Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Keanehan Arya


Tidak seperti biasanya, hari ini Gunung Jiuhua sama sekali tidak kelihatan awan putih menggantung. Sinar matahari yang tidak terhalang menebar terik mulai dari puncak sampai ke lereng bahkan kaki gunung. Angin tidak sedikitpun berhembus. Udara terasa panas luar biasa dan kesunyian mencekam hampir di setiap penjuru.


Ketika serombongan burung pipit melayang di langit sebelah selatan, sayup-sayup dari arah lereng gunung sebelah barat laut terdengar sesuatu berkelebat disertai suara siulan tiada henti-hentinya. Suara siulan itu menggema sepanjang jalan seantero lereng gunung. Bila seorang tokoh dunia persilatan mendengar suara siulan yang keras tiada menentu itu, segera dia akan dapat mengetahui bahwa orang yang mengeluarkan siulan itu pastilah seorang pendekar berkemampuan tinggi.


Seorang pria tua yang berlari laksana angin. Sepanjang perjalanan ia terus saja mengumpat-umpat dan kadang pula berteriak-teriak bahagia. Sungguh aneh kelakuannya! Sesekali ditengguknya arak yang selalu tergenggam ditangan kanannya. Ia sebenarnya menyukai lagu yang dibawakan oleh suara siulan itu. Namun karena iramanya yang seringkali mendadak berubah-ubah, kadang sedih kadang bahagia maka hal itu membuatnya jadi kesal sendiri. Dalam keadaan terpengaruh arak, orang tua ini lebih menyukai mendengarkan lagu yang berirama bahagia. Jadi jika suara siulan itu menyuarakan irama sedih, menjadi sedih pula lah hatinya. Karena itulah ia mengumpat-umpat.


Dua tombak dibelakang si orang tua, seorang pemuda berlarian sambil celingukan mengamati sekitar. Rupanya pemuda inilah yang menyuarakan siulan tersebut. Dibelakang si pemuda ini sendiri, berkisar sepuluh tombak ada dua manusia lainnya yang juga sama-sama berlarian menuju ke arah yang sama. Satu diantaranya ialah seorang pria gagah dan berpakaian punggawa kerajaan, sementara yang satunya lagi seorang gadis berbalut pakaian ringkas sederhana.


Kedua orang itu tidak lain adalah Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi. Mereka terpaksa menggunakan seluruh kemampuan dan memeras segala energinya untuk mengimbangi kecepatan lari dua orang di depannya tersebut. Karenanya kedua orang itu nampak letih dan pucat. Terlebih suara siulan si pemuda juga semakin memperparah keadaan mereka.


Karena sudah tidak kuat lagi berlari, Putri Zhou Jing Yi kemudian berteriak keras. “Berhenti! Aku butuh istirahat.”


Si orang tua yang berlari paling depan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, kita akan istirahat sebentar di sana.” orang tua ini menunjuk ke depan.


Tidak berselang lama, di tanah yang agak landai, si orang tua berhenti. Dia memandang ke bawah, diangkatnya kendi ditangannya. “Gluukk..”


“Pemandangan yang bagus.” sambil anggukan kepalanya, orang tua ini kemudian duduk menjelepok di tanah.


Si pemuda berbaju coklat menghentikan pula larinya. Pandangannya sesaat menatap ke bawah, kemudian beralih kepada orang tua yang duduk di sampingnya. “Ternyata kakek-kakek tua yang suka mabuk-mabukan sepertimu masih bisa membedakan mana pemandangan yang bagus. Ku kira matamu sudah rabun, orang tua. Ha.. ha.. ha...”


Mendengar dirinya di ejek, si orang tua langsung berdiri melototi si pemuda tersebut. Dengan nada bergetar, orang tua ini berkata. “Tentu, tentu mataku memang sudah rabun. Tapi rabun mataku terjadi saat menatap pemuda kurang ajar sepertimu.” Orang tua ini menyeringai,


“Nah, terima ini!” Disertai bentakan keras, orang tua ini tiba-tiba mengayunkan kendi arak ditangan kanannya ke kepala si pemuda.


Tapi alangkah mengejutkan. Tanpa dapat dilihat oleh mata si orang tua, tangan pemuda dihadapannya itu tiba-tiba telah menahan kendi araknya. Kini si orang tua merasakan betapa tangannya terasa sakit seolah baru saja menghantam sebongkah batu besar seukuran bukit. Dikibas-kibaskannya tangannya yang terasa sakit itu sambil menggeram.


