
Tiba-tiba hujan salju turun deras, halilintar menyambar ganas dan guntur menggelegar menggoncang seluruh perbukitan. Dalam keadaan seperti itu, tampak dibawah salah satu kaki bukit tebing kelihatan seorang pemuda berpakaian compang-camping berdiri tegak sambil garuk-garuk rambutnya yang kusut dan awut-awutan. Pemuda ini mendongakkan kepalanya menatap ke arah kera raksasa yang melayang di atas bukit.
“Salju turun menemani malam yang dingin ini,
Seakan menertawakanku yang sedang berteman sepi,
Tapi ia takkan pernah mengerti,
Karna hidupku telah terbiasa bersandingkan sunyi,
Duniaku tidak lagi perduli,
Kemanakah aku akan pergi,
Namun apalah daya hati,
Mungkin inilah takdir diri,
Yang tak patut untuk diratapi,
Dan kuyakin suatu kelak nanti,
Sang penyejuk hati,
Hadir temaniku tuk menghalau sepi dan sunyi.”
Selesai menyenandungkan syair demikian, pemuda ini tertawa pendek. Kembali tangannya bergerak menggaruk-garuk rambutnya yang kusut. Pandangannya semakin dipertajam menatap ke arah kera raksasa yang melayang diatas sana. Meski jarak antara dirinya dan kera raksasa itu amat jauh serta terhalang oleh butiran-butiran salju yang turun deras, namun ia masih dapat melihat dengan jelas keadaan di atas sana. Begitu pandangannya menangkap sosok manusia berambut kuning yang melayang berhadapan agak jauh dari sosok kera raksasa itu, iapun melebarkan matanya.
“Tuan Hydra...” desisnya.
Sekali kakinya menyentakkan tanah, tubuhnya segera meluncur layaknya lesatan kilat dan kejap berikutnya ia telah melayang berhadapan dengan sosok pemuda berambut kuning.
“Kau!” pemuda berambut kuning yang bukan lain Arya adanya tersenyum tipis.
Pemuda berpakaian compang-camping itu angguk-anggukan kepalanya seraya nyengir. “Tuan, senang rasanya bisa bertemu kembali dengan anda.” pemuda ini melirik ke bawah dimana disitu pertarungan kembali berlangsung. “Tapi kenapa anda berada disini?” lanjutnya dengan muka keheranan.
“Aku sedang bermain hujan-hujanan salju.” sahut Arya ketus.
“Oh, kalau begitu maafkan aku karena telah mengganggu kesenangan anda.” wajah pemuda berpakaian compang-camping itu mendadak berubah, dengan cepat ia memutar tubuhnya. Sekali tendang, meluncurlah sinar hijau ke arah larikan sinar merah yang mengarah ke tempat mereka melayang.
Blaaarrr...
Ledakan besar menggema di udara ketika larikan sinar hijau dan merah itu bertemu saling hantam.
“Tuan, siapakah orang tua yang berada di dalam kepala monyet besar itu? Ku dengar, disini adalah markas Manusia Iblis. Apakah itu benar adanya, tuan?” desis pemuda berpakaian compang-camping itu.
“Kalau sudah tau, lalu kenapa tadi kau bertanya sedang apa aku disini.” sahut Arya, “Seharusnya aku yang tanya padamu, kenapa kau berkeliaran sampai ke tempat ini, bukankah kau dan kakek Dai Wubai telah kembali ke benua daratan tengah?”
“Aku memang di tugaskan untuk menyeli..” pemuda berpakaian compang-camping yang bukan lain Zhiyuhan adanya, tidak dapat meneruskan ucapannya karena pada saat yang sama selarik sinar merah telah bergerak menebas ke arah mereka.
“Fuuuhhfff” Zhiyuhan menoleh sekaligus menyemburkan serangkum angin dashyat dari mulutnya.
Larikan tebasan sinar merah yang ternyata adalah pedang itu serta-merta terhempas oleh serangkum deruan angin yang dihembuskan Zhiyuhan.
“Mengganggu orang berbincang-bincang saja, huh!” gerutu Zhiyuhan. Pemuda ini sudah siap siaga karena merasakan sebuah energi besar tengah mengarah ke tempatnya.
