Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Tetua Muda


Patriark Tao Lian segera mengumpulkan seluruh murid inti beserta para tetua untuk membahas terkait informasi yang di dapatkannya dari Tetua Lin Hai. Dari informasi tersebut, Patriark Tao Lian mengetahui alasan kepergian Arya yang terkesan buru-buru karena berencana menyerang Iblis Berdarah seorang diri.


Jelas saja Patriark Tao Lian sangat terkejut ketika mengetahui informasi tersebut, lantaran sebelumnya pihak Kekaisaran maupun sekte-sekte anggota aliansi sudah sepakat akan menyerang Iblis Berdarah bersama-sama. Tetapi justru kini Arya malah mengambil langkah cepat secara sepihak tanpa memberitahukannya. 


Hal ini jelas membuat Patriark Tao Lian sangat mengkhawatirkan keselamatan keponakannya itu, meskipun dia sudah mengetahui bahwa kemampuan Arya telah melampaui seluruh pendekar di kekaisaran Ming, tetapi untuk menyerang markas musuh seorang diri bukanlah hal yang mudah, itu adalah tindakan gegabah dan pastinya juga memiliki resiko yang sangat besar.


"Kalian pergilah susul Li Xian! Kalau bisa bujuklah dia agar mau menunggu sampai anggota aliansi serta seluruh pasukan kekaisaran siap menyerang. Tapi jika dia tetap keras kepala, bantulah dia dengan segenap kemampuan kalian. Bertahanlah sampai aku berhasil membujuk sekte lainnya agar bersedia melakukan penyerangan secepatnya, namun jika mereka tetap menolak ingin menunggu sampai anggota mereka datang, aku akan menyusul kalian bersama pasukan dari kekaisaran." Patriark Tao Lian yakin bahwa pasukan Kekaisaran pasti akan bersedia membantu meskipun anggota sekte aliansi lainnya tidak ikut serta.


Huang She yang berada di sana nampak tersenyum karena rencananya berhasil, dia memang sengaja memberitahukan tetua Lin Hai mengenai rencana Arya, karena dia yakin Sekte Lembah Petir pastinya tidak akan tinggal diam setelah mengetahui rencana Arya.


Semenjak bertemu dengan Arya, Huang She benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang untuk pertama kalinya merasakan betapa indahnya berada di samping seorang pria. Seorang pria yang membuatnya jatuh cinta, seorang pria yang kerap kali menyelamatkan hidupnya, dan juga seorang pria yang telah mewujudkan impiannya menjadi pendekar hebat seperti sekarang ini.


Hal itulah yang membuat Huang She sulit untuk menerima kenyataan harus jauh dari Arya, dirinya sudah terbiasa bersama dengan pemuda tersebut, tentunya karena itulah dirinya tidak akan tinggal diam membiarkan pria yang dicintainya mempertaruhkan nyawa berjuang seorang diri menghadapi musuh. Dengan kemampuan yang di milikinya, Huang She merasa kemampuannya akan sedikit banyak berguna, terlebih dia juga memiliki firasat buruk terhadap Arya.


Huang She mengangkat tangannya, "Patriark, mohon izinkan aku untuk ikut menyerang."


"Izinkan aku juga Patriark." Dari bangku lain Liu Wei juga mengangkat tangannya.


Perhatian semua orang tertuju menatap kedua gadis tersebut, mereka heran kenapa kedua gadis itu berada di dalam pertemuan ini. Padahal kedua gadis itu adalah anggota baru, yang tidak sepantasnya berada di pertemuan para petinggi sekte.


Sebagian tetua melebarkan mata setelah mengukur kemampuan Huang She dan Liu Wei, mereka bahkan meragukan hasil dari pengamatannya terhadap Kultivasi Liu Wei dan Huang She.


