Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kemunculan Dua Gadis Berpakaian Hitam


Arya berhenti mengambang di atas gumpalan awan hitam yang mengeluarkan kilatan-kilatan petir. Tatapan pemuda itu dengan tenang mengamati situasi pertempuran yang berlangsung di bawah sana. Ada seutas senyuman saat melihat pasukan mayat hidup, entah apa arti senyuman serta apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Namun senyuman itu kembali tersungging manakala dia melihat para gadis yang tengah beradu serangan dengan para tetua.


Liu Wei, Huang She Honglong serta Hulao yang baru tiba di samping Arya, langsung memfokuskan perhatian mengamati pertempuran, sekilas mereka merasa heran saat melihat ribuan mayat hidup di bawah sana.


"Kalian sudah siap?" Arya berkata tanpa mengalihkan perhatiannya.


Tanpa bertanya merekapun mengangguk dan lalu melesat terjun ke medan pertempuran. Sementara Arya masih dengan santai menyaksikan pertempuran tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya melayang.


Hulao dan Honglong terjun ke daratan dengan kasar, benturan keras tubuh mereka menyebabkan gelombang kejut serta ledakan kuat yang menghempaskan ratusan mayat hidup yang berjubel di tempat mereka melandas.


Sesaat tanah diseluruh pertempuran bergetar hebat, gelombang kejut mereda bersamaan dengan serpihan-serpihan tanah basah bertebaran ke segala penjuru.


Sontak saja semua orang terbelalak dan tersentak kaget. Dengan segera mereka semua melompat mundur menjauhi pertempuran. Tidak terkecuali para tetua, panglima serta jenderal Qian Tangjiang, mereka merasa perlu untuk memastikan keadaan. Siapa yang melancarkan serangan tersebut, musuh ataukah kawan.


Sebelumnya mereka sama sekali tidak melihat ataupun menyadari adanya pergerakan yang tiba-tiba menghatam tanah dengan begitu dahsyat. Kini semua orang nampak mengamati titik ledakan yang masih samar-samar tertutupi kabut putih.


Di atas awan, Arya terlihat sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, pemuda itu malah memposisikan tubuhnya rebahan mengambang di udara dengan pandangan yang tidak lepas dari tempat pertempuran.


Para mayat hidup terdiam sejenak, seakan merasa terancam mereka serentak membalikan badan menatap pusat ledakan. Seharusnya para mayat hidup tersebut sudah tidak lagi memiliki rasa takut dan kesadaran, namun serangan kali ini berbeda. Para mayat hidup tersebut seakan menunjukkan gelagat gentar dan tubuh mereka mendadak lemas.


"Energi kuat apa ini?" Umpat seseorang yang berada di atas dahan pohon. Meski lokasinya jauh dari pusat ledakan, namun tubuhnya dibuat bergetar seakan serangan tersebut ditujukan kepadanya.


Tidak berselang lama, terlihat sosok dua gadis mendarat ringan di tengah-tengah kerumunan mayat hidup. Meski keadaan masih diguyur hujan, namun tubuh kedua gadis tersebut sama sekali tidak basah seakan ada perisai yang melindungi tubuh mereka dari tetesan air hujan.


"Siapa gadis-gadis itu? Mungkinkah mereka dari aliran hitam?" Salah seorang panglima bersuara memecah keheningan. Melihat kedua gadis tersebut mengenakan pakaian serba hitam, panglima itupun mencurigai jika kedua gadis tersebut berasal dari aliran hitam yang menjadi dalang dari penyerangan ini.


"Kita lihat dulu, jangan gegabah!! Meskipun mereka masih muda tetapi energi mereka begitu kuat." Sahut panglima yang lain.


Sementara para tetua dan petinggi kerajaan nampak begitu waspada, sebaliknya para anggota sekte serta para prajurit malah menunjukkan ekspresi kekaguman. Terlebih para lelaki, mereka menatap Liu Wei dan Huang She dengan kilatan mata berbinar-binar seolah sedang melihat keindahan yang tiada tara.


"Fang Wu, bukankah itu saudari Liu Wei? dan gadis yang ada disebelah sana sepertinya adalah gadis yang mengaku sebagai murid Tabib Xian ketika di penginapan?" Zang Lu menyenggol Fang Wu yang tidak berkedip memandangi Huang She.


"Benar, itu adalah mereka. Tapi dimana Arya?" Qing Ling mengedarkan pandangannya ke segala arah. Entah mengapa Qin Ling merasa yakin jika kedatangan kedua gadis tersebut pastilah bersama Arya.


Pandangan semua orang kembali tertuju pada kepulan kabut yang menutupi sebagian area pertempuran, mereka melihat kabut tersebut terhempas terbawa hembusan angin kuat. Bahkan terpaan angin tersebut juga melemparkan beberapa mayat hidup yang mulai bergerak menuju ke titik Hulao dan Honglong berada.


