
Ketika semua orang masih terheran-heran, Sang Ratu tahu-tahu menggerakkan jarinya menyentil. Terjadilah satu hal luar biasa. Larikan beberapa sinar biru yang keluar dari ujung jari si gadis berputar menjerat kedua pergelangan tangan Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao. Sinar biru tersebut tidak ada bedanya seperti ikatan seutas tali. Hanya saja tali yang mengikat erat mereka saat itu berbentuk aneh yaitu berupa lingkaran mengeluarkan sinar biru.
Sekejap kemudian Arya baru tersadar, ia hendak berusaha melepaskan ikatan yang menjerat kawan-kawannya itu. Tetapi ternyata dia telah dihadang tembok energi yang diciptakan Sang Ratu.
“Ratu kalau aku memang bersalah, aku minta maaf. Yang salah hanyalah aku sendirian. Harap anda mau membebaskan mereka…” Kata Arya menahan amarah.
Sang ratu goyangkan kepalanya. Dua orang gadis berbaju hijau dan kuning dengan cepat membawa Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao untuk meninggalkan tempat itu.
Melihat hal itu, Arya nampak menggertakkan giginya. Sebuah energi emas luar biasa besar dan kuat segera keluar dari tubuhnya. Suasana serta-merta menjadi mencekam. Seluruh wilayah kerajaan tergoncang hebat, bahkan air danau yang tenang menjadi bergemuruh.
Ruangan itu mendadak panas luar biasa. Semua orang yang ada di sana merasa tubuhnya seperti dipanggang. Dalam suasana mencekam itu, Ratu Qian Yu segera berdiri dan tahu-tahu telah berada di hadapan Arya.
“Tenanglah! Aku hanya akan membawa mereka ke ruangan peristirahatan. Mengenai masalah tewasnya beberapa penjagaku, aku sudah tidak lagi mempersoalkannya.” Berkata Sang Ratu dengan nada bergetar karena terpengaruh tekanan energi emas yang dikeluarkan si pemuda.
Arya menatap lekat-lekat wajah Sang Ratu. Ia mengerutkan dahi karena ada energi aneh yang menghalanginya untuk dapat membaca pikiran gadis dihadapannya itu.
Dengan menghela nafas, pemuda ini kemudian menarik energinya. “Baiklah, aku pegang kata-katamu ratu. Jika sampai ada lecet sedikit saja pada tubuh kawan-kawanku itu. Maka jangan salahkan aku jika kerajaan ini akan ku buat hancur!”
Ratu Qian Yu melebarkan mata. Mendapatkan ancaman di dalam wilayah kekuasaannya sendiri adalah suatu penghinaan besar. Namun dia tidak bisa menganggap remeh ancaman si pemuda. Energi yang dikeluarkan pemuda itu sudah menjadi bukti kuat bahwa si pemuda memang bisa mewujudkan ancamannya tersebut. Maka dengan hati mendidih amarah, Sang Ratu hanya bisa mengangguk tegang.
Sementara itu, Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao tampak masih berusaha melepaskan tali aneh yang menjerat pergelangan tangan mereka. Namun usaha mereka hanya menelan kekecewaan, sebab tali itu bukan hanya sangat kuat tetapi juga dapat melenyapkan energi mereka.
Sang Ratu menatap wajah tampan Arya, namun dia tidak sanggup membaca pikiran si pemuda. Kemudian ia berpaling pada Qian Si dan berkata. “Cepat bawa mereka ke ruangan peristirahatan, untuk sementara jaga ketat mereka.”
Arya sudah tidak lagi mencegah ketika dua gadis berbaju hijau dan kuning membawa Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao.
Terdengar suara gelak tawa, “Ratu, jangan diapa-apakan pemuda itu. Dia adalah calon suami dari cucuku kelak.”
Dada setiap gadis disana terasa berdesir mendengar ucapan Heng Dao. Mereka menatap Arya dengan sorot mata seakan bertanya-tanya. Namun Arya hanya tersenyum-senyum.
