
Seorang pengemis buta dan bau sedang dicemooh beberapa pelayan karena mengacungkan mangkuk tanah liat di depan rumah makan. Sudah berulangkali para pelayan mengusir bahkan menggotongnya pergi, tapi pengemis itu kembali lagi.
Hal itu membuat sebagian pengunjung tidak nyaman, mereka segera mengakhiri makan lalu memilih pergi.
Tidak jauh dari kedai makan tersebut, seorang nenek yang menggandeng seorang anak berteriak keras di antara lalu lalang orang. "Kantongku!"
"Siapapun tolong! Ada yang merampas kantong koinku! Tolong!"
Orang-orang yang mendengarnya hanya memandang sepintas dan tidak perduli. Sebenarnya bukan tidak perduli, hanya saja penjambret itu memiliki kawanan. Mereka tidak mau berurusan dengan kawanan penjambret yang cukup terkenal, atau merekalah yang akan bernasib buruk.
Di antara lalu lalang orang, penjambret itu berlari memasuki jalanan kecil menuju ke arah tenggara. Dia tentu sudah sangat mengenal seluk beluk daerah ini yang menjadi wilayahnya.
Setelah berada di daerah kumuh dan sepi, penjambret tersebut menoleh ke belakang. "Aman.." Dia lantas menghentikan larinya.
"Ah, hanya segini?!" Umpat si penjambret kesal setelah mengetahui isi kantong. Hampir saja dia membuang kantong di tangannya, sebelum tiba-tiba muncul seorang tinggi besar bersama empat orang lain dari persimpangan jalan kecil.
"Mana setoranmu!" Pria tinggi besar berwajah codet bersuara berat, membuatnya terkesan menyeramkan.
"Maaf, kali ini aku hanya mendapatkan beberapa koin perunggu." Penjambret tersebut mengulurkan kantong di tangannya.
Mata pria tinggi besar itu menatap tajam kantong tersebut. "Kantong ini sudah terbuka, kau pasti sudah mengambil isinya."
"Tidak, sungguh mana mungkin aku berani."
"Kau tidak usah berkelit.." Tangan pria tinggi besar tersebut mencengkram kerah baju si penjambret.
"Ampun, sumpah aku tidak mengambilnya, aku hanya mengintip."
"Sekarang kau mengakuinya." Pria tinggi besar tersebut melemparkan tubuh si penjambret sampai terpelanting jatuh di tumpukan sampah.
Salah seorang mendekat, lantas melayangkan tendangan ke arah perut si penjambret yang tengkurap.
"Hugh!" Suara mengaduh si penjambret, tubuhnya terlempar, berputar bergulingan dan berhenti di tanah berlumpur.
Orang itu masih mengejar, kali ini tendangannya ia arahkan ke wajah si penjambret. Sejengkal lagi tendangannya menyasak wajah, tiba-tiba sebuah kerikil melesat cepat mengenai kakinya, membuat orang tersebut mengaduh dan berjingkrak-jingkrak dengan sebelah kaki, sementara kedua tangannya memegangi kakinya yang terangkat.
"Hahaha..."
Semua orang mengalihkan pandangan ke sumber tawa tersebut. Mereka mendapati seorang pemuda muncul dari bilik rumah kumuh, tidak lama berselang muncul juga dua pria lainnya.
"Brengsek..." Pria yang memegangi kakinya, melotot marah. Dia segera menurunkan kakinya, meski sakit yang di rasakannya belum hilang.
"Masih untung aku tidak mematahkan kakimu.." Pemuda itu menarik sudut bibirnya mencibir, dia tidak lain adalah Arya.
Arya memang membuntuti orang yang sedang berlari karena gerak-geriknya yang mencurigakan. Benar saja, setelah lima orang lain muncul dan mendengarkan percakapan mereka. Arya mengetahui bahwa mereka adalah kawanan penjambret.
"Mulutmu itu yang akan ku bungkam.." Orang itu tersungut marah, lantas berlari melancarkan tendangan berputar dengan kecepatan penuh.
