
Pemuda lusuh yang melayang di atas lautan lepas nampak begitu pucat, pakaiannya kini basah oleh keringat. Setelah menstabilkan kondisinya, dia lantas menghela nafas berat ketika mendapati tongkat pusaka yang di pegangnya memancarkan energi yang tidak sebagaimana mestinya. Pemuda itu sadar jika energi tongkat pusaka miliknya beberapa waktu lalu di serap oleh sesuatu yang tidak dia ketahui.
"Siapa yang dapat menyerap energimu?" Tanya pemuda itu pada tongkat pusakanya.
"Aku tidak yakin siapa orang itu, tetapi sepertinya dia memiliki kekuatan setingkat Dewa. Aku sudah mencoba mencari keberadaan orang itu tapi aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Saat ini salah satu pecahan energi sudah terserap habis, sementara energi milikku dan tiga pecahan lainnya sama-sama terserap namun untung saja orang itu tidak bisa menyerap habis semuanya." Kata roh tongkat pusaka yang terdengar di kepala pemuda lusuh itu.
"Apa mungkin kultivator daratan utara itu yang melakukan semua ini?" Pikir pemuda lusuh tersebut sambil menggeleng pelan, dia nampak ragu mengingat kemampuan para kultivator daratan utara tersebut paling kuat hanyalah berada di tahap Pendekar Alam.
"Aku harus memastikannya sendiri, mungkin saja salah satu dari mereka menyembunyikan kemampuannya." Pemuda lusuh itu jelas tidak menduga jika yang dapat menyerap energi Pusaka Legenda adalah pendekar daratan timur, mengingat para pendekar daratan timur memiliki kemampuan yang rendah.
Pemuda lusuh itupun lantas melesat terbang dengan kecepatan tinggi menuju daratan utara, meskipun dia telah kehilangan jejak karena sempat di repotkan tiga kultivator yang telah tewas di tangannya serta kejadian yang memaksanya berhenti lantaran ada sesuatu yang menyerap energi tongkat pusakanya, namun pemuda itu sangat yakin jika para kultivator tersebut akan kembali ke daratan utara.
Melihat daratan utara sudah dekat, pemuda lusuh itu kemudian menyamarkan keberadaannya dan lantas terbang lebih tinggi di atas lautan awan demi menghindari para penjaga perbatasan.
"Jadi daratan ini juga di lindungi segel." Pemuda lusuh itu tersenyum tipis sebelum menggunakan teknik teleportasi, dan tiba-tiba dia muncul di atas dahan pohon yang berada di perkebunan warga.
Semua pengunjung kedai nampak menatap risih keberadaan seorang pemuda lusuh yang baru saja memasuki kedai, bahkan ada beberapa dari mereka yang berdiri dan lantas menghadang pemuda lusuh itu.
"Pergilah!!! Disini bukan tempat gelandangan dan pengemis sepertimu." Bentak salah seorang dengan tatapan bengis.
Pemuda lusuh tersebut nyengir sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kusut.
"Rumahku di tepi jalan berpagarkan keramaian, beratapkan awan. Menepi aku disudut jalan. Meski diri ini hanyalah gelandangan, mohon izinkan diri ini masuk untuk sekedar makan."
Semua orang yang mendengar pemuda lusuh tersebut berkata dengan intonasi bersyair membuat mereka semua mengalihkan perhatian ke arah pemuda lusuh itu.
"Hmm... Ternyata kau pandai bersyair. Hahaha.." Seorang pria brewok tebal berjalan mendekat. "Kau boleh masuk dan makan sepuasnya bersamaku asalkan kau mau membuatkan syair untuk gadis pujaanku."
Semua orang ingin tertawa mendengar perkataan pria brewok tersebut, namun mereka tidak berani melakukannya sebab mereka tahu jika pria brewok tersebut adalah salah satu tetua Sekte Awan Selatan yang berlokasi di sebelah timur kota ini.
"Aku hanyalah seorang gelandangan tuan.
Berangkat dari kisah kelam berhenti di setiap persimpangan.
Meski cita-citaku indah, tetapi itu hanya ada dalam angan.
Yang tak mungkin terkisahkan.
Pandanglah aku ditepian,
Sebagai seorang gelandangan yang menyongsong hidup dengan senyuman.
