Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kejahilan Putri Zhou Jing Yi


Setelah membersihkan kamar, mengeluarkan ranjang yang hancur dan menggantinya dengan ranjang yang baru. Para perwira dan para pelayan kemudian minta diri, mereka meninggalkan Raja Zhou Lun yang terbaring ditunggui oleh putra puterinya, Pangeran Zhou Yao Huan dan Putri Zhou Jing Yi. Namun keduanya pun tidak terlalu lama tinggal di dalam kamar itu. Sejenak kemudian mereka minta diri, meninggalkan ayahnya, agar ayahnya mendapat kesempatan untuk tidur barang sejenak.


Selepas keluar dari kamar ayahnya, Putri Zhou Jing Yi langsung pergi menemui Jenderal Sun Jian. Dia ingin menanyakan dimana Tabib Xian saat ini.


Namun langkahnya tertegun ketika ia berjalan menyusuri koridor menuju ke ruangan Jenderal Sun Jian. Sayup-sayup dia mendengar suara anak kecil tertawa. Karena mengenali suara siapa anak kecil itu, Putri Zhou Jing lantas berbelok arah menuju ke taman belakang istana. Dari celah-celah lubang ditembok, ia melihat seorang anak kecil sedang duduk bersama seorang pemuda di bawah pohon delima. Keduanya ternyata Lu Ping dan Arya.


Anak kecil yang bernama Lu Ping bangkit berdiri. Dipandanginya buah-buah delima yang merah tergantung di atasnya.


“Xian Gege melihat itu?” serunya sambil menunjuk ke arah buah delima yang tergantung.


“Ya.”


“Aku memerlukannya.”


Arya tersenyum, kemudian jari telunjuknya diarahkannya ke sedompol delima yang merah seperti saga.


Lu Ping mengerutkan dahi ketika melihat beberapa delima berjatuhan. Kemudian ia menoleh ke arah Arya. Dan di dengarnya pemuda itu berkata,


“Ambilah, katamu kau memerlukannya?!”


Lu Ping tidak menjawab, lalu tiba-tiba diraihnya sebutir batu.


“Xian Gege, lihatlah! Lemparanku pasti akan mengenainya.”


Arya mengangguk, dia masih saja duduk di tempatnya. Dilihatnya anak kecil itu telah melemparkan batu, namun lemparannya meleset. Didengarnya anak kecil ini tertawa, kemudian mengambil beberapa butir batu lagi. Ia melemparkan batu-batu itu berulang kali, namun hanya beberapa yang mengenai sasaran, itupun lemparan batu tersebut tidak membuat satupun buah delima jatuh.


“Delima itu tidak dapat bergerak dari tempat. Dan kau tidak dapat mengenainya. Bagaimana jika delima itu dapat menghindar.” kata Arya seraya berdiri.


“Kalau delima itu bisa menghindar, aku tidak akan melemparnya dengan batu. Tetapi aku tantang ia supaya turun.”


Arya tersenyum. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dari delima itu?”


“Tentu saja untuk memakannya.” Jawab Lu Ping, tangannya kembali mengayun melemparkan batu ke arah buah delima.


Dengan mengerutkan dahi Arya berkata, “Bukankah aku sudah mengambilkannya untukmu. Kau ambillah buah yang tergeletak di sana. Kalau masih kurang, aku akan mengambilkannya lagi untukmu.”


Lu Ping menggeleng, “Aku akan makan delima dari hasil usahaku sendiri. Meskipun aku belum dapat menjatuhkan buah-buah itu. Tapi jika aku berusaha terus, aku pasti akan berhasil.”


Arya jadi senyum-senyum dan garuk-garuk rambut. Kata-kata si bocah kecil itu seperti orang dewasa saja. “Baiklah, kalau begitu mau mu. Cobalah kau pusatkan perhatianmu pada buah delima itu.” tangannya menunjuk ke arah buah delima yang terdekat, “Jangan ada keraguan! Lemparkan batu itu dengan penuh keyakinan! Kau paham, Lu Ping?!”


