Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kerajaan Danau Lembah Peri


Putri Zhou Jing Yi berdiri tegang, dadanya berdebar-debar melihat mayat-mayat kera raksasa yang terbujur dengan kondisi tubuh terpotong-potong. Ketika ia memandang jenderal Sun Jian, tampaklah sang jenderal itu berdiri termangu-mangu memandangi pedangnya yang bersimbah darah.


Putri Zhou Jing Yi menarik nafas dalam-dalam, ia sudah dapat menerka apa yang telah terjadi disini sebelum dirinya datang. Memang sebelumnya dia telah mendengar suara gaduh hiruk-pikuk pertarungan. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertarungan itu terjadi melawan kera-kera siluman yang sangat besar, seperti mayat-mayat kera raksasa yang dilihatnya sekarang. Ia kemudian mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara siulan.


Dilihatnya, Arya dengan santainya bersiul-siul sambil melompat-lompat antara satu pohon ke pohon lainnya. Pemuda itu terlihat memungut ranting-ranting kayu yang berserakan. Beberapa kali pemuda itu bolak-balik mengumpulkan ranting-ranting kayu yang didapatkannya di area yang agak luas terbuka. Setelah ranting-ranting kayu tersebut terkumpul banyak, barulah si pemuda melompat ke tempat mayat kera raksasa tergeletak. Ia kemudian menyeret mayat kera raksasa yang mungkin seberat ratusan kilogram tersebut dengan entengnya.


Pemuda itu menyeret ke-lima mayat-mayat kera siluman dan meletakkannya di dekat susunan kayu bakar. Tak lupa ia juga mengumpulkan potongan-potongan kaki, tangan serta kepala kera-kera siluman tersebut.


Putri Zhou Jing Yi, Jenderal Sun Jian dan Heng Dao hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh si pemuda dengan perasaan campur aduk. Mereka tidak dapat berkata-kata ketika pemuda itu mulai menguliti mayat-mayat kera raksasa tersebut, memotong-motongnya hingga kecil-kecil dan kemudian menggunakan jurus pengendalian air untuk membilas darah dari potongan-potongan tubuh kera itu hingga bersih.


“Kenapa kalian hanya menonton?!” Berkata si pemuda, “Kemarilah! Bantu aku! Aku bukanlah juru masak kalian. Huuuh..”


Setelah berkata begitu, Arya kembali melanjutkan pekerjaannya membuat bumbu-bumbu dari tanaman-tanaman seadanya yang didapatkannya disekitar tempat itu sambil menggerutu, “Enak saja mereka hanya berpangku tangan. Setelah masakan ini matang mereka pasti ikut-ikutan makan. Huh, dasar pemalas! Orang-orang tak tahu diri!”


Heng Dao menenggak araknya terlebih dahulu sebelum melangkah ke tempat si pemuda. Sesampainya di tempat Arya, orang tua ini duduk disampingnya, ia hanya memperhatikan pemuda itu yang sedang menghaluskan dedaunan dan cabai diatas lempengan batu.


Arya mengerutkan keningnya, “Orang tua, apa yang kau kerjakan disini?”


“Gluuukk..” Heng Dao menenggak araknya, kemudian tertawa, “Tentu saja menunggu masakanmu matang.”


“Tua Bangka tak tahu diri!” Cibir Arya, “Kalau tak mau bantu, artinya tak ada makanan untukmu. Minum saja arakmu itu sampai perutmu kembung!”


Sekali lagi Heng Dao menenggak araknya, kemudian ia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas. “Diantara potongan-potongan daging kera itu, dua diantaranya adalah hasil tangkapanku, jadi aku minta bagian makanan milikku.”


“Ambil saja dua kera milikmu itu. Kau masaklah sendiri!”


Tanpa membalas ataupun menanggapi ucapan Arya, Heng Dao berjalan ke tempat potongan-potongan tubuh kera raksasa yang telah dikuliti dan di gantung di atas dahan pohon. Orang tua ini melompat dan melayang di udara. Sambil angguk-anggukan kepalanya, tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam potongan daging tersebut.


Nampaklah di tangan si orang tua itu kini tergenggam sebuah bola berukuran sekepalan tangan yang bersinar biru kehitaman agak redup. Dan ia juga mengambil beberapa bola yang sama dari potongan-potongan daging lainnya.


