
Pada saat ini Yihong Duan tengah mengadakan pertemuan bersama 3 panglima kerajaan untuk membahas strategi penyerangan, mereka berada di ruangan pribadi Yihong Duan.
"Situasi saat ini sepertinya mengharuskan kita untuk memulai penyerangan.." Yihong Duan menghela nafas lalu menatap salah seorang panglima yang duduk dihadapannya. "Bagaimana, Cianlung, apa kau memiliki strategi?"
Orang yang bernama Cianlung adalah salah satu tetua Iblis Berdarah yang menduduki posisi ke 9 tetua terkuat. Dia lah ahli strategi, dimana Cianlung sebenarnya dulu adalah panglima perang dari salah satu kerajaan di Kekaisaran Tang.
"Kita memang sudah tidak punya pilihan lain, situasi di dalam kota juga saat ini sedang kacau, ada kelompok yang tidak diketahui darimana, tiba-tiba menyerang anggota kita. Melihat orang-orang kerajaan belum mengetahui penyamaran kita, ku rasa ini adalah saat yang tepat untuk melakukan menyerang." Berkata Cianlung lalu melanjutkan, "Kita tidak perlu menunggu perintah dari Patriark, aku yakin jika Patriark mengetahui keadaan yang sedang kita alami saat ini, Patriark pasti bisa memakluminya."
Selanjutnya, Cianlung mengeluarkan selarik kertas yang nampaknya itu adalah peta wilayah kerajaan.
"Kita mulai penyerangan dari 6 titik lokasi ini, dengan begitu perhatian para prajurit akan terpecah, sehingga akan memudahkan kita untuk memasuki kediaman Raja. Tapi kita harus tetap waspada karena sampai sekarang kita belum mengetahui kemampuan para pendekar khusus yang melindungi Raja. Jika benar kabar yang beredar, mereka berasal dari Kekaisaran Tang, kemungkinan kemampuan mereka menyamai atau bahkan melebihi kita.". Jelas Cianlung sambil menunjuk enam titik yang ada di dalam peta kerajaan.
"Tapi bagaimana cara kita memasuki kediaman Raja, kalian tahu sendiri disana terdapat segel pelindung yang kuat dan hanya dapat di masuki oleh keluarga kerajaan." Berkata panglima lainnya yang bernama Wei An.
"Masalah segel pelindung itu tidak perlu di pikirkan. Dengan menyatukan kekuatan kita, aku yakin segel pelindung itu pasti dapat kita hancurkan." Balas seorang pria yang berkumis dan berjenggot tebal, dia adalah panglima Gui Lampai.
"Benar, tidak perlu terlalu memikirkan segel pelindung itu. Ada hal yang lebih serius yang harus kita perhatikan saat ini, yaitu kelompok misterius yang telah menyerang anggota kita. Mengingat kemampuan mereka dapat menyulitkan pasukan hewan iblis, kemungkinan besar mereka adalah para pendekar dari sebuah sekte besar atau bahkan bisa juga mereka berasal dari Kekaisaran Tang." Berkata Cianlung sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Kita masih memiliki pasukan hewan iblis, aku yakin mereka pasti sanggup mengatasi kelompok misterius itu." Ucap Wei An dengan tenang dan percaya diri.
Yihong Duan memijit pelipisnya dengan ibu jari sebelum membuka suara, "Kelompok misterius itu hanyalah berjumlah kecil, tidak perlu di cemaskan." Yihong Duan menggerakkan jari-jarinya di atas meja lalu melanjutkan.
"Masalah yang kita hadapi saat ini tidaklah terlalu mengkhawatirkan daripada masalah yang akan timbul setelah kita berhasil menguasai kerajaan ini. Kabar tentang penyerangan kita pastilah akan dengan cepat tersebar luas. Maka dari itu, kita harus segera mengabarkan pada anggota kita yang berada di dua kerajaan lainnya untuk secepatnya melakukan penyerangan. Dengan begitu perhatian para pendekar dan orang-orang Kekaisaran akan terbagi. Kita juga bisa memiliki waktu untuk membangun kekuatan dan menyusun rencana untuk mengatasi para pendekar serta para pasukan Kekaisaran yang pastinya cepat atau lambat menyerang kita bertujuan mengambil kembali kerajaan ini."
Ketiga panglima terdiam, inilah yang menjadi alasan mereka tidak mau melakukan penyerangan lebih awal dan menunggu sampai mendapatkan perintah dari Patriark mereka untuk melakukan penyerangan serentak di 3 kerajaan. Selain untuk memecah perhatian, mengambil alih 3 kerajaan dalam waktu bersamaan juga menguntungkan bagi mereka, karena dengan mendapatkan kekuatan militer dari 3 kerajaan tersebut setidaknya mereka dapat sedikit mengimbangi jumlah dan kekuatan militer pasukan dari Kekaisaran.
Sesaat suasana menjadi hening, sebelum Yihong Duan kembali membuka suara, "Wei An, kau pergilah dan kabarkan pada anggota kita yang berada di dua kerajaan lainnya untuk memulai penyerangan. Biar masalah disini kami yang urus."
Setelah cukup jelas dan menemukan beberapa solusi, pertemuan pun bubar.
Wei An meninggalkan kota, mengemban misi pergi ke kerajaan Goading dan Dasha. Sementara itu, Cianlung dan Gui Lampai segera menyiapkan anggotanya untuk memulai penyerangan. Yihong Duan sendiri pergi menemui raja hewan iblis.