Si bocah mengangguk mantap! Pandangannya dialihkan ke sedompol buah delima yang paling dekat. Matanya menatap lekat-lekat. Didahului tarikan nafas, ia berteriak seraya melemparkan batu sekuat tenaga dan penuh keyakinan.


Arya hanya mengamatinya saja. Sudah dua kali lemparan namun Lu Ping tetap saja gagal. Dan dalam percobaan ketiga batu yang meluncur dari tangan bocah itu seolah-olah mempunyai mata. Dengan tepat batu itu mengenai tangkai sedompol delima yang merah segar, sehingga sesaat kemudian telah menghambur berjatuhan.


Sontak saja bocah itu berjingkrak-jingkrak sambil tertawa-tawa. Lalu ia mulai memungut satu persatu delima yang berguguran tersebut.


Sekelumit senyuman tersungging di bibir Putri Zhou Jing Yi, memang ia terus memperhatikan mereka dari balik dinding. Gadis ini tiba-tiba teringat dengan perkataan Arya, mengenai janji pemuda itu yang akan kembali menemui Ratu dari kerajaan Danau Lembah Peri.


Putri Zhou Jing mendadak mengurungkan niatnya untuk menemui Arya. Dia putar tubuhnya berjalan menuju kamarnya. Di pertengahan jalan ia bertemu dengan Jenderal Sun Jian yang sedang bersama dua panglima.


“Tuan Putri..” sapa Jenderal Sun Jian sambil menelangkupkan tangannya.


Dua panglima tidak berkata apapun, mereka buru-buru menjura.


Putri Zhou Jing Yi mengangguk, “Jenderal, apa kau sudah menyiapkan kamar untuk Tabib Xian?” tanyanya.


“Baiklah nanti saya akan menyiapkannya, Tuan Putri.”


Putri Zhou Jing Yi tersenyum tipis. Tanpa berkata apapun lagi dia meneruskan langkahnya.


Meskipun heran melihat sikap sang putri yang terkesan dingin, Jenderal Sun Jian dan dua panglima yang bersamanya tidak terlalu ambil perhatian. Mereka segera melanjutkan pekerjaannya, setelah terlebih dahulu menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkan kamar tamu untuk Tabib Xian.


Tak berselang lama, Arya bersama Lu Ping telah diantarkan dua pelayan perempuan ke sebuah kamar. Kamar tersebut tampak besar. Bahkan di dalam kamar masih ada dua kamar lagi. Kamar ini luasnya seperti rumah warga desa, hanya dindingnya lebih baik dan dipenuhi ornamen seni. Selain itu, kamar besar ini juga memiliki seperangkat meja bundar di depan dua kamar kecil, komplit dengan empat kursi mengelilinginya.


“Apa ada lagi yang bisa kami bantu tuan?” tanya salah seorang pelayan. Sedang satu pelayan perempuan lainnya sambil tundukkan kepala diam-diam mencuri-curi pandang kepada si pemuda.


Arya tersenyum, dia hendak meminta disediakan arak, namun mengingat disampingnya ada anak kecil, iapun urungkan niatnya. “Sediakan saja kopi.” dialihkannya pandangannya kepada bocah disampingnya. “Lu Ping, kau mau apa?”


Si bocah menggeleng.


“Sediakan juga makanan, sepertinya anak ini lapar.”


“Baiklah, Tuan.. Silahkan istirahat."


Dua pelayan perempuan itu tersenyum. Lantas melangkah mundur lima langkah, lalu memutar tubuhnya berjalan kearah pintu.


Ketika dua pelayan itu baru saja keluar dari kamar, tak disangka disebelah pintu sudah berdiri Putri Zhou Jing Yi yang kemudian berkata setengah berbisik,


“Aku ikut bersama kalian.”


Mendengar itu, dua pelayan tersebut menjadi terheran-heran. Namun mereka hanya bisa menganggukkan kepala, tidak berani bertanya apalagi membantah.


