
Pertempuran manusia tiga lawan satu itu, berlangsung penuh kehebatan dan mendebarkan. Sedikit saja seseorang membuat gerakan yang salah, pastilah salah satu bagian tubuh mereka akan dimakan pedang atau pukulan. Sinar biru dari pedang Tiat Sim dan dua rekannya bergulung-gulung membungkus tubuh sosok topeng tengkorak.
Berkali-kali sosok topeng tengkorak telah terkena tebasan pedang ketiga lawannya. Akan tetapi seperti menghantam baja saja, tubuh itu tidak terpotong bahkan tergores pun tidak!
Sedangkan Tiat Sim dan dua rekannya jika saja tidak memiliki ilmu pedang yang lihai serta kegesitan yang luar biasa, sudah sejak tadi-tadi mungkin mereka akan menjadi mayat seperti ke-empat rekannya yang telah terbunuh oleh sosok bertopeng tengkorak tersebut. Hal itu maklum saja karena mereka adalah saudara seperguruan dari Sekte Pedang Tunggal. Kultivasi mereka juga sama-sama berada di tahap Pendekar Raja hanya selisih tingkatnya saja.
Tiat Sim berkelebat laksana bayang-bayang. Pedangnya bersinar biru membabat kian kemari dalam rangkaian jurus-jurus lihai yang dipelajarinya secara sempurna dari Sekte Pedang Tunggal.
“Manusia Iblis Keparat!” rutuk Tiat Sim. “Kalaupun aku harus mati, kau juga harus mati!”
Dengan amarah yang meluap Tiat Sim memutar sebilah pedangnya dalam jurus gerakan yang indah dan mematikan.
Sosok topeng tengkorak tertawa pendek yang terkesan mengejek, kejap kemudian ia melompat tiga tombak ke udara. Laksana seekor elang tubuhnya menukik kearah Tiat Sim dan sedetik kemudian kedua orang itu sudah saling beradu diudara. Pedang dengan lengan!
Traaaangg! Blaaarrr!
Tiat Sim berseru keras. Dia terpental sampai sepuluh tombak, tubuhnya bergulingan, mukanya pucat bahkan pedangnya patah. Dia memang sudah tahu bahwa energi lawannya jauh lebih tinggi darinya. Namun meski demikian dia sama sekali tak gentar, ia memang telah bertekad kuat untuk membalaskan kematian saudara-saudara seperguruannya, kalaupun hal itu harus ditebusnya dengan nyawanya sekalipun. Maka tanpa memperdulikan tangannya yang terasa sakit iapun segera bangkit, namun baru saja ia berdiri pandangannya menjadi gelap. Tiat Sim memuntahkan darah, tubuhnya kemudian roboh tertelungkup.
Sementara itu, topeng tengkorak juga mengalami luka pada bagian lengannya yang tadi dipergunakannya untuk beradu dengan pedang Tiat Sim. Baju panjang yang menutupi lengan itu kini telah robek sebatas siku, sedang lengan itu sendiri kelihatan bengkak membiru. Tampaklah darah hitam keluar dari goresan pada lengan sosok topeng tengkorak tersebut.
Tetapi topeng tengkorak tidak ada waktu untuk memperhatikan luka pada lengannya itu. Karena kini ia harus segera mengelak dari serangan tebasan pedang yang memancarkan sinar biru bergulung-gulung dari dua lawannya. Topeng tengkorak berkelebatan kesana kemari mengandalkan kelincahannya menghindari setiap ancaman pedang dua lawannya itu. Sesekali ia menangkis menggunakan lengan kirinya karena lengan kanannya masih terasa pedih bukan main.
Lelaki berwajah lonjong mengayunkan pedangnya yang kini mengeluarkan kobaran api, melintang dari bawah ke atas. Sinar biru membayang mengikuti tebasan pedangnya tersebut. Itulah jurus ‘Membelah Samudera’. Serangan ini dilakukan dari jarak jauh.
