
Tiga sosok manusia turun dari langit dan menjejakkan kakinya diatas bukit berbatu-batu. Dalam pekat gelapnya malam kawasan itu masih nampak samar-samar membentang warna putih yang luas, hamparan salju menutupi segala sesuatu yang ada disana. Sesekali hembusan angin bertiup mengeluarkan suara aneh, membuat suhu semakin dingin dan menegakkan bulu roma.
“Markas kelompok Manusia Iblis ada di seberang sana. Di atas daerah berbukit batu itu...” ucap Arya sambil menunjuk ke arah bukit batu di seberang tebing. Dia tahu karena sebelumnya ia telah mencuri keterangan dari ingatan salah seorang topeng tengkorak yang telah dihabisinya.
Nie Zha dan kakek Lengan Api mencurahkan perhatiannya ke arah tempat yang tunjuk Arya. Meski dalam keadaan gelap serta terhalangi lebatnya hujan salju dan kepadatan pepohonan yang menutupi pemandangan, namun mereka masih bisa melihat dengan jelas sebuah bangunan berdiri di atas bukit itu. Bangunan yang menyerupai sebuah kuil.
“Apa kau tak salah?” sahut Nie dengan nada meragukan. “Itu adalah kuil, mana mungkin tempat seperti itu adalah markas orang-orang jahat.”
“Mungkin saja aku salah... Tapi untuk mengetahui kebenarannya, maka kita harus menyelidiki tempat itu.” ucap Arya. Meskipun ia telah membaca pikiran salah seorang topeng tengkorak, ia sendiri diam-diam ragu, membaca pikiran tidak bisa serta-merta dijadikan patokan atas sebuah kebenaran, segala sesuatu haruslah berdasarkan bukti yang konkret, sebab tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang diperas ingatannya itu mengelabuhinya dengan menciptakan ingat-ingat yang dibuat-buat alias ingatan palsu.
Ketika mereka hendak menuju ke kuil itu, dari arah selatan tiba-tiba muncul beberapa bayangan putih, bergerak cepat layaknya setan yang tengah berkelebat gentayangan dimalam gelap gulita. Tapi makhluk tersebut, walau berpakaian serba putih, serta menutupi kepala dengan topeng tengkorak, bukanlah setan ataupun makhluk halus adanya. Mereka adalah manusia biasa yang berdandan seperti setan. Sambil melompat dari satu batu ke batu lain, mereka berkelebat cepat menuju ke arah kuil di atas bukit itu. Salah seorang diantaranya nampak memanggul tubuh seorang gadis.
“Sepertinya memang kuil itu adalah markas mereka. Cerdik sekali kelompok mereka, menjadikan kuil sebagai sarang persembunyian untuk menghindari kecurigaan orang.” gumam kakek Lengan Api.
Tanpa berkata apapun lagi, seolah sepemikiran, merekapun kemudian membayangi kelebatan beberapa sosok berjubah putih tersebut. Dengan menyamarkan aura dan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, mereka berkelebat teramat halus bahkan tidak menimbulkan suara apapun.
Begitu sampai di atas bukit, di dekat pohon besar yang menjadi pembatas antara hutan dan pekarangan gerbang kuil, Arya dan lainnya segera membelok lalu mendekam di balik semak belukar. Tak lama kemudian beberapa sosok berjubah putih yang tadinya dihadang para penjaga berkepala pelontos dan berpakaian layaknya biksu, sudah berjalan memasuki gerbang. Tapi di depan sana salah seorang berjubah putih yang berjalan paling belakang berhenti. Tegak memandang berkeliling, sikapnya seolah sedang mencari-cari sesuatu. Rupanya dia merasakan firasat bahwa ada sesuatu yang mengintainya.
“Ada apa?” tanya seorang penjaga berkepala plontos yang pipi kanannya terdapat tompel seukuran ibu jari.
Sosok bertopeng tengkorak mengalihkan pandangannya yang tadinya memandangi kerapatan pepohonan yang diselimuti kegelapan malam, menoleh kepada penjaga itu. Ia menggeleng pelan, “Tingkatkan kewaspadaan kalian, aku merasakan firasat buruk!.”
Penjaga itu mengerutkan dahi keheranan, namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut. “Baiklah,..”
