Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Arya Vs Yeva III


Jduuummm!


Ledakan besar terjadi di atas udara. Arya terlempar semakin jauh ke bawah mendekati tebing batu menuju dasar jurang.


Tubuh pemuda itu menghantam tebing batu itu hingga membuat tebing batu yang curam tersebut hancur dan luruh ke bawah jurang. Di atas permukaan tanah, Arya berguling-guling menciptakan sirig dangkal memanjang dan berhenti saat dia menghantam tebing batu di dasar jurang.


Dari mulutnya kembali memuntahkan darah putih berkilauan, kali ini energi emas milik pemuda itu mulai menipis, yang berarti tubuhnya telah akan mencapai batas.


Dengan sekuat tenaga Arya menahan sakit, dia berusaha kembali berdiri, namun baru saja dia dapat berdiri tegak. Dari balik kepulan debu, muncul sinar yang bergerak menebas dari bawah ke atas, membuat Arya kembali terlempar ke udara.


Tubuh Pendekar Naga Emas ini melayang sampai menembus awan.


“Hahaha, mati kau kali ini pemuda tengik!” Teriak Panglima Kegelapan yang dalam sekejapan sudah melesat memburu Arya.


Setelah berada di atas tubuh lawannya, Yeva mengangkat pedangnya ke atas dan cepat sekali menebas secara vertikal berniat membelah tubuh Arya menjadi dua bagian.


Namun yang di serang masih mampu menangkisnya dengan kembali menyilangkan tangan. Hanya kekuatan panglima kegelapan terlampau jauh lebih besar karena dia berada di posisi atas, membuat tubuh Arya kembali terlempar ke bawah dan menghantam daratan dengan sangat keras.


Benturan tubuhnya menciptakan ledakan besar membentuk lubang kawah di atas permukaan tanah.


Arya terbaring lemas di tengah kubangan tanah tersebut, beruntung masih ada sedikit energi emas yang melindungi punggungnya. Jika tidak, maka tulang belakangnya akan remuk seketika saat dia menghantam daratan.


“Hahaha, akhirnya aku dapat mengalahkannya juga.” Seru Yeva karena merasakan energi pemuda yang menjadi lawannya itu telah lenyap. Dia menduga jika lawannya tersebut telah tewas.


Rupanya Arya telah menggunakan teknik berpindah dimensi agar mendapatkan cukup waktu guna memulihkan luka-lukanya. Tubuh pemuda itu terdapat banyak luka, sedangkan satu tanduk milik panglima kegelapan tersebut telah tanggal karena terkena serangan Arya.


Keberadaan Arya ternyata dapat di ketahui panglima kegelapan. Maka dengan menggeram marah, panglima kegelapan segera melesat menyerang.


Sesaat setelah posisi mereka berdekatan, Yeva tanpa basa-basi lagi langsung mengirimkan dua tebasan pedang pusaka neraka milikinya.


Tak ada pilihan lain, Arya yang terluka dan kehabisan energi terpaksa melindungi tubuhnya dengan tembok energi seadanya.


Cahaya hitam dari tebasan pedang itu menghantam tembok energi emas. Tapi karena kalah kuat, maka tembok itupun hancur tak dapat menahan kuatnya tekanan dari energi tebasan pedang tersebut. Sedikit lagi energi tebasan Panglima Kegelapan akan menyentuh Arya, pemuda ini cepat-cepat bergerak menyamping untuk mengelak. Namun naas tangan kanan Arya terkena tebasan energi tersebut hingga buntung sampai sebatas siku.


Arya mengerenyit menahan sakit, namun dia tidak ada waktu untuk memikirkan tangannya yang buntung, karena pada saat yang sama panglima kegelapan telah kembali menyerang.


Dengan sisa-sisa energinya, Arya mengerahkan teknik bayangan semesta. Tujuannya jelas untuk mengecoh perhatian lawan. Akan tetapi dengan energinya yang tersisa sedikit, Arya hanya sanggup menciptakan 10 tubuh bayangan saja. Meski begitu usahanya tersebut berhasil membuatnya selamat dari kematian.