Sepasang mata dibalik topeng tengkorak keliatan mencorong tajam. Rupanya ia telah mengenali jurus tersebut. Akan tetapi anehnya dia tidak mengelak, sebaliknya ia tetap berdiri ditempat dan lambaikan tepi jubah sebelah kiri. Sekali pukul saja maka buyarlah lesatan tebasan api yang mengarah kepadanya tersebut! Tapi betapa kagetnya topeng tengkorak ini karena begitu buyar, lesatan api itu kembali dan masih melaju menyerangnya. Malah kini lebih dahsyat lagi, karena kali ini pecahan lesatan tebasan api itu sekaligus menyerang ke arah dua belas jalan darah yang mematikan ditubuhnya!
Topeng tengkorak keluarkan gerengan macam serigala mengamuk. Kemudian cepat sekali, ia mengangkat tangan kirinya dengan jari tangan terbuka, mendorong sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
Sadar bahwa rekannya dalam ancaman maut. Laki-laki berbadan gempal cepat-cepat tebaskan pedangnya, ditujukan ke arah lesatan sinar ungu yang keluar dari pukulan topeng tengkorak.
Booooom...
Ledakan keras berdentum membahana! Hutan itu sekejap menjadi terang. Dua lesatan api dari tebasan pedang laki-laki berwajah lonjong dan laki-laki berbadan gempal dibuat hancur. Akan tetapi sinar ungu pukulan sosok topeng tengkorak masih menderu ganas. Mengarah menargetkan laki-laki berwajah lonjong!
Dengan gerak reflek laki-laki berwajah lonjong cepat-cepat menggeser kakinya ke kiri, kemudian tubuhnya dibuang ke samping. Namun angin besar menderu-deru telah menerpa tubuhnya.
Wuuuuuusshh... Duuuarr...!
Kembali ledakan keras terdengar! Tanah menjadi bergetar! Beberapa pohon dibelakang laki-laki berwajah lonjong roboh dengan keadaan hangus lalu kejap selanjutnya hancur menjadi abu.
“Ha-ha-ha, mampuslah kau! Sekarang tinggal kalian berdua!” kata topeng tengkorak dengan suara berat seperti suara yang berasal dari dasar jurang.
Untuk beberapa saat laki-laki berbadan gempal tegak mematung. Pandangannya terbelalak menatap tempat dimana rekannya tadi berdiri. Kini tempat itu telah porak poranda. Meski tidak mendapati lagi tubuh rekannya disana namun dia maklum bahwa serangan tadi telah menewaskan laki-laki berwajah lonjong menjadi abu.
Karena mengalami goncangan batin atas tewasnya teman sekaligus saudara seperguruannya itu, laki-laki berdandan gempal ini tak menyadari bahwa sosok bertopeng tengkorak telah berkelebat ke arahnya, dan telah siap pula melancarkan pukulan ganas.
Pada saat yang amat gawat bagi laki-laki berbadan gempal itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu telah berdiri tegak membelakanginya. Orang itu memakai pakaian putih-putih dengan rambut yang juga putih pula.
Wajah di balik topeng tengkorak mengerenyit! Ia sama sekali tidak dapat melihat ataupun merasakan pergerakan pemuda tampan berambut putih yang tiba-tiba muncul ikut campur dalam urusannya itu. Meski amat kesal pada pemuda itu, namun dia tidak bodoh. Kemunculan pemuda itu sudah jelas menunjukkan bahwa pemuda itu bukanlah orang kacangan. Maka iapun dorongkan sepasang lengannya bertubi-tubi, ia membatalkan niatnya yang hendak menyerang jarak dekat.
“Anda beristirahatlah, biar sekarang orang ini aku yang melayaninya.” setelah mengatakan begitu, pemuda berambut putih itu kibaskan lengan kanannya. Maka bersamaan dengan itu pula muncullah tembok es yang memblok semua lesatan sinar ungu yang datang mencurah bagikan hujanan peluru sangking cepatnya.
Ledakan beruntun pun terjadi! Asap hitam bergulung-gulung menutupi pemandangan.
