
Di lorong bawah tanah. Nie Zha, kakek Lengan Api dan Fei Lun terperanjat kaget, lorong tempat mereka berada terasa bergetar hebat. Mereka segera maklum bahwa diatas sana tengah terjadi pertarungan dahsyat.
“Nie Zha, cepat kau bawa perempuan-perempuan ini keluar ke mulut goa. Aku dan pemuda ini akan pergi ke atas untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Mungkin Li Xian saat ini tengah memerlukan bantuan.” ucap kakek Lengan Api.
Nie Zha mengangguk, “Baik kek..."
Demikianlah, mereka kemudian berpisah. Kakek Lengan Api dan Fei Lun segera berkelebat menuju ujung lorong. Sementara Nie Zha bersama empat puluh perempuan memutar balik, menelusuri lorong bawah tanah menuju ke mulut goa tengkorak.
Sesampainya di ruang pesta, tempat dimana pertarungan sedang berlangsung. Kakek Lengan Api dan Fei Lun dibuat heran ketika melihat puluhan orang bertopeng tengah mengepung seekor serigala besar. Meski di kepung demikian rupa, tapi serigala itu masih dapat mempertahankan diri bahkan memberikan perlawanan. Gerakan serigala itu amat cepat, sehingga beberapa pengeroyokannya dapat dibuat kalang kabut.
Orang-orang bertopeng tengkorak yang berada di barisan depan dengan ganas dan cepat sekali menghujani serangan menggunakan senjata masing-masing. Biao alias siluman serigala itu menggeram, begitu dia dapat menahan tiga serangan lawan, ia segera ayunkan cakarnya yang bersinar ungu. Dua orang bertopeng tengkorak tewas dengan tubuh terbelah!
Akan tetapi sungguhpun serigala itu amat kuat, dikeroyok demikian rupa membuatnya lama kelamaan mulai kewalahan, beberapa kali senjata orang-orang bertopeng mendarat ditubuhnya. Ledakan demi ledakan tercipta manakala senjata-senjata yang dialiri energi Qi itu membentur tubuh serigala tersebut. Meski begitu, tubuh serigala itu tidak mengalami luka-luka. Hanya tubuhnya saja yang terpental berulangkali kena dihantam senjata lawan.
Seorang bertopeng tengkorak berjubah merah, tiba-tiba melayang ke dalam kancah pertempuran. Dengan langkah tenang, ia menghampiri sang serigala. Orang ini memang sedari tadi hanya menonton karena ingin melihat sejauh mana para anak buahnya dapat menghadapi siluman serigala kesayangannya itu.
Melihat kemunculan orang itu, Biao cepat-cepat menjauh, ia tidak mau terkena pengaruh sihir untuk yang kedua kalinya dari orang tersebut.
“Biao, kau kenapa? Kemarilah, aku adalah tuanmu!” kata orang berjubah merah bergambar tengkorak bertanduk itu. Dia bukan lain adalah Serigala Iblis Dari Timur adanya.
Biao melonglong, tubuhnya perlahan diselimuti sinar ungu, pertanda dia mulai serius. Serigala Iblis Dari Timur yang melihat sikap siluman peliharaannya itu, mendengus kesal. Dengan sekali lompat tubuhnya lenyap dan tahu-tahu sudah berada di atas kepala Biao. Tangannya yang bersinar merah hendak menyentuh kepala siluman serigala tersebut, untuk menundukkan siluman serigala itu dengan pengaruh sihirnya.
Akan tetapi, belum juga tangannya dapat menyentuh kepala Biao, tangannya itu tahu-tahu terpental berikut dengan tubuh Serigala Iblis Dari Timur sendiri yang juga ikut pula terpelanting beberapa tombak terkena hantaman serangan energi yang entah datangnya darimana.