Sosok bertopeng tengkorak tersebut membalikkan badannya dan kembali berjalan menyusul rekan-rekannya. Pintu gerbang pun segera di tutup kembali.
Di balik sederetan semak belukar liar, Arya dan yang lainnya mendekam tak bergerak laksana batu. Sepasang mata mereka masing-masing nyaris hanya sesekali berkedip memandang lekat-lekat ke arah bangunan dihadapannya itu.
Arya tiba-tiba melompat dan hinggap di atas dahan pohon. Dia menggerakkan sepuluh jari-jarinya, melakukan pola tangan, matanya memandang menyelidik kepada bangunan-bangunan yang berada di dalam tembok pertahanan kuil. Setelah memandangi beberapa bangunan, kini perhatiannya tercurah pada bangunan yang paling besar yang berdiri di ujung utara. Ada energi aneh keluar dari dalam bangunan itu, terasa di sengat dan tercium di rongga hidungnya.
Perlahan-lahan Arya alirkan darah dan energi emas ke sekitar matanya. Lalu dua mata dikedipkan. Arya tengah mengerahkan ilmu yang disebut ‘Menembus Pandang’. Dengan ilmu langka yang didapatnya dari kitab kuno, ditambah dengan peningkatan kemampuan daya lihat yang diperoleh setelah mencapai Tahap Pendekar Bintang tingkat puncak, serta mengerahkan energi emasnya. Ia dapat melihat segala sesuatu yang ada di dalam bangunan itu. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya seperti di hantam sesuatu. Dan hal itu membuatnya tergelincir jatuh.
“Li Xian! Ada apa?” tanya Nie Zha cemas karena melihat Arya seperti mendapat serangan gelap hingga tubuhnya terjatuh. Kini dilihatnya wajah pemuda itu agak pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Aku tak apa-apa.” jawab Arya sambil pegangi dadanya yang masih bergetar akibat hantaman energi aneh. “Barusan aku berusaha menyelidik keadaan di dalam sebuah bangunan. Mendadak ada energi aneh menghantamku.” Arya menatap ke arah gerbang. Lalu sambungnya,
“Di dalam bangunan itu terdapat ruangan-ruangan bawah tanah yang tampaknya dijadikan sebagai tempat tahanan. Lorong bawah tanah itu panjang dan penuh cabang. Aku tidak bisa menduga apakah pemimpin Manusia Iblis itu demikian hebatnya hingga mampu melancarkan serangan jarak jauh ke arahku...” Arya hentikan ucapan. Telinganya menangkap sesuatu.
“Kalian mendengar sesuatu?” tanya pemuda itu.
“Ya. Suara menyanyi. Suara perempuan. Aneh, bagaimana mungkin di kuil seperti ini ada perempuan bernyanyi. Jangan-jangan dedemit perempuan.” ujar Nie Zha dengan suara dan wajah tercekat
“Bukankah orang-orang bertopeng yang kita ikuti tadi membawa seorang gadis. Mungkin gadis itulah yang menyanyi. Disana aku melihat ada pertemuan yang dihadiri banyak orang. Mungkin saja mereka sedang mengadakan pesta.”
“Pesta?! Wah, kalau begitu sebaliknya kita lekas masuk ke dalam kuil ini. Mereka mengadakan pesta kenapa tidak mengajak-ngajak kita. Biarpun sudah tua begini, aku masih ingin merasakan kesenangan hidup.” sahut kakek Lengan Api dengan semangat.
Arya menggeleng, “Setelah apa yang aku lakukan atas penyelidikan barusan, pasti kedatangan kita sudah diketahui penghuni kuil ini. Mereka cepat atau lambat akan mengepung kita, karena menganggap kita penyusup. Lagipula kita kesini bukan untuk berpesta, melainkan untuk menyelidiki kelompok Manusia Iblis. Kalian berdua pergilah kesana,..” Arya menunjuk ke arah barat laut, “Menurut pengamatanku, lorong-lorong bawah tanah pada bangunan itu menuju ke arah sana. Carilah sebuah tebing yang memiliki banyak pintu goa. Lorong-lorong dari salah satu goa itu akan membawa kalian ke gedung didalam kuil.”
Kakek Lengan Api memandangi Arya dengan ekspresi bertanya-tanya, “Kita berdua? Jadi maksudmu kau tidak ikut bersama kami?”
