Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Terjebak


“Hei, siapa yang berani mengintip?”


Fei Lun terkejut sekali, cepat ia membalikkan tubuhnya. Rupanya yang menegurnya itu adalah seorang lelaki yang terlihat seperti berusia enam puluh'an tahun, mengenakan pakaian seperti seorang biksu, tubuhnya kurus serta kedua pipinya cekung sehingga muka itu kelihatan sudah hampir mendekati bentuk tengkorak.


“Ah, maafkan atas kelancangan saya, tuan. Saya benar-benar tak bermaksud mengintip. Sebenarnya saya kesini hendak bertanya.” ucap Fei Lun sambil menelangkupkan tangannya ke depan dada dan membungkuk hormat.


Biksu itu berjalan menghampiri dan sejenak menatap Fei Lun penuh perhatian, “Siancai... siancai…! Sungguh merupakan hal yang sangat mengherankan melihat tempat ini kedatangan tamu seperti anda, pemuda tampan!” jawab biksu itu yang kemudian mengaku bernama Chin Pek Cuan.


“Bagaimanakah anda dapat tiba di tempat yang terasing ini dan apakah gerangan keperluan anda bersusah payah mendaki tempat ini?” sambung biksu Chin Pek Cuan kemudian.


“Saya tak sengaja melihat tempat ini, karena mendapati kuil ini berpenghuni maka saya pun berkeinginan hendak bertanya mengenai goa tengkorak. Akan tetapi saya tak berani lancang mengganggu ketentraman tempat ini, untuk itulah saya hanya berdiam diri disini sampai ada orang yang keluar.”


Sepasang mata Biksu itu bersinar aneh. Namun wajahnya tidak menunjukkan perubahan, masih terlihat ramah. Fei Lun yang memang sejak semula menaruh kecurigaan, dapat melihat pancaran sorot mata Biksu itu.


“Goa Tengkorak...?”


“Benar, apakah anda mengetahui tempat itu?”


Kakek biksu itu mengangguk kemudian memandang pada wajah Fei Lun dengan ragu-ragu. “Tapi... ada keperluan apakah sehingga anak muda mencari tempat seperti itu?”


“Tempat seperti itu? Apakah yang anda maksudkan? Ada apakah dengan tempat itu?” Fei Lun balas bertanya.


Biksu itu nampak bingung, lalu menggeleng kepala. “Tidak apa-apa, hanya... selama bertahun-tahun ini belum pernah saya melihat ada orang mencari tempat itu, maka saya merasa terkejut dan heran ketika tiba-tiba anak muda muncul dan mencari tempat itu.”


“Sesungguhnya saya hendak menyelidiki Goa Tengkorak. Dan hendak menemui kelompok manusia iblis.” ujar Fei Lun terus terang.


Kembali biksu itu terkejut, kali ini dia tidak menyembunyikan rasa kagetnya mendengar disebutnya ‘Manusia Iblis’. Akan tetapi biksu itu menantang pandang mata Fei Lun yang tajam penuh selidik itu, lalu menarik napas panjang.


“Siancai... Sepertinya anak muda mengira bahwa saya lah orangnya yang terkenal dengan sebutan manusia iblis..”


“Baru saja saya mendengar nama itu, tentu saja saya tak berani menuduh dan menduga sembarangan. Dan karena anda juga mengenal nama itu, maka saya mohon petunjuk di mana kiranya saya bisa menemukan manusia iblis itu. Di mana mereka tinggal? Apakah di Goa Tengkorak dan di mana letak goa itu?” ucap Fei Lun dengan senyuman ramah.


Biksu itu kembali menghela napas. “Siapakah yang tidak mendengar sepak terjang manusia iblis itu? Akan tetapi siapa pula yang tahu di mana tempat tinggalnya? Kurang lebih sepekan lamanya, ada pasukan keamanan dari kota Hangciu bersama banyak pendekar telah datang ke sini dan mereka mencari Goa Tengkorak akan tetapi tak berhasil menemukan apa-apa.”