Ketika sejengkal lagi tendangan tersebut mengenai wajah targetnya, Arya mencondongkan tubuhnya ke belakang, membuat tendangan tersebut hanya membelah angin. Lantas Arya menendang punggung orang itu sampai terlempar dan wajahnya amblas ke dalam tumpukan sampah.
"Loh, katanya mau membungkam mulutku, tapi kenapa kau sendiri yang membungkam mulutmu dengan sampah. Hahaha.." Arya tertawa tergelak.
"Boleh juga kau bocah! Kalian maju, beri pelajaran pemuda itu sampai dia tidak lagi bisa tertawa."
Tiga orang yang berdiri di belakang pria tinggi besar segera berlari untuk melancarkan serangan bersamaan, namun tiba-tiba ketiga orang tersebut tersungkur berguling-guling.
Tubuh pria tinggi besar bergetar hebat, jika dia sadar bahwa pemuda di hadapannya itu adalah seorang pendekar, tentu dari awal dia akan memilih kabur untuk mencari aman. Berdasarkan dari pengalamannya, dia sedikit banyak tahu mengenai kemampuan para pendekar yang bisa menekan musuh tanpa menyentuh. Pemandangan di hadapannya sudah jelas menunjukkan bahwa tiga orang lawannya tersebut adalah seorang pendekar yang berkemampuan tinggi.
Selama ini kawanan penjambret itu bisa bertahan dari kejaran para prajurit bukan karena mereka hebat, tetapi karena mereka ada main mata dengan orang dalam. Pria tinggi besar sendiri hanyalah seorang yang gagal dalam dunia kependekaran, dia hanya sampai di tahap Pendekar tingkat 4.
"Ampun tuan muda." Pria tinggi besar berlutut.
"Kau pemimpin jambret di sini?"
"Iya tuan, hanya usaha kecil-kecilan, tuan."
Arya mengerutkan dahi, tersenyum kecut. "Kau bilang usaha? Usaha yang merugikan orang lain. Apa kau ingin aku menghancurkan kepalamu yang bodoh itu."
Pria berbadan tinggi besar tersebut seketika ketakutan, dia lantas membenturkan kepalanya sendiri ke tanah beberapa kali sambil meminta ampun.
"Baiklah, sekarang bangun dan berikan kantong koin tadi." Arya berjalan mendekat.
Arya mengambil kantong tersebut, lalu memasukkan beberapa koin emas ke dalam kantong tersebut.
"Dan kau bangunlah! Aku tahu kau tidak sedang pingsan." Arya berjalan ke tempat penjambret yang sedari tadi diam, pura-pura terbaring memejamkan mata.
Menyadari perbuatannya di ketahui, tidak ada pilihan lain, penjambret itupun bergegas bangkit duduk. "Maaf Pendekar.. tadi perutku mulas." Ucapnya dengan canggung.
"Berikan kantong ini kepada orang yang kau jambret. Ingat, aku akan mengawasimu dari jauh! Jika kau tidak memberikannya, aku tidak akan segan-segan memisahkan kepalamu. Dan cepatlah kembali lagi kesini.!" Arya mengulurkan kantong pada si penjambret.
"Cepat kau lakukan perintah tuan pendekar, atau aku sendiri yang akan memenggal kepalamu!" Pria tinggi besar melirik si penjambret.
Penjambret tersebut juga sekilas melirik pemimpinnya sebelum bangkit dan berlari.
Sepeninggal penjambret, Arya kembali menghampiri pria bertubuh tinggi besar. "Namamu Siu Liong, bukan?"
Dahi pria berbadan tinggi besar tersebut mengerenyit, dia terkejut karena pemuda itu bisa mengetahui nama aslinya, yang bahkan teman-temannya sendiri saja tidak mengetahuinya.
Arya tersenyum tipis, "Aku bahkan tahu kalau kau memiliki kerabat yang menjabat sebagai kepala prajurit."
Tubuh pria berbadan tinggi besar yang bernama, Siu Liong bergetar hebat. Kini dia tidak hanya mencemaskan nasibnya, tetapi juga nasib kerabatnya yang kemungkinan besar juga akan terseret ke dalam masalahnya kali ini.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu dan juga kerabatmu itu, asalkan kau mau menjalankan tugas dariku."
