Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Rasa Bersalah


Para penjaga dan para pengunjung langsung menghunuskan senjata saat melihat Arya berjalan menuruni tangga. Meskipun jelas wajah mereka menunjukkan ketakutan, namun sepertinya mereka tidak mau mati tanpa perlawanan.


"Hahaha..." Arya tertawa tergelak-gelak, menghentikan langkahnya. "Apakah kalian serius ingin menyerangku? Kalian harus tahu, jika kalian benar-benar melakukan hal itu, maka aku tidak akan segan-segan memukul batok kepala kalian sampai benjol."


Semua orang nampak ciut nyalinya, namun tidak ada yang menurunkan senjata, masih dengan memasang sikap siaga, menatap Arya tanpa berkedip.


Arya menggeleng lalu kembali melangkahkan kakinya, memasuki segel pelindung yang di ciptakannya sendiri. Dia menatap semua orang yang ada di sana sebelum membuka suara, "Tenanglah, aku bukanlah orang jahat. Tujuanku datang kesini hanyalah untuk membasmi musuh-musuh dari kerajaan. Sekarang tugasku disini sudah selesai, tapi aku sarankan pada kalian untuk sementara waktu tetaplah berada di gedung ini, karena di luar sana sedang terjadi pertempuran."


Baru saja Arya membalikkan badan, terdengar suara seorang wanita.


"Tuan, lalu bagaimana dengan kami. Bukankah tuan sudah membeli kami?" Wanita berambut sebahu berjalan mendekat. Meski terlihat ragu, beberapa wanita juga mulai berjalan menghampiri Arya.


"Kalian sekarang sudah bebas, kalian masih punya masa depan, rubahlah kehidupan kalian. Buatlah ini sebagai pelajaran agar kedepannya kalian tidak kembali terjerumus ke dalam lobang yang sama."


"Maksud tuan?" Bertanya gadis berdada besar dan berkaki jenjang.


Melihat kemolekan gadis itu, Arya menengguk ludah, ada sesuatu yang menggelora di dalam dirinya. Namun cepat-cepat dia mengalihkan pandangannya, "Anggaplah aku membeli kalian untuk membebaskan kalian dari pekerjaan hina di tempat ini, jadi kalian sekarang sudah bebas dan tidak perlu mengikutiku. Carilah pekerjaan lain yang lebih baik."


Melihat Arya mulai berbalik dan melangkahkan kaki, belasan gadis itupun buru-buru mengejar dan tiba-tiba memeluknya.


Wajah Arya seketika memerah, di peluk belasan gadis yang hampir tidak mengenakan pakaian, membuat birahinya terbakar. Pemuda itu menggeleng pelan, lalu menggeliat melepaskan diri. Kemudian buru-buru meninggalkan tempat tersebut.


Para gadis yang memeluk Arya, di buat berpentalan. Namun tidak ada yang mengalami cidera. Melihat pemuda yang di pelukannya tadi sudah tidak ada di tempat, mereka kemudian lekas-lekas bangkit dan berlari menuju tangga lantai bawah.


**** 


Ketika mendengar suara ledakan dan terjadi pertarungan di langit, putri Zhou Jing Yi yang pada saat itu sedang menunggu Arya di depan rumah seribu bunga langsung berkelebat untuk melihat pertarungan dari dekat.


Sepasang matanya sontak membeliak ketika menyaksikan adanya makhluk aneh yang sedang bertarung dengan seseorang yang mengenakan penutup wajah.


Tidak mau membuang waktu, diapun bergegas kembali ke rumah seribu bunga untuk mengabarkan hal ini kepada Arya. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba dari arah langit melesat sebuah energi dahsyat yang mengarah ke salah seorang penduduk, maka dengan cepat Putri Zhou Jing Yi merubah arah lajunya untuk menyelamatkan penduduk tersebut.


Lesatan energi itu tidak hanya terjadi sekali, sehingga memaksa putri Zhou Jing Yi untuk mengevakuasi para penduduk yang ditemuinya ke tempat aman.