Topeng tengkorak tak berani gegabah, ia cepat berjungkir balik agar laju terbangnya terhenti dan lalu mendarat di tanah. Sepasang mata di balik topeng tengkorak itu menyorot tajam penuh perhatian, memandangi kepulan asap yang tercipta dari serangkaian pukulan jarak jauhnya. Sikapnya pun demikian waspada. Ia sadar lawannya kali ini tak akan mungkin dapat dengan mudah dikalahkan.
“Minumlah obat ini, dan berikan sisanya pada teman-teman anda.” ucap pemuda berambut putih itu yang bukan lain adalah Fei Lun. Sikapnya nampak tenang. Ia memberikan beberapa pil berbentuk bulat berwarna putih kepada laki-laki berbadan gempal.
Laki-laki berbadan gempal nampak mematung, ia memandangi pemuda itu dengan penuh selidik. Ada kecurigaan dari sorot matanya itu. Akan tetapi dia sontak terperanjat ketika mendadak pemuda dihadapannya itu lenyap seolah seperti hantu yang dapat menghilang dan muncul sesuka hati. Tak berselang lama terdengarlah suara benturan-benturan energi. Menuruti rasa penasarannya, laki-laki berbadan gempal inipun lantas melongokkan kepalanya di sudut tembok es yang tadi diciptakan oleh si pemuda untuk menahan serangan lawan. Maka terlihatlah pemuda berambut putih itu kini telah bertarung dengan sosok topeng tengkorak. Pertarungan yang amat cepat dan menegangkan!
Sangking terpukau oleh gerakan-gerakan indah dan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa cepat, yang dipertunjukkan oleh pemuda berambut putih, laki-laki berbadan gempal jadi mematung. Sesekali ia kedip-kedipkan matanya saat pandangannya menjadi kabur oleh kilatan-kilatan cahaya yang tercipta dari benturan serangan dua orang yang sedang bertarung tersebut. Namun kemudian dia teringat bahwa kondisi Tiat Sim sedang terluka, lantas tanpa menghiraukan lagi jalannya pertarungan, iapun bergegas menuju ke tempat Tiat Sim yang tergeletak tak sadarkan diri.
Topeng tengkorak yang maklum bahwa pemuda lawannya ini tidak mungkin dapat ditundukkan dengan serangan-serangan biasa, iapun tidak main-main lagi. Mulailah ia pergunakan jurus yang memiliki gerakan-gerakan aneh sekali, kaku seperti gerakan mayat namun setiap kali menggerakkan kaki tangan, ada hawa panas menyambar.
Melihat lawannya menggerakkan tangan kanannya, melepaskan pukulan mengandung energi racun mematikan, Fei Lun pemuda berambut putih cepat berkelebat lenyap sebelum topeng tengkorak lepaskan pukulan tangan kosong.
Lompatan yang dilakukan mendahului serangan lawan memang menyelamatkannya dari serangan. Di bawah kakinya menderu angin panas menyambar ganas. Fei Lun merasakan kedua kakinya seperti disambar api. Secepat kilat iapun jungkir balik di udara.
Ketika tubuhnya melayang datar di udara, dia segera lepaskan jurus ‘Pukulan Bunga Menebar Keharuman’. Tangan kiri memegang perut. Tangan kanan diluruskan ke arah lawan. Mulut ditiupkan keras-keras. Serangkum angin berwarna biru yang menebar bau harum bunga melati mambuntal menerpa Topeng Tengkorak!
Sebelum buntalan sinar biru menyentuh dan mencelakinya, Topeng Tengkorak langsung menghantam dengan pukulan sakti bernama ‘Iblis Meminta Nyawa’. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas. Lima jari tangan membentuk tinju. Tiba-tiba tangan itu disentakkan ke bawah lalu dihantamkan ke atas. Bersamaan dengan itu lima jari yang tadi mengepal dibuka serentak.
Terdengar suara berdentum laksana gunung meletus. Hawa panas menyambar. Ranting-ranting dan daun-daun pepohonan meranggas hangus. Salju yang membungkus tempat itu mencair seketika. Buntalan sinar biru yang dilepaskan Fei Lun buyar sirna.