Biao tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia sadar bahwa orang berjubah merah itu bukanlah lawannya, lebih dari itu ia juga khawatir akan terkena pengaruh sihir ketua Manusia Iblis tersebut. Maka begitu Serigala Iblis Dari Timur terpelanting, serigala ini segera melesat ke arah gerombolan orang-orang bertopeng tengkorak. Sekali menerkam, kuku-kukunya yang besar dan tajam itu berlumuran darah dari para korbannya! Agaknya serangannya kali ini lebih ganas sehingga orang-orang bertopeng tengkorak mulai panik. Hal ini kelihatan karena yang diserang nampak bertahan mati-matian!
Seorang bertopeng tengkorak yang dalam keadaan terluka parah pada bagian perutnya yang terkoyak akibat terkaman cakar Biao. Dengan marah ia melangkah menerjang melancarkan serangan. Tangan kirinya tiba-tiba melepaskan dua puluh jarum biru sedang tangan kanan diayunkan ke batok kepala serigala hitam. Serangan ini disertai dengan satu loncatan cepat.
Biao yang menyadari akan hal itu segera menggebrak orang-orang yang mengepungnya, sehingga para pengepungnya itu berpelantingan. Cepat ia melompat ke samping seraya melepaskan satu cakaran energi. Akibatnya, serangan-serangan jarum biru berhasil dihancurkan diudara.
Akan tetapi pada saat yang sama, dari arah kanan, tiga orang bertopeng tengkorak sudah menerjang, melompat siap membacok dengan golok ditangan mereka yang berkobaran api menargetkan kepala.
Biao keluarkan lolongan keras sambil dongakkan kepalanya ke atas. Tiga golok yang membacok diatas kepalanya itupun terpental bersama dengan pemiliknya.
Satu bentakan datang dari samping yang disusul dangan sambaran pedang ke arah batang leher Biao. Yang diserang menggeram, sekali menggerakkan tubuhnya siluman serigala ini berhasil mengelakkan sambaran pedang, kemudian dengan satu gerakan kilat dia berhasil memukul patah pedang di tangan lawan. Si penyerang melebarkan matanya, akan tetapi kejap kemudian nyawanya telah melayang tanpa keluarkan pekik kesakitan. Kepalanya tercakar buntung!
“Gunakan ilmu Jala Iblis Menjerat Mangsa!” seru seorang tua berkepala plontos bersenjatakan tongkat perak.
Mendengar seruan itu, belasan orang bertopeng segera melompat mengurung Biao. Mulut mereka berkemak-kemik membaca mantera. Kejap kemudian belasan pasang tangan orang-orang bertopeng tengkorak bergerak dan belasan jala hitam menebar mulai dari kaki sampai ke kepala siluman serigala.
Biao gulingkan tubuhnya sambil gerakkan ke-empat kakinya sekaligus! Sinar ungu melesat menghantam belasan jala itu. Tapi anehnya, jala-jala itu tiada sanggup dibikin hancur ataupun mental oleh sinar ungu itu.
Dengan kecepatan luar biasa satu dari belasan jala berhasil menjerat salah satu kaki depan serigala tersebut. Sambil meronta-ronta, Biao menarik kaki kanannya untuk menarik jala, namun jala itu tahu-tahu bergerak cepat dan kini menjirat sampai ke leher!
Dikejap yang sama jala kedua melesat menjirat kaki kiri Biao. Jala ketiga melibat pinggang, jala ke empat membungkus kepala sampai ke dada, jala ke lima melingkar kaki belakang. Begitu seterusnya sampai tubuh Biao terbungkus seluruhnya oleh jala hitam dari orang-orang bertopeng tengkorak.
“Tarik!” terdengar lagi teriakan salah satu dari lima orang berkepala plontos berpakaian seperti biksu.
Belasan orang bertopeng tengkorak segera menggerakkan tangan masing-masing. Maka sekali tarik saja, tubuh Biao tergelimpang dan bergulingan di lantai.
Seluruh tubuh siluman serigala itu mulai dari kaki sampai ke kepala terjerat jala! Dalam keadaan demikian, Biao kerahkan energi Qi nya ke cakar pada ke-empat kakinya.
Akan tetapi usaha siluman serigala itu tak membuahkan hasil. Ia menggeram marah karena menghadapi kenyataan bahwa dia tak sanggup merobek atau membobolkan jala itu dengan cakarnya. Biao lipat gandakan energi Qi nya. Tetap sia-sia belaka! Malah libatan jala hitam itu semakin ketat menjeratnya.