Membakar semangat disepanjang jalan."
Pria brewok tersebut melongo karena tidak dapat memahami maksud dari pemuda lusuh itu. Semua orang juga demikian, mereka mencoba memahami arti dari syair tersebut namun pada akhirnya mereka hanya bisa menggeleng pelan sebab merasa bahwa pemuda itu agak sedikit sinting.
"Anak muda, ku rasa syairmu itu tidak cocok untuk kekasihku. Kekasihku adalah wanita yang cantik bukan gelandang seperti syairmu itu." Pria brewok tersebut berdecak kesal.
"Cinta bisa memberikan cahaya.
Pada mata yang sekalipun buta.
Cinta juga bisa menjadi petaka.
Meski pada orang yang di surga.
Ah, biarlah … Cinta tak butuh kata-kata."
Pemuda lusuh itu berlalu begitu saja meninggalkan semua orang yang di buat terpaku, seakan syair pemuda itu memiliki ruh yang mampu menggetarkan jiwa mereka.
Memahami maksud dari syair tersebut, pria brewok tersenyum lebar lantas menghampiri meja tempat pemuda lusuh itu duduk.
"Aku tau bahwa cinta membutuhkan bukti dan perjuangan, tetapi ketika cintaku pada seseorang tidak bisa aku realisasikan. Maka aku berfikir menghidupkannya lewat tulisan-tulisan adalah langkah yang tepat." Pria brewok tersebut menghela nafas. "Sebab itulah aku membutuhkan syairmu untuk mendapatkan cintaku."
Pemuda lusuh tersebut tersenyum kecut, dia sering berada dalam situasi demikian. Banyak orang yang meminta dirinya agar membuatkan syair untuk kekasih mereka.
"Seperti pasir dalam genggaman tangan,
Ia akan terlepas jika terlalu erat di genggam,
Jika itu adalah cinta, kamu seharusnya bisa menggenggamnya dengan cinta. Bukan dengan ambisimu yang besar untuk memiliki dan menguasainya."
"Adakalanya kita tidak bisa membedakan antara cinta sejati dengan obsesi. Karena perasaan yang membabi-buta membuat kita menghalalkan segala cara." Pemuda lusuh itu mengalihkan pandangan ke arah pelayan yang datang membawakan pesanannya. "Janganlah anda bepergian ke padang sahara untuk mencari pepohonan yang indah, karena anda tidak akan menemukannya di padang sahara, kecuali hanya kesunyian. Sebaliknya, lihatlah ratusan pepohonan yang menaungi anda dengan rindangannya."
Pria brewok tersebut di buat terkesima, dia mengangguk-anggukkan kepala seakan mengerti. Lantas dia baru tersadar jika latar belakang pemuda gelandangan itu tidak seperti yang terlihat.
"Siapa kau sebenarnya anak muda?"
Pemuda lusuh tersebut menunjuk hidungnya sendiri. "Sudah jelas bukan, aku hanyalah gelandangan yang sedang kelaparan." Pemuda lusuh tersebut lantas melahap makanannya dengan rakus, dia terus menerus memasukan makanan ke dalam mulutnya yang masih terisi penuh. Pemandangan itu membuat pria brewok merasa mual dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Meski sedikit risih terhadap cara makan pemuda lusuh tersebut, pria brewok nampak terus memperhatikannya dengan teliti mencoba membaca tingkat kultivasi pemuda lusuh di hadapannya itu. Dia curiga jika pemuda lusuh itu adalah kultivator yang sedang menyamarkan dirinya agar tidak menarik perhatian.
"Aku juga tak bisa membaca pikirannya.." Pria brewok membatin, dia sudah berkali-kali mencoba membaca tingkat kultivasi pemuda lusuh tersebut, namun hasilnya tetap sama yaitu pemuda itu hanyalah manusia biasa.
Menyadari ada energi yang mencoba memasuki pikirannya, pemuda lusuh tersebut pura-pura terbatuk dengan keras. "Sialan, makanan ini terlalu pedas. Apa pelayan disini ingin membuatku sakit perut." Gerutunya dalam hati, yang sengaja agar pria brewok mengetahui isi pikirannya.
Setelah meminum air, pemuda lusuh itu nyengir ke arah pria brewok.