Setelah mendapatkan lima bola yang bersinar biru kehitaman tersebut, Heng Dao kemudian kembali ke tempat Arya yang masih sibuk dengan pekerjaannya di atas lempengan batu besar.


“Apa kau juga akan memasak mustika siluman ini?” Heng Dao menyodorkan kedua tangannya yang menggenggam lima bola yang bersinar biru kehitaman ke arah Arya.


Sekilas Arya memperhatikan benda yang ditunjukkan oleh si orang tua. Kemudian seperti tidak perduli ia kembali melanjutkan pekerjaannya. “Benda itu terlalu keras untuk dimakan. Tapi kalau kau menginginkannya, makan sajalah.”


Heng Dao mengerutkan dahi. “Apa kau tak tahu benda apakah ini?”


“Tentu saja tahu...” Balas si pemuda singkat. Lantas ia mulai mengumpulkan bumbu yang sudah dihaluskannya tersebut di atas daun pisang.


Sambil memandang ke arah jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Pemuda ini berkata, “Kenapa kalian masih berdiri disana?!”


Jenderal Sun Jian menarik nafas dalam-dalam. Perbuatan Arya beberapa saat lalu masih mendebarkan dadanya. Ia paham betul bahwa dalam pertarungan terkadang tindakan membunuh memang diperlukan. Tetapi cara yang dilakukan pemuda itu dalam membunuh siluman-siluman tersebut dirasanya terlalu berlebihan dan terkesan kejam.


Putri Zhou Jing Yi yang tidak menyaksikan pertarungan secara langsung saja juga dibuat berdebar-debar melihat pemuda itu mencincang-cincang tubuh kera raksasa tanpa rasa jijik atau bersalah sedikitpun. Sebagai seorang yang hidup dalam lingkungan kerajaan, ia memang jarang melihat darah apalagi melihat tubuh yang di potong-potong sedemikian rupa.


Mereka berdua masih berdiri di tempat, dan dilihatnya Arya melompat dari batu yang dipijaknya, kemudian mengambil potongan-potongan daging yang tergantung di atas dahan. Begitu yang di lakukan oleh si pemuda berulangkali sampai daging-daging yang tergantung di dahan pohon telah dipindahkan semuanya di atas lempengan batu besar.


Kemudian terdengar Arya berkata, “Orang tua, bantulah bakar tumpukan kayu itu!.”


Heng Dao menatap si pemuda dengan perasaan heran. “Bukankah, kau seorang Alkemis? Bakarlah sendiri kayu itu dengan elemen apimu.” Si orang tua dengan acuh tak acuh menenggak araknya, lalu duduk di atas batu.


Mendengar demikian, menjadi semakin heran-lah si orang tua. “Anak muda, aku tahu aku memang sudah mabuk, tapi aku tidaklah bodoh. Kau itu seorang Alkemis, bagaimana mungkin seorang Alkemis tak bisa mengeluarkan api.”


Arya terdiam, dia sadar telah salah bicara. Maka untuk sesaat ia memikirkan alasan untuk menjawab si orang tua. Sesaat kemudian pemuda ini berkata, “Tentu saja aku memilikinya. Energi elemen apiku saat ini sedang habis, jadi untuk sekarang aku tak bisa mengeluarkannya.” pandangannya lalu tertuju ke arah jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi yang tengah berjalan ke tempatnya.


“Habis? Apa maksudmu?” Berkata Heng Dao sambil mengerutkan dahi. Tetapi Arya telah melompat dari tempatnya.


Ketika pemuda itu sudah menjejakkan kakinya, berdiri di hadapan jenderal Sun Jian. Berkatalah ia, “Tuan, bantulah aku membakar tumpukan kayu itu.” ucapnya sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu.


Jenderal Sun Jian mengerutkan dahi tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Maka tanpa membuang waktu, iapun kemudian berkelebat ke tempat tumpukan kayu. Sang jenderal memukulkan tangannya ke depan yang bersamaan dengan itu pula, maka dari tangannya itu meluncur lidah api yang menyambar tumpukan kayu tersebut hingga terbakar.


*****


Seorang gadis cantik jelita mandi sepuas hatinya di bawah pancuran. Separuh tubuhnya terendam dalam air kolam. Kedua tangannya sibuk menggosok lengannya yang putih bersih, kemudian menggosok sekujur wajahnya yang berparas indah bagaikan rembulan. Gadis ini mandi masih mengenakan pakaian tipis yang menutupi sebatas dada sampai ke paha. Sangking tipisnya pakaian itu sehingga setiap lekukan tubuhnya membayang jelas menggoda.


