Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Menyelamatkan Sandera


Fei Lun cepat totok urat-urat pada pergelangan tangannya yang terasa sakit. Tadinya dia memang menyerang hanya menggunakan sebagian energinya sebab mengira bahwa lawannya hanyalah pendekar dari Kekaisaran Ming yang memiliki kepandaian lebih rendah dari pendekar-pendekar di negerinya. Terlebih kondisinya juga masih lemah serta kaku untuk bergerak cepat. Biarpun begitu dia yakin bisa mengatasi lawannya, akan tetapi kenyataannya dia sama sekali tak mengira kalau lawannya itu seakan sudah mengetahui betul pergerakan serangannya dan yang lebih mengejutkan lagi lawannya juga dapat bergerak cepat dan tahu-tahu mencengkeram lengannya. Fei Lun menduga bahwa lawannya ini paling tidak pernah melihat jurusnya, sehingga ia dapat menghindari serangannya bahkan balik menyerang dirinya.


“Telan pil ini..”


Terdengar suara kakek Lengan Api. Fei Lun segera memandang ke arah suara. Dan ketika dilihatnya ada benda bulat berwarna putih melayang ke arahnya, iapun segera menyambarnya dan tanpa berfikir lama karena sudah sepenuhnya percaya pada si kakek, ia langsung menelan pil tersebut.


Beberapa tarikan nafas selanjutnya, Fei Lun merasakan seluruh syaraf di tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Terlebih pada pergelangan tangannya yang remuk, ia merasakan tulang-tulangnya seolah terpanggang bara api. Sungguh amat sangat menyakitkan sekali, sehingga ia tak kuasa mempertahankan diri. Tubuhnya limbung jatuh terlentang! Dengan sisa-sisa kesadarannya ia cepat-cepat duduk bersila untuk mengalirkan energinya guna meredam rasa sakit itu. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih dapat mendengar suara pertarungan. Lain daripada itu dia mendengar suara kakek Lengan Api,


“Jangan dilawan! Biarkan saja obat itu memulihkan luka-luka dalammu!”


Rupanya bersamaan dengan berkata begitu, kakek Lengan Api melemparkan serangkum energi merah berupa bola ke arah Fei Lun. Dan energi itu kemudian membungkus tubuh pemuda itu, sehingga tampaklah Fei Lun kini berada di dalam bola cahaya merah transparan.


Setelah berhasil memanfaatkan kesempatan untuk menciptakan perisai pelindung untuk melindungi Fei Lun, kakek Lengan Api kemudian kembali fokus kepada lawannya.


Pada saat itu terdengar suara berdesing cepat menuju ke arahnya. Dari gelapnya lorong berkelebat sinar merah menebar hawa panas, kakek Lengan Api cepat geser tubuhnya menyamping. Seluruh rambut dan pakaian kakek ini berkibar keras ketika lesatan sinar merah itu menyambar lewat sekitar tiga jengkal di atas kepalanya.


Blaaarrr!


Dinding lorong yang kena dihantam sinar merah, sontak hancur cekung. Lorong itupun bergetar seakan hampir-hampir runtuh. Hal ini rupanya menjadi pertimbangan bagi kakek Lengan Api. Jika sampai dirinya tadi balas kirimkan serangan, maka sudah barang tentu lorong ini akan hancur luluh lantak tertimbun oleh tanah diatasnya.


“Sudah gila kalian! Apa kalian ingin menghancurkan tempat ini?!” seru kakek Lengan Api, begitu berhasil menghindari serangan gelap itu.


Akan tetapi sebagai jawaban, tiba-tiba Tiong-hui melesat dari gelapnya lorong dan langsung menerjang lancarkan serangan ganas dengan sepasang trisulanya. Kini tangan kanan Tiong-hui yang tadinya buntung telah kembali utuh seolah tidak pernah mengalami apa-apa. Dengan kedua tangan ini Tiong-hui menebas, menusuk dan membacokkan sepasang trisulanya ke bagian-bagian vital pada tubuh kakek Lengan Api.


Melihat untuk yang kesekian kali lawan selalu berhasil menghindarkan diri dari serangannya. Tiong-hui jadi tambah murka. Sambil mengeluarkan teriakan nyaring melengking, laki-laki berwajah pucat ini memutar-mutarkan kedua trisulanya di depan dan samping kanan.


Angin menderu keras begitu sepasang trisula itu diputar-putar. Kejap kemudian, Tiong-hui kembali membuka serangan, sepasang trisulanya meluncur cepat ke arah leher dan dada. Trisula di tangan kanan membacok mengancam leher, sedangkan yang kiri menusuk mengancam dada.