"Sikapnya seperti orang bodoh tapi kata-katanya seolah menunjukkan dia berpendidikan tinggi." Pria brewok mengerutkan dahi menatap heran pemuda lusuh itu.
"Tuan, kenapa anda melihatku seperti itu?"
"Hmm.. ku rasa aku bisa membantumu merubah kehidupanmu menjadi lebih layak jika kau mau." Pria brewok menyayangkan nasib pemuda lusuh itu, jika di lihat-lihat pemuda lusuh itu memiliki wajah yang tampan dan pola pikir yang berpendidikan. Karena itu dia benar-benar ingin membantu pemuda lusuh itu setidaknya menjadi pejabat kota.
"Terimakasih tuan, sebenarnya aku sedang mencari keberadaan saudaraku yang katanya dia sedang berada di Sekte Lentera Merah. Apa anda mengetahui dimana sekte itu berada?" Pemuda lusuh itu sebenarnya bisa saja membaca pikiran pria brewok, namun dia tidak mau mengambil resiko, sebab itulah dia mencari alasan agar bisa mendapatkan informasi lokasi keberadaan Sekte Lentera Merah dari orang itu.
Pria brewok nampak terkejut. "Jika saudaramu ada di sana, sudah dapat dipastikan dia sekarang telah menjadi anggota mereka. Aku sarankan padamu, sebaiknya jangan pergi ke sana. Aku khawatir kau nanti terjerumus dan bisa saja terbunuh."
Pria brewok menatap mata pemuda lusuh tersebut lekat-lekat. Dia mengangguk pelan setelah mendapatkan kebenaran dari ucapan pemuda lusuh itu.
Yang sebenarnya terjadi pemuda lusuh tersebut telah memanipulasi pikirannya, dia menciptakan imajinasi di dalam pikirannya sehingga pria brewok melihat gambaran seperti yang di karangnya. Dimana imajinasi itu menggambarkan adanya seorang wanita tua yang sedang terbaring lemah, ia mengutarakan permintaan terakhirnya yang ingin agar anaknya kembali meskipun hanya sekedar menjenguk makamnya saja.
"Meskipun demikian, pergi ke sana tetaplah sangat berbahaya. Aku sarankan sekali lagi, urungkan saja niatmu itu."
"Tidak bisa tuan, tapi baiklah aku akan pertimbangkannya. Jika masuk ke sana begitu berbahaya seperti kata anda, maka aku akan menunggunya sampai dia keluar."
Mereka berdua terdiam dengan mata saling menatap satu sama lain.
"Baiklah, tapi berhati-hatilah. Semoga pertemuan ini bukanlah yang terakhir." Pria brewok menghela nafas panjang. "Kau pergilah ke arah tenggara, setelah sampai di kota Renwu, selanjutnya pergilah ke arah timur. Setelah melewati tiga desa dan satu kota lagi, kau akan dapat melihat gunung putuo. Di dekat gunung itulah ada sebuah danau dan di tengah-tengah danau itulah lokasi Sekte Lentera Merah berada."
"Terimakasih tuan.." Pemuda lusuh itu menundukkan kepala beberapa kali, lantas meletakkan secarik kertas di atas meja sebelum pamit keluar kedai.
Pria brewok mengambil kertas yang berada di hadapannya, lalu dia memandang punggung pemuda lusuh itu sambil menggeleng pelan. "Sial, dia belum membayar makannya." Gerutu pria brewok sambil berdecak kesal.
Dia kemudian membaca isi dari secarik kertas yang di tinggalkan pemuda lusuh tadi. Matanya seketika berbinar setelah membaca isi dari secarik kertas tersebut, yang tidak lain adalah syair cinta yang menurutnya begitu indah. Dia berniat menyalinnya untuk di berikan kepada wanita pujaannya, dan kertas pemberian dari pemuda lusuh itu akan ia simpan sebagai kenang-kenangan.
"Kenapa aku begitu bodoh, aku bahkan belum menanyakan namanya."
Pria brewok tersebut segera berlari keluar kedai, namun sesampainya di luar dia sudah tidak melihat lagi pemuda itu. Tidak sampai di situ, pria brewok tersebut masih berusaha mendeteksi keberadaan aura pemuda yang dia cari, namun aura pemuda itu telah lenyap seolah sudah jauh dari jangkauan tekniknya.
