
Kembali Ke Beberapa Hari Sebelumnya.
Setibanya di kota kerajaan Goading, puluhan sosok bercadar yang melayang di langit segera menyebar. Sebagian dari mereka menyisir setiap sudut kota sementara yang lainnya menyusup ke dalam kawasan kerajaan tanpa diketahui oleh para prajurit yang meronda.
Saat itu keadaan masih gelap, udara terasa begitu dingin mencucuk tulang, kabut berbuntal-buntal menghalangi jarak pandang. Malam itu bertepatan dimana kerajaan Guangzhou tengah berkecamuk pertempuran melawan gabungan pendekar aliran hitam yang dipimpin oleh Sekte Iblis Berdarah.
Tidak seperti pembasmian yang terjadi di kota Guangzhou, kini para bayangan Arya melakukan segala sesuatunya dengan penuh perhitungan dibawah arahan dari Arya.
Mereka tidak langsung menyerang, melainkan terlebih dulu menebar sejenis serbuk ke setiap rumah yang diduga kuat menjadi tempat bersarangnya para pendekar yang memiliki energi kegelapan. Serbuk yang di tebar tersebut berubah menjadi asap dan menyatu dengan kabut. Siapapun yang menghirup serbuk itu maka energinya akan kacau dan akhirnya mereka akan pingsan. Itu adalah serbuk Pelemah Energi warisan dari Hong Mingzhu alias Pendekar Kobra.
Hebatnya serbuk tersebut tidak memiki rupa dan bau sehingga para pendekar, hewan iblis maupun penduduk sekitar tidak menyadari sesuatu yang besar akan segera terjadi.
“Sudah beberapa hari ini kabut selalu muncul jika malam datang, tapi baru kali ini aku merasa ada yang aneh. Udara terasa begitu dingin, ini membuatku mengantuk.” Kata salah seorang pada rekannya.
Di rumah itu terdapat 4 orang yang sedang mabuk di ruang depan, sementara di dalamnya terdapat 3 kamar yang semuanya dihuni masing-masing se-orang yang sedang bermeditasi.
“Kau benar! Padahal aku hanya minum sedikit tapi kepalaku rasanya pusing. Jangan-jangan...” Orang itu tak dapat meneruskan ucapannya karena saat itu juga dia sudah terkulai jatuh melingkar, entah tidur entah pingsan.
Melihat hal itu, ketiga rekannya geleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Salah seorang segera menegur.
“Kalian sebaiknya berhenti minum, kita harus tetap waspada. Kalian...” Orang itu pukul-pukul kepalanya sendiri yang terasa berat. Merasa ada yang tidak beras, dia segera alirkan Qi untuk mengurangi rasa pening, namun akhirnya dia baru menyadari adanya bahaya, energinya menjadi kacau.
Saat itu juga didapatinya dua rekannya telah ambruk terbaring di lantai.
“Gawat!” Orang itu buru-buru bangkit untuk mengabarkan kejadian ini pada rekannya yang berada di dalam kamar. Dengan langkah terhuyung sambil pegangi kepalanya, orang itu akhirnya roboh ketika baru saja berjalan beberapa langkah.
Di dalam kamar, meskipun mereka tengah bermeditasi menutup segala indera namun lama kelamaan mereka juga terpengaruh efek serbuk Pelemah Energi. Mereka tak sadarkan diri dalam keadaan masih duduk bersila.
Sebelum memulai aksinya, para bayangan Arya terlebih dulu mengamankan para penduduk yang berada dekat dengan rumah-rumah bersarangnya pendekar aliran hitam maupun hewan iblis. Tentu saja hal itu dilakukan demi mengurangi korban yang tak berdosa.
Lain halnya dengan para pendekar aliran hitam yang hampir seluruhnya dibuat pingsan tak berdaya, hal itu tidak di alami para hewan iblis, mereka masih sanggup mempertahankan kesadaran meski sebagian besar energinya telah menjadi kacau akibat pengaruh serbuk pelemah energi. Namun meski demikian, itu sudah cukup untuk memudahkan para bayangan Arya melancarkan aksinya.
Sebenarnya perbuatan membokong ataupun menyerang dengan cara licik seperti ini tidak pantas dilakukan oleh orang aliran putih. Namun seperti yang di ketahui, Arya bukanlah berasal dari sekte manapun, bukan pula pendekar aliran putih maupun hitam. Dia melakukan apapun selama dianggapnya benar, melindungi orang-orang tak berdosa, meski jalan yang ditempuhnya terbilang sadis dan tak berperikemanusiaan. Yang jelas dia tidak perduli dicap sebagai apapun selama menurutnya itu perlu dilakukan dan tak menyimpang dari keadilan.
Benar saja, tidak memerlukan waktu lama, seluruh pendekar aliran hitam dapat dibantai demikian mudahnya. Perlawan sedikit didapati manakala aksi pembasmian dilakukan terhadap hewan iblis. Namun perlawanan itu tidak berlangsung lama, meski pertarungan itu menyebabkan kerusakan namun dampaknya tidak meluas seperti yang dialami kerajaan Guangzhou.
Di dalam kawasan kerajaan.
Lewat tengah malam dinginnya udara bukan kepalang. Banyak prajurit menjalankan tugas sambil menggigil.
Menjelang dini hari keadaan sekitar istana tampak aman walau diselimuti kesunyian. Saat itulah di sudut timur kelihatan ada kabut mengambang. Kabut yang sama kemudian muncul di ujung barat. Lalu muncul lagi di sebelah selatan dan akhirnya menyusul di sebelah utara.
Perlahan-lahan kabut itu mengambang naik setinggi dada lalu bergerak ke arah bangunan istana.
