Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Arya Vs Yeva


Panglima kegelapan memunculkan kembali pedang pusaka neraka. Kali ini dia benar-benar akan bertarung dengan segenap kemampuannya. Dua pedang sekaligus yang dia keluarkan. Aura merah kehitaman pekat terpancar dari sepasang pedang itu. Dalam sekali kedipan mata, panglima kegelapan ini tiba-tiba telah menyerang Arya.


Cepat bukan main gerakannya sehingga sebelum Arya tahu apa yang terjadi, panglima kegelapan telah menebaskan pedangnya menyilang berniat membelah tubuh pemuda itu. Tapi..


Panglima kegelapan lah yang justru terpental sejauh 10 tombak. Penasaran dengan lawannya, Yeva segera meningkatkan kekuatannya. Dengan kecepatan tinggi mahluk itu bergerak zig-zag sembari melontarkan serangan energi kuat bertubi-tubi. Serangan jarak jauh yang dilakukan dengan pengerahan Qi sepenuhnya itu mengenai tubuh Arya.


Jduuummm...


Ledakan maha besar terjadi di tinggian, manakala serangan Yeva telak mengenai targetnya. Namun rupanya Arya tetap tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya, asap tebal seketika mengepul menutupi tubuh pemuda itu.


Dalam kesempatan tersebut, Arya pergunakan teknik berpindah dimensi untuk menjauh. Pemuda ini berniat menyempurnakan tekniknya yakni ‘Naga Emas Melebur Semesta’ yang sebelumnya sempat terganggu.


Akan tetapi sebelum Arya menghilang, tiba-tiba Yeva sudah masuk ke dalam asap dan mendaratkan tendangan kuat ke punggung. Serangan tersebut berhasil mengenainya, membuat tubuh Arya terhempas sejauh ratusan meter, dari mulutnya menyemburkan banyak darah putih.


Arya terluka parah akibat serangan itu, sebagian besar energi Naga Emas yang melindungi tubuhnya sedang terkonsentrasi di telapak tangan, membuat bagian punggungnya tidak terlindungi. Inilah akibat dari teknik yang di kerahkan belum sempurna.


Melihat semua serangannya belum juga menewaskan lawannya, Yeva segera bergerak mendekat. Dua pedang pusaka neraka yang tergenggam di tangannya terus berseliweran menyerang.


Dalam keadaan terluka, Arya berusaha sekuat tenaga menghindar sekaligus menahan setiap serangan yang datang. Mau tak mau Arya pergunakan jurus-jurus lain karena teknik ‘Naga Emas Melebur Semesta’ tidak akan efektif jika belum sempurna. Kini pemuda itu mempergunakan jurus taichi, naga api dan jurus-jurus warisan dari Dewa Petir.


Pertarungan mereka berjalan amat cepat dan dahsyat, membuat langit seolah terguncang dan daratan bergemuruh laksana terjadi topan prahara.


Di atas langit tercipta petir putih yang terus menyambar ke semua arah, angin badai datang dari segala penjuru. Gelegar guntur serta kobaran api besar muncul saling bersahutan menciptakan fenomena alam yang mengerikan.


Yeva yang merupakan mahluk cerdas, dia dapat membaca kelemahan lawan dengan sangat baik hingga mampu menemukan titik buta pada energi emas milik lawannya itu.


Ternyata energi tersebut tidak dapat digunakan secara bersamaan untuk menyerang dan bertahan.


Ketika Arya menahan serangan, energi emas akan terpusat di salah satu titik tubuhnya, membuat pertahanan energi tersebut melemah dan dapat dengan mudah diserang.


Meski mata Arya dapat melihat arah serangan lawan, namun setiap perpindahan energinya memiliki jeda waktu, dan kecepatan gerakan panglima kegelapan dapat memanfaatkan jeda tersebut dengan sangat baik.


Selagi Arya tengah sibuk-sibuknya menahan hujanan serangan. Tiba-tiba Yeva membelah diri. Satu tubuh asap panglima kegelapan tersebut bergerak melingkar dan langsung menyarangkan sebuah pukulan mematikan ke arah rusuk Arya.


Bukkk!