Puluhan orang bertopeng tengkorak segera mengurungnya. Masing-masing mereka siap menggunakan kekuatan sihir untuk membuat siluman serigala itu menghentikan perlawanannya.
Pada saat mereka hendak membaca mantera, tiba-tiba terdengar gemuruh angin yang luar biasa kerasnya.
Sebuah angin beliung yang memancarkan sinar putih dan sangat dingin menderu! Membungkus tubuh siluman serigala.
Puluhan orang bertopeng tengkorak yang berdiri mengurung Biao, berterbangan dan meraung. Ketika tubuh mereka terhempas ke lantai, kelihatanlah bagaimana pakaian dan kulit mereka beku oleh lapisan es. Sebagian dari mereka tiada berkutik lagi alias tewas! Sementara yang lainnya cepat-cepat aliran energi Qi untuk menahan hawa dingin agar tak merambat menuju dan mencelakakan jantung mereka.
Seorang pemuda berambut putih, hinggap di dekat angin beliung yang masih berputar-putar menyelubungi Biao. Pemuda ini memandang berkeliling. Kira-kira enam puluh orang anggota Manusia Iblis yang memegang berbagai macam senjata mengurungnya sangat rapat. Fei Lun dapat menduga sampai dimana tingkat kultivasi penjahat-penjahat ini.
Dengan pandangan tenang, Fei Lun menyapu orang-orang yang semakin maju dan memperketat pengurungan.
“Kalian mau main keroyok?!” bentak Fei Lun. “Silahkan saja!” kedua telapak tangan ulurkan ke depan, dengan begitu putaran angin beliung serta-merta jadi lenyap.
Kembali pemuda ini berkata “Tapi sebelum kalian mulai, aku masih beri satu peringatan pada kalian! Jika kalian semua berjanji mau hidup menjadi orang baik-baik, menghentikan kejahatan kalian, maka aku akan ampuni jiwa kalian!”
Seorang berpenampilan seperti biksu, berbadan tegap dan membekal tongkat perak melompat maju. “Oh, rupanya kau pangeran yang nyasar. Aku cukup kagum kau bisa meloloskan diri dari ruang tahanan.” biksu ini meludah ke lantai, “Tapi kali ini jangan harap kau dapat lolos lagi.”
Fei Lun tertawa, “Baguslah, aku memang lebih senang menamatkan perkumpulan sesat kalian. Majulah!”
Tahu akan kemampuan lawan berada diatasnya, biksu ini memandang ke arah empat biksu yang telah berdiri disampingnya. “Kawan-kawan, mari kita habisi pangeran kesasar ini!”
Habis berkata begitu, ia pukulkan tongkat peraknya ke depan. Selarik sinar ungu melesat ke arah si pemuda.
Duuuarr!
Sinar ungu itupun meledak menghantam bongkahan es. Asap tebal seketika menutupi pemandangan.
Kejap yang sama enam puluh orang bertopeng tengkorak laksana lingkaran gelombang ombak datang menyerang. Fei Lun membentak dahsyat. Bangunan itu serasa bergoncang, gendang-gendang telinga laksana ditusuk!
Meskipun hati tergetar, namun ke-enam puluh orang bertopeng tengkorak itu terus juga menyerang! Puluhan senjata malang melintang mengurung Fei Lun.
Kedua tangan Fei Lun tahu-tahu kini telah memegang pedang es. Ia memutar-mutar kedua pedang es itu diatas kepala, demikian cepatnya laksana kitiran. Dari kedua pedang es itu menimbulkan deruan angin dahsyat.
Dua puluh tiga anggota Manusia Iblis yang paling depan merasakan tubuh mereka seperti ditahan oleh dinding keras yang tak dapat dilihat mata. Mereka segera kerahkan Qi untuk merangsek maju, akan tetapi sapuan angin itu semakin deras dan mengandung hawa yang luar biasa dingin. Barisan terdepan anggota Manusia Iblis itupun berpelantingan laksana daun kering yang diterjang badai angin!