Dan benar saja, tak kurang dari sekedipan mata. Dihadapannya kini tiba-tiba muncul sosok kera raksasa bersinar merah terang, dan kemudian di susul hembusan angin deras akibat daya lesatan kera itu. Rambut serta pakaian Arya dan Zhiyuhan berkibar-kibar diterpa hembusan angin. Namun keduanya tetap bersikap tenang.
“Li Xian, kenapa kau malah menyuruh pedangmu untuk melawanku?! Apa menurutmu aku belum cukup layak untuk bertarung denganmu?!” ucap kakek Li Chunfeng dengan nada marah sedikit membentak. “Dan apakah hubunganmu dengan Legenda Pendekar Naga? Kenapa pedang itu sampai bisa ada di tanganmu?”
“Orang tua, kau hendak bertarung ataukah bertanya?!” bentak Zhiyuhan, “Kau memang tak layak untuk menjadi lawan tuanku! Akulah lawanmu!”
Setelah berkata demikian, Zhiyuhan cepat sekali telah menerjang. Dengan tangan kosong dia menghantam kepala kera raksasa itu hingga kera tersebut terpental puluhan tombak jauhnya.
Blaaaarrr!
Kilat kembali menyambar dan geledek menggemuruh. Pemuda berpakaian compang-camping ini menyeringai sambil sibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dengan tangan kirinya dia seolah mencabut sesuatu dari dadanya. Sebuah tongkat putih yang memiliki guratan indah berwarna merah tampak tergenggam di tangan kirinya. Zhiyuhan tertawa mengekeh, namun sebelum dirinya kembali lancarkan serangan, tiba-tiba ada seseorang yang tahu-tahu telah menahan bahunya.
“Swandaru, kau uruslah orang-orang yang ada dibawah. Biar orang tua itu menjadi bagianku.” ucap Arya. Kemudian tanpa perdulikan tanggapan Swandaru alias Zhiyuhan, dia terbang menuju kakek Li Chunfeng.
Zhiyuhan menghela nafas. Ia tak mungkin berani membangkang perintah Arya. Untuk sejenak ia masih melayang di udara, menatap ke arah Arya, lantas tangannya yang memegang Tongkat Pusaka Matahari Penghancur, ia tempelkan ke dada. Tongkat itupun bersinar putih terang dan detik berikutnya lenyap masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian pandangannya beralih melihat ke bawah. Disana dia melihat beberapa bayangan Arya sedang membawa satu persatu orang-orang yang entah siapa, keluar dari markas yang terlihat seperti kuil tersebut. Begitu pandangannya melihat seorang pemuda berambut putih tengah dikeroyok puluhan orang-orang bertopeng, iapun segera menukik turun ke kalangan pertempuran.
“Sungguh tak tahu malu! Beraninya hanya main keroyokan!”
Suara itu terdengar mengumandang layaknya guntur. Semua orang sontak menghentikan pertarungan dan memandang berkeliling. Wajah-wajah yang tadinya beringas nampak menegang, mereka semua sadar bahwa suara itu tidak hanya suara biasa, akan tetapi gema suara yang mengandung tekanan Qi yang luar biasa dahsyatnya.
Begitu suara bentakan tadi lenyap, sebagian dari manusia bertopeng tengkorak melihat sosok tubuh yang melintas di atas kepala mereka. Kemudian setelah itu sosok bayangan tersebut melakukan salto di udara. Dan....
Tappp...
Sosok itu tahu-tahu telah berdiri menghadap kepada Fei Lun. Semua orang bertopeng tengkorak memperhatikan dengan seksama sosok yang tiba-tiba mencampuri urusan mereka tersebut. Seorang pemuda gembel yang berpakaian compang-camping dengan rambut awut-awutan seperti orang gila. Meski melihat orang yang mengganggu pertarungan mereka seperti pengemis atau orang gila, namun semua orang bertopeng tengkorak tidak serta-merta mengawali penyerangan, sebab mereka merasa perlu untuk mengetahui siapa adanya pemuda gembel tersebut.