Fei Lun mengangguk-angguk. “Ahh, jadi rupanya nama itu sudah terkenal sekali, bahkan telah dicari oleh pasukan keamanan dan para pendekar,?”


“Begitulah kiranya anak muda. Saya sendiri yang selamanya bertapa di sini tidak tahu menahu akan hal itu. Baru sesudah pasukan itu mencari di daerah ini saya baru tahu akan perihal manusia iblis itu. Akan tetapi apakah benar dia berada di sini, tak seorang pun yang tahu. Maka, saya rasa akan percuma saja kalau anak muda mencarinya, lagipula amat berbahaya mencari perkara dengan mereka...”


Fei Lun memandang tajam. “Aku tak perduli, orang-orang jahat seperti mereka memang harus di tumpas.”


Biksu itu memandang kepada Fei Lun dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia mengangguk-angguk. “Siancai... siancai... Rupanya anak muda adalah seorang pendekar yang gagah berani dan pembela kebenaran.”


“Saya memang tidak tahu keberadaan manusia iblis itu, akan tetapi saya mempunyai seorang paman guru yang pandai melihat hal-hal jauh, pandai melihat hal-hal yang tersembunyi. Paman guru saya itu tentu akan dapat membantu memberitahu dimana keberadaan manusia iblis itu. Kalau anak muda berkenan, mari saya antarkan menemui paman guruku.” sambungnya.


Fei Lun tersenyum, ia mulai tertarik. Mungkin saja dengan usahanya sendiri ia dapat menemukan sarang kelompok manusia iblis tersebut, akan tetapi untuk itu pasti akan memakan waktu yang tidak sedikit. Dan sekarang biksu ini mengajaknya untuk menemui paman gurunya yang dikatakan bisa memberi petunjuk, dia pikir apa salahnya mencoba mungkin saja melalui penerawangan paman guru biksu ini, ia akan mendapatkan petunjuk yang benar. “Hemm, sungguh mencurigakan, dan menarik sekali.” pikir Fei Lun.


“Baiklah, saya yang muda ini sangat merasa terhormat bisa menjadi tamu sekaligus bertemu dengan paman guru anda.”


Biksu itu tersenyum, sambil memberi isyarat agar Fei Lun mengikutinya, mereka pun kemudian berjalan memasuki gerbang kuil.


Kuil itu berada di atas bukit di balik dinding batu karang. Letaknya memang sangat strategis untuk mengucilkan diri, tempat yang cocok untuk para biksu yang memang kehidupannya sepenuhnya dicurahkan untuk beribadah mendekatkan diri kepada sang pencipta.


Memasuki gerbang, Fei Lun mendapati bahwa kuil ini ternyata dihuni banyak orang. Penjagaannya juga amat baik, tak kalah dengan markas sekte-sekte kelas atas. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di depan gubuk kecil yang mana di depannya terdapat kolam yang agak luas dengan bunga-bunga teratai yang menghiasi pada permukaan airnya.


“Harap anak muda menunggu sebentar di luar, saya hendak menghadap dan memberitahukan kedatangan anda ini kepada paman guru saya.”


Fei Lun mengangguk. Akan tetapi pada waktu biksu itu memasuki pintu depan gubuk, dia segera berkelebat untuk kemudian menyelinap mendekati gubuk. Memasukinya dari belakang.


Gubuk itu kecil namun panjang. Ketika dia mendengar suara orang bercakap-cakap dari ruangan dalam, diapun cepat mengintai dari balik jendela. Dilihatnya sebuah ruangan yang gelap. Disana ia dapat melihat Chin Pek Cuan sedang berlutut di atas lantai, dihadapannya terdapat seorang biksu lain yang juga tengah duduk bersila diatas bantalan bundar, tak bergerak seperti patung. Sepasang matanya nampak seperti mata harimau yang dapat menyala dalam kegelapan.


“Paman guru, harap engkau memaafkan saya yang lancang datang menghadap. Saya mengantarkan seorang pemuda, dia mengatakan sedang mencari seseorang. Karena saya tidak tahu, maka saya ajak dia kemari untuk mendapatkan petunjuk dari anda. Saya mohon kerelaan hati paman guru untuk sudi kiranya memberikan petunjuk kepadanya.”