Pada saat itu mendadak mereka bertiga mendengar suara pintu gerbang terbuka. Arya cepat-cepat memberi isyarat agar mereka berdua lekas pergi. Dia sendiri langsung berkelebat, tubuhnya lenyap ditelan gelapnya malam, entah pergi kemana.
Belum lama mereka bertiga lenyap dan tempat itu, tiba‐tiba kesunyian malam di robek oleh dentuman keras bertubi-tubi, bersamaan dengan itu melesat beberapa larikan sinar hitam kemerahan dan menghantam rubuh pepohonan yang tadi menjadi tempat mendekam Arya dan yang lainnya.
Tak selang berapa lama, dua puluh orang berkepala plontos berkelebat keluar dari gerbang, langsung menyisir lokasi ledakan. Empat pohon masih dilahap api, berkobar-kobar menerangi tempat sekitar.
“Aneh, tadi aku melihat bayangan berkelebat disini. Nyatanya tak ada satu orangpun di tempat ini. Tidak mungkin mereka dapat lolos dari jurus Pukulan Sinar Iblis.” Ucap seorang berpenampilan seperti biksu, dia bukan lain adalah Chin Pek Cuan.
“Mereka sudah kabur entah kemana. Aku juga melihat kelebatan mereka, Wakil Ketua. Aku khawatir mereka memanfaatkan kelengahan kita ini untuk diam-diam masuk ke dalam kuil dari arah yang lain.”
Chin Pek Cuan memandang berkeliling sekali lagi. Pandangannya kemudian membentur dua buah batang pohon yang berkobaran api. “Setengah dari kalian tetap cari penyusup itu di hutan ini. Sesudah ketemu, lekas beri tanda agar yang lainnya dapat segera membantu meringkus tikus-tikus penyusup itu.” ucapnya. Dia memandang ke gerbang lalu berkata, “Yang lainnya sisir setiap tempat di sekitar kuil. Cari disetiap bangunan, dan disetiap sudut. Aku menduga penyusup-penyusup itu tidak mungkin pergi begitu saja.”
Chin Pek Cuan selaku wakil ketua bersama setengah dari anak buahnya berkelebat masuk. Pintu gerbang tertutup kembali. Segel pelindung yang tadinya terbuka pada saat gerbang dibuka kini tertutup kembali.
Sementara itu, Nie Zha dan si kakek Lengan Api mengambil jalan memutar. Jalan yang mereka lalui sekarang jauh lebih sukar daripada jalan menuju ke kuil kuno. Akan tetapi jalan yang terjal dan licin tersebut tidaklah menyulitkan bagi mereka berdua yang memang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi. Akhirnya, tibalah mereka di daerah berbatu-batu, di hadapan mereka terbentang dinding batu karang yang tinggi. Terdapat banyak sekali lubang mulut goa yang bentuknya menyeramkan, beberapa goa-goa itu bahkan bentuknya mirip seperti tengkorak manusia.
“Goa-goa itu mirip sekali dengan Tengkorak... Apa mungkin ada manusia yang sengaja membuat goa dengan bentuk seseram ini?” gumam Nie Zha seakan bertanya kepada diri sendiri. Di sampingnya, kakeknya juga tengah memandang ke arah dinding karang yang tinggi dan panjang itu.
Nie Zha mengangguk, “Lalu goa manakah yang dimaksud Li Xian?”
Tanpa berkata apa-apa, kakek Lengan Api sudah melompat cepat sekali menghampiri goa-goa di sebelah kiri. Goa-goa yang nampak berbentuk seperti tengkorak kepala manusia! Dia memeriksa goa-goa itu, dari goa pertama sampai lima buah goa banyaknya hingga mendapatkan kenyataan bahwa goa ke tiga itu memiliki ruangan yang terbesar serta dalam.
“Nie Zha, kemarilah! Mungkin ini goanya.” seru kakek Lengan Api.
Bersama Nie Zha, kakek ini lalu memasuki goa ke tiga tersebut, sebuah goa yang dalamnya tidak kurang dari dua puluh meter dan lebarnya ada empat meter. Goa ini merupakan ruangan yang cukup luas akan tetapi tentu saja tidak enak apabila dijadikan tempat tinggal karena lantainya terbuat dari batu-batu yang tidak rata dan bahkan makin ke dalam makin menurun, merupakan lereng dan juga tajam-tajam seperti batu karang di lautan.