“Ikutlah denganku! Kita akan berbicara di tempat lain.” Sang Ratu berkata datar. Ketika dilihatnya pemuda itu mengangguk, maka iapun memutar tubuhnya berjalan menuju pintu yang diatasnya terdapat lampu warna abu-abu.
Arya mengikuti saja tanpa berkata sepatah katapun.
Setelah melalui jalan cukup jauh dan berlikuliku mereka sampai di satu pedataran batu. Semua batu yang menumpuk di sini berwarna putih. Di langit sang surya bersinar sangat terik seolah hanya beberapa jengkal saja di atas kepala.
Arya garuk garuk kepala. Pandangannya menyorot berkeliling. Pemandangan disekitarnya kini tak ubahnya seperti didaratan saja. Disekitar sana terdapat bangunan, taman, pedataran, lalu di sebelah barat malah ada bukit!
“Ratu, kita sekarang berada di mana?” bertanya pemuda ini kemudian.
Sang Ratu hanya tersenyum, ia tetap melanjutkan langkah kakinya sampai kemudian berhenti di sebuah bangku yang berada di tengah-tengah taman bunga.
Sampai disini, Sang Ratu kemudian duduk memandangi bunga-bunga beraneka warna dihadapannya. Sedang Arya sendiri hanya berdiri tegak memandangi sekeliling.
“Saat ini kita berada di atas awan.” tiba-tiba Sang Ratu berkata.
Arya mengerutkan dahi, ia sama sekali tidak merasakan telah melewati portal dimensi atau sejenisnya. Tapi kini tiba-tiba dirinya sudah berada ditempat yang menurut penuturan Sang Ratu adalah atas awan. Dan ia mendengar Sang Ratu kembali berkata,
“Sebenarnya kami adalah sebangsa peri yang terbuang dari dunia atas.”
Arya menoleh, menatap Sang Ratu. “Pantas kalian memiliki kecantikan seperti bidadari.”
Pipi Ratu Qian Yu menjadi bersemu merah mendengarnya. Namun sesaat kemudian, wajahnya tertunduk. Sikap itu membuat Arya menjadi keheranan. Tapi dibiarkan saja Sang Ratu dalam keadaan seperti itu.
Rupanya Sang Ratu sedang hanyut dalam perasaanya. Ia teringat ketika dirinya menjalani hidup di negeri atas awan. Teringat pula ketika dirinya melakukan kesalahan yang membuatnya harus mendapatkan hukuman, di kutuk dan dikeluarkan dari negeri atas awan. Ia baru bisa kembali ke negeri atas awan jika kutukannya tercabut.
Arya yang mengerti perasaan Sang Ratu, segera berkata, “Jika apa yang ingin anda katakan terasa berat dan membuat anda sedih. Lebih baik tak usah dikatakan. Masih banyak pembahasan lain yang bisa kita bicarakan.”
“Ah...” Sang Ratu mendesah. “Seharusnya aku memang tak perlu menceritakannya.” desisnya dalam hati.
Tiba-tiba Sang Ratu menatap serius kepada Arya. “Sewaktu di dalam aula, kau meminta izin untuk mengambil bunga yang ada di pulau. Jadi benarkah Bunga Lily Ekor Kadal yang kau cari?”
Mendengar nama bunga yang dicarinya, Arya menahan diri untuk tidak tertawa. Dia tak menyangka jika Bunga Anggrek Hantu di dunia ini memiliki nama yang aneh bahkan menurutnya menggelikan.
“Ada apa?” Ratu Qian Yu menjadi heran melihat Arya mengulum senyum.
Arya menarik napas dalam-dalam dan melihat sepasang mata biru Ratu Qian Yu yang indah. Wajahnya yang cantik menjadi terlihat lebih menggemaskan ketika memperlihatkan ekspresi keheranan. Wajah cantik itu kini keringatan.
Sang Ratu kemudian mengeluarkan sehelai sapu tangan lalu menyeka keringat pada bagian kening bawah mata serta dagu.
“Ratu, sepertinya anda kepanasan.” ujar Arya.
Ratu Qian Yu mengangguk, “Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawablah pertanyaanku tadi.!”