Sementara itu, Serigala Iblis Dari Timur yang memang tidak ikut terjun membantu para bawahannya untuk meringkus Biao karena sedang mencari-cari siapa adanya orang yang telah menyerangnya dengan cara membokong, jadi terkejut ketika melihat kemunculan Fei Lun. Meski heran dan bingung bagaimana cara pemuda itu dapat melepaskan diri dari ruangan tahanan, namun ia tak mau menduga-duga dan segera hendak menuju ke tempat Fei Lun. Akan tetapi tiba-tiba saja muncul seorang kakek tua yang tahu-tahu telah menghadangnya.
Sambil senyum-senyum si kakek memandangi Serigala Iblis Dari Timur, lantas berkata. “Melihat dari kultivasimu serta pakaianmu yang berbeda dari yang lain, aku menduga bahwa kau-lah orangnya yang menjadi pimpinan kelompok Manusia Iblis ini.”
Serigala Iblis Dari Timur tidak segera menjawab. Ditatapnya kakek tua dihadapannya itu untuk beberapa lama. Menilik dari cara munculnya kakek ini, dia maklum bahwa orang tua ini lah yang tadi telah menyerangnya secara membokong dan orang tua ini pula pastinya yang telah membebaskan Fei Lun dari ruang tahanan. Dibalik topengnya, dahinya berkerut mencoba mengingat-ingat akankah ia pernah mengenal atau setidaknya pernah bertemu dengan orang tua yang kini berdiri berhadapan dengannya itu.
“Makan dulu jarumku ini!” seru sang Serigala Iblis Dari Timur dan sesaat kemudian begitu dia gerakkan tangan kanan puluhan jarum berwarna kuning melesat tanpa suara ke arah dua belas jalan darah di tubuh kakek Lengan Api!
“Hmmmm..” kakek Lengan Api mendehem. Dikebutkannya lengan pakaiannya. Puluhan jarum yang menyerang serta-merta mental dilanda angin dahsyat yang keluar dari ujung lengan pakaian itu.
Melihat serangannya dapat dibuyarkan dengan mudah, Serigala Iblis Dari Timur menyeringai dibalik topengnya. Serangannya tadi ia tujukan hanya untuk menjajaki sejauh mana kemampuan lawan. Menurut pengamatannya, orang tua dihadapannya itu hanyalah berada di tahap Pendekar Kaisar. Tetapi dari cara munculnya dan bagaimana cara orang tua itu dapat mengatasi serangan jarum-jarumnya tadi, dia kini tahu bahwa orang tua itu menyembunyikan kultivasi aslinya.
“Orang tua, ku rasa diantara kita tidak ada permusuhan. Bertemu-pun baru kali ini, kenapa kau datang mengacaukan ketentraman di tempatku..?!” ucap Serigala Iblis Dari Timur dengan halus.
Kakek Lengan Api tersenyum, sepasang matanya sekilas mengerling ke arah pertarungan Fei Lun. Ia melihat bagaimana pedang es ditangan pemuda itu berhasil dibuat hancur oleh rantai milik seorang berpakaian biksu.
Tongkat perak salah seorang biksu lainnya kemudian laksana kilat membabat ke perut si pemuda. Fei Lun yang tak punya kesempatan untuk mengelak karena saat itu perhatiannya tengah tercurah kepada puluhan orang-orang bertopeng yang mengeroyoknya, dibuat mental beberapa tombak.
“Terus terang saja, selama ini aku belum pernah mendengar mengenai kelompok Manusia Iblis. Dan secara kebetulan saja aku mendapatkan tamu tak di udang dari beberapa anggota Manusia Iblis itu. Dari mereka aku mendengar bahwa kelompok itu telah menimbulkan malapetaka, misalnya menculik gadis-gadis dan juga bayi-bayi yang baru lahir. Mendengar ini aku lantas mengaitkannya dengan Sekte Iblis Berdarah. Karena itulah aku ke sini hendak menyelidiki apakah kalian termasuk bagian dari sekte itu.” ucap kakek Lengan Api dengan tenang.
