
“Kalau begitu siapa sebenarnya orang-orang yang menutupi wajah mereka itu?” Perkataan tersebut terlontar begitu saja tanpa disadari oleh Raja Lin Yon Jun.
“Menurut pengamatan kami, mungkin orang-orang itu adalah pendekar ataupun organisasi dari Kekaisaran Tang. Kami mendengar para pendekar dan sebagian organisasi dari Kekaisaran Tang telah menyebar untuk mengatasi permasalahan hewan iblis dari laut kuantan.”
Raja Lin Yon Jun menganggukkan kepalanya. “Lalu dimana mereka? Aku ingin mengucapkan terimakasih atas jasa mereka terhadap kerajaan ini.”
“Berdasarkan dari ledakan di angkasa yang terus menerus terdengar, mungkin saja mereka masih bertarung di sebelah timur dekat gunung berapi. Tapi aneh...” Pendekar khusus itu menghentikan kata-katanya.
Raja Lin Yon Jun cepat menyahut. “Apanya yang aneh?”
“Seharusnya mereka sudah dapat mengalahkan hewan iblis itu. Tapi kenapa sampai sekarang suara ledakan itu masih saja terjadi.”
“Sebaiknya kita pergi ke sana untuk memastikannya.” Terlontar perkataan dari Jenderal Yong We.
Dua Pendekar khusus itu mengerutkan kening. Menurut mereka pergi ke sana hanya akan mencari mati. Apalagi bagi Jenderal Yong We yang hanya memiliki kultivasi di tahap Pendekar Kaisar.
Suasana menjadi hening sebelum terdengar Raja Lin Yon Jun berkata. “Baiklah, kalian bawa beberapa prajurit ke sana. Namun jangan lupakan masalah keamanan di kerajaan.”
“Tapi Yang Mulia.. disana sangat berbahaya. Aku khawatir masih ada hewan iblis lainnya yang datang membantu kelompok mereka, sehingga pertarungan itu tidak kunjung selesai.” Berkata salah satu Pendekar khusus bermata sipit dan bertubuh besar.
“Justru karena itulah kita perlu membantu mereka melawan kelompok hewan iblis itu. Kita tidak sepantasnya berpangku tangan. Tanpa bantuan dari mereka, mungkin kita semua saat ini sudah menjadi mayat.” Berkata Raja Lin Yon Jun dengan penuh wibawa.
“Baik, Yang Mulia. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya. Aku pamit.”
Jenderal Yong We pun kemudian minta diri melangkah meninggalkan Raja Lin Yon Jun. Beberapa panglima termasuk panglima Chong Quon juga pamit dan mengikuti jenderal Yong We.
Disana hanya tersisa beberapa menteri, penasehat kerajaan, Raja Lin Yon Jun, Raja Obat dan juga dua pendekar khusus.
“Kenapa kalian tidak ikut mereka?” Bertanya Raja Lin Yon Jun kepada dua pendekar khusus yang masih berdiri di hadapannya.
“Maaf Yang Mulia, tugas kami yang terpenting adalah memastikan keselamatan anda.”
Raja Lin Yon Jun menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya. “Kalian benar.. tapi aku minta salah satu dari kalian ikutlah pergi ke sana. Satu saja dari kalian ku rasa sudah cukup untuk melindungiku.”
Kedua Pendekar khusus itu saling pandang. Akhirnya satu di antaranya mengangguk.
“Biarlah aku saja yang pergi ke sana. Tapi maaf Yang Mulia, aku tidak bisa menjamin keselamatan semua prajurit jika terjadi pertarungan disana.” Berkata Pendekar khusus berbadan besar bermata sipit.
“Aku tidak memintamu untuk melindungi setiap orang. Dalam pertarungan pasti ada yang terbunuh atau setidaknya luka-luka.” Raja Lin Yon Jun menarik nafas dan lalu meneruskan. “Setidaknya bantuan dari kita dapat meringankan beban orang-orang misterius itu dan supaya pertarungan itu segera dapat di menangkan.”
Sebenarnya kedua Pendekar khusus tersebut ingin mengatakan bahwa pertarungan kali ini berbeda dengan pertarungan para pendekar di Kekaisaran Ming. Karena pertarungan tersebut akan lebih banyak terjadi di udara. Mereka tahu bahwa tidak ada satupun prajurit yang dapat terbang. Di kerajaan ini hanya Jenderal Yong We dan beberapa panglima yang bisa melakukan itu, namun untuk melakukannya mereka tidak bisa terlalu lama. Terlebih terbang sambil bertarung akan menguras Qi dan diharuskan untuk lihai membagi perhatian dalam menyerang, bertahan serta menjaga keseimbangan tubuh di udara. Singkatnya bertarung di udara lebih sulit daripada bertarung di daratan.
Namun meski demikian, Pendekar khusus berbadan besar bermata sipit segera pamit untuk menyusul Jenderal Yong We dan yang lainnya.
Awan di langit yang kemerah-merahan mengalir ke Utara dihembuskan oleh angin yang mengandung hawa panas seperti bara. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang di balik dedaunan di sebelah Barat. Sinarnya yang membara tersangkut di punggung gunung dan di ujung-ujung awan yang bertebaran di langit.