"Pendekar Suci.!" Meski tetua Zhan Ji berada di tahap Pendekar Kaisar, yang sebenarnya dia tidak bisa mengukur kemampuan Pendekar Suci. Namun Tetua Zhan Ji yakin kedua gadis itu berada di tahap Pendekar Suci berdasarkan besarnya energi yang terpancar dari tubuh keduanya.


"Sejak kapan mereka mencapai Pendekar Suci?" Dahi Tetua Din Thai Fung mengkerut, dia yakin ketika terakhir kali bertemu dengan kedua gadis itu, mereka masih berada di tahap Pendekar Kaisar. Kini Din Thai Fung manggut-manggut setelah menarik kesimpulan bahwa perkembangan pesat kedua gadis itu tidak lain karena campur tangan Arya.


"Sepertinya era baru sudah di mulai." Tetua berambut merah tersenyum tipis. Liao Fan bangga melihat perkembangan dunia persilatan yang tidak pernah ia banyangkan akan bermunculan pendekar-pendekar muda yang memiliki bakat melampaui para pendekar pada generasinya.


Sementara itu Tetua Lin Hai nampak memasang wajah kecut, dia memang sebelumnya sudah mengetahui perkembangan mengejutkan dari dua muridnya itu. Sebagai seorang guru dari Liu Wei dan Huang She, Tetua Lin Hai merasa malu karena tidak memiliki kontribusi atas perkembangan kedua muridnya itu. Terlebih kemampuan Liu Wei dan Huang She saat ini bahkan telah melampaui dirinya.


Patriark Tao Lian diam sesaat, dia menimbang-nimbang karena kedua gadis itu akan di ikut sertakan dalam kompetisi. Setelah berfikir selama beberapa saat, Patriark Tao Lian akhirnya mengangguk. "Baiklah, kalian boleh ikut."


Liu Wei dan Huang She sama-sama terlihat tersenyum senang, "Terimakasih Patriark." Ucap mereka hampir bersamaan seraya menelangkupkan tangan.


"Tapi sebelum itu, kalian harus diresmikan dulu menjadi tetua."


Perkataan Patriark Tao Lian sontak saja membuat seluruh murid inti terkejut. Mereka memang tidak bisa mengukur kemampuan Liu Wei dan Huang She, sebab itulah timbul perasaan iri serta tidak terima atas keputusan Patriark Tao Lian tersebut. Mereka merasa bahwa merekalah yang lebih pantas di angkat menjadi tetua sebab sudah lama mereka menjadi murid inti di bandingkan Liu Wei dan Huang yang baru saja bergabung sebagai murid baru.


Sementara para tetua hanya menghela nafas, dan sebagian lagi tersenyum mengangguk menyetujui keputusan Patriark Tao Lian.


Melihat ekspresi seluruh murid inti, Patriark Tao Lian mendengus pelan. "Meskipun mereka murid baru, tetapi kemampuan mereka berdua berada di atas kalian. Apakah ada yang keberatan jika aku mengangkat Pendekar Suci sebagai tetua?"


Ekspresi seluruh murid inti seketika berubah, cara pandang mereka terhadap Liu Wei dan Huang She juga berbeda dari sebelumnya. Mereka baru menyadari alasan kenapa mereka tidak dapat membaca tingkat kultivasi kedua gadis tersebut. Meski jelas tidak percaya, karena bagaimanapun mana mungkin seseorang yang baru berusia belasan tahun dapat mencapai Pendekar Suci, namun mereka juga tidak berani menyalahkan atau memprotes keputusan Patriark Tao Lian.


"Kemarilah..!" Patriark Tao Lian menatap Liu Wei dan Huang She bergantian.


Setelah mereka berdua mengucapkan janji setia dan bersedia akan mengikuti peraturan yang di tetapkan Sekte Lembah Petir, Patriark Tao Lian kemudian memberikan lencana kepada Liu Wei dan Huang She, lantas mengumumkan bahwa mereka berdua telah resmi menjadi tetua Sekte Lembah Petir. Patriark Tao Lian juga memberikan kediaman khusus untuk mereka berdua tempati.


