Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Mencari Goa Tengkorak


Fei Lun yang memang telah beberapa kali menghadapi anggota Sekte Iblis Berdarah dan telah mengetahui pula bahwa anggota sekte itu memiliki kemampuan menumbuhkan kembali anggota badan mereka yang terpotong, peristiwa ini kemudian dihubungkannya dengan sekte tersebut. Kuat dugaannya bahwa orang yang memakai kedok topeng tengkorak ini juga adalah salah seorang anggota dari sekte itu pula. Namun ia tidak mau menduga-duga, lebih baik memastikan. Iapun segera berjongkok dan cepat sekali memasukkan sebutir pil ke dalam mulut orang itu.


Laki-laki berbadan gempal tampak memandangi Fei Lun dan sosok bertopeng tengkorak berganti-ganti. Jelaslah sorot mata itu menunjukkan keheranan juga kecurigaan. Dia mengira jika pemuda berambut putih itu memberikan pil untuk mengobati musuhnya itu. Iapun lantas berkata, “Sebenarnya siapa engkau, anak muda? Obat apa yang kau berikan padanya?”


Fei Lun tersenyum. Senyuman yang justru membuat laki-laki berbadan gempal jadi semakin keheranan.


Kepada sosok bertopeng tengkorak, Fei Lun berkata, “Siapa kau? Dan dari anggota mana kau berasal?”


Dada orang bertopeng tengkorak berdegup kencang, tanpa dapat dibendung kata-katanya kemudian meluncur begitu saja, “Namaku Bie-san.. organisasi kami tak memiliki nama.”


Fei Lun tersenyum, mengertilah ia bahwa obat yang diberikannya telah bekerja, Dengan obat itu pula ia berhasil mengorek keterangan dari anggota iblis berdarah dan orang-orang yang dipaksanya untuk memberikan keterangan yang dia butuhkan.


Sementara itu, orang yang mengaku dirinya bernama Bie-san menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Tanpa dapat diketahui oleh siapapun, diam-diam ia mengeluarkan jarum racun dari pakaian lengan kanannya. Dengan gerakan seolah-olah kesakitan, ia lalu menusukkan jarum itu ke pinggangnya sendiri.


“Apa hubunganmu dengan Sekte Iblis Berdarah?” tanya Fei Lun.


Kembali Bie-san menjawab begitu saja, seolah terkena hipnotis, “Kami memang memiliki hubungan dengan sekte itu, tapi kami bukanlah bagian dari kelompok mereka.”


Fei Lun mengangguk. Sedangkan laki-laki berbadan gempal mengerutkan dahi, ia semakin dibuat tidak mengerti akan semua ini, bingung serta heran kenapa sosok bertopeng tengkorak itu tanpa dipaksa dengan kekerasan mau saja membuka mulut, padahal sebelumnya orang bertopeng tengkorak tersebut bahkan disiksa sekalipun tetap mengunci mulutnya rapat-rapat. Kemudian segera dia mengerti bahwa obat yang diberikan oleh pemuda itulah yang telah membuat sosok bertopeng tengkorak ini mau memberi keterangan.


Mata Fei Lun mendadak menyipit penuh selidik, dilihatnya tubuh Bie-san tampak mulai membiru. Sadar bahwa orang itu terkena racun, Fei Lun segera menotok jalan darah orang tersebut untuk menghentikan racun itu menuju jantung. Akan tetapi racun itu masih saja menyebar bahkan tubuh Bie-san kini semakin membiru.


“Racun yang amat ganas.” desis Fei Lun, tapi ia memang tidak berniat menyelamatkan orang itu. Kemudian cepat-cepat ia mengajukan pertanyaan sebelum orang itu tewas, “Dimana markasmu?”


“Di gunung Yunan, goa teng..teng..teng..tengkorak ahhh..” Bie-san terkulai, mulutnya keluarkan buih-buih hitam. Ia tewas dengan tubuh yang membusuk.


Fei Lun menarik nafas dalam-dalam, lalu bangkit berdiri. Di tatapnya laki-laki berbadan gempal. “Pergilah ke barat laut, disana terdapat dua orang anak kecil. Pergunakanlah api pada bagian bawah untuk membuka segel pelindung.”


Laki-laki berbadan gempal mengerutkan dahi, ia benar-benar tak mengerti. Tapi sebelum ia membuka mulut untuk bertanya, pemuda berambut putih tersebut telah lenyap dari penglihatannya.