Kakek Lengan Api maklum bahwa lawan di hadapannya ini tengah mengerahkan seluruh energinya. Bilamana ia tidak secepatnya menghabisi lawannya itu, untuk kedepannya hanya akan men-celakakan diri sendiri dan semua orang yang ada disini. Lorong ini akan hancur oleh kedahsyatan serangan lawan! Maka tanpa ragu-ragu lagi dia balas menyerang.


Sekali berkelebat menghindari serangan. Kakek Lengan Api langsung mengeluarkan salah satu ilmu andalannya, ‘Cakar Rajawali Api’. Kedua tangannya bersinar merah terkembang membentuk cakar.


Tiong-hui menggeram keras begitu mendapatkan kenyataan bahwa lawannya mampu mengelakkan serangannya. Apalagi ketika melihat kakek Lengan Api tidak hanya mampu mengelak, akan tetapi juga mengirimkan serangan yang tak kalah berbahayanya.


Dari samping kakek Lengan Api telah siap lancarkan cakaran mengincar kepala Tiong-hui, akan tetapi pada saat yang sama seorang kakek berambut pendek, rekan dari Tiong-hui sudah siap pula mengayunkan pedangnya bermaksud menebas lehernya!


Mau tak mau kakek Lengan Api jatuhkan tubuhnya dan lalu bergulingan menjauh. Belum juga kakek ini dapat bangkit, Tiong-hui sudah memburu sambil babatkan sepasang trisulanya ke tubuh kakek Lengan Api. Babatan sepasang trisula itu hanya membentur lantai batu, dan setiap kali trisula itu membentur lantai, maka terjadilah ledakan demi ledakan yang mengguncangkan seisi lorong.


Kakek Lengan Api yang tak mau jadi bulan-bulanan serangan, segera putar kakinya ke atas dengan badan sebagai tumpuan dilantai lorong. Gerakannya amat cepat sehingga menimbulkan angin beliung. Dalam kesempatan lain, putaran tendangan itu cepat menghantam sepasang trisula Tiong-hui yang hendak mencincang tubuhnya.


Traaangg! Blaaarrr!


Benturan itu menciptakan ledakan yang lagi-lagi mengetarkan seisi lorong. Tubuh Tiong-hui terpental enam tombak, tangannya yang memegang trisula terasa linu dan bergetar. Jelas kalau dalam benturan tadi, dia kalah tenaga. Sementara lawannya justru seperti tidak merasakan akibat benturan itu sama sekali. Kakek Lengan Api masih berputar dalam lingkaran angin beliung.


Begitu kakek Lengan Api menghentikan putarannya, kakek berambut pendek menerjang dari kanan, Tiong-hui juga kembali lancarkan serangan. Pertukaran serangan tiga orang sakti itupun berlangsung amat cepat, serangan mereka memang hebat sekali sampai membuat dinding-dinding lorong batu retak-retak rontok. Akan tetapi serangan gabungan murid Serigala Iblis Dari Timur belum juga dapat merobohkan lawannya.


Plakkk...! Blaaarrr!


Terdengar benturan keras ketika dua tangan murid Serigala Iblis Dari Timur yang sama-sama mengandung energi Qi amat tinggi berbenturan dengan sepasang tangan Kakek Lengan Api.


“Heeekkk...!”


Tiong-hui dan kakek berambut pendek memekik, tubuh keduanya terlempar beberapa tombak dan berhenti ketika membentur dinding. Mereka berdua memuntahkan darah hitam. Tak ingin memberi kesempatan lawan menyerang, keduanya pun cepat-cepat bangkit. Tiong-hui menggertakkan gigi seraya melempar tubuh ke samping ke arah saudara seperguruannya. Indah dan cepat sekali gerakannya. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, laki-laki berwajah pucat ini mendaratkan kedua kakinya di samping rekannya.


Kakek Lengan Api mengerutkan dahi ketika melihat dua lawannya itu saling berbisik-bisik. Namun tiba-tiba dua anggota Manusia Iblis itu berkelebat kabur.


Bruuukk! Bruuukk!


Belum lama kedua orang itu kabur, dari gelapnya lorong yang mana kedua orang itu berkelebat melarikan diri, terdengar suara bergedebuk dua kali berturut-turut.


