
Pertarungan terus berlanjut dan semakin membesar hingga mencapai ke area dekat tembok kawasan kerajaan, menyebabkan banyak rumah warga dan penginapan menjadi korban, sebagian rumah hancur karena terkena dampak pertarungan, dan sisanya hangus terbakar oleh serangan hewan iblis.
Penduduk yang tadinya diungsikan di dekat tembok kawasan kerajaan, kini cepat-cepat di alihkan menuju keluar dari kota.
Entah sudah berapa banyak nyawa yang menjadi korban, tetapi yang pasti, kota kerajaan kini berubah menjadi puing-puing reruntuhan dan lautan darah.
Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, terdiri dari mayat penduduk, pendekar yang kebetulan berada di dalam kota, pendekar aliran hitam yang menyamar serta para prajurit kerajaan.
Bayangan Arya sendiri begitu kewalahan dalam menghadapi kelicikan para hewan iblis, dimana para hewan iblis terus saja menghindari pertarungan dan selalu saja mengalihkan perhatian dengan menyerang para penduduk serta bangunan-bangunan di dalam kota.
Meskipun kultivasi para bayangan Arya berada di atas para hewan iblis, namun mereka tetaplah hanyalah bayangan, yang memiliki batas energi dan keterbatasan kemampuan. Tidak seperti Arya yang asli.
Dalam beberapa kali kejadian, para bayangan Arya berhasil di lenyapkan saat mereka tengah lengah menolong para penduduk. Walaupun para tubuh bayangan Arya sangat geram terhadap kelicikan para hewan iblis, namun mereka terus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan penuh atau akan memperparah kehancuran. Pesan Arya untuk melindungi keselamatan penduduk adalah kelemahan terbesar mereka.
Arya yang melihat hal itu dari atas langit nampak memasang wajah sangat kesal, tangannya sudah begitu gatal ingin segera memusnahkan para hewan iblis, namun dia tidak langsung turun karena sekarang dia sedang memikirkan kondisi seperti ini juga akan menimpa kerajaan Goading, maka diapun menciptakan beberapa tubuh bayangan.
"Kalian pergilah ke kerajaan Goading, kabarkan kepada Raja Lin Yon Jun dan panglima Chong Quon bahwa kerajaan mereka sedang dalam bahaya. Bantu mereka mengatasi para pendekar aliran hitam dan hewan iblis yang menyamar."
Tanpa berkata apapun, para bayangan Arya segera menghilang dari pandangan. Meskipun mereka hanyalah tubuh bayangan namun mereka juga memiliki kemampuan berteleportasi, ingatan Arya mengenai lokasi kerajaan Goading adalah petunjuk utama bagi mereka untuk menuju kerajaan tersebut.
"Semoga kekuatan pendekar aliran hitam dan hewan iblis di sana tidak sekuat yang ada disini." Membatin Arya lalu mengenakan topeng sebelum menukik turun ke arah salah satu hewan iblis.
Hewan iblis yang hendak melesatkan serangan ke arah bangunan mendandak mematung, sekejap kemudian di lihatnya seorang bertopeng putih yang menutupi sebatas mata dan sebagian wajahnya, turun dari langit. Sosok bertopeng itu nampak menggerakkan bibirnya seperti membaca mantra sebelum matanya tiba-tiba berubah merah.
Pada saat yang sama, hewan iblis itu tiba-tiba mengeluarkan raungan setinggi langit, dan..
Kraaakk.. bruukk...
Terdengar suara kepala meledak, dan di susul suara tubuh jatuh ambruk ke tanah.
Arya menyeringai, matanya kembali berangsur normal. Dipandanginya tubuh hewan iblis yang kini sudah tidak memiliki kepala tersebut, lalu menghentakkan tangan kanannya mengirim selarik energi keemasan.
Energi itu melesat cepat dan menghancurkan bangkai hewan iblis tersebut menjadi abu.
"Kau pergilah ke dalam kerajaan, bantu orang-orang disana." Arya menoleh ke kanan, dimana tubuh bayangannya baru saja menjejakkan kaki di dekatnya.
Tubuh bayangan itupun mengangguk, lantas melesat ke arah tembok kerajaan.
Selesai menghabisi hewan iblis tersebut, Arya kemudian berkelebat mencari hewan iblis lainnya. Seolah sedang berpacu dengan waktu, Arya membunuh semua hewan iblis di dalam kota secepat yang dia bisa.