Benturan pukulan mengandung Qi yang berupa api hitam amat panas pun tidak bisa dihindarkan lagi. Akibatnya tubuh Arya kembali terpental jauh ke samping. Sekujur tubuhnya dirasakan seperti lumpuh. Dadanya pun terasa sesak bukan main. Terlebih pada bagian rusuk seperti tulang-tulangnya seakan-akan terbakar hancur.


Tapi Yeva tidak memberi lawan kesempatan terlalu lama. Panglima kegelapan itu langsung saja menyerbu Arya dengan ayunan sepasang pedang pusaka neraka milikinya ke arah kepala.


Arya tidak ingin kepalanya terbelah disambar pedang Yeva, maka cepat-cepat dia menendang angin agar tubuhnya terdorong ke belakang.


Wuuuuttt...! Bduuuaarr...!


Sepasang tebasan pedang pusaka neraka itu hanya menyambar tempat kosong lewat sejengkal di depan wajah targetnya. Arya tidak terkejut lagi, sewaktu seluruh rambut dan pakaiannya berkibaran keras begitu angin ayunan pedang itu lewat. Bahkan tubuh pemuda itu juga ikut terhempas.


Petir merah keluar dari tebasan sepasang pedang Yeva dan menyambar bukit batu yang ada di Gunung Berapi. Petir itu terus melaju hingga menghancurkan beberapa bukit di belakangnya, hingga menciptakan sirig tanah yang cukup dalam layaknya sungai kering di bawah tebing.


“Sial, dia benar-benar tak memberiku kesempatan menyelesaikan teknikku.” Umpat Arya dalam hati.


****


Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngerinya para prajurit yang di pimpin oleh Jenderal Yong We begitu melihat dahsyatnya pertarungan meski pertarungan itu masih berada di kejauhan. Mereka semua berada di atas beberapa binatang siluman yang memiliki sayap, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk menempuh jalur udara dan menuju ke tempat pertarungan dengan cepat.


Ledakan energi dari pertarungan tersebut saja sudah membuat udara seakan sepanas bara dan angin bergemuruh kuat laksana topan.


Tanpa di komando, pasukan dari kerajaan Goading itu berhenti serentak. Jenderal Yong We dan tiga panglima yang ikut bersamanya menggigit bibir, menahan gejolak yang menggetarkan tubuh mereka.


Tiba-tiba dada mereka serasa akan meledak melihat pertarungan dahsyat yang terjadi. Seperti terlempar ke dalam suatu kesadaran tentang dirinya, jenderal Yong We merasakan tusukan yang tajam dari setiap ledakan benturan energi dalam pertarungan itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat di dalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa-raksasa berkekuatan yang tidak bisa di nalar oleh akalnya telah memporak-porandakan rimbunnya hutan belantara.


Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. ‘Apakah aku harus kembali sebelum terjun ke kalangan pertempuran?’ Hatinya benar-benar menciut. Jenderal Yong We sadar ikut membantu pertarungan sama saja mengantarkan nyawa. Bahkan sebelum dia dapat memukul musuh, sudah dapat dipastikan nyawanya akan melayang. Namun meski demikian tanggung jawabnya sebagai pemimpin pasukannya memaksanya untuk bersikap berani agar hati para prajuritnya tidak ciut. Dan harga dirinya sebagai seorang jenderal kerajaan membuatnya memantapkan hati untuk bertarung.


‘Setidaknya aku akan mati dalam tugas melindungi kerajaan.’ Berfikir begitu, maka jenderal Yong We berseru keras kepada semua pasukannya. “Jangan takut! Tugas ini mungkin akan menewaskan kita, tapi itu lebih baik daripada kita berdiam diri membiarkan para pemberontak menguasai kerajaan dan mungkin saja menindas para penduduk atau bahkan keluarga kalian sendiri. Berjuanglah demi kerajaan dan demi orang-orang yang kalian sayang!” Jenderal Yong We menarik nafas dalam-dalam, diamatinya wajah para panglima serta para prajuritnya.


Tiba-tiba Pendekar khusus berbadan besar bermata sipit terbang mendekati Jenderal Yong We, lalu katanya. “Ku rasa para prajurit tidak perlu ikut bertarung. Aku dapat melihat musuh hanya tersisa satu. Jadi kalian tetaplah disini mengamati pertarungan dan bergeraklah jika diperlukan.”


