Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Dendam Seorang Anak


Tanpa memperdulikan tatapan keheranan orang-orang yang di lewatinya, seorang pria berpakaian prajurit berlari seperti orang kesetanan, melesat cepat membelah jalanan desa meninggalkan kepulan debu yang membumbung bekas hentakan larinya. Tujuannya ialah rumah kepala desa.


Anak-anak serta para penduduk yang berjalan di jalanan itu segera menepi untuk memberi jalan bagi prajurit tersebut. Melihat kejadian itu, kecemasan segera merayapi hati mereka. Timbul dugaan bahwa kemungkinan muncul kelompok penjahat yang kembali ke desa ini untuk menculik gadis-gadis. Berfikir demikian, semua penduduk desa buru-buru mengajak anak-anak serta istri-istri mereka untuk masuk ke dalam rumah. Mengunci rumah rapat-rapat. Mengambil apapun yang bisa dijadikan senjata untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Dalam waktu singkat, desa Huangpu itupun menjadi sepi seperti kuburan. Tak tampak seorangpun penduduk yang berkeliaran di luaran. Hanya deruan angin yang terdengar membelah kesunyian yang mencekam di desa itu.


Dilain tempat, di perbatasan desa Huangpu, para penjaga tampak sangat tegang. Mereka semua bukanlah orang-orang pengecut. Tetapi meskipun begitu, hati mereka berdebar-debar juga mengenangkan kebuasan orang-orang yang sudah beberapa kali datang menculik gadis-gadis dan tak jarang pula ada korban yang tewas apabila para penculik itu datang menjalankan aksinya.


Para penjaga tersebut telah meningkatkan kewaspadaan penuh, bahkan sebagian besar dari mereka yang berjumlah tak kurang dari dua puluh orang itu sudah menarik senjata masing-masing. Seolah sudah bersiap berperang! Pandangan mereka menyorot tajam mengamati sekitar seperti sedang menanti atau mencari-cari sesuatu.


Ketika prajurit yang berlarian tadi sudah memasuki gerbang rumah kepala desa, ia mendadak berdiri mematung ketika didapatinya ternyata sang kepala desa sudah berada diluar rumahnya. Disana juga telah terdapat banyak orang yang sedang berdiri menghadapi tiga orang. Ketiga orang itu tiada lain adalah seorang kakek bermata juling, seorang gadis berpakaian merah jambu dan seorang pemuda tampan berambut kuning.


Mereka semua yang berdiri diambang halaman rumah tersebut serta-merta melemparkan pandangan ke arah prajurit yang berdiri di ambang gerbang itu.


Seakan tersadar bahwa ada berita penting yang harus ia sampaikan, prajurit itupun menarik nafas dalam-dalam, mengatur jalan pernafasan yang memburu dan sesaat kemudian berlari cepat menemui orang-orang tersebut.


“Gawat,!” kata prajurit itu nampak sangat cemas.


Kepala desa Chen Chuankai dan semua orang yang berdiri dihalaman tersebut mengerutkan dahinya, meski dapat meraba akan apa yang membuat prajurit itu begitu cemas, namun mereka hanya terdiam memberikan waktu agar prajurit itu dapat menenangkan dirinya.


Setelah mengatur nafasnya, prajurit itupun meneruskan. “Ada seseorang yang mengamuk di air terjun yang tak jauh dari sini. Orang itu bahkan telah menyerang dan membunuh para prajurit yang berjaga di perbatasan. Sepertinya orang itu akan datang ke desa ini.”


Meskipun telah menduga bahwa adanya musuh datang, namun mereka sama sekali tak mengira bahwa penyerang itu hanyalah seorang saja. Meski demikian mereka tak menganggap remeh lawan. Berdebarlah hati mereka! Membunuh belasan prajurit seorang diri pastilah hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang memiliki kemampuan tinggi.


Tetapi getaran hati mereka terasa jauh berkurang ketika mereka melihat Chen Xule dengan trisulanya di tangan, serta tamu mereka yang gagah perkasa, Li Xian atau Tabib Xian yang juga bergelar Pendekar Naga Emas dengan sikap yang tenang dan meyakinkan. Apalagi disini terdapat pula seorang kakek yang namanya sangat dikagumi di seluruh kekaisaran, Si Lengan Api.