Dada Fei Lun berdesir, ia kagum bagaimana biksu itu langsung dapat mengetahui bahwa dia menentang manusia iblis? Melihat sikap Chin Pek Cuan yang pada saat menghadap tadi, maka keraguannya bahwa biksu itu menipunya mulai berkurang. Dia pun mulai percaya bahwa paman guru dari biksu itu kemungkinan memang mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa.


Fei Lun cepat-cepat kembali ke luar. Dan ketika Chin Pek Cuan muncul keluar dari dalam pintu, Fei Lun bersikap seperti sedang melihat-lihat keadaan di kolam. Disana dilihatnya banyak ikan koi sedang menari-nari saling kejar-kejaran.


“Anak muda, sungguh beruntung paman guru saya mau menerimamu. Mari, anak muda, silahkan masuk.”


Fei Lun mengangguk lantas mengikuti biksu itu masuk ke dalam pintu depan. Begitu masuk, dia melihat betapa di sebelah dalam rumah itu gelap sekali karena semua jendela tertutup. Hanya ada sedikit cahaya yang menerobos masuk melewati celah-celah dinding, membuat keadaan di dalam ruangan rumah itu remang-remang.


“Silahkan, anak muda,” bisik Chin Pek Cuan memberi isyarat untuk maju.


Fei Lun meski bersikap tenang namun sebenarnya ia menjaga kewaspadaan. Memang sudah semestinya sebagai seorang pendekar tidak boleh meninggalkan kecurigaan dan kewaspadaannya, begitulah sikap yang wajib dipegang oleh setiap pendekar jika mau tetap eksistensi dalam rimba persilatan yang kejam dan penuh tipu muslihat.


Maka, biar pun Fei Lun mulai percaya kepada Chin Pek Cuan yang dicurigainya memiliki maksud terselubung, tetap saja pangeran dari Istana Es ini tetap waspada dan selalu siap siaga menghadapi bahaya dari mana pun juga datangnya.


Setelah berjalan mendekat, Fei Lun lantas menatap kepada sosok yang duduk bersila di sudut ruangan tersebut. Sebagai seorang tamu yang tahu peradatan dan sopan santun, iapun menjura kepada sosok tubuh itu.


“Selamat datang, pendekar muda. Silahkan duduk dan maafkan, di tempat ini tidak ada kursi dan meja, maka terpaksa kita duduk di atas lantai saja. Silahkan.” Sosok tubuh itu berkata tanpa bergerak.


“Terima kasih, tuan,” Fei Lun segera duduk bersila di atas lantai. Menghadap kepada sosok tersebut.


Diam-diam Fei Lun menggunakan tangannya menekan lantai sambil mengerahkan energinya untuk memastikan apakah lantai itu asli ataukah merupakan perangkap. Lega lah hatinya ketika mendapatkan kenyataan bahwa lantai itu merupakan lantai batu yang tidak mengandung sesuatu yang mencurigakan.


“Sekarang katakan, apakah yang dapat saya lakukan untuk membantumu, anak muda?”


Fei Lun tersenyum mendapati pria tua dihadapannya itu tidak terkesan sombong. Biar pun sudah jelas ia tahu apa yang menjadi tujuannya, akan tetapi biksu tua itu masih bertanya dan tidak mendahuluinya untuk menyombongkan pengetahuannya.


“Saya mencari kelompok penjahat yang biasa menjalankan aksinya dengan selalu mengenakan topeng tengkorak, ku dengar orang-orang menyebutnya sebagai manusia iblis. Tujuanku kesini untuk meminta keterangan dari anda, ku harap anda bisa memberikan petunjuk kepada saya, agar saya dapat menemukan markas manusia iblis itu berada.”


Setelah Fei Lun berkata demikian, suasana menjadi hening. Sosok dihadapannya itu masih diam seperti patung, bahkan suara nafasnya tak kedengaran ditelinga tajam si pemuda.


Berselang beberapa menit, kakek itu akhirnya menjawab. “Hemm, bukankah kau adalah seorang pangeran dari kerajaan Istana Es yang ada di Kekaisaran Tang?”


