Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Sihir Hitam


Melihat kakek janggut putih melompat mengambil tombaknya, si kakek kepala botak menautkan kedua tangannya di depan dada dan kedua matanya dipejamkan. Mulutnya komat-kamit, dari ubun-ubun kepalanya mengepul asap hitam.


Kakek botak mengekeh pelan, "Tua keparat, jangan harap kali ini kau bisa bernafas lebih lama."


Kepulan asap yang mengepul di atas kepalanya tersebut kemudian berubah menjadi sepuluh kepalan tangan yang amat besar, berkuku panjang seperti cakar burung garuda yang dengan cepat melesat menerkam ke arah kakek janggut putih.


Menyadari lawannya menggunakan sihir hitam, mata kakek janggut putih membelalak. Menghadapi semua jurus lawannya dia sama sekali tidak gentar, namun menghadapi ilmu sihir tersebut membuat hatinya seketika berdebar.


Dengan memutar tombaknya, dia menerabas maju menyusup di antara kepulan asap hitam. Namun sebelum tombaknya mampu mendekati kakek botak sampai 5 meter, tiba-tiba sebuah tangan bergerak menerkam kakek berjanggut putih. Si kakek tersentak dan buru-buru menghindar tetapi tangan-tangan asap itu masih memburunya dengan ganas.


Kakek berjanggut putih mengayunkan tombak bermata golok miliknya, menebas empat buah tangan asap yang menyerang.


Aneh, meskipun jelas dia berhasil menghantam empat tangan aneh itu namun tombaknya lewat begitu saja seolah-olah menebas udara kosong.


Dan bersamaan dengan itu, salah satu tangan asap telah berkelebat dengan cepat dan...


Breeettt..


Pakaian di bagian dada si kakek janggut putih robek besar, meskipun sempat reflek menarik diri tapi kuku-kuku panjang tangan asap tersebut berhasil membuat lecet kulit dadanya.


Pada bagian luka cakaran tersebut, si kakek merasakan tubuhnya panas dingin. Dengan segera dia menyalurkan Qi nya ke bagian dada yang cidera, hingga rasa panas dingin yang di deritanya berangsur-angsur berkurang.


Belum selesai kakek janggut putih memulihkan diri, di depannya kakek botak mengeluarkan suara tawa mengekeh dan kembali sepuluh tangan asap berkelebat menyerang.


Kakek janggut putih sadar bahwa semua jurus dan tekniknya tidak akan sanggup menghadapi ilmu sihir hitam tersebut. Dia kini hanya bisa mengandalkan energi Qi yang dimilikinya untuk bertahan, namun dia juga paham tidak mungkin akan bisa bertahan lebih lama, cepat atau lambat dia akan celaka juga.


Dalam keadaan tidak menguntungkan, kakek janggut putih terus di desak habis-habisan.


Bocah pengembala yang mengharap agar kakek janggut putih bisa menghajar kakek botak yang telah membunuh kerbaunya tersebut jadi kecewa ketika menyaksikan kakek janggut putih itu terdesak hebat bahkan terancam jiwanya, karena pada saat itu beberapa kali tangan-tangan asap berkuku panjang telah memukul dan mencakar tubuhnya, hingga dalam waktu singkat kakek ini telah mandi darah akibat luka-luka yang di deritanya.


Dengan marah, anak lelaki itu mulai mengumpulkan batu-batu sebesar kepalan dan melempari kakek botak dari kejauhan. Tapi semua batu yang dilemparkan sama sekali tidak dapat mengenai targetnya, karena batu-batu itu mental kembali akibat energi yang menyelubungi si kakek jubah hitam kepala botak.


Meskipun di desak sedemikian hebat, namun kakek janggut putih terus berjuang melawan mati-matian, sama sekali tidak mau menyerah ataupun melarikan diri.


"Tuan, izinkan aku turun membantunya." Ucap Hulao sambil menatap Arya yang masih memasang wajah tenang menatap situasi pertarungan dari atas awan.


"Tidak perlu, aku akan membantunya dari sini." Arya mengeluarkan Seruling Cahaya Malam, yang dalam sekejap ada di genggaman tangan kanannya.


Melihat keadaan kakek berjanggut putih itu, dan khawatir jika tangan-tangan asap tersebut juga akan menyerang dirinya, timbullah rasa takut dalam diri anak pengembala. Tetapi anehnya bocah itu justru masih berdiri di tempat, tidak mau melarikan diri, dia masih berharap bahwa kakek janggut putih akan menang.


Untuk mengusir rasa takut yang menggelayuti hatinya, bocah pengembala tersebut mengambil serulingnya dan mulai meniup. Lagu yang di mainkannya sama sekali tak menentu, rasa takut dan khawatir terhadap keselamatan kakek janggut putih terancam, membuat tiupan serulingnya melengking-lengking tak karuan.


Jauh di atas sana, Arya tersenyum tipis dan lalu memainkan Seruling Cahaya Malam. Tak ada suara yang keluar dari seruling yang dimainkan Arya, namun Hulao dan Honglong jelas merasakan adanya energi dahsyat yang keluar dari Seruling Cahaya Malam dan menuju ke arah kakek botak.


Energi Seruling Cahaya Malam menghantam hancur sepuluh tangan asap, membuat kakek botak tersentak kaget, dia mengedarkan pandangannya guna mencari asal muasal energi yang menghancurkan sihirnya.