Kemudian terdengarlah kepala desa Chen Chuankai berkata, “Baiklah, kalau begitu cepat siapkan orang-orang untuk berjaga di gerbang masuk desa. Perketat juga setiap rumah yang memiliki seorang gadis ataupun bayi yang baru lahir.” Kepala desa ini menghela nafas sesaat, “Mudah-mudahan orang itu hanya kebetulan lewat dan tak ada niatan untuk melakukan hal buruk terhadap desa kita ini.”


Para pengawal desa ataupun prajurit mengangguk paham. Kemudian cepat-cepat mereka keluar gerbang, menyebar untuk mengabarkan berita itu sejauh-jauh mungkin supaya semua orang menjadi semakin berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan.


Panglima Chen Xule menatap heran kepada prajuritnya yang tadi memberikan laporan. Prajurit itu masih tegak ditempat, tidak seperti yang lainnya yang telah pergi untuk menyiapkan segala sesuatunya dan memperketat penjagaan. Prajurit itu tampak menundukkan kepala. Maka berkatalah Sang Panglima Chen Xule,


“Apa masih ada yang ingin kau sampaikan? Kalau memang masih ada.. Katakanlah!”


Dengan masih menundukkan kepalanya, prajurit itu berkata dengan nada bergetar, “Maaf panglima, tapi hamba sebenarnya ingin agar panglima memerintahkan para prajurit untuk membantu teman saya yang sedang bertaruh nyawa demi untuk melindungi hamba, hingga karena jasanya lah saya bisa menyampaikan berita ini kepada panglima.”


Panglima Chen Xule mengerutkan kening, ia menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah, kau ajaklah dua puluh orang untuk menyelamatkannya.”


Mendengar itu, si prajurit tersenyum lega. Dia membungkuk memberi hormat namun sebelum ia mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar Nie Zha berkata,


“Tuan, bolehkah kami ikut membantu?”


Panglima Chen Xule dan Kepala desa Chen Chuankai tersenyum. Diam-diam mereka merasa senang, tanpa diminta gadis itu mau mengulurkan tenaganya. Itu artinya kakek dari si gadis itu sendiri pastilah akan turut membantu mereka.


“Nie Zha, pendekar disini sangat berbeda dari pendekar-pendekar di negerimu. Kau jangan melakukan tindakan yang bisa mencelakai dirimu sendiri!” kata si kakek Lengan Api. Meski seolah melarang, namun dari nada bicaranya dia terkesan tenang.


“Bukankah ini saat yang tepat untuk mencoba kemampuanku kek. Lagipula kakek sendiri pernah bilang, ilmu yang dipelajari hanya merupakan pengetahuan kosong tanpa dilaksanakan dalam perbuatan? Ilmu barulah dapat disebut sempurna apabila di dalam pelaksanaannya dapat mendatangkan manfaat bagi kemanusiaan. Kita sudah melihat sendiri bagaimana keadaan desa ini. Mereka juga telah memperlakukan kita dengan baik, lalu apa salahnya jika kita juga membantu mereka?” Nie Zha bicara dengan penuh ketegasan tanpa keraguan dan takut. Sepasang matanya memandang tajam kepada Si Lengan Api, seolah seperti ia tidak mau jika di larang.


Kepala desa Chen Chuankai dan Chen Xule memandang kagum kepada gadis muda belia itu. Sedangkan kakek si Lengan Api tertawa dan lalu mengelus-elus rambut Nie Zha dengan penuh kasih seolah gadis itu memang cucunya sendiri.


“Tuan kepala desa, mohon izinmu.. kami berdua akan ikut prajurit ini.” kata si Lengan Api kemudian.


Kepala desa Chen Chuankai tersenyum mengangguk, “Silahkan, justru aku yang harus berterimakasih atas bantuan kalian.”