Sejenak si orang tua menjadi heran. Ia memang telah mengukur kemampuan pemuda dihadapannya itu beberapa waktu yang lalu. Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda tampan itu memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari perkiraannya.


“Ini hanyalah suatu kebetulan,” katanya di dalam hati. “Dia berada dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi kalau aku sempat membenturkan seluruh kekuatanku, ia pasti tidak akan sanggup menahan pukulanku.”


Si pemuda yang tidak lain adalah Arya itu tersenyum. Tangan kirinya yang digunakan untuk menahan hantaman kendi si orang tua, kini telah mengambil alih kendi tersebut.


“Terimakasih atas arak pemberianmu ini, orang tua.” ucapnya santai, kemudian tanpa memperdulikan umpatan si orang tua, Arya menenggak air arak didalam kendi kecil itu sampai habis. Terdengarlah pemuda itu bersendawa, “Ah, nikmatnya.” desisnya sambil menyeka air yang membasahi mulutnya.


“Maaf aku telah menghabiskannya. Ini aku kembalikan kepadamu.” Kata pemuda ini pula seraya menyodorkan kendi arak yang telah kosong itu kepada si orang tua.


Tetapi dahi Arya menjadi mengerut ketika dilihatnya si orang bukannya menerima kendi arak tersebut, malah justru melancarkan serangan dengan segenap kekuatannya. Sebuah ayunan tangan yang dahsyat telah mengarah ke keningnya.


Arya dengan tangkas memiringkan kepalanya. Dengan suatu gerakan ia mengelak ke samping. Pukulan si orang tua lewat. Angin pukulan tersebut menderu meledak di udara. Bersamaan dengan lontaran kekuatannya sendiri, maka si orang tua terseret dan terpelanting hampir jatuh ke jurang.


Untunglah Arya sigap menarik kerah belakang baju si orang tua. Jika tidak, pastilah orang tua tersebut akan terjun bebas ke jurang.


Mendengar adanya ledakan, Putri Zhou Jing Yi dan jenderal Sun Jian yang sedang beristirahat di bawah segera bangkit dari duduk. Mereka cepat-cepat berlari keatas untuk memastikan apa penyebab dari ledakan tersebut.


Sesampainya di tanah yang agak landai, mereka berdua mendapati Arya dan orang tua bernama Heng Dao tengah bersitegang. Maka terlontarlah pertanyaan dari mulut jenderal Sun Jian,


“Apa yang terjadi?”


Arya dan Heng Dao lekas berpaling ke sumber suara. Kemudian yang menjawab ialah Arya.


“Tidak apa-apa tuan. Hanya saja orang tua ini sepertinya sudah gila karena kebanyakan minum. Barusan, dia tiba-tiba saja hendak menyerangku.”


“Ya, aku memang sudah gila. Aku tidak hanya hendak menyerangmu, tapi aku akan mencincang-cincang tubuhmu. Bocah tidak punya sopan santun sepertimu memang perlu di beri pelajaran.” menyahut si orang tua dengan garang.


Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi mengerutkan keningnya. Mereka semakin dibuat heran. Kemudian mereka mendengar Arya berkata dengan tenang.


“Apa untungnya mencincang-cincang tubuhku. Lebih baik kita cincang-cincang saja siluman-siluman yang sedang mengintip kita. Ku rasa daging-daging mereka jauh lebih enak untuk dijadikan makan siang atau dijadikan makanan dorongan untuk kita minum arak.”


Si orang tua mengerutkan dahi. Pandangannya lantas diedarkannya ke arah rimbunnya pepohonan. Sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Usul yang bagus! Usul yang bagus!”


Arya tertawa, “Orang tua yang aneh! Sepertinya kau memang telah mabuk!”


Tiba-tiba saja si orang tua telah berkelebat ke rimbunnya pepohonan. Arya dan Jenderal Sun Jian segera mengejar.