Liu Wei dan Huang yang melihat tangan kanan Arya buntung, nampak menutup mulut masing-masing. Kedua gadis itu menjerit histeris sampai keduanya tidak sadar telah mengucurkan air mata. Hati kedua gadis itu bergejolak dahsyat, mereka tidak terima melihat Arya dalam keadaan seperti itu. Jika sedari tadi mereka tidak di cegah untuk tidak masuk ke kancah pertarungan, maka sudah barang tentu mereka akan rela mengorbankan diri demi membantu pemuda yang dikasihinya itu.


Namun demikian, kedua gadis ini tiba-tiba melesat menuju ke arah Arya. Honglong yang melihatnya segera mengejar.


“Kalian tetaplah disini!” Bentak Honglong dengan sangat keras. Dia terpaksa memukul Liu Wei dan Huang She supaya mereka sadar dan tidak terlalu terbawa perasaan.


Liu Wei dan Huang She sama-sama terpental hingga memuntahkan darah. Kedua gadis ini berhenti saat Wouven dan Griffinhan menahan tubuh mereka agar tidak jatuh menghantam daratan.


Di sudut lain, Zhiyuhan yang sebenarnya sedari awal ingin membantu Arya, sudah tidak dapat lagi menahan diri. Pemuda berjuluk Pendekar Penyair ini tidak perdulikan lagi larangan dari Patriark Dai Wubai. Maka dengan cepat pemuda ini berpindah tempat menuju ke kalangan pertarungan yang berlangsung.


Kembali ke pertarungan.


Panglima kegelapan awalnya terkejut melihat lawannya dapat menciptakan tubuh tiruan. Semula dia menganggap para bayangan tersebut hanyalah ilusi, namun ternyata secara tidak diduganya, dampak dari serangan para banyangan Arya tersebut terasa benar-benar melukai dirinya.


Maka panglima kegelapan inipun mengamuk sejadi-jadinya, dia menyerang secara ganas. Tidak main-main dalam beberapa gebrakan saja, satu persatu bayangan Arya dapat dilenyapkannya hingga tak tersisa.


Ketika dia yakin satu-satunya lawan yang tersisa adalah lawannya yang asli. Panglima kegelapan segera bergerak cepat dan tahu-tahu telah menebaskan sepasang pedangnya ke tubuh Arya.


Sesaat lagi tebasan itu akan membelah tubuh targetnya, tiba-tiba dibelakang Arya muncul seorang pemuda yang sangat tampan, seluruh tubuh pemuda itu dipenuhi energi putih.


Dengan sedikit gerakan kecil, kubah energi berwarna putih seketika tercipta mengurung tubuh keduanya.


Ledakan maha dahsyat terjadi di atas udara, membuat gunung Berapi ikut bergetar karena tekanan energinya. Magma didasar kawah juga ikut bergejolak.


Angin dan gelombang energi besar menyeruak layaknya badai ke segala arah menghempaskan apapun yang dilewatinya, bebatuan di dekat ledakan itu langsung meleleh menjadi cairan merah sangat panas.


Asap hitam dan debu seketika terbentuk membumbung ke segala penjuru menutupi area sumber ledakan hingga panglima kegelapan tidak mampu melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Yeva tertawa menyaksikan ledakan itu, dia menyangka pemuda yang menjadi lawannya itu telah tewas dimana energinya tidak lagi terasa seperti lenyap mati.


Padahal yang sebenarnya terjadi, seorang pemuda telah menciptakan kubah energi yang mampu menahan serangan Yeva sekaligus membuat energi dan aura keberadaan Arya tidak dapat di deteksi panglima kegelapan tersebut.


“Sadarlah! Maaf, aku terlambat.” Terdengar sebuah suara melengking terkesan cempreng di telinga Arya.


Dengan penglihatan yang sedikit buram, Arya melihat seorang pemuda tengah memegang pundaknya. Pegangan ini ternyata telah membantu memulihkan kondisinya, hingga sedikit demi sedikit energinya kembali terisi. Dengan begitu Arya dapat mengobati luka-lukanya sendiri.