Demikianlah, Nie Zha bersama si Lengan Api mengikuti sang prajurit, keluar dari halaman rumah kepala desa.


Sepeninggal mereka, Arya segera meminta diri. Pemuda ini tidak seperti biasanya. Semenjak dari meditasinya, ia lebih banyak diam. Memang dia mendapatkan petunjuk yang sangat mengganggu pikirannya.


Melihat sikap pemuda itu yang pamitan tanpa mengucapkan sepatah kata dan hanya menelangkupkan tangan, kepala desa Chen Chuankai yang kenyang akan pengalaman hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia menduga bahwa pemuda itu sedang memiliki masalah yang terlampau sukar dan rumit. Pandangannya mengikuti langkah pemuda itu keluar gerbang.


Ketika rombongan prajurit bersama Nie Zha dan si Lengan Api semakin dekat dengan lokasi air terjun, dimana terjadinya pertarungan. Tampaklah pohon-pohon besar bertumbangan. Namun suasana disana begitu sunyi, hanya terdengar deburan air terjun. Selain itu tidak ada suara apapun.


Mendapati keadaan seperti itu, sang prajurit yang tadi membawakan informasi adanya pertarungan nampak tegang, hatinya menjadi tidak enak. Dia menyangka temannya yang tadi ditinggalkannya telah tewas. Maka cepat-cepat ia berkelebat mendahului menuju air terjun.


Ketika itu, tiba-tiba terdengar suara tawa mengumandang. Tak berselang lama melesatlah satu bayangan dari atas sebuah pohon yang mendarat ke tanah dengan ringannya seperti seekor tupai tepat tiga tombak di depan Sang prajurit. Semua orang terkejut dan serta-merta menghentikan lari. Lebih-lebih dengan Nie Zha sendiri. Diam-diam gadis itu terkesiap melihat cara orang itu turun dari atas pohon tersebut. Hatinya menjadi bergetar melihat penampilan orang yang tiba-tiba menghadang itu.


Orang ini berbaju dan celana hitam, kulitnya sangat pucat seperti mayat. Rambutnya putih, begitu pula dengan matanya yang seluruhnya putih tanpa adanya bulatan hitam. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang berkilat tertimpa sinar matahari siang.


“Jadi kalian juga ingin mati!” kata orang itu dingin, terkesan mengejek.


Prajurit yang berdiri paling depan nampak bergetar tubuhnya. Perlahan-lahan ia melangkah mundur. Dia mengenal orang yang berpakaian hitam itu tiada lain adalah orang yang telah membunuh semua teman-temannya.


“Siapa kau? Apakah kau orangnya yang telah membunuh prajurit-prajurit..” bentak Nie Zha setelah menjejakkan kakinya di hadapan orang berpakaian hitam itu.


Si Lengan Api yang khawatir akan keselamatan cucu angkatnya itu, juga buru-buru melompat dan hinggap di samping si gadis.


Orang berpakaian hitam itu perlihatkan senyuman mengejek. Tapi sebelum orang itu akan membuka mulutnya, tiba-tiba sekelebat bayangan putih kekuningan melesat cepat dan tahu-tahu orang berpakaian hitam tersebut terpental menghantam pohon.


Pohon itupun seketika tumbang dan tubuh orang berpakaian hitam tadi tampak terbenam di dalam badan pohon besar tersebut.


Semua orang termasuk Nie Zha dan si Lengan Api terkejut. Mereka sama sekali tidak dapat melihat pergerakan orang yang melakukan penyerangan itu. Yang dapat meraka rasakan waktu itu hanyalah deruan angin dan tahu-tahu orang berpakaian hitam yang menghadang mereka telah terpental menghantam pohon.


Pandangan semua orang kini tertuju pada seorang pemuda belia. Rambutnya panjang diikat ke belakang. Sebagian rambut si pemuda berwarna kuning hingga keliatan belang-belang kuning hitam. Parasnya gagah, sikapnya waktu melangkah mendekati orang berpakaian hitam meski acuh tak acuh dan seenaknya namun mengandung kewibawaan dan keperkasaan.