“Hmmm... Jadi itu rupanya... Tak ku sangka ternyata anda datang ke sini karena sudah termakan oleh fitnah-fitnah keji yang dilontarkan kepada kami. Orang tua, lihatlah orang-orang terhormat yang hadir di sini! Kalau memang kami demikian jahatnya, apakah mereka itu akan sudi hadir di sini dan juga menjadi pengikut dan saudara se-kepercayaan kami? Ketahuilah bahwa kami mengajak semua orang untuk menikmati hidup dan menjadi anggota agama baru kami.”
Kakek Lengan Api mengerutkan dahi, sepasang matanya melirik ke arah orang-orang yang berpakaian seperti bangsawan. Begitu pandangannya membentur gadis-gadis telanjang, sontak ia menelan ludah. Khawatir jika kelengahannya akan dimanfaatkan oleh lawan untuk menyerangnya, kakek ini kembali menatap kepada Serigala Iblis Dari Timur, “Agama macam apa yang membiarkan pengikutnya mengikuti hawa nafsu, menyuruh wanita-wanita telanjang begitu rupa?”
“Harap dengarkan dulu penjelasanku, mereka telanjang karena saat ini kami sedang melakukan upacara persembahan kepada Dewa Kematian. Dalam kepercayaan kami, melalui tari-tarian dari gadis-gadis telanjang inilah Dewa Kematian akan menjadi senang sehingga berkenan memberkahi kami dengan hidup panjang dan seolah-olah abadi. Menurut ajaran kami, nafsu itu akan menjadi liar dan kalau diberi penyaluran sewajarnya tanpa adanya paksaan, akhirnya nafsu itu akan habis sendiri kekuatannya, tidak akan lagi mencengkeram hati kami. Sehingga dengan begitu, hati kami menjadi cukup memenuhi syarat untuk menjadi hati yang bersih dan dihuni oleh jiwa yang bersih pula. Jika sudah seperti itu kami kelak akan diterima menjadi kesayangan Dewa Kematian.”
Kakek Lengan Api tertekekeh. Menurutnya apa yang di ucapkan orang berjubah merah itu seperti perkataan orang yang sudah tidak waras jalan pikirannya. Baginya, nafsu itu memiliki kemiripan layaknya api yang apa bila diberi hati, jika dituruti keinginanya, maka tak ubahnya seperti api yang diberi bahan bakar. Semakin banyak diberi bahan bakar, maka makin berkobar-kobarlah ia, makin menjadi-jadi, makin membesar dan bahkan bisa-bisa tidak akan dapat padam lagi.
Nafsu sendiri memiliki peranan penting dalam kehidupan. Hanya saja cara penggunaannya yang menentukan apakah dia merusak ataukah mendatangkan manfaat. Tanpa nafsu manusia tidak akan bisa memiliki ambisi, tak akan bisa berkembang-biak, makan terasa hambar, tidak ada yang namanya susah maupun senang, tak ada ketertarikan kepada lawan jenis. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika manusia tak memiliki nafsu. Hidup ini tak akan berwarna!
“Tak usah berputar-putar! Aku sudah tahu banyak mengenai kelompokmu ini. Katakan saja apa hubungan kelompok kalian dengan Sekte Iblis Berdarah. Aku melihat kalian memiliki persamaan, baik itu dari pekerjaan kalian yang gemar menculik gadis-gadis dan bayi-bayi, maupun dari energi kegelapan yang berada di dalam tubuh kalian.” ucap kakek Lengan Api dengan serius.
Serigala Iblis Dari Timur gelengkan kepala. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk memperdaya orang tua dihadapannya itu. Tiba-tiba saja dia hentakkan tangannya ke depan. Begitu tangan kanannya digerakkan menderulah angin dahsyat laksana topan prahara mengamuk.
Sepasang lutut kakek Lengan Api terasa bergetar karena lantai yang dipijaknya tergoncang hebat. Sebelum tubuhnya kena dihantam oleh pukulan lawan, cepat-cepat dia mengalirkan energi Qi ke kaki. Tangan kanannya dibentangkan ke depan. Sapuan angin itupun dapat terbendung!