“Oh...” Arya senyum-senyum, “Ratu, menurut kitab pengobatan yang aku miliki, bunga energi yang aku cari bernama Bunga Anggrek Hantu. Tapi aku tak tahu pasti, mungkin saja bunga yang kau sebut tadi memanglah bunga yang sedang aku cari. Untuk lebih jelasnya, izinkan aku untuk melihatnya sendiri bunga itu.”
Ratu Qian Yu mengangguk, ia mengeluarkan sebuah cermin bundar. “Hampir semua yang terjadi di luaran, dalam kejauhan tertentu bisa ku pantau lewat cermin sakti ini. Waktu kau masih diluar sana, aku sudah melihat gerak gerikmu melalui cermin ini…”
Arya jadi mengerutkan dahi mendengar keterangan itu. Matanya memandang tak berkedip pada cermin yang ada di tangan sang Ratu.
“Jadi dapatkah kau memperlihatkan bunga yang kau sebutkan tadi melalui cermin itu padaku.”
“Banyak hal bisa dilihat lewat cermin ini. Tapi betapapun hebatnya, sebagai benda fana cermin ini tetap memiliki keterbatasan. Cermin ini tidak mampu melihat bunga itu karena adanya segel pelindung yang menyelubungi pulau di danau lembah peri.”
Arya menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tampak kecewa tapi juga keheranan. Kalau cermin itu tak bisa melihat bunga yang ada di pulau, lalu kenapa Sang Ratu mengeluarkan cermin itu.
“Meski aku tak dapat membaca pikiranmu, tapi aku bisa menangkap apa yang sedang kau pikirkan melalui raut wajahmu.” Ratu Qian Yu tersenyum, “Jangan lekas kecewa. Cerminku memang tidak bisa memperlihatkannya langsung. Ini disebabkan karena segel pelindung dipulau itu bukan sembarangan. Kekuatannya yang dahsyat membuat cermin saktiku tidak mampu melakukan sambung energi secara sempurna. Tetapi aku bisa memperlihatkan seperti apa bentuk Bunga Lily Ekor Kadal, karena di kamarku terdapat lukisan gambar bunga itu.”
Ratu Qian Yu kemudian mengusap permukaan cermin yang ada ditangan kirinya dengan telapak tangan kanannya. Arya mengamati cermin itu dengan penuh perhatian, dilihatnya cermin itu mengeluarkan cahaya putih dan selanjutnya muncul gambar di permukaan cermin tersebut. Gambar sebuah bunga berwarna merah darah, bentuknya seperti bibir yang sedang memakai gincu warna merah menyala. Memiliki tiga helai daun yang panjang seperti ekor dan di seluruh bunganya dipenuhi duri-duri kecil.
Arya mengangguk. Bunga itu memang bunga yang sedang dicarinya. Maka kemudian katanya, “Bolehkah aku mengambilnya sekarang? Waktuku sangat terbatas, aku harus menyembuhkan Raja Zhou Lun secepat mungkin.”
“Aku mengerti! Ada nyawa seseorang yang membuatmu terburu-buru. Tapi untuk mengambil bunga itu sangatlah mustahil.”
“Aku sudah mengetahui segala resikonya. Tapi kalau tidak dicoba mana kita tahu bisa atau tidaknya.” sahut Arya.
Ratu Qian Yu merenung sejenak, lalu tiba-tiba gadis ini berdiri. “Baiklah, kau boleh memasuki pulau itu. Tapi ada satu syarat..." Ditatapnya wajah Arya yang mengerenyit.
“Apapun syaratnya akan aku lakukan asal tidak menyalahi kebenaran dan memberatkanku.”
Sekelumit senyuman tersungging di wajah Sang Ratu, “Syarat pertama kau harus kesini lagi menemuiku setelah kau mengobati raja itu.”
Arya menghela nafas, ia tak mengerti maksud Sang Ratu. “Memangnya ada berapa syarat yang harus aku kerjakan?”
“Tiga..” balas Sang Ratu, lalu berjalan meninggalkan taman.
“Huh...” Arya berdecak kesal. Namun meski begitu dia mengikuti saja Sang Ratu.