Putri Zhou Jing Yi memang sempat mendengar percakapan di dalam kamar. Saat mendengar Arya memesan kopi dan makanan. Timbul sebuah ide nakal di benaknya. Ia segera berjalan terlebih dahulu menuju dapur, dua pelayan perempuan tadi mengikutinya dari belakang.


“Wadduh, bisa celaka aku!” desis dua pelayan perempuan yang melihat perbuatan Putri Zhou Jing.


Tentu saja, kedua pelayan itu menjadi ketakutan karenanya. Jika Arya sampai marah, maka mereka pasti akan mendapatkan hukuman berat bahkan bisa dijatuhi hukuman mati. Wajah kedua pelayan itu nampak menegang.


Seakan mengerti apa yang sedang dikhawatirkan dua pelayan tersebut, Putri Zhou Jing Yi berkata, “Kalian jangan takut.. Jika ada apa-apa, aku yang akan tanggung jawab! Sekarang cepat antarkan minuman dan makanan ini pada Tabib Xian.”


Dua pelayan perempuan itu hanya mengangguk, tapi tidak dengan hatinya. Karena yang pasti, mereka lah yang akan disalahkan jika terjadi sesuatu nantinya. Dengan sedikit bergetar, salah satu diantara pelayan itu mengangkat nampan kayu jati, di mana diatasnya terdapat cawan kaca berisikan kopi dan dua gelas besi. Sedang pelayan yang satunya membawa nampan berisikan daging panggang, mangkuk serta tempat nasi.


Tak lama berselang, dua pelayan tersebut telah mengetuk pintu kamar Arya.


Pintu kamar itupun kemudian tampak dibuka dari dalam. Terlihat seorang pemuda tampan berambut dan bermata kuning tersenyum hangat, lalu ia menggeser tubuh ke samping untuk memberi jalan pada dua pelayan tersebut.


“Silahkan masuk, letakan saja makanan dan minuman itu di meja.” kata si pemuda.


Arya tampak senyum-senyum mengikuti kedua pelayan tersebut. Rupanya diam-diam dia telah mengetahui rencana Putri Zhou Jing yang hendak mengerjainya.


“Kalian kenapa, nona? Kenapa gemetaran begitu?” tanya Arya masih dengan menyunggingkan senyuman hangat.


“Ti-tidak.. apa-apa, Tuan...”


“Oh.., aku tahu, kalian pasti baru pertama kali melihat pemuda setampan diriku. Tidak mengapa..., itu wajar, tapi tak perlu sampai gemetaran seperti itu.” Arya tersenyum-senyum, ia membenarkan rambutnya seakan sedang merias diri.


Kedua pelayan itupun segera merundukkan kepala. Mereka benar-benar merasa malu sampai pipi mereka bersemu merah.


“Duduk sini. Kita minum bersama.” lanjut Arya.


“Tampan, jika dilihat dari puncak gunung...,” cibir Putri Zhou Jing yang baru saja memasuki kamar.


Arya angguk-anggukan kepalanya, dia tersenyum kepada Sang Putri, “Jika ketampananku ini dapat terlihat sampai dari puncak gunung. Itu artinya ketampananku ini memang luar biasa. Dapat terlihat sampai jauh, menebar pesona kemana-mana.. hahaha..” pemuda ini tertawa tergelak-gelak.


Kedua pelayan perempuan itupun tampak tersenyum-senyum sambil menundukkan kepala. Tapi mereka segera sadar jika di sana ada Putri Zhou Jing Yi, maka merekapun segera pamit undur diri.


Wajah Putri Zhou Jing Yi terlihat tersungut-sungut. Bibirnya menyeringai ketika dilihatnya Arya mulai menuangkan kopi ke gelas besi. Dadanya menjadi berdebar-debar, seolah tidak sabar melihat reaksi pemuda itu setelah meminum kopi asin buatannya.


“Sruptt!”


“Hemmmm!”


Suara sruputan dan gumaman Arya, membuat seringai Putri Zhou Jing semakin lebar.


“Kopi di sini ternyata beda ya?” Arya nyengir, lalu kembali menyeruput kopi di gelas yang ada di tangan kanannya, “Rasanya pahit..., dan asin. Apakah dua gadis pelayan itu lajang semua ya! Apa mereka ingin lekas kawin? Ha-ha-ha!” Arya tertawa tergelak-gelak.


