
Di atas langit, seorang pria tua berambut putih sedang bertarung dengan Yihong Duan dan 3 orang lainnya. Meskipun di keroyok, namun pria tua itu nampaknya sanggup mengimbangi bahkan sedikit lebih unggul.
Pria tua itu terlihat telah mendapatkan banyak luka akibat pertarungan, sedangkan ke-empat lawannya sama sekali tidak mengalami luka, hanya pakaian mereka saja yang terkoyak.
Berkali-kali pria tua itu berdecak kesal, dia di buat terkejut dan keheranan saat setiap kali dapat mendaratkan serangan namun yang di serang justru seakan tidak dapat mati, tubuh mereka kembali utuh seolah memiliki tubuh abadi.
"Teknik apa yang mereka gunakan, jika begini terus bisa-bisa aku akan kelelahan dan kehabisan energi." Sambil terus bertahan dan menyerang, pria tua itu mengamati tubuh lawannya, berusaha mencari kelemahan mereka.
Dalam segi kultivasi dan teknik serangan, jelas pria tua itu lebih unggul daripada ke-empat lawannya, namun dengan adanya energi kegelapan dan regenerasi tubuh yang dimiliki ke-empat lawannya tersebut, pria tua itu menjadi kewalahan.
Benturan dan ledakan maha dahsyat terus terjadi di atas langit membuat semua orang di bawah sana terkadang merasa ngeri mendengarnya.
Andai pertarungan itu terjadi di daratan, maka seluruh kawasan istana kemungkinan telah hancur menjadi puing-puing akibat benturan serangan dari pertarungan mereka.
Pria tua itu kembali memberikan serangan energi kuat kepada salah satu lawannya, bentuk energi tersebut mirip dengan paruh gagak berwarna ungu tua.
Melihat adanya serangan besar mengarah padanya, Yihong Duan dengan cepat memukulkan tombak pusakanya secara mendatar.
Sungguh mengejutkan, dari ujung tombak tersebut muncul gelombang energi seperti petir merah yang sangat besar meluncur menyambut serangan tersebut.
Dua energi kuat itupun bertemu dan menciptakan kepulan asap tebal sejauh ratusan meter. Gelombang kejutnya membuat langit seolah terguncang.
Diatas langit terdengar suara bergemuruh layaknya guntur hingga daratan ikut bergetar merasakan kekuatan energi tersebut.
Yihong Duan merasakan tubuhnya sangat panas terkena gelombang energi dari serangan lawan, sementara pria tua beralis biru masih melayang tegak dengan sikap tenang. Yihong Duan satu kali memuntahkan darah segar merasakan tubuhnya seakan remuk, kedua tangannya buntung namun dengan cepat kembali tumbuh seperti sediakala.
Pria tua itu nampak tersenyum kecut, kali ini dia merasa tidak yakin dapat menang melawan ke-empat lawannya tersebut.
Namun walau begitu, pria tua itu tidak dapat mundur dari pertarungan, ada ribuan nyawa yang harus dia selamatkan. Jika para penyerang kerajaan ini masih dibiarkan bernafas, kemungkinan semua keluarga kerajaan akan habis di bantainya.
Pria tua itu yang tidak lain adalah Hao Cun kembali berfikir keras mencari titik kelemahan ke-empat lawannya, tidak mungkin mereka tidak memiliki kelemahan.
Walau ke-empat lawannya selalu saja bisa terus pulih dari setiap lukanya, pasti ada satu titik yang dapat membuatnya tewas, tapi sampai saat ini Hao Cun belum dapat menemukan titik tersebut.
Hao Cun kembali maju saat melihat dua lawannya melesat kearahnya, pedang pria tua itu diselimuti aura energi berwarna ungu pekat.
Pertarungan jarak dekat pun kembali terjadi di ketinggian, Hao Cun mengayunkan pedang pusakanya berniat menebas leher salah satu lawannya. Ternyata energi pedang pusaka inilah yang membantu pria tua itu menghadapi tekanan energi kegelapan yang menyelimuti lawannya.
Beruntung yang di serang berhasil selamat karena Yihong Duan tiba-tiba muncul dan dengan cepat menangkis tebasan pria tua itu.
Benturan senjata mereka menggema menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke semua penjuru langit, membuat semua orang kembali memalingkan pandangannya melihat ke atas langit.
Mereka menyaksikan kilatan energi yang sangat besar menyeruak menghempaskan semua awan yang ada di sana.