Kemampuan yang tidak bisa dilakukan para tubuh banyangan adalah membuat lawan mematung dengan Aura Naga Emas. Karena semua jurus dari Kitab Dewa Naga Emas hanya dapat di gunakan oleh Arya yang asli. Selain itu para tubuh bayangan tidak memiliki seluruh jurus atupun teknik yang dimiliki Arya, satu bayangan dengan bayangan lainnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
****
Melihat sepasang kaki berbulu dan berkuku panjang, Jenderal Sun Jian menjadi tercekat, cepat-cepat dia merangsek mundur, masih dengan tubuhnya yang terlentang. Meski merasakan tulangnya remuk dan kesakitan, namun dia terus berusaha menjauh, khawatir makhluk itu akan menyerangnya.
"Uhuk.."
Jenderal Sun Jian akhirnya terbaring tak berdaya setelah memuntahkan darah hitam, matanya yang nanar terus memandangi manusia setengah harimau di dekatnya tersebut, dia buru-buru menelan sebuah pil untuk memulihkan diri.
Manusia setengah harimau yang tidak lain adalah Hulao, berdiri tegak tersenyum hangat namun tetap saja senyumannya itu terlihat menyeramkan, "Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu. Aku datang kesini karena di tugaskan oleh tuanku untuk melindungi manusia-manusia lemah sepertimu."
Wajah Jenderal Sun Jian mengerenyit, bibirnya tersenyum pahit, "Melindungi? Bukankah makhluk-makhluk sepertimu lah yang telah menyerang kami. Kalau kau memang ingin bertarung denganku, tunggu sampai aku pulih. Kita bertarung secara adil."
Kalau bukan karena sedang menjalankan perintah dari Arya untuk melindungi orang-orang kerajaan, ingin rasanya Hulao menampar orang itu. Dia sedikit tersinggung karena di samakan dengan hewan iblis.
"Terserah katamu, cepatlah pulihkan dirimu." Hulao menoleh ke samping, dimana puluhan prajurit sedang berlarian ke arahnya. Sesaat kemudian mendandak wajahnya menjadi serius ketika merasakan adanya energi besar tengah mengarah ke tempatnya dari atas.
Hulao cepat menggerakkan tangan kanannya ke atas lantas berkelebat menuju si penyerang.
Selarik energi dari gerakan tangan Hulao menyongsong energi dari atas, sesaat kedua energi itupun saling dorong sebelum meledak di udara.
Sekejap Hulao tiba-tiba sudah muncul menghadang laju terbang seorang wanita berwajah pucat.
Demiao memandangi Hulao dengan tatapan aneh. 'Dari wujudnya, makhluk yang ada di hadapanku ini sepertinya hewan iblis, tapi kenapa dia malah menolong anjing kerajaan itu dan menghalangiku.' Berfikir seperti itu, Demiao lalu berkata, "Manusia yang satu itu adalah bagianku, kau cepatlah menyingkir dari sini dan bantu teman-temanmu.."
Demiao yang marah langsung menarik goloknya, dia berputar setengah lingkaran untuk memberikan tebasan, namun Hulao dapat menahan energi tebasan tersebut dengan kuku tangan kanannya.
Energi tebasan itu terbelah, kemudian lenyap menjadi hembusan angin.
Sepasang mata Demiao nampak melebar, wajahnya yang sudah pucat menjadi semakin pucat. Sebenarnya dia sudah mencoba mengukur kultivasi Hulao, namun dia tidak dapat mengukurnya, kini dia akhirnya benar-benar yakin bahwa lawannya itu memiliki kemampuan di atasnya.
Di saat seperti itu, Hulao sudah melesat menyerang, kukunya yang tajam dihunuskannya ke depan, berniat menusuk tenggorokan Demiao.
Tetapi tetua Sekte Iblis Berdarah itu masih sempat berkelit kearah kiri membuat serangan Hulao hanya berhasil menusuk udara.
Setelah menghindar, Demiao langsung menendang angin untuk mengangkat tubuhnya lebih tinggi, dengan gerakan melayang, dia mengayunkan goloknya lurus hendak membelah tubuh lawan menjadi dua bagian.
Hampir saja tebasan golok tersebut mengenai kepala Hulao, namun tiba-tiba siluman harimau itu lenyap dan muncul di belakang Demiao, membabatkan cakarnya dengan ganas, membuat tubuh Demiao terpental jauh ke samping hampir menghantam daratan.
Setelah dapat menguasai diri, Demiao segera menendang udara untuk melontarkan tubuhnya kembali naik ke atas langit.
Wajah Demiao mengerenyit kesakitan, baju bagian belakang dan punggungnya terkoyak lebar. Akan tetapi luka itu dengan cepat menutup kembali.
