Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Memulai Pembersihan Kota


Seorang wanita yang hanya mengenakan kain kuning menutupi bagian dada dan kewanitaannya, sedang berdiri di hadapan seorang pria berkulit hitam, bermata merah, rambutnya yang panjang di biarkan menjuntai menutupi sebagian wajahnya, dia mengenakan pakaian ringkas berwarna jingga dan sedang tiduran di atas kursi goyang.


"Aku sudah tahu apa maksud dari kedatanganmu, Xue Xuanzi. Cari sendiri kertas itu di rak lemari." Ucap pria berkulit hitam tanpa membuka kelopak matanya, dia menghisap rokok yang ada ditangan kanannya lalu menghembuskan asapnya tinggi-tinggi ke udara.


Karena sudah mendapatkan izin dan mengetahui dimana berkas surat perjanjian itu di simpan, wanita yang bernama Xue Xuanzi berjalan ke arah lemari yang terletak di belakang meja.


Tidak butuh waktu lama untuk mengambil semua berkas itu. Setelahnya, Xue Xuanzi kembali berjalan menemui pria berkulit hitam untuk pamit.


"Setelah mengantarkan surat ini, kau cepatlah kesini." Berkata si pria berkulit hitam, lalu kembali menghisap rokok ditangannya.


"Baik tuan, saya pamit."


Xue Xuanzi berjalan menuruni tangga lantai dua belas menuju lantai delapan dimana Arya berada.


Memang para pengunjung hanya di perbolehkan masuk sampai lantai 8, karena hanya para pekerja saja yang boleh memasuki lantai 9 sampai 12. Di sana adalah tempat tinggal para pekerja.


Arya bangkit saat Xue Xuanzi berjalan mendekat, tanpa basa-basi dia langsung mengulurkan tangannya untuk meminta kertas yang di bawa wanita itu.


"Sekarang kertas itu sudah ada di tangan anda, jadi sekarang bolehkah aku mengambil koin emas ini." Ucap Xue Xuanzi lalu melirik gunungan emas yang tergeletak di samping kanannya.


Arya tidak langsung menjawab, dia masih memeriksa tumpukan kertas di tangannya lalu menyerahkannya kepada gadis-gadis disebelahnya.


"Apa benar itu adalah kertas perjanjian kalian?" Bertanya Arya dengan pandangan tertuju ke arah Xue Xuanzi.


"Tuan muda, tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin menipu anda." Ucap Xue Xuanzi dengan nada sedikit kesal karena tatapan Arya seolah mengutarakan ketidak-percayaan terhadapnya.


"Tuan, ini memang kertas perjanjian milik kami." Ucap gadis yang berdiri disebelah kiri pemuda itu.


Semua gadis juga mengatakan hal yang sama, mereka secara bergantian memberikan kertas itu kembali kepada Arya.


Setelah menerima keras perjanjian itu, Arya kemudian mengusap tumpukan kertas yang tergenggam di tangan kirinya dengan telapak tangan kanannya. Seperti sebuah sihir, tumpukan kertas itupun lenyap.


"Baiklah, kau bisa mengambil emas-emas itu. Aku akan menunggu sampai kau selesai menghitungnya." Ucap Arya.


"Terimakasih tuan muda.." Xue Xuanzi lantas memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka untuk menghitung koin-koin emas tersebut.


Belasan gadis segera menghitung koin-koin emas, Xue Xuanzi sendiri terus mengamati mereka dengan seksama, seolah ia khawatir para bawahannya itu akan mengambil koin-koin emas tersebut.


Butuh waktu yang lumayan lama, sampai akhirnya mereka selesai menghitung. "Semua koin emas ini jumlahnya 56.000 nyonya."


Xue Xuanzi tersenyum, sesaat dia melirik Arya sebelum mengibaskan tangannya ke arah tumpukan koin emas. Bersamaan dengan kibasan tangannya, semua koin-koin itupun raib.


"Terimakasih tuan muda, jika di lain waktu anda ingin membeli gadis-gadis kembali, silahkan datanglah berkunjung ke sini lagi, aku akan menanti kedatangan anda." Ucap Xue Xuanzi sambil menelangkupkan tangannya ke arah Arya.


"Hmmm.. sepertinya aku tidak akan kesini lagi, gadis-gadis ini terlalu banyak, aku tidak mungkin bisa menghabiskan mereka semua dalam waktu singkat. Hahaha." Arya tertawa tergelak-gelak.


Mendengar perkataan Arya, semua gadis memandangi pemuda itu dengan tatapan aneh. 


Setelah berhenti tertawa, Arya kemudian melontarkan pertanyaan yang membuat semua gadis keheranan. "Eh, bolehkah aku meminjam kamar di sini?"


"Maaf tuan muda, kamar di tempat ini tidak untuk dipinjamkan tapi untuk disewakan." Ucap Xue Xuanzi.


"Oh, kenapa kau pelit sekali padaku? Padahal aku hanya ingin buang air kecil, masa iya aku juga harus membayar." Umpat Arya bersikap seolah sedang kebelet. Dia memegangi pangkal celananya dengan kedua tangannya.


Melihat kekonyolan pemuda itu, semua gadis nampak senyum-senyum geli bahkan ada beberapa yang berfikir liar membayangkan bagaimana bentuk burung pemuda itu.


Xue Xuanzi menangkap satu keping emas itu dengan mudah, dia tidak lekas menjawab, terbesit pikiran curiga terhadap pemuda itu.