Mendapati jurusnya kalah, Fei Lun tersenyum mengejek. Ia memang mempergunakan seperempat kekuatannya. Akan tetapi diam-diam dia mengakui kehebatan lawan. Ia tak menyangka bahwa di Kekaisaran ini terdapat orang sehebat lawan yang dihadapinya kali ini.
Fei Lun menyeringai, dan tiba-tiba tubuhnya lenyap. Yang terdengar kemudian adalah suara ledakan dua kali beruntun akibat dua larik sinar yang dilontarkan Topeng Tengkorak meledak menghancurkan pepohonan.
Brukkkk...!
Topeng tengkorak sama sekali tak mengerti ketika tiba-tiba tubuhnya mental sampai sembilan tombak, pakaiannya robek hampir di setiap bagian sedang dari hidung dan sela bibirnya yang tertutup topeng tengkorak mengucurkan darah!
“Lekas terangkan siapa dan apa tujuan kalian sebenarnya?” hardik Fei Lun yang pada saat itu telah berdiri sambil menginjak dada Topeng Tengkorak.
Topeng tengkorak berusaha memberontak namun tenaganya seolah terkunci. Iapun mendengus lantas menjawab dengan suara menantang, “Biar kau bunuh sekalipun, aku tak akan memberikan keterangan apapun.”
“Hmmm, tolol! Kau mau bilang atau tidak?!” kaki Fei Lun yang dipergunakan untuk menginjak itupun ditekan semakin kuat.
Muka Topeng Tengkorak meringis kesakitan. Namun kali ini ia mengunci rapat-rapat mulutnya. Bahkan kalau keadaan benar-benar mendesak, ia bertekad akan melakukan bunuh diri.
Fei Lun tersenyum sinis. Diulurkannya tangannya untuk kemudian membuka topeng itu. Maka terlihatlah wajah dibalik topeng tengkorak yang mengerikan itu. Wajah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan. Mukanya pucat dan kaku seperti mayat, bibirnya biru. Pada bagian lingkaran hitam dimatanya itu amat kecil seperti setitik tinta.
“Hmmm... Sepertinya kau memang mempelajari ilmu sesat... Tak heran kalau kau bisa memiliki kemampuan sehebat ini.”
Fei Lun menggerakkan tangannya, mencengkeram tangan orang itu. Sekali remas saja maka hancurlah telapak dan jari jari tangan kanan sosok Topeng Tengkorak! Laki-laki itu menjerit kesakitan dan memaki habis-habisan!
“Itu masih belum apa-apa,” ujar Fei Lun dingin. “Kalau kau tetap membangkang tak mau kasih keterangan, seluruh tubuhmu akan ku bikin hancur! Lekas katakan!”
Meski dalam keadaan kesakitan seperti itu, namun orang itu tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Hal ini membuat Fei Lun kesal bukan main.
“Sebenarnya aku tidak suka menyiksa orang. Tapi karena kau keras kepala maka rasakanlah..” Sekali tangan Fei Lun memelintir pergelangan tangan sosok topeng tengkorak itu, maka terdengarlah suara gemeretak tulang patah.
Pergelangan tangan sosok topeng tengkorak tersebut patah! Tulang tangannya keliatan mencuat keluar mengucurkan darah!
Tentu saja hal ini membuat topeng tengkorak meraung-raung kesakitan. Tubuhnya bergelojotan seperti ayam yang di sembelih! Sungguh amat menyayat-nyayat hati!
“Ayo lekas kau katakan! Kalau tidak kau akan merasakan siksaan sampai setengah mampus!” teriak Fei Lun.
“Demi setan.. pemuda Keparat! lebih baik bunuh aku!” dengan suara bergetar karena kemarahan, kebencian dan kesakitan, sosok topeng tengkorak membentak menantang.