"Sepertinya dia adalah siluman yang telah menembus tahap yang lebih tinggi dari Pendekar Suci." Demiao pernah mendengar dari beberapa tetua jika siluman bisa merubah wujudnya manakala mereka telah mencapai Pendekar Pertapa.
Bibir Demiao mengeluarkan suara berdecak kesal, sedikitpun dia tidak pernah mengira akan berhadapan dengan manusia harimau yang sangat kuat seperti itu.
Kemudian Demiao mengeraskan rahangnya, dari tubuhnya menyeruak aura kegelapan yang sangat pekat, dia berniat menekan Hulao dengan aura tersebut.
Namun sayang, lawannya kali ini adalah pendekar Alam. Kemampuan yang ratusan kali lipat lebih kuat dibandingkan dirinya.
Hualo yang melihat lawannya memakai aura kegelapan, awalnya menyeringai namun saat merasakan tubuhnya mulai tertekan, diapun segera mengeluarkan aura siluman yang sangat pekat.
Dengan begitu, aura kegelapan Demiao menjadi tidak berguna bahkan justru kini tetua Sekte Iblis Berdarah itu yang merasa seolah tertimpa gunung, membuat tubuhnya meluncur deras jatuh menghantam beberapa orang yang bertarung dibawahnya.
"Hahaha, dasar payah, aura menjijikan seperti itu tidak akan berpengaruh padaku." Hulao tertawa mengejek.
"Makhluk keparat!" Maki Demiao, rahangnya mengeras. Meski geram namun dia masih bisa mengendalikan diri, dengan segera dia memutar otak untuk mencari cara agar bisa mengalahkan manusia setengah harimau tersebut.
Berdasarkan dari pengalamannya bertarung, Demiao sadar bahwa lawannya itu sedang memancing dirinya untuk marah, itu tidak bisa dibiarkan, dimana bertarung menggunakan emosi hanya akan merugikan diri sendiri, sebisa mungkin diapun harus bisa bersabar.
Setelah berfikir beberapa saat, Demiao mulai melapisi goloknya dengan energi Qi dari elemen racun, membuat golok itu kini memancarkan cahaya merah gelap.
Hulao menyipitkan mata melihat senjata lawan, menyadari lawannya kali ini menggunakan elemen racun, diapun segera mengeluarkan energi untuk melapisi tubuhnya agar mengantisipasi resiko terburuk.
Satu sayatan golok milik Demiao sudah cukup untuk membuat lawannya mati seketika dengan tubuh menghitam, racun yang dapat menyatu dengan energi merupakan racun yang lebih berbahaya daripada racun yang berbentuk serbuk ataupun berbentuk cair, dimana racun seperti itu akan mudah di atasi oleh seorang Alkemis.
Demiao segera melesat memberikan serangan pertama, cahaya goloknya menyilaukan mata membuat pandangan Hulao menjadi buta sesaat dan sulit menebak arah serangan.
Beruntung Hulao memiliki insting yang tajam, tidak dapat bertarung dengan mata, diapun berhasil menahan serangan itu dengan mengandalkan pendengaran dan penciumannya.
Mengetahui lawan melesat dari arah kiri, Hulao menangkis golok lawan dengan kukunya. Seiring dengan itu tangan kirinya bergerak hendak menerkam muka Demiao.
Golok Demiao beradu dengan kuku Hulao, sementara tangan kirinya dengan cepat dia gerakan untuk menahan terkaman cakar lawan yang mengarah ke wajahnya.
Jeritan keras mengudara bersamaan dengan tubuh Demiao terhempas puluhan meter dan jatuh ke tanah. Terkaman cakar Hulao ternyata telah menebas putus lengan kiri Demiao, namun legan itu kembali tumbuh seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Dengan masih mengerenyit menahan sakit, Demiao buru-buru bangkit. Tubuhnya menghadap lurus ke depan, namun ekor matanya melirik kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.
"Hmm... Kemampuan seperti itu benar-benar menjengkelkan." Hulao berdecak lalu melesat cepat ke arah Demiao.
Cakaran Hulao tepat membabat kepala Demiao, namun anehnya ketika cakaran itu jelas-jelas membelah kepala lawan, namun ternyata kepala lawannya tersebut masih tegak berada di tempatnya.
Hulao yang sadar itu adalah teknik sihir ataupun ilusi, segera memutar tubuhnya ke samping kanan, dan didapatinya Demiao sudah terbang melarikan diri.
Sembari mengejar, Hulao sesekali menghabisi para pendekar aliran hitam maupun hewan iblis yang di lewatinya.