"Aduh sialan, kakiku terkilir." Honglong terlihat tengah duduk sambil memijit salah satu kakinya. Tubuh siluman tupai tersebut kini berlumuran lumpur, membuatnya terlihat seperti tikus kecil yang bermain di kubangan lumpur sawah.


"Hahaha.. selain menjengkelkan ternyata kau juga bodoh! Sekarang sedang hujan tentunya tanah akan menggembur dan licin. Salah sendiri tidak menggunakan perisai pelindung." Seloroh Hulao dengan tatapan mengejek. Harimau putih itu tidak bisa menahan tawa saat mengingat bagaimana Honglong terpeleset ketika mendarat dan bergulingan di lumpur.


"Kau! Kenapa tidak mengingatkanku sebelumnya, hah." Honglong nampak geram namun juga merasa malu.


"Kau sendiri tidak bertanya. Aku kira kau sudah.."


Ucapan Hulao terhenti saat merasakan ada pergerakan yang menuju ke arah mereka. Sontak Hulao dan Honglong teringat jika mereka sedang berada ditengah-tengah pertempuran, merekapun dengan segera memasang posisi siap bertarung.


Melihat Liu Wei dan Huang She menyerang para mayat hidup, akhirnya semua orang bisa bernafas lega. Sebelumnya mereka mengira jika kedua gadis tersebut adalah Pendekar aliran hitam yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini.


Para pendekar dan prajurit lantas kembali melesat menyerang kerumunan mayat hidup. Ledakan energi serta suara tulang patah kembali terdengar memenuhi pertempuran. Kini para Pendekar pria menjadi begitu bersemangat, mereka bertarung dengan sekuat tenaga mencoba merangsek untuk mendekati posisi Liu Wei dan Huang She yang bertarung di tengah-tengah kerumunan mayat hidup.


Di sisi lain para tetua dan Patriark yang tengah mencari keberadaan orang yang mengendalikan mayat hidup sontak terkesiap manakala terdengar suara dentuman keras serta gonyangan tanah yang kuat. Mereka langsung terbang ke atas untuk memastikan apa yang sedang terjadi di area pertempuran.


Senyuman tetua Lin Hai mengembang saat melihat Liu Wei dan Huang She, namun senyuman itu tidak bertahan lama sebab pria tua yang kini memiliki penampilan muda tersebut tidak mendapati keberadaan Arya disana.


"Dimana Tabib Xian? Bukankah katamu dia pergi bersama mereka.." Tanya Tetua Qin Si Juan setelah berada dekat dengan tetua Lin Hai.


"Entahlah, mungkin sekarang dia sedang berada di Markas." Balas tetua Lin Hai menerka.


Meski dari kejauhan namun kecantikan Liu Wei dapat terlihat jelas, tetua Ye Han yang melihatnya pun seketika terkesima, membuat tetua Ombak Karang tersebut tidak memperdulikan lagi perintah Patriarknya yang menyuruhnya mencari keberadaan dalang dari semua kekacauan ini. Dengan pergerakan senyap, tetua Ye Han mengendap-endap menuju ke medan pertempuran.


Samar-samar setelah kepulan kabut menghilang, para Patriark dan tetua dapat melihat adanya dua siluman yang berada di tengah cekungan tanah yang cukup dalam. Mereka sedikit terheran manakala tidak dapat membaca tingkat kultivasi kedua siluman tersebut, yang mereka lihat hanyalah kedua siluman itu seperti binatang biasa. Namun tidak mungkin ada binatang yang berani memasuki tempat pertempuran.


"Apa dua siluman itu milik sekte kalian?" Tanya Patriark Gu Ta Sian yang tahu-tahu berada di samping tetua Lin Hai.


Tetua Lin Hai mengerutkan dahi. "Mungkin saja mereka milik Tabib Xian seperti dua siluman sebelumnya, Patriark."


Patriark Gu Ta Sian manggut-manggut pelan. "Haha.. pemuda itu memang benar-benar menarik. Aku semakin tidak sabar ingin melihat sejauh mana kemampuannya."


Setelah memastikan kondisi area pertempuran masih bisa dibilang aman terkendali, para Patriark dan tetua kembali turun untuk melanjutkan pencarian.


Balik ke tempat pertempuran. Terlihat pergerakan Huang She seolah tidak beraturan, tetapi setiap serangannya menimbulkan dampak mengerikan. Tidak ada mayat hidup yang dapat mendekatinya kurang dari sepuluh langkah, sebab semua mayat hidup yang berjarak kurang dari sepuluh meter darinya berakhir menjadi debu.


Tendangan serta pukulannya yang nampak biasa saja dan tidak mengeluarkan elemen apapun namun anehnya mampu membuat semua musuhnya menjadi abu hanya dengan sekali serangan.


