Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Ketegangan Yang Berlarut-larut


“Da Si King…!” tiba-tiba terdengar Yu Buqun berteriak keras.


Sontak orang yang dipanggilnya pun dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Yu Buqun.


Da Si King adalah tangan kanan Yu Buqun. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menonjol keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.


“Suruh orang itu bicara!!” perintah Yu Buqun.


“Bicara tentang apa, tuan?” tanya Da Si King.


Mendengar pertanyaan itu, Yu Buqun memaki keras, “Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”


Da Si King mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari pemuda asing itu.


Perlahan-lahan Da Si King memutar tubuhnya, menghadap Arya. Untuk sesaat ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan ia lalu mendekati si pemuda. Suasana semakin bertambah tegang. Peristiwa seperti ini memang telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar aturan. Tetapi kali ini, orang-orang itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya.


“Siapa namamu?” tanya Da Si King dengan garangnya. Matanya tampak berapi-api.


Arya tersenyum, lantas menjawab dengan tenang. “Namaku Li Xian.”


Ternyata ketenangannya si pemuda membuat semua orang jadi terheran-heran juga kagum. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Da Si King, apalagi Yu Buqun.


“Bagus…” dengus Da Si King. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah sangat berguna bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Li Xian.” Da Si King lalu mengangguk-angguk dengan sikapnya yang begitu angkuh. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Arya tampak tenang sekali. Dan ini sangat menjengkelkannya.


“Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”


“Tak ada yang perlu aku katakan,” jawab Arya.


Da Si King terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keraslah ia. “Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak perlu memaksamu.”


Arya mulai jengah melihat sikap Da Si King yang sombong itu. Maka iapun mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan ini, dengan membuat Da Si King marah.


“Baiklah aku berkata.. seperti yang sudah aku katakan kepada Tuan kepala desa tadi, aku berasal dari Sekte Lembah Petir. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena justru aku ingin menculikmu, wajahmu yang jelek itu kurasa cocok untuk menakuti gadis-gadis.”


Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya pemuda asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali kepala desa tua itu yang tampak tersenyum-senyum.


Tentu saja Da Si King menjadi tersulut emosi. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan kepala desa dan Yu Buqun. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut pemuda yang sudah menghinanya itu.


Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam ke wajah Arya. Orang-orang yang menyaksikan tindakan itu menjadi terkesiap hatinya, sehingga mereka menahan nafas sambil berdebar-debar.


Tetapi bagi Arya gerakan serangan itu sangat sederhana. Bahkan menurutnya serangan itu dilakukan tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini ia tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit menggeser tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Arya telah dapat menghindari terkaman Da Si King.


Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Da Si King menjadi kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Arya dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Da Si King. Tetapi Arya tahu, kalau tindakan demikian akibatnya akan sangat buruk. Karenanya ia hanya menyerang Da Si King dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung orang itu dengan arah yang sama. Da Si King yang memang sudah kehilangan keseimbangan, serta-merta jatuh tertelungkup mencium tanah.


Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan tersebut, yang awalnya mengira bahwa wajah pemuda asing itu akan hancur diremas oleh Da Si King. Sontak terkejut menyaksikan kenyataan itu. Banyak diantara mereka yang tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.


Da Si King akhirnya menyadari bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Peristiwa ini baginya sangat memalukan sekali. Dihadapan semua orang ia terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala. Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.


Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Da Si King dapat berdiri tegak kembali, Arya telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Da Si King cukup waspada. Ia membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan si pemuda. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan lawan.


Arya cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Da Si King itu ke atas. Sekali lagi Da Si King kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Da Si King berguling dan kemudian berusaha tegak kembali.


Sementara itu Arya telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Da Si King hampir berhasil tegak berdiri, seperti sambaran kilat telapak tangan Arya menghantam dada Da Si King.


Meskipun Arya hanya mempergunakan tenaga yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Da Si King mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya. Tetapi kemudian ia terjatuh pingsan.


Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Da Si King termasuk orang yang dikagumi di desa Huangpu. Tetapi Arya dengan mudahnya dapat menjatuhkannya.


Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara Yu Buqun yang menggelar seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Da Si King, orang kepercayaannya dipermainkan pemuda asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal.


Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Yu Buqun akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang tersebut diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing.


Arya yang menyaksikan Yu Buqun telah siap menyerangnya tersebut, tampak tenang-tenang saja. Ia bahkan bersiul-siul seolah sedang tidak terjadi apa-apa.


Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat Yu Buqun akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya pemuda asing itu dapat menyelamatkan diri. Namun sontak mereka menjadi kebingungan juga heran ketika melihat sikap si pemuda yang tampak acuh tak acuh, bahkan masih sempat-sempatnya menyuarakan siulan seperti kicauan burung.


