Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Membantu Penyatuan Energi


Perkataan Arya yang memerintah dan bahkan mengandung nada mengancam tersebut terasa semakin memuakkan bagi Ratu Bunga Asmara. Meskipun demikian dengan sekuat-kuat hati, ditahankannya gelora di dalam dadanya, supaya ia tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, yang justru akan menutup setiap kemungkinan untuk dapat menarik pemuda itu menjadi sekutunya. Lebih dari itu, ia rupanya diam-diam telah menaruh hati pada pemuda tampan tersebut, karenanya ia tidak mau menyalakan setitik api permusuhan dengan pemuda berjuluk Pendekar Naga Emas ini.


Tiga Pembawa Maut adalah tokoh hitam yang amat terkenal di Kekaisaran Tang. Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan sudah biasa pula dihormati dan ditakuti orang. Hal ini mendatangkan suatu watak sombong dan memandang rendah orang lain.


Oleh karena itu, biar pun tekanan suara tawa pemuda itu tadi sempat mengejutkan hati mereka, namun sesudah melihat tingkat kultivasi si pemuda yang berada dibawahnya, apa lagi mendengar ucapannya yang mereka anggap sebagai penghinaan, tiga bersaudara itu menjadi marah sekali.


“Bocah sombong! Engkau telah bosan hidup rupanya!” Laki-laki berwajah hijau, Bu Tong Siok membentak marah lantas sekali tangan kirinya bergerak, sinar hijau menyambar ke arah dada dan perut Arya.


Arya agaknya memang tidak berniat untuk menghindar. Selain serangan itu baginya tidaklah seberapa, ia juga mengkhawatirkan keselamatan Nie Zha yang berdiri dibelakangnya kalau-kalau terkena serangan tersebut.


Terlihat betapa belasan batang jarum halus berwarna hijau yang diselubungi sinar hijau itu menyambar deras lantas mengenai leher, dada dan perut Arya. Nampak jelas betapa jarum-jarum hijau itu menancap pada kulit leher, dada dan perut, akan tetapi pemuda itu seperti tidak pernah merasakan dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan, bahkan berkedip pun tidak!


Tentu saja Bu Tong Pay terbelalak dan mulutnya ternganga, tidak percaya akan penglihatan matanya sendiri. Jarum-jarum hijau itu adalah senjata rahasia yang ampuh, mengandung racun yang seketika dapat mencabut nyawa lawan yang terkena jarum itu. Akan tetapi, kini jarum-jarumnya menancap di tubuh pemuda itu seperti menancap di batang pohon saja!


Meski Arya tampak tenang, tetapi diam-diam juga kagum dengan serangan laki-laki berwajah hijau itu. Ia tak menyangka bahwa jarum-jarum tersebut dapat menembus kulitnya.


Bu Tong Pay, laki-laki berwajah biru yang juga sangat marah, menyusul serangan saudaranya itu dengan terjangan dahsyat. Dia tadi juga terkejut melihat betapa jarum-jarum yang dilepas saudaranya itu tepat mengenai tubuh lawan akan tetapi pemuda itu tidak roboh, maka dia pun langsung mempercepat serangannya dan tangannya yang kanan menyambar ke arah kepala pemuda itu.


Kembali Arya tidak mengelak ataupun menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum menyeringai saja. Akan tetapi pada saat tangan Bu Tong Pay yang berupa capit itu, tangan yang mengandung energi Qi amat kuatnya telah menyambar dekat, tinggal beberapa senti lagi dari kepalanya, tiba-tiba saja tangan itu menyimpang bagai terpeleset oleh sesuatu yang amat licin sehingga sama sekali tak mengenai kepala Arya, hanya menyerong ke samping lantas lewat beberapa senti jauhnya dari kepala pemuda itu.


Selain terkejut dan heran, Tiga saudara Pembawa Maut dari Gunung Kwen Lun itu juga merasa penasaran dan marah sekali. Orang-orang seperti mereka selalu memandang diri sendiri terlalu tinggi dan tidak menghargai orang lain, maka setiap kali mereka gagal, tentu hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan.


Nie Zha yang hendak membantu Arya, baru sadar bahwa tubuhnya tidak bisa digerakkan bahkan ia merasakan ada energi aneh yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Khawatir dirinya sedang dalam pengaruh teknik lawan, maka sebisa mungkin ia mengerahkan energi Qi nya untuk melepaskan diri. Sampai gadis ini keluarkan keringat dingin sekalipun, ia tidak juga berhasil menggerakkan tubuhnya. Gadis ini memang memiliki tekad kuat dan tidak mudah menyerah, berkali-kali ia mengerahkan segala kemampuannya untuk melepaskan diri.