Fei Lun mendengus marah. Akan tetapi ketika melihat gelagat aneh dari sosok bertopeng tengkorak itu, Fei Lun yang sudah berpengalaman segera menotok urat pada bagian belakang telinga orang itu. Membuat orang bertopeng tengkorak tersebut tidak bisa meneruskan tindakannya yang hendak bunuh diri dengan cara mengigit lidahnya sendiri.
Pada saat itu, Tiat Sim bersama laki-laki berbadan gempal berjalan mendekat. Setelah hanya berjarak dua tombak, Tiat Sim tiba-tiba melompat seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bermaksud menebas putus batang leher sosok bertopeng tengkorak tersebut.
Tentu saja Fei Lun yang ingin memeras keterangan dari sosok topeng tengkorak tidak akan membiarkan tindakan Tiat Sim begitu saja. Maka diapun mengayunkan tangannya ke arah Tiat Sim. Selarik sinar putih tipis melesat cepat menotok jalan darah Tiat Sim hingga membuatnya mematung dan lalu jatuh ke tanah dengan tubuh kaku.
“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membela manusia iblis itu.” bentak laki-laki berbadan gempal dengan pedang terhunus ke depan, mengacung ke arah Fei Lun.
“Tenanglah..” Fei Lun tersenyum hangat, “Aku tahu kalian memiliki dendam dengan orang ini, akan tetapi lebih baik kita memeras keterangan dari orang ini terlebih dahulu.”
Laki-laki berbadan gempal menatap lekat-lekat pada Fei Lun. Pada situasi seperti ini, memang bisa saja pemuda itu memiliki maksud terselubung. Namun melihat wajah tenang pemuda itu dan pancaran matanya yang menunjukkan kejujuran, iapun menarik nafas dalam-dalam.
“Baiklah, aku mengerti! Tapi biarkan aku yang memaksanya agar dia mau membuka mulut!” ucap laki-laki berbadan gempal itu dengan tegas.
Fei Lun mengerutkan dahi, akan tetapi dia tidak bisa menolak. Lebih dari itu, ia juga ingin tahu apa yang akan dilakukan laki-laki berbadan gempal itu. Maka iapun membiarkan saja ketika laki-laki berbadan gempal itu mendekat.
Craaapp...
Pedang laki-laki berbadan gempal dihujamkan tepat di samping kepala sosok topeng tengkorak. Pedang itu menancap amblas separuh ke dalam tanah.
Ditatapnya wajah orang yang tadinya mengenakan kedok topeng tengkorak yang kini terlihat pucat pasi dan memiliki pupil mata hitam yang setitik itu. Bibirnya tersenyum penuh arti, senyuman yang mengandung dendam, kebencian, serta kebengisan.
“Katakan dimana markasmu?!” tanya laki-laki berbadan gempal itu dengan amat dingin dan ketus.
Orang yang ditanya hanya menyeringai, terkesan mengejek. Sama sekali tak menunjukkan ketakutan.
Tanpa menunggu lama, laki-laki berbadan gempal mencabut pedangnya yang tadi menancap di tanah. Sekali ayun maka...
Slaaaaasshh...
Putuslah lengan kiri orang itu. Orang bertopeng tengkorak!
Terdengarlah jerit keras orang tersebut. Tubuhnya menggeletar-geletar seperti ikan yang berada di atas tanah.
Fei Lun terkejut melihat hal itu, dipandanginya laki-laki berbadan gempal itu dengan dahi mengerut. Orang yang dilihatnya itu nampak tersenyum lebar seakan menikmati jerit kesakitan yang dialami korbannya. Akan tetapi kejap kemudian, senyum itu lenyap berganti dengan wajah yang menggambarkan keterkejutan yang amat sangat.
Penasaran akan hal itu, Fei Lun mengalihkan perhatiannya kepada orang yang terlentang, yang tadi meraung-raung kesakitan. Sesaat ia tidak melihat keanehan pada orang itu, akan tetapi ketika pandangannya menyelidik ke bagian tangan yang tadinya ditebas buntung. Terbelalaklah pemuda ini! Tangan itu entah bagaimana telah kembali utuh. Dan di tempat potongan tangan tadi kini sudah tidak ada, lenyap entah kemana.