Kemunculan Zhiyuhan rupanya juga menyita perhatian Serigala Iblis Dari Timur. Orang berpakaian merah dan menutupi mukanya dengan topeng tengkorak tersebut melompat menjauhi kakek Lengan Api yang tengah bertarung dengannya. Sejenak sepasang mata dibalik topeng tengkorak itu melirik ke arah Zhiyuhan. Akan tetapi kelengahannya itu berakibat fatal! Kakek Lengan Api tahu-tahu telah menyentakkan pukulan tinju kanannya yang berkobaran api hijau.
Untung Serigala Iblis Dari Timur masih sempat mengelak. Tubuhnya cepat sekali meluncur ke atas, akan tetapi kaki kanannya masih kena dihantam pukulan api yang dilancarkan lawan. Kakinya sontak hancur menjadi abu! Serigala Iblis Dari Timur menyeringai sakit juga marah.
Baru saja mendapatkan serangan barusan, Serigala Iblis Dari Timur lagi-lagi terpaksa melontarkan tubuhnya terbang lebih tinggi karena kakek Lengan Api kembali lancarkan pukulan jarak jauh dari bawah. Bola api hijau meluncur dahsyat mengejar laju terbang Serigala Iblis Dari Timur.
Kesal karena bola api itu terus saja mengejarnya, Serigala Iblis Dari Timur ayunkan Pedang Es Abadi ke arah lesatan bola api hijau tersebut.
Jduuummm!
Ledakan api hijau menyebar di langit, terlihat indah seperti kembang api.
Kakek Lengan Api yang maklum serangannya dapat dihancurkan lawan, segera menggenjot tubuhnya untuk kemudian melesat terbang mengejar Serigala Iblis Dari Timur. Kakek ini tidak akan membiarkan lawannya lolos begitu saja.
“Siapa kau, Anjing Kecil?!” hardik biksu bersenjatakan tongkat perak. Sepasang matanya mencorong tajam kepada si pemuda.
Zhiyuhan balikkan tubuh, menghadap ke arah sumber suara. “Ah, aku hanya kebetulan lewat dan ingin berteduh. Tapi tak tahunya tempat ini banyak sekali dihuni hantu tengkorak. Hehe.. tapi kenapa kalian mengeroyok pemuda tampan ini? Agaknya karena ketampanannya, kalian jadi tergila-gila. Ha. Ha. Ha...” Zhiyuhan tertawa tergelak-gelak sambil garuk-garuk rambutnya.
Biksu itu mendengus. Dan begitu suara dengusannya lenyap, tubuhnya telah melayang menerjang ke arah si pemuda. Padahal tidak terlihat sedikit pun kalau dia menggerakkan kaki. Tiba-tiba dia telah berada dalam jarak satu setengah tombak di hadapan Zhiyuhan.
Kini biksu itu dan Zhiyuhan saling berhadapan. Tongkat perak di tangan laki-laki berkepala plontos itu tampak memancarkan sinar kemerahan, pertanda ia telah siap menyerang. Sementara sepasang matanya menatap beringas kepada si pemuda berpakaian compang-camping tersebut.
“Keparat...!” biksu itu berteriak memaki. “Kedatanganmu kemari tentunya ingin membantu pemuda itu. Untuk itu kau juga harus mati!”
Ucapan yang disertai hawa pembunuh itu, ditanggapi Zhiyuhan dengan garuk-garuk kepalanya. Wajahnya mengerenyit seolah keheranan.
“Sungguh kedatanganku tak disengaja,
Mencari Manusia Iblis biang malapetaka,
Tak tahunya disinilah sarang persembunyiannya,
Jika nyawaku yang kau minta,
Jangan menyesal jika kalianlah yang akan pergi lebih dulu ke alam baka,”
Zhiyuhan hentikan gerakan tangannya menggaruk rambutnya. Tatapannya yang tadinya polos seperti kanak-kanak mendadak menjadi tajam seolah pancaran matanya itu memiliki energi dahsyat sehingga membuat biksu dihadapannya menjadi bergetar.
Fei Lun mengerutkan kening, baru kali ini dia melihat seseorang bersyair dihadapan musuh. Di tambah lagi, ia juga heran mengapa dirinya tidak dapat membaca tingkat kultivasi pemuda berpakaian gembel tersebut.
Wuuuuss!