"Hei kenapa diam! Cepatlah, kalau tidak, bisa-bisa aku keluar di sini. Oh... Jangan-jangan kau memang ingin melihat burungku yang gagah perkasa ini.. Ayolah! Aku sudah tidak tahan, ini sudah berada di ujung." Muka Arya mengerenyit, badannya sedikit merunduk sementara kedua tangannya semakin erat memegangi pangkal celananya.


Meledaklah tawa para gadis, situasi itu menarik perhatian gadis-gadis lainnya yang masih terduduk di kursi sebelah kanan kiri. Para pengunjung lelaki yang sedang memilih gadis, juga sontak mengalihkan perhatian mereka ke arah para gadis yang tertawa.


Xue Xuanzi tersenyum sinis, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu lorong. "Tuan muda, mari ikuti aku."


Arya tersenyum tipis sebelum melangkah mengikuti Xue Xuanzi.


Sesampainya di depan pintu kamar, Xue Xuanzi lalu membuka pintu dan mempersilahkan Arya masuk.


"Hei, kenapa kau juga masuk? Jangan-jangan kau ingin mengintipku atau kau ingin memperkosaku.." Arya membalikkan badan, menatap jijik Xue Xuanzi yang baru saja mengunci pintu.


"Hahaha..." Xue Xuanzi tiba-tiba tertawa panjang, lalu memasang wajah menyeramkan. "Aku sebenarnya sudah mencurigaimu dari awal, sekarang katakan apa tujuanmu sebenarnya?"


Arya menggeleng pelan lalu menyeringai, "Oh rupanya kau sudah tahu jika hari ini kau akan menemui ajalmu di tanganku." Ucapnya sinis.


Melebarlah sepasang mata Xue Xuanzi, ucapan pemuda itu jelas saja menunjukkan bahwa pemuda itu sudah mengetahui indentitasnya dan datang ke tempat ini bertujuan untuk menyelidiki kelompoknya.


"Jadi kalian datang ingin menyelidiki kami? Kalian terlalu percaya diri, manusia." Xue Xuanzi menyeringai, dia menduga jika pemuda ini tidak mungkin datang seorang diri, pastilah ada pendukung lain di belakangnya, yang kemungkinan besar saat ini mereka juga sedang berada di tempat ini.


"Kalian? Apa matamu buta, aku disini seorang diri, eh lebih tepatnya berdua denganmu. Haha.." Arya tertawa pendek.


"Tutup mulutmu, manusia rendahan! Cepat katakan ada berapa orang-orangmu disini dan siapa yang menyuruhmu datang kemari?" Bentak Xue Xuanzi, bersamaan dengan itu ada aura aneh yang keluar dari tubuhnya. Aura itu begitu kuat, bahkan membuat kamar ini sedikit bergetar.


Arya terkekeh, "Kau menyuruhku menutup mulut tapi kau juga bertanya padaku. Sebenarnya apa maumu, hahaha..."


Xue Xuanzi memicingkan matanya, mengamati tubuh pemuda itu lebih teliti. Meski tersulut emosi namun dia melihat keanehan dari pemuda itu. 


'Bagaimana mungkin dia tidak terpengaruh terhadap teknikku.' Pikirnya heran.


Arya berdecak berulangkali sambil menggeleng pelan, "Kenapa kau sepertinya heran terhadapku? Seharusnya akulah yang heran padamu. Wanita cantik dan montok yang ku lihat tadi kenapa sekarang berubah menjadi anjing setengah manusia."


Seolah mengerti maksud pemuda itu, Xue Xuanzi segera meraba wajahnya sendiri. Dan benar saja wajahnya kini telah berubah layaknya kepala anjing. Bermoncong panjang dan bertanduk satu di kening.


Memang pada saat Xue Xuanzi sedang berbalik mengunci pintu, Arya telah menciptakan segel pelindung di kamar ini, sehingga teknik yang di kerahkan Xue Xuanzi tadi tidak bisa keluar menarik perhatian para pendekar aliran hitam dan hewan iblis yang berada di gedung ini. Arya juga telah diam-diam melesatkan selarik cahaya emas ke tubuh Xue Xuanzi, hingga tersingkaplah penyamarannya.


"Kau! Siapa sebenarnya kau ini?" Hardik Xue Xuanzi, suaranya terdengar menggeram marah.


"Apa pentingnya kau mengetahui namaku. Sadarlah ini bukan waktunya untuk berkenalan. Karena sekarang yang ku inginkan adalah mengambil nyawamu." 


Tepat setelah berkata demikian, muncul satu sosok Arya lainnya, yang tiba-tiba dengan cepat mencengkram tengkuk hewan iblis setengah anjing itu, dia kemudian membawanya keluar melalui jendela kamar.


Sosok Arya yang masih berada di dalam kamar, menatap kepergian tubuh bayangannya yang membawa hewan iblis jelmaan dari Xue Xuanzi.


Dengan menghentakkan kaki, dia menarik kembali segel pelindung yang di pasangnya. Lalu menggerakkan tangannya membentuk serangkaian pola tangan.


Tiba-tiba muncul puluhan sosok tubuh bayangan yang sama persis seperti perwujudan Arya. Sangking banyaknya, kamar ini sampai penuh dijejaki oleh tubuh bayangan tersebut. Bahkan ada beberapa tubuh bayangan yang berdiri di atas kasur dan meja.


"Carilah semua orang yang memiliki energi kegelapan dan aura hewan iblis di kota ini, habisi mereka sampai tak tersisa." Perintah Arya. "Tapi sebelum itu, tutupilah wajah kalian agar tidak ada yang curiga."


Satu persatu tubuh bayangan Arya merobek pakaiannya sendiri, lalu menutupi wajah mereka dengan robekan kain itu. Barulah kemudian mereka keluar satu persatu melalui jendela kamar, siap menjalankan perintah.