Di saat melihat sihir lawannya lenyap dan lawannya justru mengalihkan perhatian, kakek berjanggut putih yang terluka parah melesat maju layaknya banteng terluka mengamuk. Dia melesatkan sebuah jurus matikan, yang bernama 'Awan Menghantam Lautan'


Kakek janggut putih melesat seperti angin, mengacungkan tombaknya ke depan, menerkam lawannya tepat menembus jantung, hingga tanpa suara sedikitpun kakek berkepala botak tersebut tewas seketika.


Melihat pembunuh kerbaunya tersebut mati, anak pengembala itu bersorak gembira dan berjingkrak-jingkrak. "Syukur! Mampuslah! aku puas sekarang."


Kakek janggut putih menarik tombaknya dari tubuh lawannya yang telah tewas. Dengan nafas terputus-putus, si kakek segera duduk bersila untuk memulihkan diri. Beberapa saat kemudian kakek janggut putih membuka matanya, lalu mengeluarkan dua macam obat, yakni beberapa butir pil dan sebungkus obat bubuk.


Pil tersebut ditelannya sampai habis, sedangkan bubuk obat di tuangkan pada luka-luka sekujur tubuhnya. Kemudian dia kembali duduk bersila.


Arya yang melihatnya dari atas mengangguk pelan sebelum turun menukik tajam menuju ke tempat kakek janggut putih.


"Orang tua, luka-lukamu terdapat racun. Minumlah pil ini, ia akan menetralkan racun yang bersarang di tubuhmu."


Mendengar seseorang berbicara dan merasakan adanya sesuatu yang terjatuh di atas pangkuannya, kakek berjanggut putih membuka matanya. Namun bagaimanapun dia mengedarkan pandangannya, tetap saja ia sama sekali tak melihat sosok yang berbicara tersebut. Kemudian pandangannya tertuju ke bawah, dan mendapati botol kaca yang berisi beberapa pil berwana hijau di dalamnya.


Kakek janggut putih mengerenyitkan kening, meski keheranan namun dia dapat mencerna situasi bahwa orang yang memberikan obat tersebut tidak mungkin berniat jahat dan orang misterius itu memang benar-benar ingin menolongnya.


Jikapun orang misterius itu berniat jahat, untuk apa dia memberinya obat. Orang misterius itu bisa saja membunuhnya saat itu juga, karena ia dalam keadaan terluka parah.


Maka setelah menimbang-nimbang, kakek janggut putih tersebut memantapkan diri meminum obat pemberian Arya.


Merasakan efek obat telah bekerja, kakek tua itu kembali menutup mata untuk mempercepat pemulihan. Seutas senyuman tersungging saat dia membuka mata, kakek tua itu tidak menyangka pil pemberian orang misterius tersebut bisa membuat tubuhnya kembali prima dalam waktu sesingkat itu.


Orang tua itu kemudian teringat anak gembala yang duduk termangu di bawah sebatang pohon.


Anak pengembala tersebut memikirkan bagaimana nasibnya jika pulang tanpa membawa kerbau, dia pasti dimarahi majikannya. Masih untung kalau nanti dia di keluarkan dari pekerjaannya, namun jika diharuskan mengganti rugi, dengan apa dia menggantinya, untuk makan saja dia harus bekerja keras setiap harinya.


Selagi termangu memikirkan demikian, bocah itu tersentak saat merasakan tengkuk kerah pakaiannya di cekal orang dan kemudian dirasakannya tubuhnya di bawa terbang.


Bocah itu memandang ke samping, ternyata dia telah di panggul oleh kakek berjanggut putih yang membawanya terbang dengan kecepatan luar biasa, membuat dia merinding ngeri.


"Orang tua, kau mau membawaku kemana?" Ucap bocah itu dengan suara bergetar.


"Nak, kau diamlah! Tak usah banyak tanya."


"Tapi aku harus kembali, memberitahukan majikanku tentang kerbau yang mati itu."


Kakek berjanggut putih tertawa, "Kau anak baik yang tahu artinya tanggung jawab. Tapi lupakan saja majikanmu dan kerbaumu itu. Ku lihat tubuhmu dan ruas tulangmu bagus sekali, sayang kalau di sia-siakan. Aku akan membawamu ke puncak gunung, dan aku akan mengangkatmu murid."


Setelah berkata demikian, kakek berjanggut putih tersebut mempercepat terbangnya.


"Aku... Tapi... Aku..."


Suara bocah itu tersedak karena takut di bawa terbang dengan begitu cepatnya. Diapun akhirnya hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Tanpa sadar, bocah itupun tertidur di atas pundak kakek yang membawanya terbang tersebut.


Arya tersenyum menatap kepergian kakek janggut putih yang membawa bocah pengembala, dia lantas menoleh saat mendengar suara Honglong.


"Tuan, kenapa anda membiarkan tua bangka itu membawa bocah itu?"


"Orang tua itu adalah seorang pelayan dari pertapa Gunung Phoenix. Tidak lama lagi, bocah itu akan menjadi pendekar hebat."


Setelah mengatakan demikian, Arya melesat melanjutkan perjalanan. Hulao dan Honglong mengalihkan pandangan menatap kakek tua yang terbang ke arah selatan. Mereka penasaran dengan pertapa yang di maksudkan Arya.


Dalam keadaan penasaran, mereka baru sadar bahwa Arya sudah terbang jauh. Merekapun segera melesat menyusul tuannya tersebut.