Putri Zhou Jing Yi masih berdiri terpaku, ia memandang ke bawah. Luar biasa sekali keindahan alam yang dilihatnya. Pohon-pohon menguning di kejauhan. Di utara dua buah gunung menjulang tinggi laksana raksasa penjaga negeri. Di barat sebuah sungai laksana seekor ular besar meliuk-liuk memantulkan cahaya putih perak karena ditimpa sinar matahari. Keindahan pemandangan itu telah sepenuhnya mengalihkan perhatian sang putri, sehingga ia tidak menyadari jika saat ini ia telah sendirian ditempat tersebut.


Putri Zhou Jing Yi menyeka peluh yang mencucur di keningnya dengan ujung lengan pakaiannya. Setelah puas menikmati pemandangan yang indah itu, dia mengalihkan pandangannya. Barulah dia menyadari bahwa jenderal Sun Jian dan yang lainnya telah pergi.


Dengan muka tersungut-sungut, ia berkelebat mengejar dan kali ini ia mempergunakan ilmu lari Seribu Kaki sehingga dalam sekejap saja puluhan tombak sudah dilewatinya. Untunglah, Putri Zhou Jing Yi masih dapat mendeteksi keberadaan jenderal Sun Jian. Jika tidak, mungkin saat ini ia akan dibuat kebingungan mencari-cari ke arah mana mereka pergi.


Di satu jalan setapak di antara kerapatan pepohonan, si orang tua, Arya dan jenderal Sun Jian berhenti. Mereka merasakan adanya energi yang lumayan besar. Energi itu kian mendekat! Ketika mereka belum dapat menangkap siapa pemilik energi tersebut, belasan potongan kayu besar melayang ke arah mereka.


Jenderal Sun Jian lekas melepaskan pukulan jarak jauh bertubi-tubi, ia berhasil menghancurkan atau membelah potongan kayu besar itu dengan mudah. Sementara Arya dan Heng Dao hanya bergerak mengelak.


“Kalian telah memasuki wilayah kami!” Tiba-tiba terdengar suara berat dan serak membentak. Suara itu menggema di setiap sisi hutan. “Jangan harap kalian bisa pulang hidup-hidup.”


“Tunjukkan dirimu!” ucap si orang tua dengan tenang, bahkan ia masih sempat-sempatnya menenggak araknya. “Kenapa kalian harus malu-malu? Jika mukamu jelek, ku rasa aku bisa membantu kalian. Membantu memperburuk wajah kalian dengan tinjuku. Ha... Ha... Haa..”


“Tutup mulutmu manusia tua keparat!” bentak suara itu yang kembali menggema. Kemudian suara itu ganti tertawa tergelak-gelak. “Ku harap ilmumu lebih tajam daripada lidahmu!”


Baru saja suara itu menghilang ditelan kesunyian. Tiba-tiba muncul lima sosok kera tinggi besar, berbulu hitam dan bertaring panjang. Mata makhluk-makhluk itu semerah darah. Menatap si orang tua dengan sorot mata bengis. Mereka berdiri layaknya manusia. Masing-masing dari makhluk tersebut membawa sebuah senjata berupa palu besar berduri.


Arya, Heng Dao dan Jenderal Sun Jian mendongak melihat wajah makhluk-makhluk itu, sebab tingginya mungkin tiga kali lipat dari manusia pada umumnya. Arya dan Heng Dao segera dapat memaklumi bahwa siluman dihadapan mereka itu adalah siluman yang telah menembus tahap Pendekar Suci, sehingga para siluman itu dapat berbicara. Sementara Jenderal Sun Jian yang baru dua kali menyaksikan adanya siluman dapat berbicara nampak menegang. Dia dapat merasakan energi para siluman tersebut lebih tinggi darinya.


“Kami sedang bukan ingin berkenalan.. Kau mengerti!” Arya berkacak pinggang, jari telunjuk kemudian diacungkannya ke muka si kera siluman. “Kedatanganku kesini justru ingin mengulitimu, lalu membakar dagingmu untuk mengganjal perutku.”


Sontak saja, kelima siluman kera tersebut meraung keras. Kejap kemudian mereka telah bergerak menerjang. Dengan brutal, para siluman tersebut meyapu-nyapukan palu besar berduri ditangan mereka dengan membabi-buta.


Heng Dao nampak sedikit kewalahan menghadapi dua siluman kera yang mengeroyoknya. Kendi arak ditangannya terayun-ayun menangkis setiap sapuan palu besar milik lawannya. Benturan senjata mereka menimbulkan daya kejut yang luar biasa kuat sampai menggetarkan tanah. Dan benturan itu terjadi berulangkali!