Sejenak Arya dan panglima kegelapan (Yeva) saling berdiam diri mengambang di atas awan setelah sekian lama mereka saling baku hantam. Mereka berdua sama-sama mengamati masing-masing lawan sekaligus memulihkan energi mereka yang telah terbuang dalam pertarungan.
Panglima kegelapan lah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu. “Manusia, aku mengakuimu! Tak ku sangka aku bisa dibuat kerepotan melawan pendekar fana sepertimu. Tunjukkanlah semua kemampuanmu! tapi ingatlah, mustahil kau bisa mengalahkanku.!”
Jauh puluhan tombak di hadapan Panglima Kegelapan, Arya menyeringai sambil bertepuk tangan seolah seperti anak kecil yang melihat hal yang membuatnya senang.
“Kau memang lebih kuat dariku. Tapi kau perlu tahu, akulah perwujudan dari energi alam semesta. Coba lihatlah kedudukan kita saat ini, kau telah kehabisan banyak energi sedangkan aku.. ha.. ha.. ha..” Arya tertawa angkuh. Tawanya seketika berhenti, pemuda ini menatap tajam ke arah lawan. “Memang melegakan sekali, membalas kesombongan dengan kesombongan pula.”
“Apakah sudah puas kau tertawa? Kalau iya.. sekarang saatnya aku serius, kali ini aku tak akan sungkan-sungkan lagi membelah tubuhmu. Bersiaplah anak muda! Aku mulai!”
“Tunggu!!” Teriak Arya.
“Hahaha... Ada apa? Apakah sekarang kau mulai ketakutan?” Yeva tersenyum penuh arti. “Aku akan mengurungkan niatku untuk membunuhmu, tapi ikutlah denganku! jadilah budakku.!”
Arya tak menanggapi perkataan tersebut, pemuda ini justru mengangkat tangan kanannya ke atas lalu tiba-tiba sinar matahari menjadi berpusat ke arahnya. Seperti laser, cahaya matahari yang tadinya menyebar ke segala penjuru kini hanya menyinari satu titik, yakni Arya. Sementara suasana di segala penjuru mendadak menjadi gelap seketika.
Melihat kejadian itu Panglima Kegelapan menjadi gentar. Menurut pengetahuannya, Pendekar Naga sekalipun mustahil bisa melakukan hal itu. Bagaimana mungkin tubuh seseorang mampu menyerap energi matahari. Bahkan jika seandainya sinar itu mengenainya dunia ini sekalipun, sudah dapat di pastikan dunia ini akan meledak.
Tidak hanya panglima kegelapan saja yang merinding melihat apa yang di lakukan Arya. Semua orang yang melihat pertarungan mereka dari jauh yakni Huang She, Liu Wei dan yang lainnya juga dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri. Bahkan mereka di paksa menjauh karena energi sinar matahari tersebut teramat panas luar biasa.
“Siapa sebenarnya pemuda itu? Mungkinkah dia dewa?!” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Patriark Dai Wubai karena sangking kagumnya melihat hal-hal yang telah di tunjukkan pemuda itu dalam pertarungan melawan panglima kegelapan. Hal-hal yang mustahil dapat dilakukan oleh seorang sekelas Pendekar fana.
Pemuda yang berdiri di sampingnya nampak bergetar hebat hingga kakinya tak sanggup berdiri. Jiwanya seolah dipaksa mengingat energi besar itu. Antara sadar dan tidak, Zhiyuhan alias Pendekar Penyair berseru lantang. “Tuan Hydra!!”
Di atas sana Arya masih fokus menyempurnakan tekniknya. Sebenarnya dia bukan menyerap energi matahari, namun berusaha membangkitkan potensi energi Naga Emas yang selama ini tak pernah dia gunakan. Atau lebih tepatnya dia belum dapat menggunakannya.
Sadar pemuda yang menjadi lawannya tersebut jika di biarkan begitu saja akan membahayakan dirinya untuk kedepannya, panglima kegelapan segera melancarkan serangan.
Bola-bola api berlainan warna berlesatan dari hentakan sepasang tangan panglima kegelapan yang di lancarkan secara terus menerus, serangan itu tercurah seperti hujan meteor tertuju ke tempat Arya dengan ganas.
Melihat hal itu, Arya tidak mau gegabah. Dia cepat-cepat gunakan teknik berpindah dimensi untuk menghindari serangan tersebut.
“Kenapa terburu-buru?!” Bentak Arya. “Bukankah kau sendiri menyuruhku untuk menggunakan seluruh kemampuanku.”
Panglima kegelapan buru-buru memutar tubuhnya, dimana suara Arya berasal. Alangkah terkejutnya panglima kegelapan ini saat melihat perubahan pemuda itu.
Rambut Arya sebagian telah berubah warna, yang semula hitam menjadi kuning keemasan. Sementara sepasang matanya juga berubah kuning mengkilat begitu menawan. Di belakang pemuda itu terlihat gumpalan energi berupa seekor Naga Emas namun belum sempurna. Hanya berwujud kepala sampai lehernya saja.