Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Memenuhi Janji Nenek


Di pinggir jalan utama menuju istana, terlihat wanita tua tengah terduduk lemas, di sampingnya terdapat seorang anak lelaki yang hanya mengenakan celana pendek tanpa alas kaki.


Anak lelaki itu memegang bahu si nenek. "Ayo nek, katanya mau membelikanku baju."


Wanita tua itu masih terdiam, pikirannya melayang membayangkan andaikan suami dan anaknya masih hidup, mungkin nasibnya akan lebih baik. Tapi kemiskinan telah merenggut keduanya. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, seharusnya dia bisa menikmati masa senjanya dengan tenang, tetapi takdir berkata lain. Semenjak kematian suami dan anaknya dalam menjalankan tugas sebagai prajurit, wanita tua itu terpaksa harus berkerja serabutan hingga sakit-sakitan, hanya demi mencukupi hidupnya berserta cucunya.


"Hidup hanya sementara, maka kesengsaraan inipun juga bersifat sementara. Sang Pencipta tidak akan membebani cobaan yang tidak kuat dipikul manusia." Batin wanita tua itu untuk menabahkan diri.


"Lu Ping..." Wanita tua itu membalikkan badan, berdiri dengan lututnya dan memeluk anak lelaki di sampingnya. "Maafkan nenek, bukan nenek ingkar janji, tapi kantong uang nenek telah di rampas penjambret tadi."


Bocah lelaki itu menggaruk-garuk rambutnya sambil mengangguk.


"Koin nenek ada di kantong itu, kita bukan hanya tidak bisa membeli baju untukmu, tapi kita juga tidak bisa makan malam ini." Mata wanita tua itu berkaca-kaca.


Para pengguna jalan yang lalu lalang bukan tidak perduli, tapi mungkin mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak sedikit yang bertanya, "Ada apa nek?"


Namun wanita tua itu enggan menjawab, karena pada saat kejadian penjambretan saja banyak yang tidak perduli terhadap teriakannya, meminta tolong.


"Tapi nek, bukankah nenek yang bilang kalau ucapan harus ditepati? Manusia yang di pegang adalah ucapannya?"


Wanita tua itu hanya bisa menghela nafas panjang, ia tidak menyangka jika petuah yang di ajarkannya akan berbalik kepadanya. Wanita tua itu terdiam, pikirannya mencoba mencari untaian kata untuk menjelaskan, namun belum ada satupun yang ia anggap sesuai untuk menjelaskan kepada cucunya itu.


Wanita tua itu mulai menggerakkan bibirnya bimbang, dia tidak yakin jawabannya akan memperbaiki keadaan atau malah sebaliknya, namun baru saja dia ingin membuka suara, tiba-tiba terdengar suara seseorang.


"Anak pintar, tentu saja nenekmu akan menepati ucapannya." Pemuda berjubah putih mewah tersenyum hangat, Arya sempat mendengar percakapan keduanya.


Bocah itu diam, mulutnya ternganga melihat aura yang terpancar dari senyuman Arya.


"Siapa namamu bocah kecil?" Arya mengusap lembut rambut bocah itu.


"Namaku Lu Ping." Ucap bocah itu.


"Lu Ping, mari ajak nenekmu memenuhi perkataannya."


Wanita tua itu menatap Arya, ada banyak pertanyaan dari sorot matanya. "Tapi tuan muda!"


"Namaku Li Xian, nenek bisa memanggilku dengan nama itu." Arya tersenyum ramah.


Di seberang jalan, ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka. Orang tersebut memperhatikan Arya dengan seksama sebelum tersenyum tipis dan kemudian berlalu pergi.


Merasa seperti di awasi, Arya menoleh namun dia tidak bisa memastikan siapa orang yang tadi memperhatikannya sebab terlalu banyak orang yang berlalu lalang.


Wanita tua itu bangkit, berjalan mendekat ke arah Arya. "Tuan Li Xian, hari ini wanita tua ini sedang mendapatkan cobaan, jangan anda menambahnya lagi dengan mengajakku memenuhi ucapanku."


"Baiklah, jika kau memaksa anak muda."