Dengan di angkatnya Liu Wei dan Huang She sebagai tetua, maka secara mengejutkan mereka berdua telah mengukir sejarah baru, dimana baru kali ini ada seseorang yang baru berusia belasan tahun dapat menduduki jabatan sebagai tetua. Sekaligus sebagai Pendekar Suci termuda sepanjang sejarah kekaisaran Ming.


***** 


Arya bersama Hulao dan Honglong terbang ke arah barat laut. Menurut petunjuk yang di dapatkan dari penjaga gerbang, untuk menuju ke desa Shanyin mereka harus melewati 4 kota, 16 desa dan 3 sungai. Jarak tempuh tersebut kira-kira memakan waktu 3 bulan lebih bila menempuhnya dengan berkuda.


Sepanjang perjalanan, Arya terus menghitung desa-desa maupun kota yang telah dia lewati.


Namun ditengah perjalanan, Arya terlihat kebingungan karena berdasarkan petunjuk seharusnya dia akan menjumpai sebuah desa, tetapi di hadapannya justru terbentang hutan rimba yang luas. Merasa telah salah arah, diapun kemudian mencari pemukiman penduduk terdekat untuk bertanya.


Tak lama berselang, Arya sudah memasuki sebuah desa yang juga merupakan bagian dari wilayah kerajaan Guangzhou, desa ini terlihat lebih besar daripada desa yang telah dia lewati sebelumnya, dan desa ini bernama Desa Luan.


Arya melihat desa ini begitu ramai dengan lalu lalang penduduk. Setelah menanyakan arah tujuannya kepada seseorang, Arya yang tidak ingin terlalu lama berada di desa tersebut berniat langsung pergi melanjutkan perjalanan.


Namun saat dia hendak keluar dari desa tersebut, seorang anak perempuan berlari dengan begitu tergesa-gesa, membuat Arya memperhatikannya.


Anak perempuan itu mungkin berumur delapan tahun, anak perempuan itu mengingatkan Arya pada Han Nian yang saat ini berada di Lembah Petir.


Arya terus memperhatikan anak perempuan itu dengan manik matanya yang tajam, dia merasa anak perempuan tersebut seperti sedang diburu.


Ketika anak perempuan itu memasuki sebuah gang, Arya bersama Hulao dan Honglong lantas mengikuti. Ternyata dugaan Arya tidak salah, anak perempuan itu memang sedang di kejar oleh beberapa pria berpakaian senada, hitam pekat.


Gang yang dilalui gadis kecil itu ternyata adalah gang buntu. Gadis kecil itu lantas membalikkan badannya dengan panik, menatap kumpulan penjahat yang mencoba menculiknya.


"Tolong! Tolong!" Dengan suara yang menurutnya sudah paling keras dia berusaha berteriak, mencoba mencari pertolongan.


Arya yang berada di kejauhan memerhatikan pria berpakaian hitam itu dengan sorot mata tajam, diapun lantas melesat dengan cepat.


Phak!


Seolah turun dari langit, Arya kini berdiri di antara anak perempuan dan tiga pria berpakaian hitam. Dia berdiri dengan begitu gagah, dengan tangannya yang bersendekap.


Wajah anak perempuan yang sebelumnya pucat dan takut seketika berubah tenang, meskipun masih tersisa jejak ketakutan dalam ekspresinya.


Arya menoleh ke arah anak perempuan tersebut, begitupun dengan anak perempuan itu, dia memandang Arya seolah pemuda itu adalah dewa yang datang khusus untuk menolongnya.


Arya tersenyum, kemudian dia berkata dengan begitu tenang. "Tenanglah! Kau sudah aman, pejamkan matamu jika kau merasa takut." 


Ucapan Arya bagaikan terpaan angin sepoi-sepoi bagi anak perempuan tersebut. Diapun membalas dengan tersenyum, kemudian mengangguk dan memejamkan matanya.