Pertarungan sebesar itu jarang sekali terjadi, bahkan mungkin ini merupakan tontonan sekali se-umur hidup, itulah alasan semua orang selalu menyempatkan diri untuk melihatnya.
Terlihat mereka sama-sama termundur sejauh puluhan meter, mereka semua merasa pertarungan ini akan berjalan sangat panjang, membuat Hao Cun terus berdecak kesal mengumpati ke-empat lawannya tersebut dalam hati.
Pria tua itu mengalihkan pandangannya ke arah istana, dia memperhatikan para prajurit telah banyak yang terpojok, sebagian bahkan sudah tergeletak kaku menjadi mayat.
'Sial, ini tidak dapat dibiarkan. Aku harus cepat...'
Tidak ada pilihan lain bagi Hao Cun selain mengeluarkan jurus pamungkasnya, mau tidak mau dia harus berusaha menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat.
Hao Cun segera menggigit salah satu jari tangannya hingga berdarah, selanjutnya darah itu di oleskannya pada permukaan pedang.
Pedang Hao Cun seketika berubah bentuk menjadi lebih besar, dari pangkal gagangnya tumbuh banyak akar lebat, yang kemudian akar itu merambat masuk ke dalam kulit tangan Hao Cun.
Pedang tersebut kini memancarkan cahaya berwarna merah terang, energi kuat itu dengan cepat merembes masuk ke dalam tubuh pria tua itu melalui akar-akar halus pada tangannya.
“Aaaaaaaaah!” Pekik Hao Cun keras.
Kini tubuhnya di selimuti energi merah yang sangat pekat, energi itu semakin lama semakin membesar, angin seketika seolah berhenti. Saking besarnya, bagian energi itu memancar tinggi ke atas langit membuat langit biru dipenuhi kilatan merah.
Yihong Duan dan ke-tiga tetua Iblis Berdarah lainnya seketika melebarkan mata menyaksikan hal itu, namun sesaat kemudian mereka juga menggigit ujung ibu jari mereka sampai berdarah, lantas setelah itu darah tersebut di oleskannya ke tengah kening.
Sekejap kemudian, aura kegelapan mengeruak semakin pekat menyelimuti tubuh ke-empat tetua Iblis Berdarah tersebut, aura itu lebih pekat dan lebih mengerikan, membuat bulu kuduk setiap orang langsung berdiri merasakan hawa yang mencekam. Tumbuh sepasang tanduk di kepala mereka, taring dan kuku-kuku mereka juga memanjang. Nampaknya ke-empat tetua Iblis Berdarah tersebut juga sedang menggunakan teknik pamungkas mereka.
Selarik cahaya berwarna hitam terang berbentuk bulan sabit sedang meluncur cepat menuju ke arah ke-empat tetua Iblis Berdarah.
Energi serangan itu sangat besar hingga menyamai ukuran dua batang pohon kelapa, membuat mereka ber-empat segera melesat terbang lebih tinggi untuk menghindar.
Namun tetap saja tubuh mereka terlempar jauh karena serangan Hao Cun langsung meledak tepat ketika mereka hendak menghindar.
Tubuh ke-empat tetua Iblis Berdarah tersebut terlontar tinggi layaknya layangan putus terombang-ambing di angkasa sebelum akhirnya berhenti setelah dapat mengendalikan diri.
****
Arya terus terbang menuju ke istana, dia berhenti ketika terjadi ledakan di langit. Dilihatnya seorang pria tua berambut putih dan beralis biru tengah kewalahan menghadapi 4 tetua dari Sekte Iblis Berdarah.
Diam-diam pemuda itu mengukur kemampuan mereka, pria tua beralis biru yang tidak lain adalah Hao Cun berada di tahap Pendekar Pertapa tingkat 3, sementara 4 tetua Iblis Berdarah yang mengepungnya, semuanya adalah pendekar suci yang hampir mencapai puncak.
Perhatian pemuda itu beralih menatap gadis kecil yang terlihat memasang wajah datar, Arya tersenyum tipis seolah menemukan sesuatu yang dia cari. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda itupun lantas menukik turun.
Selagi menjejakkan kaki ke daratan, dia juga mengibaskan tangannya, menghempaskan seluruh orang yang bertarung di sekitar tempat itu. Dengan bersiul-siul, pemuda itupun menghampiri gadis kecil yang wajahnya selalu memasang ekspresi datar.
"Gadis kecil, maukah kau bermain-main dengan kakak." Bertanya Arya dengan seringai tipis.