“Aneh,” Kata seorang prajurit tua yang bertugas di bagian timur istana. “Belasan tahun bertugas jadi prajurit, baru kali ini aku melihat ada kabut yang sanggup menerobos segel pelindung masuk sekitar istana...”
Tak selang berapa lama tebaran kabut melebar bukan saja ke arah istana tapi juga sekitar halaman luas dimana para prajurit lapisan ketiga bertugas.
“Ini baru aneh,” Kata pengawal di samping prajurit tua. "Tidak biasanya aku mengantuk. Heran, mataku terasa berat...”
“Kalau kau tidur dalam tugas, kau bisa dijatuhi hukuman berat,” Kata prajurit tua pula. Tapi habis berkata begitu dia menguap lebar-lebar. Matanya terasa berair dan kantuk aneh mendadak membuat kepalanya terasa berat.
“Kurasa aku sudah ketularan dirimu, ikut-ikutan mengantuk...” Prajurit tua itu berucap lalu berpaling pada kawannya. Tapi si kawan ternyata sudah menjelepok di tanah, bersandar ke tembok halaman istana, tertidur pulas!
“Masih muda tak tahan kantuk! Bagaimana nanti kalau sudah setua usiaku! Hai, bangun!" Prajurit tua itu pergunakan kakinya menggoyang paha temannya. Tapi dia sendiri kemudian merasa lemas, berpegangan ke tembok halaman lalu bluk! Prajurit tua ini jatuh dekat temannya, melosoh di tanah, entah pingsan entah tidur!
Di bagian lain halaman istana, untuk melawan udara dingin, seorang prajurit menghidupkan sebatang rokok. Tidak sengaja matanya menatap ke atas. Prajurit ini terkejut, sontak saja mencampakkan rokoknya ke tanah lalu lari ke arah rumah jaga di sudut utara halaman.
Di situ biasanya paling tidak ada tujuh sampai belasan prajurit sementara yang lain-lainnya berkeliling seputar halaman.
Kejut prajurit ini bukan alang kepalang ketika dia sampai di rumah jaga, ditemuinya enam orang kawannya bergeletakan tumpang tindih di lantai. Di goyang-goyangkannya tubuh enam orang itu satu persatu. Tak ada yang bergerak. Di dekapkannya telinganya ke dada beberapa orang prajurit. Ada degup jantung. Berarti tidak mati.
Prajurit satu ini segera berdiri, memandang ke arah atap istana. Seperti tadi dia melihat ada bayangan orang bergerak di atas atap sana. Tadi cuma dua orang. Kini malah dilihatnya ada empat orang.
“Aku harus memberi tahu kepada yang lainnya. Aku harus segera melapor ke panglima!” Kata prajurit itu. Lalu dengan cepat dia lari ke arah bangunan istana.
Namun di pertengahan halaman tiba-tiba sebuah benda melesat di udara. Di lain kejap prajurit itu keluarkan keluhan tinggi, pegangi dada kirinya yang bersimbah darah lalu roboh ke tanah.
Tak selang berapa lama dari atas atap istana terlihat beberapa kelebatan. Kelebatan ini disusul oleh kelebatan lain dari arah selatan, lalu kelebatan dari tiga arah yakni utara, barat dan timur.
Begitu kelebatan itu mendarat di tanah, terdengar suara bergedebuk, beberapa prajurit tewas dengan dada jebol, terbakar ataupun terpenggal.
Seluruh sudut kawasan kerajaan kini terlihat prajurit-prajurit yang bergelimpangan, sebagian hanya pingsan dan sebagian lainnya tewas mengenaskan.
Meski gegaduhan dan pembantaian telah terjadi, namun suasana masih hening. Hal itu dikarenakan seluruh orang di kawasan kerajaan telah dalam keadaan tersirap tak sadarkan diri.
Derap langkah kaki terdengar memecah kesunyian dari arah pintu gerbang kerajaan, yang saat itu sudah berada dalam keadaan terpentang lebar. Padahal biasanya pintu gerbang itu selalu berada dalam keadaan tertutup. Entah siapa yang telah membukanya, yang jelas dua puluh prajurit yang bertugas di tempat itu telah bergeletakan tanpa sadarkan diri.
Seorang pemuda berkulit putih berbadan tegap berjalan santai diantara gelimpangan prajurit-prajurit yang terkapar. Dia mengenakan cadar yang menutupi sebagian wajahnya, ditangannya membekal sebilah pedang yang berlumuran darah. Itu adalah darah dari para prajurit yang menjadi korban pembunuhannya. Semua prajurit yang dibantai tidak lain adalah mereka yang memancarkan energi kegelapan.
Setelah memastikan tidak ada lagi pendekar aliran hitam yang menyamar masih hidup, beberapa sosok bercadar berkelebat ke arah jajaran bangunan yang berdiri di kawasan luar istana. Mereka menyatroni satu demi satu bangunan, membunuhi setiap pendekar aliran hitam yang berada disana.
Entah sudah berapa ratus nyawa yang melayang dimalam yang dingin dan mencekam itu. Setelah sekian lama menyusuri kawasan istana, dari arah barat terdengar sebuah ledakan.
Tak berselang lama, dari kegelapan terlihat berkelebatan puluhan sosok yang langsung menyerang orang-orang bercadar.
Pertarungan akhirnya tak dapat terelakkan, para bayangan Arya semuanya sudah bertarung melawan hewan iblis. Namun karena para hewan iblis berada dalam kondisi lemah akibat terpengaruh serbuk pelemah energi, maka mau tak mau pada akhirnya pertarungan itu dapat di menangkan para bayangan Arya.
Pertarungan tersebut memakan waktu cukup lama, selain menewaskan para hewan iblis, nyatanya ada beberapa bayangan Arya yang juga harus lenyap karena terkena serangan.