Untuk beberapa lamanya laki-laki berbadan gempal memandangi sekeliling, dan ketika pandangannya tertuju kepada tubuh Tiat Sim yang tergeletak kaku, kemudian iapun segera berjalan mendekat dan lantas membuka totokan yang membelenggu temannya itu.


Tanpa berkata apapun Tiat Sim cepat berdiri dan menyambar pedangnya yang tergeletak tak jauh darinya. Dengan sorot mata berkilat-kilat penuh dendam, ia menghampiri mayat Bie-san yang telah mengeluarkan bau busuk. Pedangnya yang bersinar biru terang diangkatnya tinggi-tinggi, sekali ayun maka putuslah leher orang topeng tengkorak tersebut.


Bibir Tiat Sim menyeringai bengis, hatinya kini telah puas setelah memenggal leher manusia yang sudah menewaskan teman-temannya itu.


“Tiat Sim, mari kita kuburkan teman-teman kita.” kata laki-laki berbadan gempal sambil berjalan menghampiri.


Setelah menguburkan empat orang rekannya, Tiat Sim dan laki-laki berbadan gempal lalu menuju ke tenda dimana Cia Ling dan Cia Wan berada. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika tak mendapati dua orang anak kecil yang dicarinya tersebut. Didorong oleh kecemasan, Tiat Sim segera berkelebat kesana kemari mencari-cari dua orang anak dari mendiang sahabatnya, Cia Lie Peng, disekitar tenda.


“Tiat Sim..” mendengar seseorang memanggilnya, Tiat Sim cepat menoleh. Ternyata yang memanggilnya itu adalah laki-laki berbadan gempal.


“Apa kau sudah menemukan mereka?”


“Mungkin anak-anak itu berada di tempat lain. Pemuda berambut putih tadi menyuruhku untuk pergi ke barat laut, katanya disana ada dua anak kecil. Mungkin anak kecil yang dimaksudkannya itu adalah Cia Wan dan Cia Ling.” kata laki-laki berbadan gempal.


Demikianlah, mereka berdua kemudian bergegas mengemasi barang-barang yang sekiranya berharga dan lalu menuju ke arah barat laut.


Semburat warna merah telah membias di ufuk timur. Suara kokok ayam dan kicauan burung bersemarak menyambut datangnya pagi.


Fei Lun melakukan perjalanan seorang diri di daerah pegunungan Yunan yang sunyi. Telah berjam-jam lamanya ia menyisir setiap tempat didalam hutan di pegunungan itu. Tentu saja ia berniat mencari goa tengkorak yang menurut pengakuan Bie-san adalah markas kelompok orang-orang bertopeng tengkorak.


Sejenak ia beristirahat di suatu tempat di padang rumput yang luas. Salju membuat padang rumput itu menjadi putih layaknya permadani yang membentang dimana-mana. Pemandangan alam sungguh menyenangkan hati dan menyedapkan mata. Dia menghirup napas sekuatnya sampai seluruh paru-parunya penuh dan hawa murni itu terus turun mendesak ke bawah, terasa nikmat dan penuh, lalu dihembuskannya perlahan-lahan. Bukan main nyamannya.


Pagi itu cerah sekali. Sinar matahari pagi menghidupkan segala yang tertidur malam tadi, mendatangkan kesegaran, kehangatan, kenyamanan dan keindahan. Cahaya matahari membawa batin Fei Lun ke alam yang penuh semangat dan kegembiraan, mendorong dirinya untuk melepaskan perasaan lewat nyanyian.


“Hidup adalah bahagia! Karena bahagia hanyalah gambaran perasaan.


Manusia berlomba-lomba mencari harta, kedudukan dan cinta,


Mereka menganggap itu semua sebagai wujud kebahagiaan.


Hooo... Hooo.. butakah mereka, bahwa yang dikejar-kejar itu bukanlah kebahagiaan, melainkan hanyalah kesenangan untuk memuaskan nafsu belaka.


Tuhan menciptakan alam mayapada untuk mencukupi manusia.


Tapi manusia teramat bodoh menuruti nafsu, teramat rakus mengejar-ngejar sesuatu yang bersifat fana.”


Nyanyian itu sering di dengarnya dari gurunya. Kata-kata dari nyanyian itu mendatangkan ketenangan dalam batinnya. Setiap kali mendengar lagu itu, banyak hal-hal yang direnungkannya.