Sesaat kemudian, pintu putih yang di atasnya ada lampu berwarna merah terbuka, lalu menyusul pintu putih di sebelah kiri yang ada lampu hijau. Dua orang gadis berparas cantik berkulit putih, satu memakai baju panjang warna hijau, satunya lagi warna kuning melangkah ke arah kolam.


Pakaian yang dikenakan kedua gadis ini terbuka lebar di bagian punggung dan sangat rendah di bagian dada sehingga punggungnya yang putih tersingkap dan sebagian payu daranya tersembul di ujung atas pakaian sebelah depan. Pada pinggir kiri pakaian panjang itu terdapat belahan tinggi sampai ke pangkal paha. Karenanya, setiap langkah yang dibuat, menyebabkan aurat gadis-gadis cantik ini tersingkap lebar memperlihatkan auratnya sebelah kiri, putih dan sangat mulus.


“Ada keperluan mendesak apa sampai kalian berani mengganggu mandiku?” tanya gadis yang mandi di kolam.


Kedua gadis yang baru masuk itupun segera berlutut. Kemudian gadis yang berpakaian kuning berkata, “Ampun Ratu, kedatangan kami adalah untuk mengabarkan bahwa di luar sana ada beberapa manusia yang telah memasuki wilayah kita. Mereka bahkan membunuh penjaga kita di sebelah tenggara.”


Gadis yang berendam, yang dipanggil ratu tersebut serta merta bangkit berdiri. “Pindahkan Kaca Penyambung Mata ke ruangan ini!” serunya.


Gadis berbaju kuning tadi, silangkan kedua lengannya di atas kepala. Mulutnya merapal sesuatu. Ketika kedua lengan itu ditarik dan dipukulkan ke samping, di tengah ruangan tersebut tiba-tiba saja terlihat sebuah layar lebar. Di dalam layar tersebut memperlihatkan bayangan seorang pemuda berbaju coklat tengah memakan daging panggang dengan rakusnya. Pemuda inilah yang sebelumnya dilihat oleh kedua gadis tersebut telah membunuh siluman kera penjaga.


Tak jauh dari si pemuda, terdapat pula tiga manusia yang juga tengah memakan daging panggang. Namun yang menjadi pusat perhatian mereka ialah si pemuda tersebut.


“Keparat! Daging yang dimakannya itu pasti daging siluman kera.” Geram gadis berpakaian kuning dalam hati.


Sementara itu, Sang Ratu memperhatikan pemuda yang ada di layar dengan pancaran sinar mata aneh. Sang ratu kemudian tersadar kalau barusan dia dibawa oleh perasaannya sendiri. Pada saat itu didengarnya pembantunya berkata,


“Kami menunggu perintah, Ratu.”


“Untuk sekarang, kalian tidak perlu melakukan apa-apa. Awasi terus mereka! Mungkin mereka hanya kebetulan lewat di wilayah kita. Apabila mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan, barulah kita bertindak.” Balas Sang Ratu.


Kedua gadis itu mengangguk.


Sang Ratu kembali memperhatikan wajah si pemuda dilayar. “Pemuda yang menarik.” desisnya. “Aku melihat pancaran energi emas pada tubuh pemuda itu. Cobalah kalian perhatikan…”


Kedua gadis berpakaian hijau dan kuning letakkan tangan kanannya di atas kedua matanya masing-masing, seolah-olah seperti orang yang memandang ke arah sumber yang menyilaukan atau sinar matahari. Apa yang dikatakan Ratu ternyata benar. Keduanya kini dapat melihat pancaran energi emas memancar kuat dari pemuda itu. Pucatlah wajah mereka!


“Hanya ada satu orang yang memiliki energi emas semacam itu, mungkinkah dia.…” desis gadis berbaju hijau.


“Tidak mungkin, orang itu telah tewas ratusan tahun yang lalu...” sahut gadis berpakaian kuning.


“Benar, lagipula energi emas ditubuh pemuda itu sangat berbeda dengan miliknya.” Berkata Sang Ratu. “Sudahlah, kalian kembalilah. Aku akan meneruskan mandiku.”