata tak berkedip, dia tidak menyangka di tempat yang indah dan sejuk seperti ini ada orang berkelahi. Lama-lama ia memperhatikan kelebatan dua sosok tersebut, membuat si bocah menjadi pusing sendiri.
Beberapa kali dia memejamkan matanya, dibukanya kembali, dipejamkan lagi, di buka lagi. Ketika dia membuka sepasang matanya untuk kesekian kalinya, dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan putih. Kemudian tiba-tiba satu tendangan dahsyat di lancarkan oleh sosok bayangan hitam, tapi banyangan putih dapat mengelak.
Tendangan maut itu tak sengaja terus melabrak kepala kerbau yang di tunggangi bocah tersebut. Terdengar lenguhan keras, kerbau besar itu terhempas sampai beberapa meter, terjatuh ke tanah, mati dengan kepala pecah.
Anak lelaki tersebut terpelanting, menyangsang ke semak-semak. Pakaiannya terkoyak di beberapa bagian dan kulitnya lecet mengalami luka-luka. Tetapi seruling kesayangannya masih tergenggam di tangan kanannya.
Dengan susah payah dia keluar dari semak-semak sambil merutuk marah ketika mengetahui apa yang terjadi terhadap kerbau tunggangannya.
Sementara itu dua sosok yang bertarung mati-matian, sama-sama saling melompat mundur. Pertarungan terhenti, lalu keduanya memandang ke arah si bocah dan kerbaunya.
Kini barulah anak lelaki tersebut dapat melihat dengan jelas siapa sosok kedua banyangan hitam dan putih tadi.
Di sebelah kanan berdiri tegak seorang kakek berjubah hitam berkepala botak plontos yang berkilat-kilat di timpa sinar matahari. Sepasang alisnya tebal, kumisnya jarang tapi tebal dan panjang. Tampangnya persis seperti anjing laut.
Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek berpakaian putih. Rambutnya putih sampai sebahu, dia memiliki kumis dan janggut lebat yang juga berwarna putih. Sepasang matanya memandang tajam pada bocah yang memegang seruling, sedang keningnya mengerenyit seolah ia sedang memikirkan sesuatu.
Meskipun tadi hanya melihat bayangan hitam saja, tetapi bocah itu yakin bahwa kakek berjubah hitam itulah yang telah melepaskan tendangan hingga mematikan kerbaunya.
Dengan mata melotot dan muka yang menunjukkan kemarahan, ia membentak pada kakek berjubah hitam. "Tua bangka botak, kau telah membunuh kerbauku. Aku pasti akan di rajam oleh majikanku. Kau harus menggantinya! Kalau tidak..."
Wajah kakek berjubah hitam itu memerah, baru kali ini dia dimaki sedemikian rupa oleh anak ingusan. "Pergi kau dari sini! kalau tidak kepalamu akan ku pecahkan seperti binatang itu.."
"Tidak! Kau harus ganti dulu kerbau yang mati itu.."
"Bocah tengik! Kau mampuslah!" Teriak kakek jubah hitam marah.
Tetapi sebelum energi pukulan tangan kosong itu menghantam anak gembala, dari samping menderu energi angin pukulan lain, menghalau energi angin pukulan kakek berjubah hitam hingga terjadi ledakan dan kedua energi angin itupun lenyap.
Bocah itu mengalihkan pandangannya, dia tidak sadar bahwa kakek berpakaian putih tersebut telah menolongnya. Bocah itu tidak sadar bahwa dirinya baru saja terlepas dari bahaya maut, lantas mengangkat serulingnya tinggi-tinggi dan lari ke arah kakek berjubah hitam.
"Tua bangka botak, ku pukul kau dengan serulingku kalau kau tidak mau mengganti kerbau yang telah kau bunuh."
Anak yang berani ini tidak menyadari sama sekali jika perbuatannya itu akan merenggut nyawanya sendiri, karena dalam kemarahannya kakek jubah hitam memang sudah berniat membunuh anak itu. Tapi lagi-lagi kakek tua berpakaian putih menyelamatkannya.
Sekali melesat, kakek berpakaian putih tiba-tiba sudah mencengkram kerah pakaian bocah itu dan menariknya ke tempat yang aman.
"Nak, keberanianmu begitu luar biasa dan membuatku kagum. Tapi si kepala botak itu bukanlah lawanmu. Biar aku yang mewakilimu untuk memukulnya."
Sesaat anak gembala itu terdiam, kemudian dengan merenggut dia berkata. "Kalian tua-tua Bangka tak tahu diri berkelahi macam anak-anak."
Kakek berpakaian putih tertawa terkekeh-kekeh, tapi sebaliknya kakek berkepala botak membentak dan melesat menyerang.
Kembali kedua kakek itu bertempur hebat, tubuh mereka kembali menjadi bayang-bayang hitam dan putih. Hal itu membuat si bocah yang menyaksikannya menjadi kembali sakit mata dan pusing kepala.
Meskipun begitu bocah gembala tersebut memaksa untuk memperhatikan pertarungan hebat tersebut sembari tiada hentinya berteriak. "Janggut putih ayo kau hajar kepala botak pembunuh kerbauku itu. Ayo sikat, pecahkan kepalanya seperti dia memecahkan bintang peliharaanku."
Teriakan-teriakan anak tersebut seolah-olah memberi semangat pada kakek berpakaian putih, sebaliknya tindakan bocah itu membuat si kakek botak jadi semakin tersulut emosi.
Tiba-tiba tangan kakek berkepala botak muncul tongkat kayu berwarna hitam legam dan memancarkan sinar yang menyilaukan.
Setelah beradu ratusan serangan, kakek botak tidak bisa merubuhkan lawannya dengan tangan kosong. Maka kali ini dia berharap dengan mengandalkan tongkat pusakanya, dia dapat mengalahkan kakek berjanggut putih.
Di lain pihak, begitu melihat musuhnya memegang pusaka, kakek berjanggut putih segera mengeluarkan pusaka berupa tombak bermata golok.
Setelah itu, keduanya kembali bertempur dengan hebatnya. Kini kelebatan pergerakan mereka memancarkan sinar dari pusaka masing-masing.
Setiap pertukaran serangan membuat angin menderu-deru begitu dahsyatnya. Ledakan terus terjadi di sekitar tempat pertarungan, membuat si anak gembala ketakukan sampai kedua lututnya bergetar menggigil. Anak itu berlari menjauh sampai puluhan meter dari pertarungan, sementara mata dan kepalanya semakin sakit menyaksikan.
Dalam suatu gebrakan hebat, kakek berjanggut putih berhasil mendesak lawan dengan melancarkan berkali-kali tusukan gencar ke arah lawan. Tiba-tiba tombaknya terhempas karena pukulan tongkat lawan yang tak ia duga.
Buru-buru kakek berjanggut putih berkelit, lalu melintangkan tombaknya di samping kepala.
Traaaangg..
Peraduan kedua pusaka tongkat dan tombak itu mengeluarkan suara nyaring.
Tongkat kayu milik kakek botak terhempas patah, sementara tombak milik kakek janggut putih terlepas.
Terpental lah kedua kakek tersebut, mereka sama-sama memuntahkan setengguk darah, yang menandakan keduanya mengalami luka dalam.