Sementara itu, Tiga Pembawa Maut tiba-tiba menjatuhkan diri bertiarap di atas tanah, lalu bergulingan dari tiga jurusan menuju ke arah Arya. Ketika sudah dekat, ketiganya menggerakkan tubuh, serentak menyerang dari bawah dengan pukulan yang dahsyat luar biasa. Pukulan mereka itu datang dari kanan, kiri dan depan, menghantam ke arah tubuh pemuda itu yang masih saja tersenyum-senyum seperti seorang dewasa menghadapi kenakalan tiga orang anak kecil.


Desss…! Desss…! Desss...!


Tiga sinar pukulan itu laksana berlomba mengenai tubuh Arya dari kanan kiri dan depan. Seperti juga tadi, Arya sama sekali tak mengelak, hanya berdiri tegak dan agaknya membiarkan saja tiga sinar pukulan itu mengenai tubuhnya. Hanya ketika pukulan itu tiba, dia mengembangkan dua lengannya, kemudian setelah pukulan mengenai tubuhnya, dia mengibaskan kedua tangannya ke bawah, seperti orang mengusir dua ekor lalat yang mengganggu saja layaknya!


Dan akibatnya, tubuh Arya yang menerima pukulan itu tidak bergoyang sedikit pun, sebaliknya, tiga bersaudara yang sedang meloncat sambil memukul dari bawah tadi, kini terpelanting lantas berguling-guling di atas tanah. Ketiga bersaudara itu merasa tubuh mereka amat panas seperti baru saja disambar petir.


Ketika mereka mampu menguasai tubuh dan hendak meloncat bangun, Arya menggerakkan tangannya yang bersamaan dengan itu angin kuat menyambar, membuat ketiga bersaudara itu roboh kembali setiap kali mereka mau bangkit! Tentu saja ketiga orang itu terkejut setengah mati.


Setelah mengerahkan seluruh tenaga dan mencoba untuk bangkit dengan segala cara dan akal namun selalu dirobohkan kembali oleh pukulan jarak jauh dari Arya, akhirnya keduanya baru yakin benar bahwa sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan seorang yang mempunyai kesaktian luar biasa, yang tingkat kepandaiannya beberapa kali lebih tinggi dari pada tingkat mereka.


Tiba-tiba terdengar suara Ratu Bunga Asmara, “Terimakasih telah membuka mata kami, Pendekar Naga Emas.. jujur saja aku memang hendak melihat sejauh mana kemampuanmu.”


Arya mengangguk, “Apa sekarang kalian sudah puas atau ingin melanjutkan persoalan ini...?”


Ratu Bunga Asmara memperlihatkan senyuman menggoda, namun wajahnya mendadak menjadi tegang manakala tiba-tiba saja ada angin yang menyambar kuat. Nampak bayangan orang berkelebat lalu bayangan itu membuat gerakan berputar, lantas timbullah angin berputar-putar, angin puyuh yang menerbangkan daun-daun pepohonan. Semakin lama angin itu semakin cepat dan makin banyak pula daun-daun beterbangan ikut dalam putaran yang kuat itu.


Setelah angin puyuh itu mereda dan daun-daun juga sudah turun kembali, di situ nampak seorang kakek berambut kelabu. Kakek itu bukan lain adalah Gao Lishi alias Si Lengan Api.


Si kakek Lengan Api memandangi ketiga bersaudara Pembawa Maut yang masih terduduk ditanah dengan sorot mata penuh selidik. Meski tidak melihat sendiri kejadian yang telah terjadi disini, namun pendengarannya yang tajam ketika mendengar benturan energi telah membuatnya mengerti bahwa sebelum kedatangannya telah terjadi pertarungan di tempat ini.


Pandangannya kemudian beralih menatap Arya yang nampak berdiri tenang, dia lantas memandangi Nie Zha, cucu angkatnya. Melihat tubuh gadis itu yang diselimuti energi tak kasat mata, maka kakek inipun segera berkelebat mendekatinya.