“Terimakasih! Tapi siapa kau? Apa kita pernah bertemu?” Tanya Arya sambil menaikkan sepasang alisnya.


“Hik... Hik... Hiiik.. Rupanya kau sudah pikun teman. Apakah kau sudah tidak mengingat lagi suaraku ini?”


Arya berusaha mengingat suara pemuda itu, dahinya mengernyit sangking dia berusaha mengingat-ingatnya. Namun sesaat kemudian Arya tiba-tiba tertawa bergelak, tangan kirinya tahu-tahu bergerak cepat telah menjambak rambut pemuda tampan di sampingnya itu.


Masih di selingi tawa, Arya kemudian berkata. “Benarkah kau ini, Pegasus?”


Pemuda tampan bersuara cempreng itu, tiba-tiba ikutan tertawa melengking-lengking hingga membuat seluruh daratan di benua timur bergetar hebat. Lautan di sekitar daratan juga bergemuruh seolah akan terjadi tsunami.


Sigap Arya segera membekap mulut pemuda disampingnya itu agar suara tawanya tak membuat kepalanya serasa mau pecah. Maka setelah pemuda yang sebenarnya adalah jelmaan dari binatang langit berjenis kuda bersayap tersebut, yang bernama Pegasus berhenti tertawa. Arya pun lantas berkata.


“Disini adalah dunia manusia, suara tawamu bisa menyebabkan bencana bagi setiap makhluk hidup di dunia ini.”


Pegasus mengangguk-anggukkan kepala seolah mengerti, namun ketika Arya melepaskan bekapan tangannya, jelmaan kuda bersayap ini kembali tertawa. Terpaksa Arya menggerakkan kembali tangannya untuk membekap mulut pemuda disampingnya itu.


“Jika kau mau tertawa jangan kerahkan energi besarmu, kuda cempreng!” Umpat Arya dengan wajah kesal.


“Baiklah, tapi lepaskan dulu tanganmu ini dari mulutku, teman!” Bergumam Pegasus yang terdengar tidak begitu jelas.


Arya pun mengangguk, maka di lepaskannya tangannya dari mulut Pegasus.


“Hahaha...” Kembali Pegasus tertawa tergelak-gelak, namun kali ini suara tawanya tanpa mempergunakan energi, sehingga suara tawanya itu hanya terdengar sampai beberapa kilometer saja.


Meski demikian, suara tawa pegasus telah membuat semua makhluk hidup yang mendengarnya merinding ketakutan.


“Maafkan aku, aku tak bisa berhenti tertawa. Kau sangat lucu teman.. menghadapi makhluk rendahan itu saja kau hampir mati. Hahaha..” Ucap Pegasus dengan wajah konyol.


Asap yang menyelubungi mereka akhirnya tersingkap, sampai hilang tak berbekas tersapu terbawa angin.


Wajah Arya melengak merah, dengan tersungut-sungut di jambaknya rambut Pegasus. “Aku belum kalah.. seandainya aku bisa memiliki waktu mempergunakan seluruh kemampuanku. Makhluk itu sudah dari tadi ku lenyapkan.” Kilahnya menutupi perasaan dongkolnya.


“Kalau begitu, sekarang lah saatnya kau hadapi makhluk itu. Buktikanlah kata-katamu itu teman.” Pengasus menaik-turunkan alisnya sambil nyengir kuda.


“Lalu apa gunanya kau ada disini. Aku butuh waktu untuk memulihkan tubuh dan energiku. Sekarang kau lah yang hadapi makhluk itu sampai aku kembali pulih.” Ucap Arya dengan wajah serius.


Pegasus manggut-manggut, di liriknya panglima kegelapan yang diam termangu-mangu menatap ke arahnya.


“Baiklah, terimakasih telah memberiku kesempatan untuk bermain-main di dunia ini.” Pegasus kembali menatap Arya, lalu lanjutnya. “Berapa waktu yang kau butuhkan untuk memulihkan diri teman?”


“Tidak lama, nanti aku akan memberitahukanmu jika aku sudah selesai.”