Wuutt! Wuuutt!
Kembali Serigala Iblis Dari Timur sentakkan kedua tangannya, lepaskan pukulan ‘Kabut Neraka’. Hingga saat itu juga dari kedua tangannya melesat kabut putih menebar hawa panas dan suara menggidikkan!
Kakek Lengan Api jelas saja tak mau diam begitu saja membiarkan tubuhnya jadi sasaran serangan lawan, cepat-cepat kedua tangannya diangkat lalu didorong ke depan, kirimkan pukulan jurus ‘Api Melahap Api’. Meluncurlah semburan api dari sepasang telapak tangan si kakek memapasi serangan kabut lawan.
Jduuummm!
Maka terdengarlah suara berdentum. Puncak bukit laksana digulung gempa. Patung-patung bertumbangan. Dinding di sebelah kanan jebol. Orang-orang bertopeng yang berada di dekat ledakan dari benturan energi dahsyat itu sontak terpelanting terguling-guling di lantai.
Tampaklah Serigala Iblis Dari Timur terpental beberapa tombak, mencoba bangun dengan cepat tapi sempoyongan dan jatuh lagi. Dadanya sebelah dalam mendenyut sakit. Cepat-cepat dia mengalirkan energi kegelapan dari pusar ke dada. Dia menjadi penasaran sekali dengan orang tua yang menjadi lawannya itu. Meskipun dia belum mengerahkan seluruh kekuatannya, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia jadi terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa lawannya itu dapat mengimbangi daya serangannya.
Sedangkan kakek Lengan Api, kedua kakinya melesak sampai sebatas mata kaki ke lantai. Lututnya goyah dan dalam keadaan tubuh terhuyung-huyung akhirnya dia jatuh terduduk. Meskipun semburan dua gelombang api miliknya sanggup dimusnahkan serangan kabut aneh dari lawan, namun sekujur kulit tubuhnya terasa perih oleh hawa panas luar biasa pukulan lawan.
“Kau lumayan juga, orang tua. Sudah lama aku tak menghadapi orang yang dapat menahan jurusku. Tapi apakah kali ini kau juga dapat menahan pedangku ini.”
Habis berkata begitu Serigala Iblis Dari Timur mengeluarkan sebilah pedang bersarung dari kristal yang memancarkan sinar biru langit. Begitu pedang itu di tarik keluar dari sarungnya, mendadak udara menjadi dingin luar biasa. Dalam sekejapan saja seluruh ruangan itu menjadi beku dilapisi es.
Fei Lun cepat-cepat melompat mundur untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. “Pedang Es Abadi?!” desisnya, untuk beberapa saat ia memandangi orang berjubah merah bertopeng tengkorak yang sedang berhadapan dengan kakek Lengan Api, “Mungkinkah dia Serigala Iblis Dari Timur yang sedang aku cari-cari.?!”
Tapi pemuda ini tak bisa berfikir lama, karena pada saat itu puluhan orang bertopeng tengkorak telah kembali menyerbunya. Tak berselang lama, pemuda berambut putih ini sudah disibukkan melayani hujanan senjata para lawannya yang berkelebatan mengurung tubuhnya.
Disudut lain, para tamu dan gadis-gadis penari yang sejak awal terjadinya kericuhan, keliatan berdiri saja layaknya patung tak bergerak di pojok-pojok ruangan, memandangi pertarungan tersebut dengan tatapan kosong. Tampaknya dalam keadaan pengaruh sihir, mereka sama sekali tidak sadar bahwa didepan muka mereka tersebut tengah terjadi pertarungan dahsyat.
“Tuan, apakah orang-orang ini yang harus kami selamatkan?” tanya seorang pemuda berambut kuning seperti kepada dirinya sendiri setelah baru saja muncul di hadapan Bupati Pauw-an Kio dan para bawahannya.
Kejap kemudian, empat pemuda berambut kuning dan memiliki paras yang sama juga bermunculan. Mereka memandangi jalannya pertarungan, lalu menyapukan pandangan menatap ke arah gadis-gadis telanjang.