Sementara itu, Ratu Bunga Asmara diam-diam merasa khawatir atas kemunculan kakek tersebut. Dia sudah dapat melihat bahwa kakek itu memiliki kemampuan diatasnya. Agaknya situasi memang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk tetap membujuk Pendekar Naga Emas, maka diapun lantas berkata,


“Pendekar Naga Emas, pikirkanlah dulu baik-baik permintaan kami. Jika kau telah bersedia, temui aku di gunung Qiantang.”


Setelah berkata begitu, Ratu Bunga Asmara menelangkupkan tangannya kepada Arya. Ia kemudian memandangi ketiga bersaudara Pembawa Maut bergantian. Setelahnya gadis cantik inipun tahu-tahu lenyap dari pandangan.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Nie Zha?” tanya kakek Lengan Api setelah berhasil melepaskan Nie Zha dari selubung energi yang menjerat gadis itu.


“Mereka hendak membujuk Li Xian untuk bergabung dengan mereka. Tapi karena mendapatkan penolakan maka merekapun lantas menggunakan cara kasar untuk memaksakan kehendak mereka.” jelas Nie Zha dengan nada marah yang ditahan-tahan.


Pada saat itu Arya telah mendekat, “Nie Zha, seperti yang aku katakan padamu tadi. Sekarang saatnya aku akan membantumu untuk menyerap energi yang diberikan oleh dua gurumu.” pemuda ini mengeluarkan dua pil yang memancarkan sinar putih dan biru. Lalu pil itu diberikan kepada Nie Zha sambil berkata, “Kau duduklah di batu itu,” Arya mengalihkan pandangannya ke tepi tebing yang terdapat batu besar datar disana.


Nie Zha menoleh kepada kakek angkatnya, mendapati anggukan kepala dari sang kakek, maka iapun tersenyum dan bergegas menuju ke batu ditepi jurang. Kemudian ia duduk disana sambil memandangi Arya yang sedang melangkah dan lantas duduk di hadapannya.


Dada Nie Zha terasa berdesir melihat wajah tampan Arya yang hanya beberapa jengkal tepat di hadapannya itu. Udara tiba-tiba menjadi begitu dingin, namun hal itu sama sekali tidak dirasakan Nie Zha yang sedang berusaha menenangkan debaran jantungnya.


“Minumlah dua pil itu sekaligus. Lalu pejamkan matamu, lemaskan tubuhmu dan ulurkan kedua tanganmu ke depan.” perintah Arya.


Nie Zha mengangguk, tanpa ragu-ragu dia cepat menelan pil yang memancarkan sinar putih dan biru ditangannya itu. Ia memejamkan matanya, lalu mengulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap Arya.


Untuk beberapa saat Arya membiarkan pil yang ditelan Nie Zha bekerja. Ia menghentakkan telapak tangan kanannya ke permukaan batu yang diduduki mereka. Bersamaan dengan itu tampaklah energi emas menjalar seperti air ke segala penjuru dan cepat sekali energi emas itu membentuk kubah energi, membungkus batu yang ditempati dua muda-mudi tersebut.


Barulah ketika tubuh gadis itu memancarkan sinar putih, Arya kemudian menggerakkan kedua tangannya yang diselimuti curahan energi emas hingga bergetar seluruh tubuhnya. Mata Arya sedikit terpejam penuh dengan pengerahan konsentrasi yang kuat. Dan tiba-tiba ia sentakkan kedua jari tengahnya dari masing-masing tangannya.


Jari tengah itu masing-masing melepaskan enam larik sinar, yaitu sinar hijau, merah, kuning, putih, biru, dan ungu. Sinar-sinar yang memancar dari masing-masing jari tengah pemuda itu menghantam kedua telapak tangan Nie Zha. Kejap berikutnya, tubuh Nie Zha bergetar dan keringat sebesar-besar biji jagung membasahi seluruh pakaiannya. Tubuh gadis jelita itu dilapisi oleh enam sinar yang tidak saling bersentuhan satu dengan lainnya.


Ketika tubuh Nie Zha dilapisi enam sinar dari ujung kaki sampai kepala, tubuh gadis tersebut semakin bergetar kuat hingga terguncang-guncang.


Dilain pihak, kakek Lengan Api yang menyaksikan kejadian itu nampak terbelalak dengan sorot mata penuh kekaguman. Dadanya berdebar-debar khawatir jika proses penyatuan energi itu gagal. Kini nasib Nie Zha, cucu angkatnya itu tergantung pada usaha Arya. Jika sampai pemuda itu gagal maka sudah dapat dipastikan bahwa cucu angkatnya itu akan tewas. Dia sebenarnya menolak keras keinginan Arya yang hendak menyatukan energi pada tubuh cucunya itu, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Nie Zha sendiri merengek-rengek dan bersikeras untuk melakukan penyatuan energi tersebut dengan alasan ingin menjadi lebih kuat agar dapat menjaga diri, ia tidak ingin mendapatkan peristiwa yang sama seperti saat dirinya tak berdaya ketika diculik dan hendak diperkosa orang.