Sementara Arya nampak acuh tak acuh. Dengan hanya berbekal tangan kosong, pemuda ini dapat menahan kuatnya hantaman senjata dua kera raksasa yang mengurungnya dengan serangan-serangan mematikan. Pergerakannya yang jauh lebih cepat membuatnya berulang kali dapat memukul mundur lawan. Pemuda ini justru memfokuskan perhatiannya ke arah pertarungan jenderal Sun Jian yang menghadapi satu siluman kera lainnya.


Disisi lain, Jenderal Sun Jian memainkan pedang pusakanya dengan begitu lincah. Namun kultivasi memang menentukan pertarungan mereka. Semua terlihat ketika pedang Jenderal Sun Jian beradu dengan palu besar berduri milik siluman kera yang menjadi lawannya tersebut.


Benturan senjata itu membuat jenderal Sun Jian terpental sejauh enam tombak, sebelum tubuhnya berhenti karena menghantam pohon besar. Pohon besar itu sendiri roboh seketika, namun sang jenderal masih mampu cepat-cepat berdiri.


Seandainya Arya tidak sigap melindungi tubuh jenderal Sun Jian dengan segel pelindung yang dilemparkannya ketika sang jenderal beradu senjata, mungkin saat ini tangan jenderal Sun Jian telah hancur akibat kuatnya kekuatan kera siluman yang bertarung dengannya tersebut.


“Goooaaarrrgg..”


Semua mata serta-merta tertuju ke arah raungan keras itu. Disana, mereka melihat Arya telah berhasil melobangi dada salah satu kera siluman yang menjadi lawannya.


“Tidak mungkin!” pekik tertahan salah seekor siluman yang berhadapan dengan Heng Dao. Siluman kera itu tadi telah memperkenalkan dirinya dengan nama Baihe.


Dilihatnya, pemuda yang telah menewaskan satu anak buahnya tersebut kini tidak kelihatan lagi. Namun tahu-tahu terdengar kembali suara raungan yang lebih keras dari sebelumnya. Matanya semakin memerah, melihat dua anak buahnya dapat dibunuh dengan mudahnya.


Seakan telah mengetahui siapa pemimpin dari para siluman kera tersebut. Arya membalikkan badan ke arah siluman kera yang bernama Baihe. Pemuda ini menyeringai!


Suasana mendadak mencekam. Semua yang ada di sana dapat merasakan energi kuat yang terpancar dari tubuh Arya.


Melihat kenyataan bahwa lawannya kali ini jauh lebih kuat dari semua lawan yang pernah dihadapinya selama ini, Baihe menjadi panik. Hilanglah rasa percaya diri di raut wajahnya. Bentuknya yang seram kini terlihat menyedihkan.


Kemudian terdengar suara Heng Dao memecahkan ketegangan, “Dua siluman kera ini adalah bagianku! Jangan coba-coba merebutnya dariku! Bagianmu telah kau habisi, jadi sebaiknya kau duduk-duduk saja-lah nikmati pertunjukkanku.”


Arya mengangguk, “Aku mengerti, tapi aku minta satu tangan dan kaki mereka berdua.”


Suara pemuda itu masih mengudara, tapi tubuhnya telah lenyap. Kemudian terdengar suara raungan keras yang susul menyusul, membuat Heng Dao mengerenyitkan dahi. Ia sama sekali tidak dapat melihat pergerakan Arya. Namun tiba-tiba dua kera siluman yang berada dihadapannya telah buntung satu tangan dan satu kakinya.


“Jangan buang-buang waktu, orang tua. Aku sudah lapar!”


Heng Dao segera mengalihkan pandangannya ke arah mana suara itu berasal. Rupanya Arya telah berjalan menghampiri Jenderal Sun Jian yang berdiri terbengong-bengong.


Sambil berjalan, pemuda itu mengayunkan sebelah tangannya. Bersamaan dengan itu, selarik energi angin tipis menderu cepat ke arah kera siluman yang berhadapan dengan sang jenderal.


Kera siluman tersebut tak bisa menghindar! Kecepatan serangan itu sama sekali tidak di duganya sebelumnya. Untunglah ia masih sempat menggeser sedikit tubuhnya ke samping sehingga serangan Arya hanya mengenai lengan kanannya hingga putus.