“Tapi Yang Mulia memerintahkan kita kesini untuk membantu mengatasi makhluk-makhluk itu.” Balas jenderal Yong We tegas.


Pendekar khusus itu menggeleng pelan. “Perintah memang harus di laksanakan, namun pada suatu kondisi tertentu kita perlu mengambil sikap dan mempertimbangkan segala kemungkinan agar apa yang kita lakukan nanti tidak merugikan pihak kita.” Pendekar khusus itu diam sejenak menunggu jawaban dari sang jenderal.


Jenderal Yong We dapat memahami kata-kata tersebut, maka diapun hanya bisa mengangguk. Lalu di dengar olehnya kembali pendekar khusus itu berkata.


“Dalam pertarungan seorang pendekar, mereka akan merasa tersinggung jika pertarungannya dicampuri orang lain. Maka biarkan saja mereka bertarung satu lawan satu. Namun jika pemuda yang ada di pihak kita itu terancam nyawanya kita perlu secepatnya membantu.” Setelah berkata demikian, Pendekar khusus tersebut menoleh ke arah pertarungan di kejauhan.


“Pemuda?” Desis Jenderal Yong We terkejut sekaligus penasaran. ‘Bagaimana mungkin kekuatan sebesar ini di miliki seorang pemuda?’ demikianlah pertanyaan dibenaknya yang membuatnya skeptis.


Tanpa menoleh, Pendekar khusus itu mengangguk. “Entahlah, aku melihat pemuda itu memang masih muda. Tapi aku juga tidak tahu pasti, dia benar-benar masih muda atau seorang pendekar tua yang menyamar.”


Pendekar khusus itu sendiri juga sebenarnya tidak yakin seorang pemuda yang dilihatnya bertarung melawan makhluk hitam tersebut masihlah muda, lantaran kemampuan yang di tunjukkan pemuda itu bahkan melebihi pendekar terkuat yang pernah dia lihat di Kekaisaran Tang.


Jenderal Yong We mengerutkan kening, tangannya yang memegang pedang bergetar menahan luapan perasaan yang bergemuruh di hatinya. Namun tiba-tiba jenderal ini berkata. “Jika kita hanya menunggu, bagaimana kalau pemuda itu kalah? Bukankah ini akan membahayakan kerajaan untuk kedepannya?”


“Oleh sebab itulah, sebelum menuju kesini aku meminta anda untuk mengirimkan beberapa utusan guna meminta bantuan dari sekte-sekte terdekat. Dengan demikian pihak kerajaan akan mendapatkan lebih banyak saluran tenaga dari pihak-pihak yang dapat di ajak kerjasama. Tugas kita disini hanyalah untuk memperpanjang waktu agar pihak sekte terdekat dapat di kumpulkan demi menjaga kemungkinan terburuk kedepannya.”


Gejolak di dada jenderal Yong We menjadi semakin bergelora. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. Ketika Pendekar khusus tersebut terdiam sejenak, maka keadaan disana menjadi membisu. Di kejauhan terus saja terdengar dentuman ledakan demi ledakan dari pertarungan yang terus berlangsung.


Sejenak mereka tenggelam di dalam angan-angan masing-masing. Terbayang di ruang mata Jenderal Yong We, pemuda yang melawan makhluk kegelapan dikalahkan. Terbayang pula makhluk itu menghancurkan kerajaan atau merebut kekuasaan kerajaan. Bagaimana nasib para penduduk dan keluarga kerajaan nantinya. Sanggupkah mereka menghadapi makhluk ini.


Tiba-tiba hatinya berteriak, “Aku akan pergi membantu pemuda itu.” Tetapi mulutnya tetap terbungkam.


“Tuan, sebaiknya kita mendekat ke sana agar jika kondisi di perlukan kita bisa secepatnya membantu.” Pendekar khusus menoleh ke arah Jenderal Yong We, dilihatnya wajah sang jenderal itu merah menegang. Memahami apa yang di pikirkan oleh sang jenderal, maka pendekar khusus ini kemudian berkata. “Hanya inilah yang dapat kita lakukan, mudah-mudahan keadaan tidak semakin buruk. Mari jenderal.!”


Pendekar khusus itupun kemudian terbang terlebih dahulu menuju ke dekat kalangan pertarungan.


*****