Apa yang terjadi? Pada waktu Tiong-hui dan kakek berambut pendek tengah berkelebat secepat mungkin untuk melarikan diri, tahu-tahu muncul tembok es yang menghadang laju kelebatan mereka. Tak ayal karena khawatir terkejar, mereka berdua jadi kurang memperhatikan keadaan di depannya, dan terjadilah tubuh mereka menghantam tembok es hingga terpelanting jatuh ke lantai.


Mendadak udara menjadi amat dingin. Dalam sekejapan mata lorong dinding batu menjadi beku dilapisi es.


“Jangan harap kalian bisa lari, pengecut!”


Kakek Lengan Api putar pandangannya dan dilihatnya Fei Lun sudah bangkit berdiri. Tubuh pemuda berambut putih itu tampak bersinar biru. Matanya berkilat-kilat memancarkan energi yang luar biasa besar. Dalam sekejapan mata pemuda itu tahu-tahu telah lenyap dari tempatnya berdiri.


Belum lama Fei Lun lenyap, dari ujung lorong terdengar suara berdesing dua kali.


Wuuttt! Wuuuuttt!


Dua tombak es melesat dahsyat melabrak ganas ke arah Tiong-hui dan kakek berambut pendek.


Menangkap adanya energi besar melesat ke arah mereka, Tiong-hui cepat mengelak ke samping sambil mendorongkan kedua tangannya. Kakek berambut pendek juga tidak tinggal diam. Kakek ini segera pula meloncat namun tanpa membuat gerakan apa-apa.


Blaaarrr! Blaaarrr!


Dua lesatan tombak itupun tak menemui sasaran dan malah menancap di tembok es yang menutup jalan lorong disana.


Bersamaan dengan dorongan tangan Tiong-hui, maka meluncur dua lidah api biru memanjang yang amat panas laksana tembakan api.


Fei Lun yang tengah berkelebat di udara, putar tubuhnya setengah lingkaran. Tangan kirinya bergerak ke bawah.


Wesss! Bummm!


Lidah api yang melesat dari kedua tangan Tiong-hui serta-merta buyar. Malah laki-laki berwajah pucat itu tampak terpental menghantam dinding batu!


Tiong-hui lagi-lagi memuntahkan darah hitam. Kini ia hanya bisa tertelentang karena tubuhnya terasa sakit bukan main. Beberapa tulang iganya patah, perutnya hancur berlubang sehingga menampakkan ususnya yang menjijikkan seperti cacing-cacing besar berlumuran darah hitam.


Kakek berambut pendek tertegun memandangi kondisi Tiong-hui. Akan tetapi kelengahan itu harus ditebusnya dengan mahal. Karena pada saat itu Fei Lun tahu-tahu telah kirimkan tebasan pedang es mengincar lehernya. Meski kakek berambut pendek itu masih sempat membuat gerakan, tapi sebelum dia dapat mengelak dengan sempurna, tubuhnya telah tertebas ujung pedang es dan terdorong ke belakang.


Belum lagi kakek ini bisa kuasai diri, tebasan susulan yang membacok dari tangan kanan Fei Lun telah melabrak. Kakek berambut pendek itu keluarkan seruan tertahan. Namun laksana disentak setan, seruan si kakek terputus. Tubuhnya jatuh terjerembab di atas lantai batu dengan kepala terpenggal dari sambungan leher!


Dalam pertarungan setiap detik amatlah menentukan, lengah sedikit saja atau salah memperhitungkan gerakan lawan, maka mautlah hadiahnya.


Fei Lun sunggingkan senyum menyeringai. Sepasang matanya menatap tajam berkilat-kilat ke arah Tiong-hui. Kejap kemudian tangannya yang memegang pedang es telah bergerak melemparkan pedang itu tepat mengenai batok kepala Tiong-hui. Laki-laki berwajah pucat yang tengah sekarat itupun tewas seketika!


*****


“Setan keparat! Siapa kau yang berani mengacau masuk ke ruang tahanan?!” membentak seorang kakek-kakek berjubah kuning berkepala plontos. Dia adalah kepala penjaga ruang tahanan yang bernama Pek Si-hiang.


Nie Zha yang baru saja membereskan belasan orang bertopeng tengkorak berpaling. Dan ketika melihat orang berpenampilan seperti biksu itu, iapun menjura pada orang tua ini seraya sunggingkan senyum seenaknya. “Orang tua, kedatanganku ke sini untuk membebaskan gadis-gadis ini. Tapi jika anda menghalangi pekerjaanku, berarti anda adalah bagian dari Manusia Iblis. Maka maafkanlah aku jika seandainya terpaksa mencabut nyawamu, seperti orang-orang ini.” ucap Nie Zha lembut namun mengandung ancaman. Tangan kanannya yang membekal pedang, diacungkannya ke arah mayat topeng tengkorak yang tergeletak di sampingnya.


