Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Transformasi


Huang Kun dan Cao Song tersenyum puas, mereka berfikir lawannya sudah tewas menjadi abu. Namun senyuman mereka tidak bertahan lama, ketika mereka tiba-tiba merasakan adanya energi besar yang mengarah ke arah mereka.


Mengetahui adanya serangan dari arah atas, tanpa melihat ataupun membuang-buang waktu mereka berdua lekas memapak udara, melompat berpencar.


"Mata kalian sepertinya harus di obati agar bisa melihat tingginya langit dalamnya laut."


Suara Hulao seolah bagaikan halilintar, menggema begitu keras memekakkan telinga. Dengan cepat Huang Kun dan Cao Song mengedarkan pandangan, namun tidak menemukan yang mereka cari.


"Nah, sudah tidak ada obat. Mata kalian benar-benar sudah buta, harus di congkel dan di ganti yang baru." Suara Hulao kembali terdengar sebelum lenyap di telan gemuruh suara petir.


Tubuh Huang Kun dan Cao Song nampak bergetar, saat tiba-tiba terasa ada tangan yang mencekal batang leher mereka.


Kemudian di hadapan mereka muncul Hulao dengan wujud berbeda, wujud harimau setengah manusia. Sepasang tangan dan kakinya berbulu putih, memiliki cakar seperti harimau, namun tubuh dan kepalanya berwujud manusia. Matanya sendiri memiliki pupil persis seperti harimau pada umumnya. Inilah bentuk transformasi Hulao jika menggunakan seluruh kekuatannya.


Memang hewan yang memiliki qi akan memasuki ranah siluman, namun ketika tubuh siluman menerima dan menampung lebih banyak qi, maka tubuh mereka perlahan-lahan akan bertranformasi. Akan tetapi hanya segelintir saja yang bisa bertransformasi ke wujud manusia. Jika saja Hulao sudah mencapai tahap Pendekar Dewa maka tubuhnya akan sepenuhnya menjadi manusia.


Belum selesai dari keterkejutannya, kini mereka semakin terkejut manakala hendak menggerakkan tubuh namun tak bisa. Baik Cao Song dan Huang Kun sama-sama tak mampu berkutik, tubuh mereka mematung, entah sejak kapan tapi yang pasti sekarang mereka sedang berusaha melepaskan diri.


Hulao sebenarnya hendak bermain-main karena ingin menjajal sejauh mana peningkatan kekuatannya saat ini, namun mengingat keselamatan orang-orang yang berada di dalam kota, diapun segera mengurungkan niatnya. Maka diam-diam diapun menggunakan teknik ilusi, membuat lawannya tidak bisa bergerak.


Terlihat Hulao mulai menggerakkan tangannya, melakukan serangkaian pola tangan. Sebelumnya dia tidak perlu repot-repot melakukan hal ini jika ingin menggunakan teknik ataupun jurus, cukup membayangkan suatu gerakan di dalam pikirannya maka dia sudah bisa menggunakan jurus tersebut. Tapi karena sekarang dia memiliki tubuh manusia, mau tidak mau dia harus melakukan hal itu agar aliran Qi nya mengalir sempurna.


Tiba-tiba dari arah samping berkelebat cepat sesosok kecil dan tahu-tahu sosok itu menghantam kepala Huang Kun sampai pecah. Huang Kun seketika tewas dan roboh terjun bebas ke permukaan tanah.


Lalu terdengar suara tawa tergelak-gelak, Hulao sangat mengenal siapa pemilik suara maka diapun melesat, menangkap kelebatan tersebut.


"Lepaskan!" Meronta sosok kecil yang di tenteng Hulao.


Meledaklah tawa Hulao saat melihat sosok yang di tentengnya itu, "Tupai tengik, kenapa tubuhmu berubah menjadi seperti tikus lucu seperti ini?" Hulao kembali tertawa, suara tawanya bahkan membuat angin menderu kencang.


Sebagaimana Hulao, Honglong juga mengalami transformasi karena terpaksa harus mengerahkan seluruh energinya saat menghadapi Chai Yan, namun transformasi siluman tupai itu berbeda, tubuhnya masihlah tupai namun agak lebih besar dari sebelumnya, perutnya buncit seperti mengandung, bulunya berubah menjadi putih bergaris merah, telinganya lebih panjang dan yang lebih aneh, ekornya sekarang bercabang empat.


"Tikus katamu, setidaknya wujudku jauh lebih baik daripada wujudmu yang seperti monyet itu." Honglong yang tidak mau kalah, membalas tertawa mengejek.


Sibuk saling mengejek, mereka sampai melupakan keberadaan satu musuh yang sudah berhasil membebaskan diri. Cao Song diam-diam melesat melarikan diri ke arah wilayah kerajaan.


Cao Song tidak cukup bodoh untuk melawan mereka berdua, maka dari itu dia berniat melaporkan masalah ini kepada rajanya.