Lu Ping yang keheranan, ia mengambil cawan, menuangkan kopi di gelas besi lalu menyeruputnya,


“Pfuah!” bocah kecil itu sontak menyemburkan air kopi yang baru masuk dimulutnya tersebut.


“Aneh, ini kopi garam!” celetuk bocah itu.


Arya tertawa, lalu memandangi Putri Zhou Jing Yi yang nampak berkerut-kerut wajahnya. Si gadis memang kesal bercampur heran melihat tanggapan Arya yang diluar dugaannya. Sebelumnya ia yakin jika pemuda itu pasti akan marah-marah, tapi yang didapatinya malah si pemuda tertawa-tawa.


“Apa wajahku terlalu manis hingga perlu diberi kopi garam?” Kata Arya sambil senyum-senyum kepada Putri Zhou Jing Yi.


“Huuuhh..” Dengus Putri Zhou Jing Yi. Dengan wajah tersungut-sungut dia duduk di kursi.


“Apa kau juga mau mencicipi kopi asin ini?” tanya Arya.


Putri Zhou Jing Yi tak menjawab, matanya yang tajam menatap kesal kepada pemuda tersebut.


Arya jadi geli sendiri melihat ekspresi sang putri. Kemudian dia mengambil cawan yang berisikan air kopi dengan campuran garam tersebut. Tiba-tiba tangan kirinya mengeluarkan api biru bening. Lalu tangan kanannya yang memegang cawan, bergerak menuangkan seluruh isi cawan ke dalam api biru ditangan kirinya.


Lu Ping jadi melongo, tanpa sadar ia membuka mulutnya lebar-lebar. “Ba-bagaimana air kopinya tidak tumpah?!” desisnya.


Rupanya Arya ingin memurnikan air kopi dari campuran garam itu. Sebagai seorang alkemis, ia bisa melakukannya dengan mudah. Tampak pemuda itu meletakkan cawan yang sudah kosong kembali ke meja. Setelahnya, dia mengeluarkan gula kelapa dari cincin ruang. Gula kelapa itupun kemudian dimasukkannya ke dalam cairan kopi yang mengambang di atas telapak tangan kirinya.


“Xian Gege, hebat!” seru Lu Ping sambil tepuk tangan dengan antusias.


Perlahan Arya mengarahkan air kopi kental itu kembali masuk ke dalam cawan. Sedang Putri Zhou Jing Yi masih termangu-mangu. Terasa hatinya berdesir, ia semakin kagum dan semakin menyukai pemuda dihadapannya itu.


“Sebenarnya apa yang Xian Gege lakukan barusan?” tanya Lu Ping. Sebagai seorang anak kecil, ia memang selalu saja penasaran dengan apa saja yang tak di mengertinya.


“Oh, aku ingin membuat kopi ini supaya lebih manis.” jawab Arya sambil menuangkan kopi ke dalam gelas besi.


“Benarkah?! Kalau begitu biar aku yang mencobanya,” ucap Lu Ping. Anak ini segera menyambar gelas yang dituangkan Arya.


“I-ini, enak sekali! Tidak asin seperti tadi!” seru Lu Ping yang terdengar nyaring.


Putri Zhou Jing Yi mengerutkan kening. Ia jadi penasaran. Di ambilnya cawan yang ada dimeja, kemudian menuangkannya ke gelas kaca. Sesaat gadis ini nampak ragu, namun ketika dilihatnya Arya tersenyum-senyum ke arahnya. Maka karena dilanda malu, dia pun spontan meminum kopi tersebut.


Sekilas mata Putri Zhou Jing melebar, “Ini benar enak... Tapi bagaimana bisa rasa asinnya hilang?!”


Tanpa meletakkan gelas, Putri Zhou Jing kembali menyeruput kopi, seakan ia harus benar-benar memastikan bahwa rasa nikmat itu sungguh berasal dari kopi tersebut.