Sebenarnya Huang She sedang mengasah kemampuannya mengendalikan energi ditubuhnya sebagaimana arahan dari Arya. 'Gerakan sebuah jurus hanyalah pondasi awal bagi pendekar untuk mempermudah mengontrol kekuatannya, jika kalian bisa mengendalikan energi di dalam tubuh kalian dengan sempurna, maka kalian tidak perlu repot-repot lagi melakukan gerakan yang rumit dan melelahkan. Cukup hanya satu sentilan atau jentikkan jari, maka kalian sudah bisa menciptakan serangan yang mematikan. Tetapi tetap saja gerakan sebuah jurus juga berpengaruh untuk melancarkan aliran energi agar menghasilkan serangan yang lebih maksimal."


Mengingat hal itu, Huang She merasa tidak perlu mengeluarkan kecepatan serta energi secara berlebihan, sebab para mayat hidup tidaklah terlalu menyulitkan, terlebih musuhnya juga bergerak lamban. Baginya pertarungan kali ini tidak lebih hanya untuk mengasah kemampuannya.


Level kemampuan Huang She saat ini sudah naik pesat, walaupun gadis itu jarang menghadapi pertarungan namun berbekal dari latihan keras serta pengalamannya bertarung dengan siluman penghuni Hutan Hei'an membuatnya sudah terbiasa menghancurkan lawannya tanpa keraguan.


Semua orang yang melihat pembantaian yang dilakukan Huang She dibuat bergidik ngeri, mereka yang berniat mendekat untuk membantu malah justrul dibantu gadis itu. Meski kecantikan Huang She masih terlalu mempesona di mata para lelaki, namun melihat kekuatan gadis itu membuat para lelaki menjadi segan dan minder sendiri.


Di sisi lain, Liu Wei bergerak gesit dan cepat seperti angin. Pedangnya yang berkilatan petir bertenaga besar mampu menghancurkan lawannya dalam sekali tebas. Gadis itu bergerak kesana-kemari, melesat cepat dengan menghunuskan pedangnya kesamping, membelah tubuh kerumunan mayat hidup yang di lewatinya seperti menyobek kertas.


Tubuh mayat hidup yang terbelah pedang Liu Wei tidak dapat bergerak lagi, karena beberapa detik setelahnya, tubuh mayat hidup itupun meledak hancur menjadi debu dan melebur dengan genangan air.


Liu Wei tersenyum tipis sembari terus menebas tubuh mayat hidup yang di lewatinya. "Hah, ini terlalu mudah.. kalau begitu aku ingin menjanjal sebanyak apa aku bisa menggunakan jurus itu pada kalian."


Liu Wei berhenti, lalu mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya yang kini telah menjadi lahan yang cukup luas sebab ratusan mayat hidup yang sebelumnya mengepungnya telah musnah.


Mendadak tubuh Liu Wei di selimuti pacaran energi putih kebiruan. Gadis itu seperti menari di bawah guyuran hujan, gerakannya terlalu cepat sehingga yang terlihat hanyalah gerakan samar-samar seperti seberkas cahaya yang bergerak-gerak.


Genangan air di sekitar kaki Liu Wei berpijak nampak terangkat dan perlahan membentuk pusaran air yang mengelilingi tubuhnya. Suhu di seluruh tempat pertempuran tiba-tiba turun ke titik beku, tetesan air hujan seketika membeku berubah menjadi jarum-jarum es yang dapat melukai siapapun.


"Semuanya mundur! Lindungi diri kalian!" Teriak Jenderal Qian Tangjiang membahana.


Merasakan perubahan suhu mendadak serta mendengar seruan dari Jenderal Qian Tangjiang, semua orang nampak terkesiap, mereka lantas melompat mundur menghentikan pertarungan agar dapat melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sontak saja mereka buru-buru melindungi diri saat merasakan rasa pedih ketika terkena jarum es yang jatuh dari langit.


Jenderal Qian Tangjiang dan para tetua begitu terkejut saat melihat tempat Liu Wei berdiri menjadi membeku, dan pembekuan itupun terus meluas. Membekukan tanah, rumput ilalang, serta para mayat hidup yang berada disana.


Hulao dan Honglong menghentikan pembantaian, mereka nampak kesal dan mengumpati perbuatan Liu Wei.


"Sialan, gadis itu berniat menghabisi mereka semua. Kucing tua cepat kau hentikan anak didikmu itu." Teriak Honglong, tupai kecil itu tidak mau kesenangannya terganggu jika sampai Liu Wei benar-benar menggunakan teknik es pemusnah.


Sebelum Hulao bergerak dari tempatnya, Huang She sudah terlebih dulu muncul di samping Liu Wei.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak berfikir jika jurusmu ini akan melukai banyak orang, hah." Bentak Huang She dengan tatapan tajam.


"Aku hanya ingin mencobanya saja. Dan mengakhiri semua ini dengan cepat."


"Tapi kau masih belum bisa mengendalikannya, bisa-bisa kau malah akan melukai dirimu sendiri. Dan pastinya Arya akan marah jika kau menggunakan jurusmu ini."


Liu Wei tersenyum tipis dan lalu menghentikan tekniknya. Namun sebelum Liu Wei membuka mulutnya, tiba-tiba muncul seorang pria berpakaian abu-abu mendarat tepat di hadapan mereka.