Hulao yang hendak memukul Honglong mendadak terkesiap ketika menyadari musuhnya telah terlepas dari tekniknya. Maka diapun lekas berbalik badan dan melemparkan Honglong yang ada di genggaman tangan kanannya ke arah Cao Song.


Lemparan Hulao tidak main-main, Honglong yang sering menyombongkan kecepatannya kini dibuat gelagapan saat di lempar dengan kecepatan yang sedahsyat itu. Tidak memiliki waktu untuk menghentikan lajunya, Honglong buru-buru melapisi tubuhnya dengan Qi agar tidak terluka saat menghantam Cao Song.


Blaaammm...


"Aduh, sialan kenapa meleset." Hulao menepuk keningnya seolah menyesali diri karena lemparannya gagal mengenai sasaran.


Baru saja selesai gema ledakan, sesosok tubuh Honglong bangkit dari reruntuhan dan langsung melesat terbang sambil berteriak-teriak marah.


Para prajurit yang berada di dekat sumber ledakan segera berlarian menuju ke titik tembok yang hancur, mereka langsung memeriksa di setiap sudut mencari apa penyebab ledakan tersebut. Tidak menemukan apapun, mereka lantas berinisiatif sendiri menjaga ketat keamanan di sana.


Cao Song yang melihat ledakan itu, sontak dibuat terkesiap bahkan hampir saja kehilangan keseimbangan. Dia kemudian meningkatkan kewaspadaan karena yakin musuhnya telah menyadari jika dirinya berniat kabur dan ledakan tadi dia yakini adalah serangan dari musuh.


Sembari melesat ke arah Hulao, Honglong yang dalam keadaan marah melampiaskan kemarahannya saat melewati Cao Song. Tanpa banyak berkata, dia langsung menghantam Cao Song bertubi-tubi tanpa memberikan kesempatan bagi lawannya itu untuk melakukan perlawanan.


"Hahaha..." Sebuah tawa mengudara, Hulao yang memang sedang menuju ke arah Cao Song mendadak berhenti ketika melihat Honglong mengamuk pada orang yang salah.


"Ayo tikus kecil, hantam dia, hebat! Benar begitu, sekarang pukul perutnya, ya kau hebat luar biasa.. Nah lihat kepalanya, sekarang tendang mukanya yang jelek itu, ya ya tendang. Tendang bodoh! ku bilang tendang! Bukan malah mencakarnya!" Seru Hulao dari kejauhan seolah menyemangati, padahal jelas-jelas dia sedang mengejek. 


Namun anehnya Honglong semakin bersemangat menghajar lawannya, entah karena marah atau mungkin karena merasa tersanjung mendapatkan pujian dibilang hebat oleh sang rival.


"Hahaha... Dasar tidak tau diri, kemampuan rendahan seperti itu berani-beraninya ingin menguasai kerajaan ini. Kasih tau dia tupai tengik, siapa kita." Hulao terus berkomentar seenaknya.


Tak terasa, mereka sudah bertukar serangan selama lebih dari belasan menit. Namun baik Honglong dan Cao Song tidak ada yang mengalami luka parah, hanya goresan kecil dan lebam bekas pukulan.


Memang Honglong memiliki kelebihan dalam segi kecepatan dan ukuran tubuhnya, sehingga membuatnya dengan mudah menghindar serta menyerang. Tetapi bagaimanapun kemampuan Cao Song yang berada di atasnya tidak mudah untuk di tumbangkan.


Disaat Honglong mengendurkan serangan sambil berusaha mengatur nafas dan memulihkan energi, Cao Song yang masih dalam kondisi prima diam-diam melancarkan serangan tipuan. Tubuhnya melesat menerjang, lalu berputar melayangkan tendangan dengan tumit.


Honglong yang tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, mengulurkan kedua tangannya ke depan untuk menahan tendangan tersebut.


Tubuh Honglong terlempar jauh. Kesempatan itu di manfaatkan Cao Song untuk melarikan diri. Namun nasib naas harus didapatinya, karena ketika baru saja hendak meninggalkan pertarungan, dari atas Hulao tiba-tiba muncul membabat kepalanya dengan terkaman cakar.


Sreeettt...


Kepala Cao Song terbelah menjadi tiga bagian sampai pangkal leher.


"Kultivasimu memang tinggi tapi otakmu dangkal, amati situasi di sekitar ketika ingin bertindak kabur." Hulao berbicara sendiri seolah memberikan pengarahan pada musuhnya yang telah tewas dan jatuh meluncur ke tanah tersebut.


Sepuluh kuku-kuku jari tangan Hulao menyusut tidak sepanjang sebelumnya. Dia kemudian menoleh ke kanan, didapatinya Honglong sedang terbang ke arahnya.


"Tugas kita belum selesai, ayo cepat kita membantu tuan." Ucapnya sebelum menukik turun.


Honglong mendengus kesal, padahal tadi dia berniat menghajar Hulao. Namun karena memang situasi tidak mendukung, diapun bergerak menyusul.