Penyerangan pun dimulai, sebagian pendekar aliran hitam yang pada saat itu sedang membaur bersama prajurit kerajaan, dan telah mendengar perintah dari atasannya, diam-diam langsung melancarkan serangan dadakan. Tak ayal, para prajurit seketika tewas bergelimpangan karena tidak siap mendapatkan serangan kejutan. Serangan itu berperan sebagai pengalihan.
“Menghindar!” Seru salah seorang prajurit setelah berhasil selamat dari tebasan salah satu pendekar aliran hitam yang menyamar.
Seruan itu sontak membuat semua prajurit yang berada disekitarnya melompat menjauh. Untuk beberapa saat mereka belum dapat mencerna situasi, namun ketika melihat rekan-rekannya telah bergelimpangan tewas, merekapun baru menyadari bahwa terdapat musuh yang menyamar diantara mereka.
Satu persatu tombak tajam mulai di lemparkan para prajurit ke arah musuh. Tidak main-main, tombak-tombak itu dilapisi Qi bahkan mampu melesat seperti peluru dan menciptakan ledakan ketika menghantam lawan ataupun objek lainnya.
Namun karena serangan tombak dari para prajurit dapat di tangkis dan dihindari, membuat serangan tombak itupun meleset tidak mengenai sasaran.
Dari arah barat, terlihat sebuah energi besar melesat dan tidak lama berselang terdengar ledakan besar menggetarkan tanah. Disusul teriakan-teriakan para prajurit mengudara, nampaknya di sana juga terjadi penyerangan.
Seorang lelaki kurus terlihat melayang di udara, tertawa tergelak-gelak sebelum mencampakkan atribut prajurit yang di kenakannya ke sembarang arah. Setelahnya, dia menggigit ibu jarinya hingga berdarah, kemudian darah itu dia gariskan memanjang pada pedangnya, membuat pedang ditangannya seketika bercahaya merah.
Di hadapannya, berdiri lelaki berkumis tebal berbadan tinggi tegap menyipitkan mata melihat apa yang dilakukan lawannya itu, dia pun segera membentuk kuda-kuda sedikit melingkar, kedua kakinya ditarik lebar, sementara tubuhnya berputar 90 derajat dengan pedang besar di atas pundak.
Jurus Putaran Angin Menggulung Langit adalah salah satu jurus terkuat milik pria tinggi tegap tersebut, dialah panglima Lin Yo. Dia sangat jarang sekali menggunakan jurus itu karena akan berakibat fatal pada orang di sekitarnya.
Sementara lelaki kurus, yang tidak lain adalah murid inti Sekte Iblis Berdarah yang bernama, Sun Wgilin, memiliki Jurus pedang ‘Singa Kematian’, sebuah jurus terlarang yang hanya diketahui oleh para tetua saja.
Sebuah bayangan singa besar setinggi 8 meter terbentuk dari ayunan pedang miliknya, singa bayangan itu terlihat memiliki mata berwarna merah terang menyeramkan, dengan taring dan kuku sangat tajam.
Dua tarikan nafas berikutnya, angin cakram pun melesat bertabrakan dengan singa kematian, di atas langit terlihat dua energi besar saling mendorong satu sama lain.
Bayangan singa raksasa menahan angin cakram dengan dua cakar tajamnya, terlihat cakram itu terus terdorong ke belakang hingga akan mencapai panglima Lin Yo.
Namun dengan tenaga tersisa, panglima Lin Yo kembali melontarkan cakram angin kedua, itu adalah cakram penghabisan miliknya, dimana saat ini energi Qi lelaki berkumis itu sudah benar-benar habis terkuras.
Angin cakram kedua panglima Lin Yo melesat mendorong cakram pertama yang kini sudah terlihat semakin memudar.
Dengan begitu, cakram keduanya bergabung hingga tercipta angin cakram lebih besar dengan putaran yang lebih kencang serta lebih tajam.
Dua cakaran singa kematian seketika patah terpotong oleh angin cakram, namun singa itu masih dapat bertahan dengan menahan angin cakram panglima Lin Yo menggunakan moncongnya.
Ke-empat taring singa berjuang keras menahan putaran cakram yang sangat dahsyat tersebut, tidak disangka, ternyata Sun Wgilin juga mengayunkan pedangnya kembali menciptakan bayangan singa kedua.
Tetapi tidak cukup cepat karena singa pertama sudah hancur oleh cakram panglima Lin Yo, hingga cakram itupun terus melesat menghantam sosok bayangan singa yang belum sempurna, membuat bayangan singa dan cakram panglima Lin Yo meledak, menciptakan sebuah gema ledakan yang sangat besar.
Sun Wgilin tewas seketika menjadi serpihan daging, sementara panglima Lin Yo terlempar jauh puluhan meter.
Tubuhnya berhenti menghantam dinding beton tembok pertahanan di sisi barat daya, membuat dinding itu langsung roboh terkena benturan keras tubuh panglima Lin Yo.
Kondisi panglima Lin Yo sungguh benar-benar buruk, dia kehilangan satu tangannya terkena dampak ledakan, sementara hampir semua organ dalamnya hancur karena membentur dinding beton raksasa.
Panglima Lin Yo tergeletak tidak berdaya, sekujur tubuhnya dipenuhi darah segar yang merembes dari luka terbuka akibat tusukan tulang belulangnya sendiri yang patah.
"Maaf Yang Mulia, aku hanya dapat berjuang sampai disini," Berkata lirih panglima Lin Yo sebelum kedua matanya terpejam dengan nafas terputus.