Pek Si-hiang menggertakkan rahangnya sangking marahnya. Ucapan gadis itu benar-benar melukai harga dirinya karena dianggap remeh. Maka tanpa banyak cakap, iapun segera lemparkan senjata rahasia berupa pisau pendek yang runcing seperti mata tombak. Pisau itupun melesat cepat laksana peluru!


Trang!


Dengan senyum mengejek, Nie Zha tenang saja memutar pedangnya untuk menangkis pisau tersebut. Dan malah kini pisau itu berbalik melesat lebih cepat ke arah orang-orang bertopeng yang berdiri dibelakang kakek botak.


Jleeeb! Bruuukk!


Jitu sekali lesatan pisau itu tepat mengenai batok kepala salah seorang di antara enam orang bertopeng. Sontak saja orang yang kena tertembus kepalanya itupun, rubuh dengan kepala pecah terbelah jadi dua.


Kejadian yang teramat cepat dan tak diduga itupun membuat lima orang bertopeng tengkorak berikut Pek Si-hiang menjadi kaget dan berteriak.


Begitupun para gadis yang berdiri dibelakang Nie Zha, mereka bahkan cepat-cepat menutup mukanya dengan kedua tangan untuk melindungi pandangan mereka dari kejadian mengerikan itu.


Pek Si-hiang menghunus goloknya yang panjang, “Gadis liar! Kau akan menyesal!” kemudian kepada anak buahnya ia berseru, “Serang!”


Dengan gerakan aneh sembari memainkan goloknya, lima orang bertopeng tengkorak itupun menerjang. Akan tetapi...


Wusss...! Wuuut…!


Selarik sinar merah muda berbentuk pipih setengah lingkaran dari tebasan pedang Nie Zha menderu cepat dan telah menghantam salah seorang topeng tengkorak. Orang itupun memekik dengan tubuh terpelanting tiga tombak membentur dinding lorong. Pinggangnya hancur dan jatuh bergedebuk di lantai dengan kepala pecah!


“Kalian sembunyilah di dalam ruangan! Selamatkan diri kalian!” seru Nie Zha kepada para gadis yang berdiri tidak jauh dibelakangnya.


Gadis-gadis yang berjumlah dua puluh tiga itupun cepat-cepat berlarian kembali ke ruangan tempat mereka disandera. Selain takut mereka juga tidak tahan melihat pertarungan yang mengerikan tersebut.


Pek Si-hiang yang mendapatkan kenyataan bahwa gadis yang menjadi lawannya itu rupanya memiliki kepandaian dan kekuatan amat tinggi, segera menerjang. Tubuhnya lenyap menjadi asap hitam. Dalam sekejapan mata kakek botak ini sudah membacokkan golok panjangnya ke arah bahu si gadis.


Weeesss...


Meski serangan itu datangnya amat cepat, namun Nie Zha yang masih dapat melihat pergerakan kakek botak itu, dengan sigap dan enak sekali dia geser tubuhnya ke belakang. Bacokan golok itupun lewat membelah tempat kosong.


Akan tetapi dari kiri kanannya telah datang pula serangan empat orang bertopeng tengkorak. Setelah ke-empat penyerangnya tiba dekat, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya di kembangkan menendang ke kanan kiri.


Duuuk! Dukk!


Sepasang kaki gadis itu dengan tepatnya mengenai ulu hati dua orang penyerangnya sehingga dua orang itu terjengkang keras dan merasa dada mereka seperti ditumbuk palu besi dengan amat kuatnya. Sedang dua topeng tengkorak lainnya berhasil menghindarkan diri dari tendangan.


Dua orang itu ternyata kebal juga. Hanya sejenak mereka terjengkang dan terbanting, terengah-engah akan tetapi mereka segera dapat bangkit kembali dan keduanya menyerang lagi lebih buas.


Nie Zha yang sadar akan situasinya berada di dalam lorong, khawatir bilamana kekuatannya akan menghancurkan lorong, yang tentunya akan membahayakan keselamatan gadis-gadis. Segera membatasi tenaganya hanya kurang lebih seperempat bagian tenaga yang dia pergunakan. “Aku harus cepat membereskan mereka. Tapi kakek botak itu memiliki kecepatan yang cukup tinggi.” sambil membatin begitu, Nie Zha putar tubuhnya diudara. Layangkan tendangan kaki kanannya ke kepala topeng tengkorak yang terdekat.


