Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kematian Yang Di Janjikan


“Sial!” Umpat Hulao. Dia sama sekali tak menduga bahwa lawan yang tengah di serangnya tersebut akan menghilang dari hadapannya.


Belum hilang rasa kejutnya, lawannya itu tahu-tahu muncul kembali tepat di sampingnya dan cepat sekali melayangkan pukulan kuat yang di selimuti energi api hitam luar biasa panas. Bergerak menargetkan kepala.


Beruntung Hulao masih sempat merundukkan kepalanya sehingga pukulan hewan iblis itu lewat sejengkal di atas kepalanya. Namun hewan iblis berkaki cumi-cumi tersebut tidak berhenti sampai disana, dia segera berputar melayangkan tendangan dengan sepasang kakinya atau lebih tepatnya tentakel yang memanjang seperti cambuk. Serangan itu telak sekali mengenai dada Hulao.


Seiring dengan itu terciptalah ledakkan, tubuh Hulao terlempar jauh menghantam dinding kubangan tanah, tempat pertarungan mereka. Mulut siluman harimau putih yang menjelma jadi manusia itu langsung menyemburkan banyak darah segar, dia benar-benar terluka parah dan tidak mampu segera bangkit kembali.


Melihat Hulao terkena serangan, para bayangan Arya dan yang lainnya segera berusaha menguasai diri untuk terlepas dari tekanan energi yang terpancar dari tubuh panglima hewan iblis itu.


Sesudah merasa agak terbebas dari tekanan energi kuat itu, mereka semua langsung bergerak susul menyusul menerjang panglima hewan iblis yang saat itu sudah kembali bertukar serangan dengan Hulao.


Dalam waktu singkat, panglima hewan iblis terkepung dan di serang bertubi-tubi oleh para lawannya. Namun dari sekian serangan yang mengarah padanya, semua dapat di tangkisnya dengan mudah.


Ketika tongkat petir seorang bercadar terayun ke kepalanya, panglima hewan iblis ini sama sekali tidak berkisar dari tempatnya. Hewan iblis ini telah lama bertempur dengan para bayangan Arya sehingga kekuatan maupun teknik bertarung lawannya itu telah banyak diketahuinya.


Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya serangan itu dengan sebelah tangannya. Dengan tangan kirinya itu hewan iblis ini ingin menunjukkan, bahwa kini kekuatannya tidak lagi seperti beberapa waktu yang lalu, setelah dia menggunakan teknik terlarangnya.


Rupanya panglima hewan iblis ini ingin melihat para lawannya mati dalam keputusan atau setidak-tidaknya karena dibakar oleh kemarahannya. Mati dengan cara seperti itu adalah mengerikan sekali. Karena itu, maka hewan iblis itupun menyeringai.


Para bayangan Arya dan yang lainnya mengerutkan keningnya. Serangan demi serangan yang mereka lancarkan seolah seperti tidak berarti sama sekali, bahkan hewan iblis itu masih tegak berdiri tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Setelah sekian lama menyerang, barulah mereka sadar bahwa hewan iblis berkaki cumi-cumi itu benar-benar ingin mempermainkan mereka. Karena itu, maka betapa kemarahan melonjak di kepala mereka. Tetapi mereka masih berusaha mencari solusi terbaik untuk menyusun serangan. Mereka sadar bahwa hanya mengandalkan kekuatan, jelas mereka kalah telak. Namun mereka menang jumlah, dan hal itu berusaha di manfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka untuk menyusun strategi melumpuhkan lawan.


“Aku sudah berkeputusan untuk membunuh kalian dengan bantuan kalian sendiri. Kemarahan dan kebingungan, kesakitan dan kelelahan adalah cara pembunuhan yang paling dahsyat. Meskipun kalian tidak menjadi ketakutan, tetapi bagiku tidak ada bedanya. Kalian menderita sebelum ajal datang Ha... Ha... Haa... Haaakk..” Tawa panglima hewan iblis itu mendadak tersendat dan terbatuk-batuk. Hewan iblis ini melotot marah, lalu memutar kepalanya seperti sedang mencari-cari sesuatu.


Di atas udara, Honglong tertawa cekikikan sambil lempar-lemparkan sebiji kacang di atas tangan kanannya. Sedang tangan kirinya menunjuk-nunjuk ke arah panglima hewan iblis itu. “Makanya jangan menguap terlalu lebar, untung yang masuk ke dalam mulutmu itu bukan batu. Bagaimana rasanya makan kacang sama kulitnya? Pasti enak bukan!? Hik.. hik.. hik.. Tenanglah, aku masih punya banyak. Jika kau mau aku akan melemparkannya dari sini seperti tadi. Hik.. hik.. hik..”


“Keparat kau! Bersiaplah kau yang akan ku bunuh lebih dulu!!” Belum hilang gema suara itu, panglima hewan iblis telah berada di hadapan Honglong dan langsung menghantam jelmaan siluman tupai itu dengan ganas.