"Ternyata firasatku benar, dia memang seorang kultivator. Tapi apa alasan sebenarnya pemuda penyair itu pergi ke Markas Lentera Merah." Pria brewok itu mengusap-usap brewoknya nampak sedang memikirkan segala kemungkinan terkait tujuan pemuda lusuh tersebut.
"Maaf tuan, anda belum membayar makanan yang anda pesan." Perkataan petugas keamanan kedai membuyarkan lamunan pria brewok tersebut.
***
Di atas salah satu bongkahan batu yang berada diantara derasnya aliran air sungai tiba-tiba muncul seorang pemuda lusuh, dia mengedarkan pandangannya sekilas lalu kemudian melesat ke atas.
"Ternyata masih jauh.." Pemuda lusuh tersebut mempertajam penglihatannya menyisir lebatnya vegetasi hutan.
Selepas memperkirakan jarak antara posisinya dengan pemukiman penduduk yang dilihatnya di kejauhan, pemuda itupun kembali menghilang menggunakan teknik teleportasi dan tiba-tiba muncul di dalam tembok besar yang mengelilingi sebuah kota.
Pemuda lusuh itu berjalan menyusuri jalanan yang sepi, sampai akhirnya dia melihat ada seorang gadis yang duduk menyendiri di bawah pohon bonsai.
"Nona berpakaian biru
Matamu indah menatap lugu
Membuat hatiku terasa tak menentu
Ingin rasanya ku dekap dirimu
Ku belai mesra dalam pelukku
Ku kecup lembut bola matamu
Kan kubawa dirimu ke awan biru
Maukah engkau menjadi istriku."
Setelah berkata demikian, pemuda lusuh itu tiba-tiba berlutut di hadapan gadis berpakaian biru tersebut, membuat gadis tersebut tersentak kaget dan salah tingkah.
"Siapa, siapa anda tuan? Kita baru saja bertemu kenapa anda ingin meminangku?" Gadis itu nampak gugup dengan pipi merona merah.
"Akulah pangeranmu,
Dan engkau permaisuriku,
Wahai cintaku,
Bukalah sedikit pintu hatimu untukku,
Agar aku dapat menyelami hatimu,
Agar aku dapat menikmati malam pertama penuh birahi bersamamu."
"Plaaakkk.. Plaaakkk..."
Terdengar suara tamparan sebanyak dua kali, "Dasar pemuda mesum." Gadis tersebut menendang si pemuda sebelum bangkit dan melenggang pergi.
Pemuda lusuh itu tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya, "Nona bukan maksudku menggodamu, aku hanya ingin menanyakan sesuatu."
Gadis berpakaian biru itu mengehentikan langkah lalu memutar tubuhnya menghadap si pemuda dengan muka mengerenyit kesal.
"Kenapa tidak bertanya langsung dari awal." Gadis itu berkata dengan nada ketus.
"Hahaha.. nona, wajahmu semakin cantik jika.."
"Cukup, aku tidak mau mendengar lagi kata-kata manismu. Sekarang katakan saja apa yang ingin kau tanyakan, tidak perlu berbasa-basi atau aku akan pergi." Gadis itu nampak ingin membalikan badan namun segera di cegah.
"Tunggu nona, apa Gunung putuo masih jauh?" Pemuda lusuh bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor oleh debu.
Gadis berpakaian biru itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah timur laut lalu melengos pergi dengan wajah yang masih merengut.
"Kenapa wanita sulit sekali di mengerti, padahal sebelumnya dia terlihat seperti suka padaku." Pemuda lusuh itu menggaruk-garuk kepalanya. "Ah, untung saja aku tidak terlanjur terlalu jauh."
Merasakan terpaan angin yang lumayan kencang, gadis berpakaian biru membalikkan badan menatap ke tempat pemuda lusuh berada, namun saat ini dia sudah tidak mendapati pemuda itu disana, sebab pemuda tersebut sudah melesat terbang ke angkasa.
"Aku harus cepat atau nenek akan memarahiku karena terlalu lama menyelesaikan misi ini." Pemuda lusuh tersebut membatin sambil menatap jauh ke arah timur laut.
"Mungkin itu gunungnya.."