Tiba-tiba datang angin badai yang dari kecepatan pelan menjadi sedang dan makin lama menjadi kencang seperti badai. Langit menjadi mendung dan awan hitam bergulung-gulung menutupi sinar purnama. Petir menyambar-nyambar, menggelegar bagai ingin meruntuhkan langit.


Enam sinar masih menyembur dari kedua jari tengah Pendekar Naga Emas. Nie Zha dan Arya seakan tidak peduli dengan alam yang mengamuk dan tanah yang terguncang bagai hendak dilanda gempa. Mereka berdua tetap berkonsentrasi, sampai akhirnya sinar ungu padam, tapi sinar lainnya masih menyembur ke telapak tangan Nie Zha.


Sesaat kemudian sinar hijau padam, kini tinggal empat sinar yang masih memancar dari kedua ujung jari tengah Arya. Makin lama semakin membuat kulit tubuh Nie Zha menjadi merah bagai terpanggang api.


Keringatnya pun telah membuat baju disekujur tubuh gadis yang sintal itu menjadi basah kuyup. Nie Zha sendiri dalam keadaan antara sadar dan tidak masih dapat merasakan aliran hawa hangat yang meresap masuk ke sekujur tubuhnya melalui kedua telapak tangannya. Satu demi satu sinar itupun akhirnya padam dalam waktu tak terpaut lama. Kini hanya tersisa satu sinar merah yang masih membias dari ujung jari tengah Arya.


Pada saat itu, badai mulai mereda dan petir pun sudah jarang mengguntur di angkasa. Sampai akhirnya alam menjadi damai kembali ketika sinar merah itu berhenti dan padam tak berbekas sedikit pun di telapak tangan Nie Zha.


Arya segera tarik kedua tangannya yang terjulur, ia kemudian mengatur jalannya nafas dan energi di dalam tubuhnya. Nie Zha sendiri tampak menundukkan kepalanya dengan napas terengah-engah. Kulit tubuhnya yang tadi memerah bagai terpanggang api, kini sudah kembali seperti sediakala, yakni putih bersih.


Melihat keberhasilan itu, wajah tegang kakek Lengan Api seketika menghilang, wajahnya kini menggambarkan kebahagiaan. Si kakek tersenyum lega, ia kemudian menempatkan diri duduk sambil bersandar pada sebongkah batu seukuran anak sapi. Matanya masih terus memandangi muda-mudi yang masih duduk di atas batu datar ditepi jurang tersebut.


“Nie Zha...,” terdengar suara Arya dengan nada pelan dan lirih.


“Ya, ada apa?!” jawab Nie Zha sambil tengadahkan wajahnya, dan dilihatnya Arya sedang memejamkan matanya, wajah pemuda dihadapannya itu kini dibasahi peluh. Begitu tampannya paras pemuda dihadapannya itu, membuat dadanya berdebar-debar. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak hendak mengusap keringat yang membasahi wajah tampan itu. Akan tetapi tiba-tiba bibir Arya bergerak mengucapkan sesuatu,


“Bermeditasi lah, alirkan semua energi yang ada di dalam tubuhmu ke semua titik Meridian yang kau miliki.. lakukan terus-menerus sampai tubuhmu mulai terbiasa dengan energi besar yang kau miliki sekarang.”


Demikianlah, Arya dan Nie Zha kemudian hanyut dalam meditasi masing-masing. Sedangkan kakek Lengan Api yang maklum bahwa cucu angkatnya memang membutuhkan waktu untuk menyelaraskan diri dengan kekuatan barunya. Maka iapun sekarang mengambil peran untuk berjaga.


“Aneh, mengapa turun salju...” ucap Kakek Lengan Api, telapak tangan kanannya yang terkembang ia julurkan. Butir-butir salju turun dari langit jatuh di telapak tangannya.


Menurut perhitungannya, seharusnya musim dingin akan tiba pada bulan sebelas, namun kini salju telah turun di bulan tujuh. ‘Pertanda apakah ini?’ pikir kakek ini.