“Orang ini biarlah menjadi bagianku.. kalian tak usah ikut campur.” ucap pemuda itu yang tiada lain Arya adanya.


Wajah Nie Zha nampak marah, dengan suara membentak di berujar. “Kau!! Lagakmu seperti pahlawan kesiangan. Dia adalah bagianku, enak saja kau merebutnya dariku.”


Arya menoleh kepada Nie Zha, pandangannya begitu tajam seolah dapat menembus jantung. Tanpa sadar Nie Zha tersurut mundur. Hatinya terasa terguncang melihat sorot mata pemuda yang dikiranya polos dan suka bercanda itu kini sangat jauh berbeda, pemuda itu seperti binatang yang sangat buas.


Sementara itu, dengan masih menatap si gadis, Arya telah bergerak, tangan kanannya terjulur ke arah laki-laki berpakaian hitam yang hendak bangkit dari badan pohon yang tumbang.


Semua orang mengerutkan kening, alangkah luar biasanya kejadian yang mereka saksikan. Tubuh orang berpakaian hitam tersebut melayang ke arah Arya. Kini leher orang berpakaian hitam itu telah tercekik dalam cengkeraman tangan si pemuda berambut kuning tersebut.


Tanpa bisa melawan, laki-laki berpakaian hitam merasa tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakkan. Dia hanya bisa melotot memandangi Arya.


“Masih ingatkah kau dengan tetua Sekte Lembah Petir yang bernama Li Hongyi? Orang yang telah kau bunuh bersama teman-temanmu belasan tahun silam?!” berkata Arya dengan nada datar namun membuat hati siapa saja yang mendengarnya menjadi tergetar.


Seolah tidak dapat mengendalikan tubuhnya karena hatinya diselimuti ketakutan luar biasa, orang berpakaian hitam berambut putih itu mengangguk lemah.


Arya pelototkan matanya, “Kau tahu, orang yang kau bunuh itu adalah ayahku!!.”


Setelah berkata begitu, tubuh orang berpakaian hitam tersebut meledak. Daging dan darahnya berhamburan! Tulang-tulangnya remuk berjatuhan!


Semua orang menatap ngeri. Pemandangan itu membuat tubuh mereka bergetar hebat. Sedang Nie Zha sendiri buru-buru lempar pandangan ke samping. Hati gadis ini tak kuasa melihat pembunuhan sekejam itu. Meski begitu diam-diam dia sangat mengagumi kehebatan Arya.


“Benarkah dia pendekar aliran putih?” desis si Lengan Api dalam hati. Sorot matanya memandang tajam kepada Arya.


Sementara itu, Arya tampak termangu-mangu. Dia memang telah berhasil membunuh salah seorang pembunuh dari ayah dan ibunya. Namun dihatinya, ia sama sekali tidak menemukan kepuasan. Hatinya tidak lega! Biarpun dia tidak mendendam, setidaknya dia seharusnya puas dan senang telah membunuh salah seorang dari pembunuh ayah dan ibunya. Akan tetapi sungguh aneh. Dia sama sekali tidak merasa puas atau senang. Sebaliknya, dia malah merasa bersalah, darahnya terasa panas dan hatinya kini diselimuti kegelisahan oleh nafsu yang kini semakin kuat mengajaknya untuk membunuh lebih banyak orang. Mungkin hasrat membunuh ini timbul karena pengaruh Tekniknya ‘Pengendalian Darah’


Perlahan-lahan sepasang mata Arya yang tadinya merah menyala kini menjadi kuning kembali. Pemuda ini kemudian menatap ke arah orang-orang yang sedang menatapnya ketakutan.


“Anak muda, ada yang harus aku bicarakan denganmu.” tiba-tiba Si Lengan Api telah mencengkeram bahu Arya. Kata-kata kakek ini penuh tekanan.


Sebenarnya Arya dapat menghindar, namun ia memilih diam saja. Karena menurutnya ia memang harus menjelaskan kejadian ini. Dia tidak mau mengelak karena jika ia melakukan perlawanan, hubungan antara dirinya dengan orang-orang ini bisa saja berujung permusuhan.