Berulangkali, putri Zhou Jing Yi mondar-mandir menyelamatkan para penduduk, menyerahkan mereka kepada para prajurit yang melintas. Sampailah dia di pemukiman kumuh, di sana dia langsung berteriak keras untuk meminta orang-orang keluar dari dalam rumah.


Teriakan Putri Zhou Jing membuat orang-orang keluar dari rumah, dia segera mengajak semua penduduk untuk ikut bersamanya. Namun tiba-tiba ada sebuah energi dari langit yang melesat ke arah sebuah gubuk kumuh.


Duuuarr...


Gubuk itupun seketika hancur luruh terbakar.


Putri Zhou Jing Yi menghentikan langkahnya, menatap ke arah rumah yang terbakar tersebut. Samar-samar dari rumah yang terbakar itu, telinganya mendengar suara rintihan seseorang.


Cepat Putri Zhou Jing Yi berkelebat menuju gubuk tersebut, sesampainya disana, dia kemudian menggunakan elemen air untuk memadamkan api yang melahap reruntuhan gubuk.


Kembali, samar-samar telinganya menangkap suara rintihan yang sangat pelan. Dan benar saja, setelah menyingkirkan beberapa balok kayu, didapatinya tubuh seseorang sudah dalam kondisi menghitam, sedang meringkuk.


Putri Zhou Jing Yi segera memeriksa kondisi orang tersebut, di raih pegelangan tangannya, namun sudah tidak ada lagi denyut nadi dari orang itu.


Mata Putri Zhou Jing Yi kemudian menangkap sosok tubuh lain di balik mayat tersebut. Alangkah terkejutnya, saat dia mendapati ada bocah lelaki yang tengah tertelungkup pingsan. Keadaan bocah itu begitu kritis, denyut nadinya sangat lemah.


Putri Zhou Jing Yi berkali-kali mengibas-ngibaskan tangannya, berniat mengeluarkan pil giok suci. Namun beberapa saat dia baru teringat bahwa pil itu telah dia berikan semuanya kepada sang ayah.


Terpaksa, putri Zhou Jing Yi meninggalkan jasad yang di ketahui adalah seorang nenek, dan bergegas membawa bocah itu agar secepatnya mendapatkan pengobatan.


"Ku yakin kau masih memiliki pil giok suci, cepat obatilah bocah ini, dia sedang sekarat."


Arya mengerutkan dahi, dipandanginya wajah Putri Zhao Jing Yi yang sudah tidak mengenakan penyamaran, wajahnya yang putih terlihat ada coretan bekas-bekas arang. Kemudian pandangannya beralih ke bocah yang di bopong sang putri, wajahnya hampir seluruhnya hitam, namun beberapa saat Arya baru mengenali bocah itu.


"Lu Ping! Sebenarnya apa yang terjadi pada bocah ini?" Batin Arya, kemudian buru-buru memeriksa keadaan bocah itu.


Arya menyentuh pergelangan tangan Lu Ping, lalu menempelkan ibu jarinya ke tengah kening bocah itu.


Tiba-tiba muncul sinar hijau dari ibu jari Arya yang menyentuh dahi bocah itu. Perlahan-lahan, nafas bocah tersebut mulai berangsur-angsur membaik, detak jantungnya yang tadinya sangat lemah mulai stabil. Beberapa saat kemudian, barulah bocah itu membuka matanya.


"Lu Ping..."


Mendengar namanya di panggil, bocah itu menoleh dan mendapati seorang pemuda yang di kenalinya.


"Kak Li Xian, dimana aku sekarang? dan dimana nenekku?" Lu Ping mengedarkan pandangannya, lalu bergerak turun dari bobongan Putri Zhou Jing Yi.


Dengan hati-hati dan lembut, Putri Zhou Jing Yi membantu menurunkan bocah tersebut.


"Maafkan aku, aku tidak sempat menyelamatkan nenekmu. Saat ini nenekmu masih berada di rumahmu." Berkata Putri Zhou Jing Yi dengan perasaan bersalah.