Kraaaakk!


Topeng tengkorak itupun pecah menjadi serpihan, sedang pemakaiannya sendiri terpental dengan kepala pecah. Tewas sebelum tubuhnya mencapai lantai.


Tiga orang topeng tengkorak yang sudah lumer nyalinya, menghentikan serangan. Sambil mengatur jalan nafas, mereka memandangi pimpinan mereka yakni Pek Si-hiang yang masih melakukan pergulatan hebat dan luar biasa cepat melawan si gadis. Dalam pandang mata mereka, pertarungan keduanya itu hanya terlihat seperti bayang-bayang yang memancarkan sinar merah saling hantam. Namun akibatnya, seisi lorong jadi tergetar, angin menebar hawa panas bersiuran laksana badai.


Bruuukk..!


Dalam satu ketika, salah seorang dari bayangan itupun terpental. Angin yang tadinya berhembus kencang seketika lenyap.


Tampaklah Nie Zha berdiri tanpa ekspresi sambil pegangi cambuk api. Memang gadis ini menggunakan jurus ‘Cambuk Sakti Menggunting Badai’ warisan dari Kakek Cambuk Sakti untuk merobohkan Pek Si-hiang.


Tiga orang topeng tengkorak bergetar, melihat pimpinan mereka tewas dengan kepala hancur tak berbentuk lagi. Darah mengucur deras layaknya air mancur dari kepala yang tak karuan bentuknya itu.


Nie Zha mengerutkan dahinya manakala tiba-tiba hawa di lorong tempatnya berada, mendadak menjadi teramat dingin. Dan keterkejutan itu semakin bertambah ketika dari lorong gelap melesat serangan energi yang menderu cepat menuju ke arah tiga orang topeng tengkorak.


Dua orang topeng tengkorak berteriak kaget dan terpental berguling-guling dilantai. Yang satu tangannya terbabat buntung, seorang lagi memegangi dadanya yang mandi darah! Hawa dingin dari luka mereka akibat disambar lesatan energi yang datang entah dari siapa menerobos ke jantung dan sedetik kemudian keduanya roboh di lantai dengan tubuh membeku, tanpa nyawa lagi!


Dari kegelapan lorong nampaklah sinar biru yang dengan cepat telah berdiri tak jauh dari gelimpangan mayat-mayat para anak buah Manusia Iblis. Seorang pemuda berambut putih dan badannya mengeluarkan cahaya biru menatap ke arah Nie Zha yang berdiri penuh waspada memandanginnya.


“Cantik sekali,” desis Fei Lun dalam hati, matanya memancarkan kekaguman memandangi Nie Zha. Pandangan yang benar-benar murni bentuk kekaguman, sama sekali bukan pandangan n*fsu atau pandangan kurang ajar seperti halnya pria mata keranjang melihat gadis cantik.


“Ah, maafkan aku yang telah lancang mencampuri pertarungan nona. Aku tadi sedang menuju kesini dan mendengar suara pertarungan. Ketika melihat seorang gadis di keroyok banyak orang, hatiku jadi tergugah untuk membantu. Tapi tak tahunya gadis yang ingin ku bantu rupanya seorang gadis gagah perkasa. Maafkan aku karena telah meragukan bahkan bisa dikatakan meremehkan kemampuan nona.” ucap Fei Lun lembut penuh sopan. Kedua tangannya tertelungkup ke depan, dengan kepala tertunduk.


Diam-diam Nie Zha menyukai sikap pemuda ini. Sebelum dia membuka mulut, tahu-tahu kakeknya Si Lengan Api telah berdiri disampingnya. “Nie Zha, apa kau tidak apa-apa?”


Nie Zha mengangguk-angguk, tatapannya kembali tertuju ke arah satu orang topeng tengkorak yang masih hidup. “Kek, baiknya kita apakan orang ini?”


Kakek Lengan Api tersenyum, kemudian berjalan perlahan menghampiri orang topeng tengkorak tersebut.


Meski orang yang menghampirinya itu memasang wajah ramah, akan tetapi orang topeng tengkorak yang dalam keadaan tergoncang batinnya atas kematian mengerikan yang dialami teman-temannya itu jadi semakin ketakutan dan putus asa. Dalam pandangannya, kakek yang sedang berjalan kearahnya itu tampak seperti dewa kematian. Tanpa berfikir panjang, orang ini tiba-tiba menusukkan jarum racun ke pinggangnya. Detik berikutnya, tubuhnya sudah terkulai tak bernyawa dalam keadaan membusuk!