Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Markas Bandit Taring Hitam


Di dekat perbatasan desa, ada sebuah bangunan tampak kumuh, meskipun terlihat usang bangunan itu masih berdiri kokoh. Kayu berwarna coklat terlihat berlumut dari kejauhan, menambah kesan tidak layak dijadikan sebagai tempat bernaung.


Di balik bangunan usang tersebut, siapa yang mengira bahwa tempat itu akan menjadi sarang bandit. Bandit taring hitam, kumpulan penjahat yang menargetkan anak-anak di desa Luan dan sekitarnya.


Sudah beberapa tahun terakhir kawanan bandit itu merajalela, tapi tak banyak yang mengetahui tempat persembunyian bandit tersebut, meskipun mengetahui dimana markas mereka berada, beberapa orang lebih memilih diam, takut akan kekuatan bandit taring hitam.


Di ruang bawah tanah markas bandit taring hitam, seorang pria berperawakan gempal tengah bersama dua wanita di ruangannya.


Pria gempal itu tak lain adalah ketua bandit taring hitam, bernama Gu Lun.


"Lepas pakaian kalian!" Gu Lun berkata tanpa melirik kedua wanita di hadapannya.


Pria gempal tersebut lalu berjalan menuju ranjangnya, kemudian merebahkan tubuhnya. Sambil menyesap tembakau di tangannya, dia memejamkan mata.


Fuhh...


Asap putih mengepul di atasnya, aroma tembakau menyeruak di ruangan.


Gu Lun melirik kedua wanita di dekatnya, melihat tubuh polos kedua wanita tersebut, mata pria gempal itu melotot penuh nafsu.


Dengan cepat dia menarik tangan kedua wanita itu, hingga keduanya terjatuh ke dalam pelukannya.


Kedua wanita itu menampakkan wajah tanpa ekspresi, pandangan mereka menatap kosong ke depan, seolah tak memiliki semangat untuk hidup.


Gu Lun tak mempedulikan kondisi kedua wanita yang tampak menyedihkan, pria berperawakan gempal itu memasang wajah beringas, dan lantas memperkosa kedua wanita itu bergantian.


Kedua wanita tersebut merupakan sebagian dari gadis-gadis yang di culik oleh bandit taring hitam, selain anak-anak mereka juga kerap kali menculik wanita muda yang terkesan cantik.


Gu Lun bermain kuda-kudaan hingga nafasnya mulai terengah-engah, dia begitu larut dalam perjalanannya menggapai puncak kenikmatan, sampai sebuah suara gemuruh dari luar memaksanya menghentikan aksinya.


"Sial! Siapa yang membuat keributan?!" Gu Lun membenahi pakaiannya, lantas dengan segera ia keluar ruangan masih dengan wajah kesal.


Saat keluar dari pintu, dia melihat seorang pria berkulit hitam dengan tubuh hanya kulit membalut tulang, berlari dengan wajah panik.


Gu Lun hanya diam, menatap heran pria yang tengah berlari ke arahnya.


"Ketua.. " Pria hitam kurus berseru saat sudah berada satu meter di hadapan Gu Lun.


"Kenapa kau begitu panik?!" tanya Gu Lun dengan nada kesal.


"Ketua.. " Lagi-lagi pria hitam kurus itu memanggil Gu Lun, membuat Gu Lun semakin kesal.


"Katakan apa yang terjadi!" bentak Gu Lun dengan tangan mencengkeram kerah pakaian pria berkulit hitam.


Pria hitam kurus itu mengambil nafas, mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih memburu.


Merasa sudah tenang dia lalu berkata. "Ketua, markas di serang!"


Gu Lun tidak terlihat panik, dia mengangguk, kemudian menatap pria hitam kurus di hadapannya.


"Berapa jumlah mereka?"


"Tiga ketua, saat ini hampir seluruh anggota kita tengah bertarung melawan mereka."