Sontak saja, siluman kera itu meraung kesakitan. Sementara putungan tangannya untuk beberapa saat menggelepar-gelepar di tanah. Senjata palu besar berduri miliknya juga turut jatuh bersamaan dengan tangannya yang terbabat.


“Sasaranku meleset.” Arya mendengus, “Rupanya kau memiliki keberuntungan yang sangat baik. Tadi aku mengincar kepalamu, tapi yang buntung malah tanganmu.”


Masih dengan menahan sakit di lengan kanannya yang buntung, kera siluman tersebut memaki-maki dalam hati. Akan tetapi baru saja ia memelototi pemuda yang telah membabat putus tangannya tersebut. Arya telah bersiap mengangkat tangannya. Ketika pemuda itu mengayunkan tangannya, maka kembali kera siluman itu meraung keras.


Kini giliran tangan sebelah kiri si kera siluman terbabat buntung.


“Yah, aku salah sasaran lagi. Tapi tidak masalah, akan ku coba sekali lagi.”


Masih berdiri di tempat, Arya kembali mengibaskan tangannya. Dan lagi-lagi terdengar raungan keras dari si kera siluman. Kali ini yang terpotong adalah sepasang kakinya. Sehingga bersamaan itu, kera siluman tersebut jatuh bergedebuk di tanah.


Arya geleng-gelengkan kepalanya. Tapi sepasang tangannya diangkatnya di depan dada. Kera siluman yang telah buntung tangan dan kakinya tersebut nampak sudah pasrah. Ia mengatupkan kedua matanya rapat-rapat seolah sudah siap menerima kematian. Namun yang terdengar justru suara tepuk tangan.


Rupanya yang bertepuk tangan itu adalah Arya. Kemudian terdengar pula pemuda ini berkata. “Kau memang memiliki keberuntungan yang luar biasa, teman.” pemuda ini lantas berjalan mendekat. “Mungkin takdir kematianmu memang bukan di tanganku.. baiklah, aku akan membiarkanmu hidup.”


Mendengar perkataan dari pemuda itu, kera siluman yang telah pasrah menerima kematian, perlahan-lahan membuka sepasang matanya. Mukanya menunjukkan kebingungan dan kesakitan yang teramat sangat.


Kemudian terdengar kembali, Arya berkata. “Tuan, segeralah akhiri penderitanya. Gunakanlah pedangmu untuk menebas batang lehernya. Kasihanilah dia! Jangan biarkan dia menderita terlalu lama.” katanya dengan nada sendu kepada jenderal Sun Jian.


Jenderal Sun Jian masih terpaku memandangi Arya. Ia masih tidak dapat mempercayai kekuatan dan kekejaman si pemuda. Namun sang jenderal menjadi terperanjat ketika tahu-tahu ada tangan yang menepuk pundaknya.


Dahi Jenderal Sun Jian mengerenyit ketika mendapati yang menepuk bahunya tersebut tidak lain adalah Arya sendiri. Padahal sesaat yang lalu, pemuda itu masih berdiri beberapa tombak dihadapannya, namun tahu-tahu kini Arya telah berada di sampingnya.


“Jenderal, apa anda tidak mendengarkanku bicara?”


Dengan gugup, jenderal Sun Jian mengangguk, “Aku mendengarnya.” katanya terbata-bata.


“Kalau begitu lekas-lah akhiri penderitanya!”


Sang jenderal mengangguk. Dengan mempererat genggaman pedangnya, ia mulai berjalan mendekati kera siluman yang sudah tidak berdaya didepan sana. Sekali lagi, ia menoleh ke belakang. Dan didapatinya Arya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Jenderal Sun Jian kembali melanjutkan langkahnya. Setelah berdiri tepat dihadapan kera siluman yang terbaring miring ditanah itu. Pedang di tangannya kemudian diangkatnya tinggi-tinggi, dengan sekali ayunan, maka terpenggal-lah kepala kera siluman tersebut.


“Bagus jenderal, sekarang bantu aku memotong-motong tubuh siluman-siluman ini. Aku sudah tidak sabar lagi ingin secepatnya mengisi perutku yang sudah keroncongan ini.”


Bersamaan dengan selesainya perkataan Arya tersebut. Putri Zhou Jing Yi telah tiba di tempat itu. Dan sesaat kemudian pertarungan Heng Dao juga telah selesai.