Dengan amat waspada dan hati-hati sekali, mereka berdua memeriksa goa ini. Dipandang sepintas saja, tidak mungkin ada yang bersembunyi di sini, karena biarpun goa itu merupakan tempat yang terasing akan tetapi sungguh sangat tidak enak untuk dijadikan tempat tinggal.
Manakala mereka memeriksa ruang yang gelap itu hanya berbekal penerangan dari elemen api yang berkobar di sepasang tangan masing-masing, tiba-tiba Nie Zha menemukan sebuah terowongan di sudut kanan. Kalau tidak mendekat dan meraba, agaknya sulit untuk menemukan terowongan ini. Dia tidak segera masuk, melainkan memanggil kakeknya.
Kakek Lengan Api segera mendekat saat dipanggil Nie Zha. dia memeriksa dengan meraba-raba bagian ambang pintu terowongan, jantungnya berdebar meraba papan besi di balik batu yang agaknya tadinya menutup terowongan itu. Jelaslah bahwa terowongan ini merupakan pintu rahasia yang belum lama dibuka orang.
Jika pintu itu dikembalikan ke tempatnya, maka pintu itu akan lenyap dan dinding di sudut itu akan lenyap pula, adapun dinding di balik batu itu ada terowongannya. Dan tentu saja, sedikit pun tidak akan ada orang yang menduga karena pintu itu nampaknya menjadi satu dengan dinding goa.
“Ayo kita masuk ke dalam.. siapa tahu pintu inilah yang akan membawa kita ke dalam markas kuil itu.” ucap kakek Lengan Api.
“Kek, kenapa kita tidak langsung saja memasuki kuil itu dan malah menyusahkan diri berputar-putar mencari jalan rahasia seperti ini?” tanya Nie Zha dengan kesal bercampur heran.
Kakek Lengan Api menggeleng kepala, “Aku juga tidak mengerti.. tapi apapun itu, pasti bocah itu memiliki tujuan tertentu. Ayo kita masuk.”
Dengan perasaan penasaran mereka pun lalu memasuki terowongan yang gelap itu. Terowongan tersebut ternyata cukup besar, namun mereka harus memasukinya dengan tubuh agak membungkuk. Lantai disana lebih rata daripada lantai di ruangan depan goa. Hal ini mendatangkan dugaan bahwa tempat ini memang sengaja dibuat orang.
Baru saja mereka melangkah kurang lebih dua puluh langkah, tiba-tiba terdengar suara keras di belakangnya! Dengan gerakan reflek, mereka berdua telah menghindari setiap senjata tajam yang berlesatan dari dinding batu kanan kiri. Rupanya ditempat ini dipasangi alat-alat rahasia. Dan manakala mereka melihat ke arah pintu, pintu itupun kini telah menutup lubang terowongan.
Melihat raut wajah panik dari Nie Zha, kakek Lengan Api menahan senyum. “Jangan panik! Kita pasti bisa keluar dari sini dengan menjebol pintu batu itu. Sekarang kita tetap telusuri lorong ini. Seperti kata Li Xian, aku percaya bahwa lorong inilah jalan menuju ke kuil itu.”
Maka dengan sikap tenang sekali kakek Lengan Api melanjutkan perjalanannya, mengikuti jalan terowongan yang gelap itu. Dia mencurahkan seluruh panca inderanya, bersiap untuk menghadapi kalau-kalau ada bahaya serangan dari sekelilingnya.
Menurut perhitungan kakek Lengan Api, jarak yang telah ditempuhnya semenjak dia memasuki terowongan tidak kurang dari satu kilometer! Setelah berjalan berbelok-belok mengikuti jalur terowongan itu, mereka berhenti sejenak. Kini mereka berada di sebuah ruangan persegi empat. Baru saja mereka mengamati sekitar, tiba-tiba terdengar suara angin menderu dan suara besi bertemu batu.
Keduanya cepat menghindar kesana kemari, mengelaki setiap lesatan benda tajam yang meluncur dari empat penjuru tersebut. Karena memiliki kecepatan luar biasa, senjata-senjata itupun tak ada satupun yang mampu mengenai mereka.