Honglong sangat terperanjat kaget, dia sama sekali tidak menyangka pergerakan hewan iblis itu begitu cepat seolah berpindah tempat. Namun untunglah dia masih sempat selamatkan diri dari serangan itu dengan cara merubah wujud manusianya menjadi wujud aslinya, yakni tupai kecil berbulu putih bergaris-garis merah, bertelinga panjang dan berekor empat.


Tubuh Honglong yang kecil itu lantas saja meluncur deras ke bawah, dengan begitu pukulan panglima hewan iblis tersebut tidak mengenai sasaran.


Mendapati serangannya gagal, panglima hewan iblis ini segera memburu Honglong dan menyerangnya dengan berigas.


Meski tahu serangan lawannya begitu kuat, namun anehnya Honglong masih sempat-sempatnya tertawa-tawa sambil berlari kesana-kemari dan sesekali melemparkan serangan bola-bola energi api ke arah lawan. Tubuhnya yang kecil dan bisa masuk ke dalam lapisan tanah membuat pergerakan Honglong begitu gesit sulit untuk di serang.


Liu Wei dan Huang She tersenyum-senyum melihat tingkah Honglong yang memang mereka kenal sangat usil dan menjengkelkan. Mereka sesaat seolah melupakan ketegangan yang terjadi.


Berbeda halnya dengan Hulao, Griffinhan dan Wouven. Ketiga siluman itu menggeleng-gelengkan kepala namun senang juga melihat siluman tupai itu berhasil mengalihkan perhatian dan memancing kemarahan hewan iblis berkaki cumi-cumi tersebut. Dengan begitu, lawannya itu akan kehilangan pengawasan atau setidak-tidaknya mereka bisa melancarkan serangan yang tidak terduga.


Lima bayangan Arya terlihat sama-sama mengangguk, mereka mendapatkan arahan dari Arya untuk mengulur-ulur waktu. Karena menurut pengamatan Arya, hewan iblis itu memiliki jangka waktu dalam menggunakan tekniknya. Arya dapat melihat walaupun energi hewan iblis itu melonjak tajam, namun energi kehidupannya seiring waktu mulai melemah.


Maka para bayangan Arya segera menggunakan teknik berpindah dimensi secara bersekala, mereka kirimkan beberapa serangan pukulan jarak jauh. Serangan mereka selalu berpindah-pindah tempat membuat panglima hewan iblis itu menjadi semakin tersulut emosi. Akan tetapi ketika hewan iblis ini balas menyerang, bayangan Arya yang di incarnya sudah lebih dulu menghilang dan mengirimkan serangan dari arah lain.


Di permainkan demikian rupa, membuat panglima hewan iblis semakin lama menjadi benar-benar hampir gila dibakar oleh kemarahan sendiri. Meskipun serangan para lawannya sampai sejauh ini tidak ada satupun yang dapat melukainya akan tetapi seiring waktu energi kehidupannya semakin berkurang. Dan hal itu di sadari para bayangan Arya dan yang lainnya. Sementara panglima hewan iblis sendiri tidak menyadarinya karena di kuasai oleh kemarahan yang meledak-ledak.


Liu Wei dan Huang She terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut, dalam pandangan mereka pertarungan itu seperti orang yang sedang main kejar-kejaran ataupun petak umpet. Mereka hendak memasuki kancah pertarungan untuk membantu, akan tetapi niat mereka segera di hentikan oleh Hulao.


“Kalian berdua tetaplah disini! Tidak perlu ikut bertarung..! Aku khawatir kalian malah akan jadi sasaran empuk binatang iblis itu.” Ucap Hulao sambil memandangi kedua gadis itu bergantian.


Tetapi Liu Wei yang memiliki watak keras, tidak mau di anggap pengecut. Dia sama sekali tidak ingin berpangku tangan dan lari dari bahaya. Meskipun hatinya berdesir membenarkan  perkataan Hulao. Namun dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini dipelajarinya.


“Tidak! Aku bukanlah pengecut! Bukankah kau dan Arya melatihku agar menjadi pendekar yang pantang menghindari kesulitan?” Balas Liu Wei dengan nada tegas.


Hulao tersenyum. Dia sudah sedikit banyak mengerti watak Liu Wei yang memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila mendapat penyaluran yang tepat, maka Liu Wei akan dapat menjadi seorang pendekar yang mempuni. Tetapi ternyata bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan setiap kemungkinan dari tindakannya.


“Justru karena itulah, bukankah tidak masalah dan malah akan lebih baik jika kami juga ikut membantu melawan hewan iblis itu?”