Merasa dipermainkan, semakin mendidihlah amarah Yu Buqun, ia semakin memperkuat putaran cambuknya itu. Dan kejap kemudian, cepat sekali cambuk itu menyambar leher Arya,


Tetapi tanpa dapat dilihat, tangan Arya tahu-tahu telah menangkap cambuk itu. Tidak sampai disana, dari tangan pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan percikan petir yang cepat sekali menjalar mulai dari ujung cambuk yang dipegangnya sampai ke tangan Yu Buqun. Aliran petir itu serta-merta membuat tangan Yu Buqun menjadi panas luar biasa, tubuhnya kejang-kejang sesaat lalu dengan terpaksa dia akhirnya melepaskan cambuk di tangannya tersebut.


Mengalami hal semacam itu, meskipun menahan sakit, Yu Buqun menjadi bertambah marah. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya.


Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu tak dapat mengerti kenapa Yu Buqun tiba-tiba melepaskan cambuknya.


Yu Buqun cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Arya masih tampak tenang-tenang sambil bersiul-siul.


“Jangan sombong kau bocah!”


Selepas berkata begitu, Yu Buqun langsung menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis.


Mendapat serangan ini Arya sigap merendahkan diri serta memutar tubuh sambil tak henti-hentinya bersiul-siul.


Tetapi ketika Yu Buqun melihat bahwa targetnya mencoba menghindar, segera ia mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya.


Arya yang sudah memperkirakan hal itu, ia pergunakan siku tangan kanannya untuk menahan tendangan sambil memiringkan tubuhnya.


Maka terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Yu Buqun dengan siku tangan Arya. Akibatnya hebat pula. Yu Buqun ternyata telah mengerahkan seluruh kekuatannya, dan ketika ia melihat bahwa Arya tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali.


Tetapi dugaan itu ternyata meleset! Ketika kakinya yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya tersebut menyentuh siku tangan pemuda asing itu, Yu Buqun merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang patah, sedangkan ia sontak terpental oleh kekuatan Arya dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.


Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak menjadi bergetar hatinya, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Yu Buqun tahu-tahu terbanting di tanah hingga pingsan.


Chen Chuankai, demikian nama kepala desa tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu, dia lah yang harus bertanggung-jawab.


Cepat-cepat ia mendekati Yu Buqun yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Yu Buqun yang kini bengkok karena tulangnya patah. Seluruh badan Yu Buqun terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak cepat-cepat mendapatkan pertolongan.


Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan pemuda asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Da Si King dan kemudian sekaligus Yu Buqun.


Chen Chuankai, sang kepala desa yang dalam cemasnya, ia juga diam-diam mengagumi kehebatan pemuda asing itu. Bagaimana kalau ia sengaja menyerang dan sengaja menghantam lawannya.


Sementara itu, Arya nampak termenung ketika melihat akibat dari benturan yang terjadi. Hatinya menjadi menyesal, bahwa ia telah mempergunakan terlalu banyak tenaganya sehingga mematahkan kaki Yu Buqun. Perlahan-lahan ia memandangi orang-orang yang berdiri di sekelilingnya dengan sikap waspada. Sebab, segala kemungkinan dapat terjadi dengan terlukanya Yu Buqun dan Da Si King.


“Bawa Yu Buqun dan Da Si King masuk! Cepat obati mereka.” perintah kepala desa Chen Chuankai.


Sontak beberapa orang disana segera mengangkat tubuh Yu Buqun dan Da Si King, buru-buru membawanya ke dalam rumah.


Kini perhatian semua orang terpusat kepada Arya yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada kepala desa Chen Chuankai, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang seterusnya akan diperbuat oleh kepala desa tua itu?


Sebenarnya pada saat itu kepala desa Chen Chuankai telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Arya masuk ke rumahnya, untuk selanjutnya mempersilahkan pemuda itu memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang mendekati sang kepala desa.


“Paman..” kata orang itu dengan nada yang berat berwibawa, “Izinkanlah aku memperkenalkan diri terhadap pemuda asing ini.”


Alangkah terkejutnya kepala desa Chen Chuankai. Ia menjadi kebingungan, sebab sama sekali ia tidak menduga bahwa persoalannya akan berlarut-larut. Orang itu adalah pemimpin pasukan yang menangkap Arya tadi, dan ia adalah anak dari adik kandung kepala desa tua tersebut.


Beberapa kali keponakannya yang bernama Chen Xule itu menyatakan ketidaksenangannya atas sikap Yu Buqun yang angkuh. Dan mendadak kini ia ingin membelanya.


Melihat kebingungan dan keragu-raguan kepala desa Chen Chuankai, Chen Xule kembali berkata, “Aku tidak akan membela seseorang, paman. Tetapi aku tidak mau orang lain menyangka betapa lemahnya desa ini. Kami tidak tahu siapakah pemuda asing itu. Syukurlah kalau dia bermaksud baik, tetapi kalau orang itu ingin mengukur kekuatan kita, alangkah berbahayanya. Sedangkan keterangan yang diberikannya bukanlah berarti suatu kebenaran yang harus kita percaya begitu saja.”


“Biar orang lain saja yang mengurusnya, kau tidak perlu sampai turun tangan.” kata kepala desa itu tergagap. Sebab ia tahu bahwa keponakannya itu baru-baru ini telah mencapai kultivasi Pendekar Suci. Ia adalah orang yang lebih hebat dari dirinya sendiri.