Tiba-tiba seorang biksu bertahi lalat besar di pipi, berkelebat di udara. Sambil mengeluarkan pekik melengking, dia bacokan goloknya yang diselimuti energi merah menargetkan batang leher Zhiyuhan.
Yang diserang mengeluarkan suara dengusan dari hidung. Ia bersikap seolah-olah tidak menyadari datangnya serangan. Zhiyuhan memang sama sekali tidak berniat mengelak ataupun menangkis.
Melihat targetnya tidak memperlihatkan perlawanan atau mengambil ancang-ancang menghindar, biksu bertahi lalat besar menyeringai, “Mampuslah!”
Fei Lun hendak mencegah, namun terlambat. Energinya belum pulih sepenuhnya. Karena tak tega melihat kejadian yang akan menimpa pemuda berpakaian compang-camping tersebut, Fei Lun pejamkan matanya.
Bukkk, bukkk, bukkk..!
Biksu bertahi lalat besar itu berhasil membacokkan goloknya ke leher si pemuda! Tidak berhenti sampai disana, ia terus membacok dan menusukkan goloknya bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan kepala lawannya. Serangan itu tepat mengenai sasarannya! Tapi yang diserang bukannya merasa kesakitan, malah dia sendiri menjerit menahan rasa sakit. Tangannya bergetar seolah-olah yang diserangnya bukan tubuh manusia, melainkan sebongkah baja yang amat keras. Kejap kemudian diapun cepat-cepat melompat menjauhkan diri. Biksu itu melirik ke arah goloknya yang masih belum juga berhenti bergetar. Matanya sontak melebar, manakala mendapati golok pusakanya itu kini telah gompal dan retak-retak.
Empat biksu anggota Manusia Iblis terkejut melihat kejadian itu. Tapi cepat mereka sadar bahwa memang pemuda yang tampaknya seperti gembel ini bukanlah tokoh persilatan kacangan.
Dengan kemampuan memainkan senjata masing-masing, ke-lima biksu itu menerjang bersamaan. Senjata-senjata mereka yang dialiri Qi malang melintang menimbulkan suara bising dan hawa panas luar biasa.
Lagi-lagi Zhiyuhan mendengus. Kali ini tangan kirinya menggaruk-garuk rambutnya. Melihat gerakan-gerakan lawannya. Tidak terlihat tanda-tanda kalau pemuda berpakaian compang-camping ini mewaspadai serangan yang akan dilancarkan lima biksu sesat itu. Jelas, dia memandang remeh ke-lima biksu tersebut. Tentu saja hal itu membuat darah ke-lima biksu itu menjadi mendidih. Dan....
“Haaat...”
Serangan yang diiringi suara pekikan keras dari biksu berhidung besar, melesat ke arah leher Zhiyuhan, setelah terlebih dahulu memutar-mutarkan senjatanya di atas kepala. Sehingga menimbulkan suara mengaung keras pertanda kuatnya tenaga, yang terkandung dalam putaran golok besar itu.
Sedangkan ke-empat rekannya segera membuka jurus serangan. Mereka bergerak menyongsong Zhiyuhan dari arah yang berbeda. Dan kemudian melancarkan serangan dengan senjata andalan masing-masing.
Zhiyuhan tetap dengan sikapnya yang semula. Tangan kirinya masih menggaruk-garuk rambutnya. Ketika serangan datang dari lima biksu itu menyambar dekat, pemuda berjuluk Pendekar Penyair ini, menggerakkan kakinya. Sederhana saja gerakan yang dilakukannya. Tapi anehnya, tidak ada satu pun serangan lawan yang mampu mengenai anggota tubuhnya.
Tidak hanya sampai di situ saja. Setelah berhasil mengelakkan serangan ke-lima orang lawan, kedua tangan Zhiyuhan bergerak cepat. Sehingga, tangan yang sebenarnya berjumlah dua itu jadi terlihat berjumlah puluhan.
Sontak lima biksu anggota Manusia Iblis tersebut merasakan penglihatan mereka berkunang-kunang. Tapi, mereka berusaha menahan serangan yang akan di lancarkan si pemuda, dengan mengelak sebisa-bisanya, tapi....
Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk.!