Arya duduk berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan tinggi bocah itu, tangan kanannya dia gerakan mengusap-usap rambut bocah dihadapannya. "Lu Ping, semua yang terjadi sudah menjadi suratan takdir. Kita tidak bisa merubah ataupun menghindarinya. Menangislah jika hal itu bisa membuatmu tenang, tapi ingat hidup masih terus berjalan, kau tidak boleh terlalu terpuruk dalam kesedihan. Sebagai seorang lelaki, kau harus kuat dan tegar, apa kau mengerti?"


Meski tidak terlalu paham, Lu Ping mengangguk pelan.


"Ayo kita pergi ke rumahmu.."


Setelah menggendong bocah yang bernama Lu Ping, Arya bersama Putri Zhou Jing Yi berkelebat cepat ke rumah bocah itu berada.


Nampak bocah dalam gendongan Arya memejamkan matanya, dibukanya kembali, dipejamkan lagi dan begitu seterusnya. Meski takut, nampaknya dia juga penasaran serta menjadi antusias dibawa melompat-lompat dari bangunan satu ke bangunan lainnya.


Arya sendiri nampak memasang wajah buruk, meski sudah tahu kondisi di kota sedang terjadi pertarungan, namun dia tidak menyangka kerusakan akan separah ini. Dia memang bisa melihat situasi dari penglihatan para tubuh bayangannya, akan tetapi tetap saja dia tidak punya banyak waktu untuk melihat kondisi dari setiap penglihatan tubuh bayangannya.


Baru saja Lu Ping di turunkan dari gendongan, bocah itu langsung berteriak histeris sambil berlari ke gubuknya yang kini hanya tersisa puing-puing kebakaran.


Melihat tubuh neneknya menghitam dan mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, tangis bocah kecil itupun seketika pecah, dia buru-buru menghampiri dan memeluk jasad neneknya yang terbujur kaku tersebut dengan erat.


Arya dan Putri Zhou Jing Yi hanya terdiam tegak, membiarkan bocah itu meluapkan kesedihannya. Ada perasaan haru yang menyelimuti hati keduanya saat menyaksikan nasib bocah malang di hadapannya itu. Terlebih Arya yang sudah mengetahui bahwa bocah itu tidak punya siapapun lagi selain neneknya, kini dia merasa bersalah dan berfikir bahwa musibah ini terjadi karena kesalahannya.


"Tuan putri, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Berkata Arya dengan lirih, ada kesedihan dari nada bicaranya.


Putri Zhou Jing Yi mengelap air mata di sudut matanya, lalu menoleh ke arah Arya. "Apa yang kau inginkan dariku? Jika permintaan itu sanggup aku lakukan dan tidak menyalahi kebenaran, maka aku bersedia membantumu."


Arya tersenyum kepada Putri Zhou Jing Yi, "Terimakasih tuan putri, aku hanya minta pada anda untuk memberikan kehidupan yang layak pada bocah itu, kalau bisa berikan juga dia keluarga yang baru agar dia tidak merasakan kesepian."


"Baiklah, aku akan mengusahakannya." Balas Putri Zhou Jing Yi sambil memegang pundak pemuda itu.


Arya mengangguk, lantas menghentakkan kakinya ke tanah, sekejap kemudian di hadapannya tanah bergetar dan lalu terbelah. "Satu lagi tuan putri, ku harap anda bersedia menguburkan jenazah nenek itu. Aku akan pergi sebentar untuk menyelesaikan persoalan di kota ini, tunggulah disini sampai aku kembali."


Setelah berkata demikian, Arya menggerakkan kedua tangannya berputar lalu di hentakannya ke arah tanah. Terasa tanah di sekitar mereka bergetar, lalu terlihat energi menjalar dan membentuk perisai berupa kubah transparan yang menyelubungi tempat tersebut.


Mata Putri Zhou Jing Yi melebar, dipandanginya wajah Arya lekat-lekat. Ada perasaan kagum dari sorot matanya kepada pemuda itu.


Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Arya menyunggingkan senyuman ke arah Putri Zhou Jing Yi, sebuah senyuman yang membuat jantung sang putri berdebar kencang. Kemudian tubuh pemuda itu lenyap dari pandangan.