Ketakukan dan rasa penasaran Siu Liong semakin menjadi, dia yakin setelah berkali-kali pemuda itu bisa menebak apa yang ada di pikirannya dengan tepat. Tentunya hal itu bukanlah sesuatu yang kebetulan.
"Ya, aku memang bisa membaca pikiranmu." Arya mengibaskan tangannya, seketika muncul beberapa kantong di hadapan Siu Liong.
"Gunakan uang itu untuk membuka usaha. Aku tidak mau lagi melihatmu menjadi penjambret. Jika aku masih melihatmu melakukannya, maka kau tau sendiri akibatnya."
Arya mengetahui jika sebenarnya Siu Liong dan anak buahnya ingin berhenti berbuat kejahatan, bahkan sudah mengumpulkan modal untuk membuka usaha kedai makanan dan kopi. Memang beberapa tahun belakangan, kopi sangat di gandrungi sejak pertama kali dibawa ke kota Guangzhou oleh para pedagang dari Kekaisaran Yun. Sayangnya uang yang di kumpulkannya selalu habis. Sebab itulah, Arya tidak langsung membunuh mereka, dia ingin kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Siu Liong lagi-lagi mengerutkan kening, "Benarkah anda ingin membantuku, pendekar.?"
Arya mengangguk, "Tentu dengan syarat kau harus menyelidiki orang-orang ini." Arya mengulurkan secarik kertas kepada Siu Liong, kertas itu berisikan nama-nama prajurit kerajaan, para pedagang maupun para penduduk kota kerajaan Guangzhou.
Siu Liong membuka keras tersebut, ia memijat pelipisnya karena orang-orang yang harus di selidikinya ternyata begitu banyak.
"Ada apa? Apakah kau keberatan menyelidiki mereka?" Ucap Arya dingin.
Siu Liong buru-buru menggeleng, "Tidak tuan, aku pasti akan menjalankan tugas ini."
Arya tersenyum tipis kemudian memutar tubuhnya, menatap ke arah persimpangan jalan.
Akhirnya Siu Liong dapat bernafas lega, dia lalu meraih kantong uang yang ada di hadapannya. Sembari menghitung koin-koin emas yang ada di dalam kantong tersebut, Siu Liong mulai memperinci berapa modal yang dibutuhkannya untuk menyewa ataupun membeli tempat usaha. Belum selesai Siu Liong menghitung, anak buahnya yang tadi di suruh untuk mengembalikan kantong uang kepada pemiliknya telah kembali.
"Sudah ku laksanakan perintahmu Pendekar." Si penjambret itu berkata dengan semangat.
Arya mengangguk, "Apakah kau memiliki keluarga?"
"Tidak pendekar."
"Kekasih?"
"Tidak pendekar." Si penjambret tersebut mengerutkan keningnya keheranan.
"Orang yang ingin kau tolong?"
Si penjambret menggelengkan kepalanya.
Melihat tatapan dingin dari sorot mata Arya, si penjambret merasakan firasat buruk. Arya kemudian bergerak mengibaskan tangannya pelan, sebuah energi angin tipis menderu menyasak batang leher si penjambret. Tubuh si penjambret ambruk dan kepalanya menggelinding.
Siu Liong tak kuasa menahan tubuhnya untuk tidak bergetar, begitu pula dengan ke-empat anak buahnya. Mereka menjatuhkan diri, ketakutan.
"Sudah ku katakan, aku tak akan segan-segan memisahkan kepalamu jika kau tidak mengembalikan kantong itu pada pemiliknya."
Arya mengulurkan tangannya ke arah batang tubuh mayat penjambret tersebut. Dari balik bajunya keluar kantong uang, lalu melayang ke arah Arya.
"Siu Liong dan kalian bertiga, kalian tentu tahu bukan, apa akibatnya jika kalian tidak memenuhi permintaanku?" Suara Arya terdengar dingin.
"Kami mengerti pendekar." Kata Siu Liong dan keempat anak buahnya dengan nada gemetar.