Suara-suara pelan terdengar disusul dengan lumpuhnya tangan kelima biksu yang memegang senjata. Kejap kemudian disusul berjatuhannya senjata-senjata mereka ke tanah. Rupanya totokan Zhiyuhan tepat sekali mendarat di belakang sikut mereka. Sehingga membuat tangan itu lumpuh untuk beberapa saat.
Wajah ke-lima biksu tersebut memucat, mereka sadar bahwa lawan yang dihadapi kali ini memiliki kepandaian yang tidak terukur. Tapi mereka tidak punya pilihan lain selain melindungi markas mereka. Pemuda berpakaian compang-camping ini pastinya telah mendengar segala kabar mengenai sepak terjang yang dikerjakan kelompok mereka, dan agaknya ia tak mungkin membiarkan mereka hidup. Ke-lima biksu itu menyadari demikian.
Tapi, sebagai tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi dari kekaisaran Tang, juga sekaligus murid Serigala Iblis Dari Timur, mereka lebih suka mati sebagai seekor harimau ketimbang hidup sebagai seekor anjing. Itulah sebabnya, meskipun telah menyadari kedudukan lawan yang ternyata memiliki kemampuan diatas mereka semua, ke-lima biksu tersebut tetap mengadakan perlawanan.
Mereka segera melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tangan kosong ke arah tubuh Zhiyuhan. Namun serangkaian serangan itu dengan mudahnya dapat digagalkan dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Penyair ini.
Melihat pemimpin-pemimpin mereka dalam keadaan terdesak, puluhan orang bertopeng tengkorak segera bergerak hendak membantu. Akan tetapi, belum juga mereka mencapai lima tombak dari pusat pertarungan, mendadak orang-orang topeng tengkorak yang berada dibarisan paling depan berpelantingan kena dihantam Fei Lun yang bergerak laksana kilat, menghalau orang-orang topeng tengkorak yang hendak merecoki pertarungan.
Kini Fei Lun sudah terkurung hampir tiga puluh orang bertopeng tengkorak yang kesemuanya membekal senjata dan pusaka masing-masing. Laksana macan di kepung puluhan kerbau, Fei Lun bergerak cepat menyusup diantara kelebatan senjata lawan dan sesekali menerkam kirimkan serangan mematikan.
Pertarungan berkecamuk hebat, suara berdentum terus saja terdengar memenuhi udara. Dinding-dinding hancur kena labrakan lesatan serangan nyasar. Hawa panas layaknya bara api menyelimuti seluruh ruangan, membuat butiran-butiran salju yang turun seketika cair jadi tetesan air.
Sementara itu, hampir sepuluh jurus lamanya Zhiyuhan mempermainkan lawan-lawannya. Dia sama sekali tidak mengadakan perlawanan, kecuali mengelakkan serangan yang datang. Pendekar Penyair ini rupanya memang bermaksud mempermainkan lawan sebelum membunuhnya.
Ketika nafas ke-lima biksu telah memburu karena rasa letih dan amarah yang menggelegak di dalam dada, barulah Zhiyuhan bertindak cepat. Ia berkelebat cepat dan langsung menyambar dua senjata lawan, yakni golok dan tongkat perak. Kedua senjata itu diputar-putar seperti baling-baling.
Mau tak mau ke-lima biksu sesat itupun mengambil jarak, angin deras dari putaran senjata yang dimainkan Zhiyuhan membuat penglihatan mereka jadi nanar, juga membuat kulit mereka yang terkena hembusan angin itu terasa seolah ditusuk-tusuk ribuan jarum.
Akan tetapi dalam sekejapan mata, Zhiyuhan telah bergerak laksana kilat.
“Aaakh...!”
Jerit kematian terdengar susul-menyusul diiringi dengan tumbangnya satu persatu lima biksu sesat. Sungguh mengerikan kematian mereka. Seluruh tubuh tercabik-cabik, tiga biksu tewas dalam keadaan kepala hancur, sedang dua lainnya tewas dengan senjata andalan mereka sendiri tertancap di batok kepala masing-masing.
_______
Syukurlah masalah dengan pihak NT sudah diselesaikan. Dengan ini, author akan melanjutkan ceritanya.
Terimakasih atas dukungan kalian semua. 👍