Wanita tua itu menggandeng cucunya berjalan di depan, Arya mengikuti dari belakang.


Hulao dan Honglong sudah tidak lagi bersama Arya, sebab mereka berdua saat ini sedang menuju gerbang kerajaan bersama Sui Liong dan teman-temannya. Arya meminta Sui Liong agar membantu Hulao dan Honglong menjadi prajurit, tentunya bertujuan untuk menyelidiki orang-orang yang di curigai sebagai pendekar aliran hitam ataupun hewan iblis yang menyusup.


Setelah berjalan beberapa saat, mereka kemudian memasuki sebuah toko pakaian yang terlihat sepi, wanita tua itu nampaknya memang sengaja memilih toko yang sepi agar dia tidak merasa malu dengan pandangan orang lain.


"Tuan, tolong berikan sepuluh pasang pakaian untuk anak dan nenek ini."


Wanita tua dan cucunya itu membelalakkan mata mendengar ucapan Arya. Itu terlalu banyak menurut mereka.


Pemilik toko memandangi Arya, "Baiklah tuan muda, mohon tunggu sebentar."


Sebagai pemilik toko yang sudah berpengalaman dalam bisnis perdagangan, dia tentu tahu mana orang yang berkoin, mana yang tidak. Melihat penampilan Arya, membuat perasaan pemilik toko bergelora.


Pemilik toko tersebut di bantu beberapa pegawainya mengumpulkan pakaian. Tidak hanya 20 pasang pakaian yang mereka kumpulkan, tetapi 50 pasang pakaian mereka hamparkan di hadapan Arya. Kemudian pemilik toko mulai menjelaskan kualitas bahan pakaian yang di tunjukkannya berikut dengan harganya.


Arya menatap pakaian-pakaian itu sekilas, karena tidak memiliki banyak waktu, diapun mengatakan akan membeli semuanya.


Mata pemilik toko berbinar-binar, seutas senyuman merekah di bibirnya. Dia lantas buru-buru menghitung harga dari 50 pasang pakaian tersebut. "Totalnya 30 keping emas tuan muda."


Arya mengeluarkan 30 keping emas dari dalam bajunya, membuat si pemilik toko semakin antusias karena tidak ada penawaran yang di ucapkan dari si pemuda.


Berkali-kali pemilik toko mengucapkan terimakasih, dan menyuruh kembali jika ingin membeli pakaian.


Selepas meninggalkan toko pakaian, wanita tua berjalan mendekati Arya. "Ini terlalu banyak tuan, kami akan kerepotan membawanya. Aku benar-benar tidak mampu membalas kebaikan tuan, lagipula saat ini aku sama sekali tidak memiliki sepeserpun uang, kantong uang milikiku telah di rampas."


Arya tersenyum, lalu mengeluarkan kantong hitam dari balik bajunya. "Apakah ini kantong koin milikmu, nek?"


Wanita tua itu memperhatikan kantong koin tersebut dengan seksama, melihat terdapat rajutan lambang bunga dan bintang, wanita tua itupun lantas mengangguk.


"Itu harta yang kami miliki, silahkan tuan ambil agar beban hutangku tidak semakin banyak." Ucap wanita tua itu sambil menunduk.


"Tidak nek, tadi aku membayar semua pakaian itu dengan koin yang ada di dalam kantong milik nenek ini. Jadi di antara kita tidak ada hutang.." Arya menyerahkan kantong koin yang ada di tangannya kepada wanita tua tersebut.


Wanita tua itu masih bersikeras tidak mau menerima kantong koin tersebut, pada akhirnya Arya memberikan kantong tersebut kepada anak lelaki yang tidak lain adalah cucu si nenek.


Dengan wajah polos, bocah kecil yang bernama Lu Ping tersenyum lebar menatap Arya. Namun neneknya segera mengambil kantong koin tersebut untuk di serahkan kembali kepada Arya.


Akan tetapi ketika wanita tua itu ingin menyerahkan kantong koin tersebut, Arya sudah tidak lagi terlihat berdiri disana. Dengan keheranan, wanita tua itu mengedarkan pandangan ke sekitar mencari pemuda itu.