Fei Lun terkesiap namun juga makin tertarik, dia tahu benar bahwa orang dihadapannya itu sama sekali tidak menggunakan teknik yang dapat membaca pikirannya. “Ternyata orang ini benar-benar hebat!” pikirnya.


“Ah, lupakan soal diriku.. ku harap sekarang anda suka terangkan saja dimana markas manusia iblis itu, ku dengar mereka menyinggung-nyinggung goa tengkorak. Apakah ada hubungannya dengan goa tengkorak itu?” jawab Fei Lun yang kini diam-diam menaruh harapan pada biksu dihadapannya tersebut.


“Ah, engkau terlalu terburu-buru anak muda. Akan tetapi baiklah. Perhatikan baik-baik, engkau pandanglah ke sini... Apakah yang dapat dilihat olehmu?"


Fei Lun mengangkat mukanya, di atas kepala biksu dihadapannya itu, tampaklah sebuah sinar yang amat terang bahkan menyilaukan mata. Pada sinar tersebut ia melihat sebuah wajah yang samar-samar. Karena tak begitu jelas, Fei Lun terus memandangi wajah didalam sinar itu dengan teliti.


“Jika engkau tidak bisa melihatnya dengan jelas, maka pejamkanlah matamu sejenak. Nah... begitu, pejamkanlah matamu. Terasa amat nikmat bukan? Kini engkau akan merasa mulai mengantuk, karena itu tidurlah! Tidurlah, anak muda! Tidurlah dengan nyenyak.”


Sebelum menyadari jika sinar itu ternyata sebuah sihir atau ilusi, Fei Lun sudah terseret oleh kekuatan yang luar biasa. Dengan suka rela dia menuruti saja permintaan suara itu. Matanya kini telah terpejam! Akan tetapi Fei Lun bukanlah pendekar yang bodoh. Begitu sadar dirinya telah dilanda kantuk yang amat sangat, iapun cepat-cepat mengerahkan seluruh energi Qi nya untuk menolak pengaruh sihir tersebut. Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba seseorang telah menotok tubuhnya. Sontak tubuhnya menjadi kehilangan tenaga seperti lumpuh.


Beberapa orang cepat-cepat meringkus Fei Lun. Tangan dan kaki pemuda itu dibelenggu. Kemudian salah seorang menggerakkan jari tangannya untuk selanjutnya menekan pundak Fei Lun. Habislah sudah kekuatan pemuda itu! Dia tertotok dan tidak mampu bergerak lagi!


“Bangsat!” teriak Fei Lun marah, “Rupanya kalian lah kelompok manusia iblis itu!”


“Ha-ha-ha...”


Terdengar suara gelak tawa banyak orang di ruangan yang gelap itu.


Tanpa dapat melawan, Fei Lun pasrah ketika tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah karung hitam. Kemudian seseorang tinggi besar menyeret karung yang terdapat Fei Lun didalamnya itu menuju ke suatu tempat.


Fei Lun tidak tahu ke mana dirinya dibawa. Dari dalam karung hitam itu dia sama sekali tidak dapat melihat sesuatu. Beberapa lama berselang, akhirnya dia dikeluarkan dari dalam karung. Dilemparkan ke dalam sebuah ruangan. Keadaannya masih tertotok dan terbelenggu tangan serta kakinya!


Ruangan itu tidak begitu besar. Terbuat dari tembok baja tebal dan pintunya terbuat dari baja pula. Ada lubang-lubang angin di bawah dan di atas pintu. Sebuah ruangan tahanan yang memiliki segel pelindung yang amat kuat!


Begitu pintu dikunci, terdengarlah suara mendesis-desis. Terlihatlah asap hijau mengepul masuk dari lubang-lubang angin. Pemuda ini terlambat menyadari, ia telah menghirup asap tersebut. Tahulah kiranya dia bahwa asap itu rupanya adalah asap racun yang dapat melumpuhkan energi Qi dan syaraf-syaraf didalam tubuhnya. Tak beberapa lama iapun pingsan!