Kening Gu Lun mengerut. "Hanya tiga tikus saja kau menjadi panik. Temui Cakar besi dan Tombak kembar. Biar mereka yang mengurus tikus-tikus itu. Saat ini aku sedang sibuk." Gu Lun berbalik, hendak kembali meneruskan pekerjaannya yang belum selesai.


"Ketua, bahkan wakil ketua tak bisa mengimbanginya, sekarang wakil ketua sedang berusaha menahannya, mereka menunggu ketua datang."


Gu Lun mendadak diam, kemudian membanting pintu.


Brak!


Pintu kayu itupun sampai hancur berkeping-keping, dentuman yang keras membuat pria hitam kurus terkejut.


Gu Lun melesat mengambil pedang dari dalam ruangannya. Lalu tanpa basa basi berkelebat mendahului pria hitam kurus, membuat pria kurus tersebut gelagapan, lantas berkelebat menyusul.


***


Beberapa saat sebelumnya...


"Kenapa perasaanku tidak enak ya?"


"Ah, mungkin kau sudah terlalu banyak minum."


"Hahaha.. benar saja, ku rasa aku harus mengurangi kebiasaan minumku."


Dua penjaga saling berbincang, sesekali menenggak guci arak sambil melihat permainan kartu teman-temannya.


Arya menatap bangunan usang yang berdiri seratus meter dari hadapannya, kemudian dia melirik anak perempuan yang memaksa ikut bersamanya.


"Kau sebaiknya di sini saja, tunggu kakak kembali, kakak akan menjemput teman-temanmu." Arya mencoba membujuk anak perempuan itu.


Anak perempuan berkuncir dua itu mengangguk kecil, tangannya yang sedari tadi memegang pakaian Arya, ia lepaskan.


"Kakak harus hati-hati.. "


"Tenang saja, aku akan baik-baik saja, kau tunggu disini, jangan kemana-mana." Arya mengangkat tangannya, mengusap kepala anak perempuan di sampingnya tersebut.


"Heem.. " Anak perempuan itu mengangguk dengan cepat, kedua tangannya mengepal di depan dada, seolah memberikan semangat kepada Arya.


Arya menarik tangannya, menatap bangunan di hadapannya yang ia yakini adalah markas bandit taring hitam.


Sesampainya di depan pintu, Arya mengetuk pintu tersebut sedikit keras.


Tok tok tok...


Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekati pintu dari dalam.


Kriekn..


Seorang pria bertelanjang dada membuka pintu dengan wajah tak sedap di pandang.


"Ada apa?!" tanya pria tersebut dengan sedikit sengit.


Arya tersenyum kecut, "Paman.. Aku hanya ingin bertanya, aku baru sampai di desa Luan, kebetulan bangunan paman berada di dekat perbatasan, jadi aku kemari ingin bertanya arah kepadamu," Arya menggerakkan tengkuk kepalanya, bersikap seolah dia hanya kebetulan.


"Tanya saja ke tempat lain, aku tak ada waktu!" Pria itu berbalik dan hendak menutup pintu kembali.


Mata Arya sekilas mendapati tato di leher bagian belakang pria itu. Sebuah lambang tato yang sama seperti yang di miliki tiga orang berpakaian hitam yang telah ia habisi sebelumnya. Namun letak dimana tato itu di ukir tidaklah sama, karena memang mereka diberikan hak untuk memilih dimana tato mereka tersebut akan di buat.


Saat pria itu hendak menutup pintu, Arya dengan cepat menendang pintu itu hingga terlepas dari tempatnya.


Brak!


Pria itu terpental masih dengan dahan pintu di tangannya.


Bruak!


Tubuh pria itu seketika lemas, terhimpit pintu serta dinding yang ia hantam. Namun dia tetap berusaha berteriak, memanggil temannya yang lain.


"Markas di serang!"


Di ruang bawah tanah, beberapa pria berpakaian senada tengah duduk dan bermain kartu, di meja tersebut juga terlihat beberapa guci arak yang sesekali mereka tenggak.