Melihat Liu Wei memasang wajah tidak terima dan masih bersikukuh ingin bertarung, Hulao kembali berkata. “Sebaiknya mulai saat ini belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan terlalu menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan demikian kau tidak akan mudah terjerumus ke dalam tindakan yang kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kalian berdua lakukan menghadapi hewan iblis itu. Dia terlalu kuat!.. aku sendiri bukanlah lawannya. Nah, karena itulah kita harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kalian ikut bertempur melawannya. Bisa saja dia akan mengincar kalian lebih dulu karena diantara kita, kalian berdua lah yang paling lemah.”


Meski tersinggung dibilang lemah dan secara tidak langsung Hulao menilai dirinya sebagai beban, Liu Wei hanya bisa terdiam sesaat sambil mengepalkan tangannya menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya. Ia dapat mengerti keterangan siluman harimau yang pernah membimbing latihannya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam, “Ya, aku mengerti.”


“Bagus, ingatlah tetaplah disini.!” Hulao kemudian menoleh ke arah Griffinhan dan Wouven. “Kalian berdua jaga mereka berdua!”


Liu Wei tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan Hulao, namun di hati kecilnya tumbuhlah perasaan yang aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas yang harus diselesaikan.


Baru saja Hulao terbang menuju ke kalangan pertarungan. Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh ledakan besar dan getaran tanah yang membuat tubuh mereka goyah.


Di atas sana, belum selesai dentuman dahsyat dari serangan lawan. Tiba-tiba panglima hewan iblis yang tengah menghindari serangan tadi dibuat begitu terkejut, ketika dia melihat bayangan yang melontar dari dalam kepulan api ledakan, disusul oleh munculnya orang bercadar yang tahu-tahu muncul di sampingnya.


Begitu hewan iblis ini berhasil mempertahankan diri dari serangan tidak terduga tersebut. Dia langsung balas menyerang.


Tetapi lawannya adalah seorang yang sangat lincah. Seperti kilatan petir yang berputaran dalam pusaran angin yang kencang. Bayangan Arya ini seakan sudah memperkirakan serangan ini, maka dengan cepat sepasang kaki bayangan Arya ini bergerak menendang beruntun. Ke arah kepala lawan.


Tubuh panglima hewan iblis ini serta merta terpental terkena tendangan itu. Tubuhnya terpontang-panting di udara sebelum di sambut Hulao dengan serangan ayunan cakarnya yang panjang dan menyala keperakan.


Dalam waktu yang nyaris terlambat, panglima hewan iblis cepat-cepat putar tubuhnya agar laju tubuhnya berubah arah. Bersamaan itu pula dia hentakkan tentakel-tentakel kakinya bergerak menyabet tubuh Hulao.


Hulao menyeringai lebar, dia dapat melihat perubahan lawannya itu. Gerakannya sudah menurun drastis tidak secepat dan sekuat sebelumnya. Maka dengan mudah dia menghindar ke samping dan kirimkan tebasan energi cakar ke kaki hewan iblis cumi-cumi tersebut.


Energi cakar Hulao mengenai telak kaki-kaki hewan iblis cumi-cumi itu, namun serangannya hanya menggores sedikit salah satu tentakelnya.


Pertarungan Hulao dan panglima hewan iblis kembali terjadi dengan sengit dan luar biasa cepat di atas udara. Pergerakan mereka seperti lesatan dua sinar yang saling menghantam dan menimbulkan ledakan demi ledakan.


Sampai beberapa jurus kemudian, Hulao akhirnya berhasil menyarangkan cakaran ke dada lawan. Membuat panglima hewan iblis terpental menghantam daratan.


“Mengapa, mengapa, mengapa, mengapaaaa…?!!”


Panglima hewan iblis berteriak meracau tidak karuan, pandangan matanya yang semula beringas penuh percaya diri kini berganti keputusasaan. Dia mulai menyadari energi kehidupannya tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sementara lawannya belum ada satupun yang dapat dia bunuh.


Menyadari keputusasaan lawan, salah satu bayangan Arya yang bersenjatakan tombak menyeringai tipis. “Inilah saatnya kau mati dengan tombak ini.” Desisnya pelan sebelum menghilang dari tempatnya melayang.


Bersamaan dengan itu, Honglong dan empat bayangan Arya juga telah melancarkan serangan bersamaan.


Blaaarrr... Blaaarrr...


Tubuh panglima hewan iblis yang sudah melemah tidak dapat bergerak mengelaki hujanan serangan. Tubuhnya di paksa terpental kian kemari, sebelum..


“Kraaaakk!”


“Aaaaakhhh!!”


Terdengar suara berderak benda keras hancur sebelum di susul pula suara pekik nyaring membahana di sertai gelombang kejut yang kuat.


Tusukan tombak bayangan Arya menembus telak batok kepala panglima hewan iblis tersebut, dari ubun-ubun sampai ke tenggorokannya. Hewan iblis itu tewas seketika sebelum tubuhnya hancur terbakar menjadi asap hitam. Lenyap di bawa angin.