Bukankah setiap manusia selalu menginginkan keadaan yang lebih? Itu wajar karena manusia dibekali nafsu. Tak pernah puas akan segala sesuatunya. Singkatnya, semua manusia menginginkan segala sesuatunya yang serba lebih. Saling berebutan dan saling bersaing untuk memperoleh yang dituntut oleh nafsunya itu, jika perlu saling serang, saling menjatuhkan, dengan cara apa saja demi memperoleh yang diinginkannya itu! Seperti meminum air laut, semakin meminumnya semakin hauslah dia!


Karena menuruti nafsu inilah maka mata menjadi buta, tidak lagi dapat melihat dan menikmati apa yang ada! Apa yang telah di berikan Tuhan untuk mereka! Mata selalu ditujukan jauh ke depan, kepada yang dianggap serba lebih itu, yang selalu dikejarnya dan diharapkannya. Akhirnya hanya ada dua hal yang terjadi sebagai akibat dari pengejaran itu, sesudah di dalam pengejaran itu menimbulkan banyak pertentangan dan permusuhan.


Apabila yang dikejar itu bisa didapat, belum tentu akan terasa seindah sebelum didapat. Seindah seperti ketika masih dikejar karena hati ini sudah dipenuhi dengan pengejaran terhadap yang lain lagi, yang lebih lagi dari pada yang sudah didapat! Jikapun kalau gagal? Maka akan timbullah perasaan kecewa, menyesal, berduka dan sengsara!


Berbahagialah orang yang tidak mengejar apa-apa, tidak menginginkan apa-apa yang tidak ada padanya! Berbahagialah orang yang membuka mata melihat apa yang ada padanya saja, bersyukur terhadap anugerah keindahan yang telah diberikan Tuhan dalam setiap detik kehidupannya. Bukankah semua akan binasa, bahkan badan yang selalu dirawat, dijaga dan diagung-agungkan akan pula ditinggalkan ketika menjadi bangkai tak berguna.


Kembali Fei Lun menarik napas panjang. Dia merasakan betapa nikmatnya menghirup udara bersih seperti itu! Dia lalu mengamati semua yang terbentang luas di hadapannya. Rumput-rumput yang tertutupi salju yang luas, pohon-pohon tinggi besar, burung-burung yang beterbangan di angkasa yang terhias awan-awan putih, sinar matahari pagi yang menerobos menembus celah-celah daun pohon.


Betapa indah semua itu, indah tak terlukiskan dengan kata-kata! Dan semua itu tentu tak akan nampak, terkesan biasa saja bagi mata yang dibutakan oleh nafsu yang meruwetkan hatinya.


Setelah beberapa lama menikmati keindahan alam dipagi hari itu, Fei Lun kemudian kembali melanjutkan pencariannya. Berjam-jam ia menyisir setiap sudut hutan, dan setiap kali ia menemui goa maka iapun menyelidiki keadaan didalam goa tersebut.


Tanpa terasa matahari semakin meninggi, ia kini berada dibawah sebuah tebing yang curam. Keadaan disana amat liar dan sunyi. Tak terlihat sama sekali jejak manusia ataupun binatang. Fei Lun mulai mendaki tebing yang amat sukar dilewati manusia tersebut. Tiba-tiba, ketika dia memeriksa keadaan sekeliling, di atas bukit kecil sebelah kiri, ia melihat sebuah bangunan kuil kuno yang berdiri terpencil. Agaknya sebuah kuil yang telah terbengkalai. Mungkin saja untuk tempat tinggal seorang pertapa, namun bukan tidak mungkin tempat terpencil itu menjadi tempat persembunyian penjahat!


Timbul rasa penasarannya untuk menyelidiki kuil tersebut. Dengan sekali lompat, tubuhnya terbang laksana burung. Dalam waktu sebentar saja pemuda inipun telah tiba di pekarangan kuil kuno itu.


Melihat pekarangan tersebut nampak bersih, Fei Lun dapat menarik kesimpulan bahwa tempat ini pastilah dirawat dengan baik, bahkan tak menutup kemungkinan pula jika kuil ini berpenghuni. Siapa tahu penghuninya adalah penjahat yang kini sedang dicari-carinya. Pikiran ini membuat Fei Lun bersikap hati-hati, maka dia pun lantas menyelinap dan menghampiri kuil kuno itu dari belakang.


Benar saja, di dalam sana nampak terdapat beberapa orang sedang melakukan gerakan-gerakan jurus. Dada Fei Lun berdebar-debar, kecurigaannya jadi menipis karena orang-orang yang dilihatnya itu berpenampilan layaknya seorang biksu. Berkepala plotos, memakai jubah kuning longgar. Seorang biksu yang menjauhkan diri dari hingar bingar kehidupan ramai, mana mungkin adalah seorang penjahat.