Mereka tertawa dan berbincang sembari bermain kartu, namun kesenangan mereka seketika pudar saat mendengar teriakan temannya yang baru saja naik begitu mendengar suara ketukan pintu.


"Markas di serang!"


Gerombolan pria yang berjumlah sekitar belasan orang itu seketika memasang wajah buruk, kemudian menjungkir-balikan meja di hadapannya.


Bruak!


Kartu-kartu berhambur berantakan, guci arak berjatuhan menumpahkan isi air di dalamnya.


"Siapa yang berani datang ke markas bandit taring hitam? Mereka harus mati!" Seru salah seorang pria yang kemudian berjalan dengan wajah angkuh dan berniat menghadapi lawan yang menyerang.


"Mereka sungguh tak menginginkan nyawa mereka lagi." Timpal seorang pria di sampingnya.


Para anggota bandit taring hitam kemudian melesat, menuju ke lantai atas.


"Siapa yang berani berbuat rusuh disini?!" Beberapa orang berkata bersamaan, membuat pria bertelanjang dada yang terduduk di sana seketika menoleh.


"Dia!" Pria itu menunjuk Arya dengan wajah geram.


Belasan orang yang baru saja keluar sontak mengarahkan pandangan ke arah tangan pria itu menunjuk.


Mata belasan orang itu membulat, melotot seakan hendak melompat keluar, tak percaya dengan 'penyerang markas' yang mereka cari.


"Hei nak, apakah kau tersesat?" Tanya pria yang berdiri paling depan, meskipun dia bertanya seolah peduli, dalam perkataannya sangat jelas dia sedang mencibir Arya, Hulao dan Honglong.


Di mata mereka, Arya hanyalah pemuda ingusan. Sedangkan Hulao dan Honglong tidak jauh berbeda. Mereka bertiga terlihat seperti manusia biasa.


"Tidak perlu berbasa-basi, aku datang untuk memusnahkan hama-hama seperti kalian," Arya menunjuk belasan orang di hadapannya satu persatu.


Menurut Arya, sebutan hama memang cocok diperuntukkan untuk orang-orang seperti mereka. Orang-orang yang keberadaannya hanya meresahkan dan merugikan masyarakat.


"Hahahaha..."


Belasan orang seketika tertawa keras, kemudian berhenti dan menatap sinis Arya, Hulao dan Honglong. Bagaimana mungkin mereka yang berjumlah belasan, akan kalah dari tiga orang yang terlihat seperti manusia biasa.


"Apakah kau bercanda, hanya kalian bertiga?" Salah seorang diantara mereka bertanya dengan nada meremehkan sambil menunjuk tiga jarinya di depan muka.


"Jadi kalian menginginkan lawan yang banyak? Baiklah, permintaan kalian akan ku turuti." Arya memiringkan kepalanya, tersenyum sinis. Kemudian melakukan pola tangan.


Tiba-tiba muncul puluhan Arya yang membuat belasan bandit tersentak ingin melarikan diri, mereka seketika sadar pemuda yang menjadi lawannya itu bukanlah pendekar biasa atau mungkin seorang penyihir.


Hahaha...


Sekali lagi suara gelagak tawa menyelimuti ruangan tersebut, kali ini yang tertawa adalah Honglong.


"Apa kalian tidak mendengar perkataan tuan kami! Kalian hanyalah hama! Tidak pantas kalian berlagak di hadapan kami." Honglong mengayunkan cakarnya. "Matilah.."


Wuuusshh...


Belasan bandit taring hitam merasakan terpaan angin melesat ke arahnya, detik kemudian terdengar suara retakan tulang patah yang di iringi teriakan saling bersahutan.


Hanya dalam sekejap, belasan bandit tersebut tewas dengan tubuh terbelah-belah, membuat lantai di ruangan tersebut di penuhi genangan darah.


Arya menggeleng pelan sebelum menarik kembali teknik bayangan semesta miliknya. Lantas diapun berkelebat ke pintu yang telah terbuka di lantai. Pintu tersebut membawanya menuju ruangan bawah tanah.