Setelah lesatan benda-benda tajam tersebut berakhir, kakek Lengan Api kemudian meraba-raba dinding didekatnya. Dia mendapati kenyataan bahwa dinding itu bukanlah batu seperti dinding yang telah dilewatinya, melainkan dinding baja yang tebalnya satu tombak. Kakek Lengan Api lantas memeriksa dinding-dinding pada bagian sudut lainnya. Ternyata dinding-dinding itu juga terbuat dari baja yang amat kokoh. Mereka telah terkurung!
Dari arah ujung ruangan segi empat itu tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Detik berikutnya, tempat itu menjadi terang oleh nyala-nyala obor.
Tampaklah belasan orang yang mengenakan jubah putih dengan gambar tengkorak bertanduk merah di dada mereka. Muka orang-orang itu ditutupi topeng tengkorak. Kini mereka berdiri didepan pintu baja yang terbuka itu. Ke-semuanya mempunyai kultivasi yang cukup tinggi, terbukti dari gerakan kaki mereka yang gesit dan ringan ketika mereka itu datang mendekat.
Biarpun dalam keadaan terkurung sedemikian rupa dan di kepung belasan musuh, Nie Zha masih bisa tersenyum sinis dan malah membentak, "Huuhh, ternyata sekumpulan Manusia Iblis yang ditakuti orang itu, hanyalah kumpulan tikus-tikus gunung yang kehebatannya hanya mengandalkan lubang-lubang tikus jebakan dan pengeroyokan belaka!”
Belasan pasang mata di balik topeng-topeng tengkorak itu mengeluarkan cahaya berkilat tanda bahwa mereka marah sekali, hati mereka seolah disiram lahar yang sangat panas mendengar ucapan yang amat merendahkan dan menghina mereka tersebut. Akan tetapi mereka masih bisa bersikap tenang karena yang memaki tersebut adalah gadis yang amat cantik dan menarik hati. Salah seorang dari mereka yang berdiri di pinggir berkata, suaranya halus namun penuh mengandung ancaman serta hasrat bir*hi.
“Kalian berdua sudah tertawan, nyawa kalian kini berada di telapak tangan kami. Engkau sungguh gadis yang cantik dan pemberani, akan tetapi juga bodoh dan agaknya telah bosan hidup. Siapa pun orangnya yang berani lancang memasuki daerah kami tanpa ijin, tentu mati. Akan tetapi karena kau cantik, maka serahkan dirimu baik-baik supaya engkau selamat. Kini menyerahlah, supaya kami tidak menjatuhkan tangan keras, merusak wajah cantikmu dan melukai tubuhmu yang menggairahkan itu.”
Orang itu memberi isyarat dengan tangannya. Belasan orang temannya tiba-tiba saja mengeluarkan senjata masing-masing dan menodongkannya ke arah Nie Zha dan kakek Lengan Api. Agaknya mereka bersiap-siap menyerang apabila kedua sanderanya itu melawan menggunakan kekerasan.
Nie Zha yang sudah tersulut amarahnya segera melangkah maju, namun segera di tahan kakeknya. Sebagai seorang yang telah kenyang pengalaman, tentu saja kakek ini tidak mau serta-merta menuruti kemarahannya. Memang bilamana dia menghendaki, kiranya dia akan mampu merobohkan belasan orang ini. Akan tetapi dia tahu bahwa perbuatan ini tidak bijaksana. Ia ingin terlebih dulu mengorek beberapa informasi dari orang-orang bertopeng tengkorak tersebut.
*****
Banyak yang komen kenapa terlalu panjang menceritakan tokoh lain, tidak fokus ke MC nya saja.
Kalian tahu anime Naruto dan One Piece?
Apa cerita itu hanya fokus ke MC nya saja?
Bahkan untuk membahas satu arc saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Banyak tokoh-tokoh baru yang di ceritakan.
Masih banyak kisah-kisah atau film-film yang menceritakan banyak hal. Misal, Mahabarata, Ramayana, Hanoman, Jaka Sembung, Angling Darma, Tutur Tinular, dan lain sebagainya.
Perlu di ingat novel ini berisi cerita petualangan dan dunia persilatan, yang memang harus mencakup banyak aspek kehidupan, tidak melulu menceritakan MC nya dari awal sampe tamat.