Chen Xule sebenarnya adalah seorang panglima di kerajaan Guangzhou. Dan karena telah terjadi penculikan demi penculikan seorang gadis perawan di desa ini, iapun kemudian diminta untuk sementara tetap tinggal, kalau ada kemungkinan gerombolan penculik itu datang kembali.


Tetapi seperti tidak mendengar kata-kata pamannya, Chen Xule segera berjalan mendekati Arya sambil membawa trisulanya.


“Anak muda..” kata Chen Xule dengan sopan, “Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya dan juga belum pernah mempunyai suatu persoalan apapun. Tetapi tadi kau telah mempertunjukkan kemampuan dan ketangguhanmu. Maka perkenankanlah aku mencoba untuk melayanimu dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki.”


Arya tersenyum, matanya menyorot lekat-lekat kepada mata Chen Xule. Orang ini sikapnya agak berbeda dengan orang lain yang berada di situ. Sesaat kemudian Arya angguk-anggukan kepalanya.


Dan anggukan itu menurut Chen Xule seperti telah mendapatkan persetujuan, maka diapun berkata. “Aku mulai...”


Dan benar saja, Chen Xule telah mendahului menyerang. Langkahnya tetap ringan. Ia membuka serangannya dengan kaki yang menderu-deru kian kemari.


Untuk melawan serangan itu, Arya pergunakan jurus tujuh arah mata angin. Ia memang tak berniat bertarung apalagi melukai lawannya. Karena itu Arya selalu menghindar tanpa sekalipun balas menyerang.


Melihat lawannya dapat bergerak cepat bahkan mengalahkan kecepatannya, Chen Xule menjadi lebih berhati-hati. Ia kini tidak hanya fokus pada serangannya tetapi lebih memperhatikan pertahanannya. Ia memeras segala kepandaiannya untuk memenangkan pertandingan ini.


Pukulan serta tendangan yang dilancarkan Chen Xule membuat tempat pertarungan menjadi bergemuruh seperti terjadi badai prahara. Ledakan demi ledakan menggelar setiap kali serangannya tak menemui sasaran dan menghantam tempat-tempat kosong. Tanah di sekitar menjadi berlubang-lubang, bahkan beberapa bangunan menjadi hancur karenanya.


Semua orang mau tak mau selamatkan diri dengan menjauhi pusat pertarungan.


“Hebat …!” Kata Arya sambil menghindari pukulan yang mengarah ke bahu kirinya.


Perkataan si pemuda membuat dahi Chen Xule mengerut. Rupa-rupanya ia menjadi agak gusar ketika serangan-serangannya tidak sekalipun mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya yang adalah panglima kerajaan.


Kepala desa Chen Chuankai tampak semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki pemuda asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cidera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Sekte Lembah Petir. Tetapi disamping itu, ia sangat sayang kepada keponakannya, dan ia sama sekali tidak rela kalau Chen Xule mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya.


Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Chen Xule menjadi semakin dahsyat. Ketika serangannya yang dilancarkan dengan trisula nya mengarah ke sasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Arya, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut.


Melihat perubahan itu, Arya masih dapat menghindar dengan memutar tubuhnya ke samping. Tetapi Chen Xule ternyata sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka pada saat Arya berputar ke samping, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama


Namun tahu-tahu Arya lenyap dari pandangan. Chen Xule yang menyaksikan hal itu menjadi terkesiap, tendangannya akhirnya hanya membelah tempat kosong. Dan ledakan pun terjadi, membongkar tanah dimana sapuan angin dari tendangan itu menghantam.


Chen Xule segera akan mengayunkan tangannya ke kiri saat merasakan energi disampingnya. Namun telat, Arya telah lebih dulu menotoknya hingga Chen Xule tidak dapat bergerak, kaku tegak berdiri seperti patung.


Kepala desa Chen Chuankai yang terkejut melihat kejadian itu. Di luar sadarnya ia meloncat maju dan langsung menyerang Arya dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga.


Orang-orang yang mengitari pertarungan itu, mendadak jadi terkejut saat melihat kepala desanya terjun sendiri ke pertarungan. Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak. Meski sekuat apapun pemuda asing itu, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya.


Pada saat itu Arya dibuat kebingungan. Apakah ia harus lari saja agar tidak ada yang terluka karenanya. Berfikir demikian, maka Arya segera menggeser tubuhnya ke samping untuk kemudian menotok tubuh kepala desa Chen Chuankai. Namun sebelum ia berhasil melakukannya, salah seorang sudah bersiap mengayunkan pedangnya ke arah lengannya. Arya cepat-cepat menarik lengannya, lalu melompat bersalto di atas kepala-kepala orang-orang yang mengurungnya.


Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring.


“Apa yang terjadi disini...?!!”


Teriakan yang dilontarkan dengan tekanan Qi kuat itu bergetar memenuhi halaman, tanah disana berguncang hebat seperti gempa, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itupun serta-merta terhenti.


Ternyata yang berteriak itu adalah seorang kakek tua berambut kelabu dan bermata juling. Ia datang bersama seorang gadis cantik jelita yang berpakaian merah jambu, gadis itu tiada lain daripada Nie Zha adanya.